KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 63 : KETAHUAN


Terima kasih atas atensi semua Pecinta novel KAMPUNG HANTU. Dukungan Anda selalu kami tunggu-tunggu, baik berupa like, komentar, maupun vote.


Tidak ada siapa-siapa di sebelahku, padahal jelas-jelas beberapa detik yang lalu Fajar menggandeng tanganku mengajakku berpencar menuju gudang arsip duluan meninggalkan teman-teman yang lain. Keringat dingin mulai menyeruak keluar dari pori-pori kelenjar keringatku. Jantungku berdegup dengan kencang seirama dengan desiran aliran darah yang tiba-tiba menjadi deras dengan seketika. Lama aku dan Fajar asli bertatapan, aku tak bisa menyembunyikan kebingunganku. Aku yang masih gamang dengan apa yang terjadi disamperin oleh Fajar asli.


"Kamu kenapa Im?" Fajar bertanya.


"Eee... barusan ada-" jawabku terbata-bata.


"Tidak ada siapa-siapa Jar. Kamu barusan sedikit tertinggal di belakang kami.


"Tapi Jar?" protesku.


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Kita fokus pada tugas kita yang sudah hampir selesai saja, lain kali jangan berpencar lagi apalagi sampai melamun," ucap Fajar.


"Iya Jar. Terima kasih," jawabku sambil memegangi kepalaku yang tidak mumet tetapi aku bingung dengan semua keanehan ini.


Suasana di lantai atas lebih mencekam dari ruangan lain, suara binatang malam tidak begitu terdengar dari tempat ini. Pemandangan ke arah bawah juga cukup terbatas karena terhalang oleh pucuk-pucuk pohon palem. Ujung-ujung pohon palem yang terlihat indah di siang hari, saat malam begini terlihat mengerikan, seolah-olah makhluk menyeramkan sewaktu-waktu melompat dari ujung pohon palem itu ke arah kami. Lorong juga terlihat gelap karena secara kebetulan tidak ada lampu di lantai atas. Seandainya muncul sosok psikopat di ujung lorong, kami tidak punya pilihan lain selain melawannya karena untuk melompat ke bawah tentunya kami bisa mati konyol.


[Ceklek]


Suara yang dihasilkan slot kunci yang diputar dengan anak kunci ruangan kelas paling ujung, tempat si Mery hampir terjatuh karena diganggu hantu bayi.


"Alhamdulillah selesai, tinggal mengunci ruangan yang sebelah timur saja," pekik Gatot.


"Ayo buruan kita turun saja. Suasana di sini mulai tidak bersahabat," cetus Fajar sambil memegangi tengkuknya. Benar yang dikatakan oleh Fajar, bulu kuduk kami saat itu mulai berdiri pertanda kami harus meninggalkan tempat tersebut sebelum terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan.


Kamipun berduyun-duyun meninggalkan lantai atas menuju deretan kelas sebelah timur. Suara derap langkah kami terdengar keras di telinga kami saat kita melalui koridor dan tangga. Anehnya suara derap langkah kaki itu terdengar ganjil di telinga karena tidak sesuai dengan gerakan langkah kaki kami, melainkan terdengar seperti langkah kaki yang sedang diseret, ada suara tarikan napas juga, dan diakhiri suara cekikikan tawa seseorang. Kami berlima saling menatap dan ternyata tidak ada seorangpun dari kami yang menunjukkan ekspresi wajah yang sedang tertawa atau baru selesai tertawa, yang ada semuanya terlihat tegang. Menyadari keganjilan tersebut sontak saja kami berlima segera mempercepat langkah meninggalkan kelas bagian selatan tersebut.


Ibarat keluar dari mulut harimau kemudian masuk ke mulut buaya. Suasana di kelas bagian timur tidak jauh berbeda dengan kelas bagian selatan. Ruangan kelas yang terkesan lebih terbuka justeru mengesankan bahwa keberadaan kami di gedung ini dapat terlihat dengan jelas dari sekeliling. Jadi, makhluk-makhluk tak kasat mata itu seakan-akan sedang mengelilingi dan memelototi kita dari sekitar gedung ini. Dalam keadaan bekerja, sesekali kami memperhatikan sekitar karena kami seperti mendengar suara desahan dan tarikan napas yang timbul tenggelam. Akhirnya dengan keringat yang cukup membanjir, kamipun dapat menyelesaikan tugas kami mengunci seluruh ruangan tersebut.


"Sudah beres tugas kita. Sekarang saatnya kita masuk ke gudang," pekik Fajar.


"Kita harus bergerak cepat Jar takutnya Pak Mat tiba-tiba datang," pekikku.


"Oke, ayo buruan ke sana!" ucap Fajar.


Kami berlimapun berjalan menuju ke deretan gedung bagian utara, tepatnya menuju gudang penyimpanan dokumen lama sekolah. Untunglah lampu di depan gudang mati sehingga keberadaan kami di depan gudang tidak akan terlihat siapapun selain makhluk-makhluk astral tentunya.


"Kalian bertiga berjaga di depan pintu, biar aku dan Imran yang akan masuk ke dalam," perintah Fajar.


"Baik Jar," jawab Gatot.


Fajarpun mencari anak kunci yang sesuai dengan ruangan tersebut. Dengan memanfaatkan cahaya senter yang ia bawa akhirnya ia berhasil menemukan anak kunci yang sesuai, yaitu yang bertuliskan 'GDG'.


[Ceklek]


[Uhuk uhuk uhuk]


Suara batuk kami ketika menghirup debu yang beterbangan di dalam ruangan. Untuk menghindari batuk-batuk selanjutnya, kami berdua menggunakan tangan kiri kami untuk menutup hidung dan mulut. Fajar mengedarkan cahaya senter ke sekeliling ruangan. Ternyata ruangan ini cukup luas juga sekitar lima kali lima meter. Di dalamnya terdapat beberapa rak berisi dokumen-dokumen sekolah. Di sudut ruangan ada meja dan kursi, dan di sebelahnya ada pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan lain. Entah ruangan yang mana kami tidak tahu.


"Jar, kita fokus pada buku yang ukurannya besar-besar saja karena buku induk itu ukurannya sangat besar," ucapku.


"Iya benar Im. Nah itu dia rak yang berisi buku-buku yang ukurannya besar. Saking besarnya sampai dilipat dua," jawab Fajar.


Kamipun berjalan menuju rak yang dimaksud dan memeriksa satu persatu buku induk lama itu.


"Apa kita akan memeriksa buku ini satu persatu Im? Rasanya kita tidak akan punya banyak waktu untuk melakukannya, keburu ketahuan Pak Mat. Bisa-bisa kita dikeluarkan dari sekolah ini," ujar Fajar.


"Tidak Jar. Kita hanya akan mencari buku induk sekitar tahun 1967-an saja sesuai dengan kejadiannya, kita cari identitas anak yang bernama Mega dan juga yang berkaitan dengannya. Coba Kamu perhatikan, ada tulisan spidol besar di depan setiap buku induk ini berisi nomer urut penggunaannya. Kita dapat mengunakannya untuk mempermudah pencarian kita." terangku.


"Cerdas juga Kamu Im," ujar Fajar.


"Baru nyadar?" sahutku bercanda yang disambut sewotannya.


Kamipun memeriksa buku induk itu satu persatu.


"Ketemu, Im!" pekik Fajar tiba-tiba mengagetkanku.


Aku menoleh ke arah Fajar, benar saja ia sedang menunjuk halaman identitas seorang anak perempuan yang tertulis memiliki nama panggilan Mega.


"Cepat catat Im!" perintah Fajar.


Aku mencatat identitas lengkap anak perempuan itu. Sementara Fajar memeriksa buku induk yang lain. Saat berkonsentrasi mencatat identitas Mega, aku menemukan suatu keganjilan. Tetapi belum sempat aku memgamati keganjilan tersebut tiba-tiba terdengar suara Gatot dari balik pintu.


"Buruan keluar! Pak Mat sedang berjalan ke sini," teriak Gatot.


Aku dan Fajar buru-buru meletakkan buku induk itu kembali dan berlari ke arah pintu. Saat kami berlari ke arah pintu aku mendengar suara gagang pintu diputar berasal dari pintu di sebelah meja ruangan itu. Sebelum aku melihatnya dengan jelas, Fajar sudah keburu menutup dan mengunci pintu itu dari luar. Dari koridor kelas bagian utara Pak Mat muncul dengan membawa tongkat satpamnya dengan langkah tergesa.


BERSAMBUNG


Like dan komentar dulu ya.


Votenya jangan lupa.