
Maaf ya Kak, baru sempat up karena kesibukan pekerjaan yang lain.
Semoga kakak masih sabar menunggu kelanjutan kisah KAMPUNG HANTU.
Klik tombol 'like'nya dulu ya?
Ibu paruh baya itu sesekali menyeka air matanya ketika mengikuti langkah kami menuju sekolah. Mungkin ia masih teringat dengan isi surat yang ada di dalam tas peninggalan Mbah Iyem. Langkah kaki kami memasuki gerbang sekolah diiringi dengan semilir angin yang tiba-tiba bertiup di leher belakang. Ada kesejukan tersendiri yang kami rasakan saat itu, ada juga rasa kengerian tersendiri yang turut hadir menyertainya, seolah-olah ada makhluk tak kasat mata yang menyambut kami di pintu gerbang sekolah.
Kami langsung menuju rumah dinas penjaga yang masih berada di dalam lingkungan sekolah sebagai tempat tinggal pasangan suami istri, Pak Mat dan Bu Mat.
"Ibu sudah pernah datang ke rumah Bu Mat?" tanya Lidya.
"Pernah, cuma beberapa kali saja. Soalnya dilarang sama almarhum ibu, takut mengganggu ketenangan murid-murid belajar," jawab ibu itu perlahan.
"Itu rumah Bu Mat terbuka, biasanya jam-jam mendekati sholat ashar begini, beliau sudah ada di rumahnya." Ujar Fajar.
Akhirnya kamipun sampai di depan pintu rumah Bu Mat.
"Assalamualaikum ...," salam ibu itu.
"Waalaikumsalam ...," jawab Bu Mat dari arah dapur.
Terdengar langkah kaki seseorang dari dalam menuju ruang tamu.
"Sampean, Mbak Sri?" pekik Bu Mat.
"Iya Dik Ning," jawab perempuan yang ternyata bernama Sri itu.
"Sudah besar ya anakmu, Mbak?" tanya Bu Mat.
"Iya Dik, sudah masuk empat tahun," jawab Bu Sri.
"Ada perlu apa Mbak Sri datang ke sini bersama anak-anak ini? Kebetulan sekarang aku mau keluar nich mau kulakan," ujar Bu Mat yang memang terlihat sudah rapi dan membawa tas selempang.
"Eh, anu Dik Ning, saya ke sini ada keperluan penting. Cuma sebentar kok?" ujar Bu Sri.
"Beneran sebentar ya Mbak, soalnya kalau terlalu sore nanti tokonya tutup. Bahan-bahan untuk berjualan besok sudah habis semuanya," ujar Bu Mat.
"Iya Dik hanya sebentar saja," jawab Bu Sri.
"Monggo silakan masuk Mbak Sri dan anak-anak semuanya," ujar Bu Mat agak kikuk.
Kamipun masuk ke ruang tamu dan menempati kursi sederhana yang tersedia di ruang tamu berukuran mini tersebut.
"Loh kok duduk di bawah, Dik?" tegur Bu Mat kepada Gatot.
"Nggak apa-apa Bu. Saya lebih suka duduk di bawah karena adem," jawab Gatot.
"Alasan saja itu, Bu. Kalau duduk di atas takut kursinya jebol," ujar Fajar dengan nada bercanda. Gatot hanya tersenyum saja diejek seperti itu.
"Biar saya temani duduk di bawah saja, saya juga pingin ikutan ngadem," kataku supaya tidak empet-empetan duduk di atas.
"Oalah, kok malah ikutan duduk di bawah semua?" pekik Bu Mat sambil melangkah ke belakang.
"Dik Ning mau kemana?" pekik Bu Sri.
"Mau mengambil minuman dulu," jawab Bu Mat.
"Enggak usah sudah, Dik. Biar segera selesai saja kepentinganku ini," jawab Bu Sri.
"Oh, ya sudah kalau begitu," ujar Bu Mat.
Bu Mat mengambil tempat duduk tepat di depan Bu Sri. Bu Sri kemudian mengeluarkan buku tabungan dari dalam tas yang ia bawa. Raut wajah Bu Mat tiba-tiba memerah ketika melihat buku tabungan itu.
"Dik Ning, kedatangan saya ke sini ingin menanyakan perihal buku tabungan ini," cetus Bu Sri.
Tangan Bu Mat tiba-tiba gemetaran. Raut wajahnya yang semula luwes mendadak menjadi kaku dan terlihat agak marah.
"Maaf, Mbak Sri. Tabungan almarhum ibumu sudah diambil semua oleh ibumu beberapa hari sebelum ibumu sakit. Itu waktu anak-anak rapotan kenaikan kelas. Cuma emang belum ditulis di sini karena waktu itu ibumu lupa membawa buku tabungan ini," jawab Bu Mat dengan nada serius.
"Mbak Sri tidak percaya dengan saya? Mungkin uang tabungannya sudah dipakai untuk menalangi kebutuhan yang lain? Misalnya untuk membayar kontrakan rumah?" ujar Bu Mat dengan nada ketus.
"Tidak, Dik Ning. Kata Pak RW, ibu belum membayar kontrakan rumah untuk bulan yang terakhir. Biasanya ibu membayar di akhir bulan emang. Dan setahu saya ibu tidak pernah punya urusan keuangan yang lain," tegas Mbak Sri.
"Jadi Mbak Ning menuduh saya menggelapkan uang ibumu?" ujar Bu Mat sambil berdiri. Tangannya tiba-tiba gemetaran.
"Tenang dulu Dik Ning. Saya tidak berkata seperti itu," ujar Bu Sri dengan nada lembut dan menenangkan.
Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang dan sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan tua dari arah dapur Bu Mat. Suaranya membikin bulu kuduk kami merinding
"Ojo ijol awakmu karo duwek, Nduk! (Jangan tukar harga dirimu dengan uang, Nduk!)" suara perempuan tua itu.
"Ibu ????" pekik Bu Sri.
"Bude???" pekik Bu Mat.
"Wocoen surat iku Sri (Bacakan surat itu Sri)" suara nenek itu lagi.
Dengan angin kencang seperti itu entah kenapa kami kesulitan untuk bergerak kemana-mana. Bu Sri kemudian mengeluarkan surat dari dalam tas dan membaca isinya dengan suara agak keras dalam bahasa jawa.
"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh ...
Nduk Sri, kalau Kamu membaca isi surat ini tentunya kamu juga telah melihat buku tabungan yang berada dalam satu tempat dengan surat ini. Memang benar, Ibu memiliki uang tabungan yang dititipkan kepada Dik Ning. Tabungan itu rencananya kalau jumlahnya cukup dan usia Ibu masih panjang, mau Ibu pergunakan untuk mendaftar umroh. Tapi kalau jumlahnya tidak nutut atau Ibu meninggal duluan ya biar bisa Kamu gunakan untuk membayar kontrakan rumah misalnya penghasilanmu sebagai buruh tidak mencukupi kebutuhanmu dan anakmu sehari-hari. Selama masih hidup, Ibu tidak akan mengambilnya apapun yang terjadi, karena Ibu sudah tua. Ibu tidak punya warisan lain yang bisa Ibu berikan kepadamu.
Nduk, tapi ingat misalnya Dik Ningmu tidak punya uang untuk memberikannya kepadamu, Kamu jangan memaksa ya? Kasihan Dik Ningmu. Ibu tahu Dik Ningmu itu memiliki banyak kebutuhan yang lain, beri dia kesempatan untuk mencicil atau menundanya. Bahkan kalau Dik Ningmu tidak bisa membayarnya, ikhlaskan ya Nduk. Bagaimanapun selama ini Dik Ningmu itu sudah bukan orang lain bagi Ibu, dia itu sudah Ibu anggap seperti anak Ibu sendiri. Anggap dia sebagai adikmu sendiri.
Misalnya Kamu tidak punya uang untuk membayar kontrakan rumah. Ibu punya saudara jauh yang tinggal di Kampung Jatisari. Cari saja nama Kyai Nur di sana. Bilang saja Kamu anaknya Sariyem dari Kampung Jarangjati. Beliau pasti dengan senang hati akan mencarikan solusi untukmu dan anakmu.
Sekali lagi, jangan sampai Kamu menyusahkan Dik Ningmu ya? Almarhum Ibunya Dik Ningmu itu adalah sahabat Ibu mulai kecil. Suka duka sudah kami berdua jalani bersama, masak Kamu dan Dik Ningmu mau bertengkar? Jangan ya?
Harus ikhlas dan tabah ya, Nduk ...
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,"
Bu Sri membaca rangkaian isi surat itu dengan deraian air mata. Bukan hanya Bu Sri yang menangis, tetapi juga kami yang mendengarkannya.
"Ibu .... Ibu ...," teriak Bu Sri sambil berlari menuju dapur. Kami mengikutinya dari belakang. Namun kami tidak menjumpai siapa-siapa di sana. Yang ada hanya barang-barang peralatan dapur milik Bu Mat. Ada wangi bunga yang cukup menyengat di sana.
Selanjutnya Bu Sri balik lagi ke ruang tamu. Ia menoleh sejenak ke arah Bu Mat yang masih berdiri terpaku. Kemudian Bu Sri melangkahkan kakinya keluar meninggalkan rumah dinas penjaga sekolahku itu. Kami semua terpaku menatap kepergian Bu Sri. Tiba-tiba terdengar suara dari Bu Mat.
"Berhenti!! Mbak Sri mau kemana?"
Bu Sri menoleh sesaat.
"Dik Ning kan tadi sudah mengetahui isi suratnya? Mbak mau ke rumah Kyai Nur saja sesuai amanah Ibu," jawab Bu Sri datar.
"Mbak Sri tega membiarkan saya menjadi seorang adik yang serakah? Seorang keponakan yang durhaka?" ujar Bu Mat mengagetkan kami semuanya.
"Maksud Dik Ning?" cetus Bu Sri dengan dahi berkerut.
"Di sini ada rumah dinas yang masih kosong, Mbak. Mbak bisa menetap sambil membesarkan keponakanku itu. Ayo kita menabung bersama untuk mewujudkan impian kedua orang kita untuk umroh," ujar Bu Mat dengan wajah yang kembali manis.
"Dik Ning ...," pekik Bu Sri.
"Maafkan saya, Mbak Sri" pekik Bu Mat sambil berlari ke arah pintu. Selanjutnya mereka berdua saling berpelukan sambil menumpahkan air mata yang masih tersisa.
Angin yang semula berhembus kencang tiba-tiba menjadi tenang. Semoga itu pertanda arwah Mbah Iyem sudah beristirahat dengan tenang.
Bersambung
Meskipun telat, jangan kapok ngevote KAMPUNG HANTU, ya?
See u next episode.
Salam seram bahagia.