KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 19 : KANTIN SEKOLAH


Jumat pagi aku sudah berada di sekolah, masih tetap diantar Bapak. Sambil menunggu teman yang lain datang, aku menjalankan tugas harianku yaitu memantau pergerakan Pak Rengga dan vocalis itu. Vokalis itu datangnya agak siang, sedangkan Pak Rengga sejak aku datang jam setengah tujuh pagi tadi, ia sudah ada di perpustakaan. Entahlah apa yang sedang baca di perpustakaan itu.


Pukul tujuh kurang seperempat teman-teman yang lain akhirnya datang semua. Seperti biasa, sambil menunggu bel tanda apel berbunyi, kami berkumpul terlebih dahulu. Selain mendiskusikan tugas terkait MOS, kami juga membicarakan perihal penyelidikan rahasia kami.


"Gimana tugas teman-teman, apakah sudah selesai semuanya?" tanya Fajar.


"Saya kesulitan dengan barang yang clue-nya 'air kemasan bersegel setengah'," ucap Lidya


"terus, apa yang Kamu bawa?" tanya Fajar lagi.


"Ya, aku membeli air dalam kemasan, kemudian aku melubangi kemasannya dengan jarum tanpa melepas segelnya sampai tinggal setengahnya. Sayangya, pas aku taruh di tasku ternyata airnya merembes melalui lubang yang kubuat. Akhirnya airnya bukan tinggal setengahnya, tetapi tinggal seperempat botol. Untunglah aku membungkusnya dengan plastik sehingga rembesannya tidak sampai membasahi buku yang kubawa," terang Lidya.


"Ha ha ha ha ha .... Kamu lucu, Lid," celetuk Fajar.


"Kamu kok malah ketawa sich, Jar?" tanya Lidya heran.


"Maksud setengah itu kayaknya setengah liter deh, bukan setengah botol. Jadi harusnya Kamu membawa air kemasan yang masih bersegel dan isinya limaratus mililiter alias setengah liter," terang Fajar.


"Iya juga sich. Aku bingung banget dengan kode-kode itu," Lidya berkata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah tidak apa-apa. Sekarang kita beralih ke hantu bayi. Apakah ada info tambahan dari Kalian?" tanya Fajar kembali.


"Jar, ini nama teman-teman yang akrab sama Bapak beserta kegiatan ekskul yang diikuti. Tolong Kamu cari biodata lengkapnya di data sekolah. Siapa tahu mereka ada kaitannya dengan kemunculan hantu bayi itu," ucapku sambil menyodorkan selembar kertas kepada Fajar.


"Bagus. Nanti siang aku dan Cindy akan mencari data-data ini di ruangan Bu Nanik. Apakah ada informasi dari teman-teman yang lain?" tanya Fajar. Semua teman menggelengkan kepala.


Akhirnya bel tanda apel berbunyi, kamipun berbaris di lapangan sambil menyetorkan barang-barang yang diperintahkan untuk dibawa. Kami mendapatkan point tujuhpuluh pada tugas tersebut, alhasil kelompok kami secara keseluruhan nilainya berada pada posisi dua terbawah.


Pada kegiatan apel pagi tersebut juga disampaikan bahwa masih ada dua penilaian yang akan dilakukan, yaitu post-test yang akan dilakukan sore nanti dan unjuk kebolehan yang akan dilakukan esok hari. Penguman group terbaik dan terburuk akan dilakukan pada sore harinya. Group terbaik akan mendapatkan piala dan hadiah, sedangkan group terburuk akan diberikan sangsi, yaitu membersihkan sekolah dari sisa-sisa kegiatan MOS.


Setelah kegiatan apel pagi dilakukan, acara dilanjutkan dengan pemberian materi "Remaja Anti Narkoba" yang disampaikan langsung oleh anggota kepolisian di gedung aula. Ternyata yang menjadi pembicara adalah anak buah Pak Prapto yang ikut menangkap Mbah Kardi dua tahun yang lalu. Di awal materi, beliau sempat menyampaikan bahwa beliau baru saja dipindahtugaskan dari Polsek yang lama ke Polsek yang sekarang. Beliau memperkenalkan diri dengan nama Pak Anton. Ternyata Pak Anton ini dipindahtugaskan ke Polsek yang sekarang bukan tanpa tujuan, melainkan beliau dipercaya untuk menangani divisi khusus penanggulangan narkoba. Dan kabarnya, di sekitar kecamatan yang sekarang, peredaran narkoba sedang marak-maraknya. Pemaparan materi yang disampaikan oleh Pak Anton ternyata sangat lugas dan jelas, gaya bicaranya santai tetapi mudah masuk di otak kami. Ketika menjelaskan materinya, Pak Anton jauh dari kesan keras sebagaimana layaknya anggota kepolisian, melainkan sangat humble dan humoris.


"Assalamualaikum, Bapak masih ingat dengan saya?" sapaku pada Pak Anton ketika acara selesai.


Pak Anton menatap tajam ke arahku seraya tersenyum lebar.


"Ya Allah .... Imran? Mana mungkin saya bisa lupa dengan anak pemberani seperti Kamu," jawab Pak Anton.


Aku segera mencium tangan Pak Anton. Pak Anton menepuk-nepuk bahuku.


"Sudah remaja Kamu sekarang, Im. Oh ya mana temanmu yang bernama ...,"


"Parto?" potongku


"Iya ... Parto. Mana dia? Apakah dia juga bersekolah di sini?" tanya Pak Anton.


Aku menunduk sesaat, kemudian menjawab pertanyaan beliau.


"Parto tidak melanjutkan sekolah, Pak?"


"Loh kenapa?" tanya Pak Anton heran.


"Orang tuanya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Saya bisa melanjutkan karena mendapat beasiswa," jawabku datar.


"Terus apa yang dilakukan Parto sekarang?" tanya Pak Anton lagi.


"Sudah satu tahun ini ia fokus bertani, membantu bapaknya di sawah. Parto kan satu tingkat di atas saya" jawabku.


"O .... Kasihan anak itu. Anaknya cerdas dan tangkas, eman sekali kalau tidak melanjutkan sekolah. Minggu depan insyaallah saya akan ke sana, saya akan membujuknya untuk mau melanjutkan sekolah. Masalah biaya, biar saya yang akan mengatasinya," ucap Pak Anton.


Perbincangan di antara kamipun mengalir. Pak Anton menanyakan kabar orang tuaku, Mbah Nur, dan warga yang lain. Beliau juga menyuruhku untuk sering-sering main ke Polsek yang berada tidak jauh dari sekolah. Akhirnya beliau pulang dengan sebuah harapan besar dariku, semoga Parto benar-benar akan bersekolah dengan beasiswa dari Pak Anton. Kalau bisa, melanjutkan sekolah di sini juga. Kalau ada anak itu, tentunya aku tidak akan begitu khawatir menghadapi hantu-hantu di sekolah ini.


Sepeninggal Pak Anton, aku menyusul anak-anak yang sedang beristirahat di halaman belakang sekolah. Mereka sedang berkumpul sambil menikmati makanan yang mereka bawa dari rumah atau dibeli di kantin.


"Darimana saja Kamu, Im. Kok baru datang?" tanya Gatot.


"Itu, polisi tadi aku kenal baik. Jadi aku mengajak beliau berbincang-bincang," jawabku.


"Fajar dan Cindy mana, kok tidak ikut berkumpul dengan kita?" Aku balik bertanya.


"Mereka berdua sedang ke ruangan Bu Nanik untuk mencari data-data yang Kamu berikan tadi pagi," jawab Lidya.


"Ooo begitu. Ya sudah kita tunggu saja mereka datang," ucapku.


"Im, Kamu sudah dengar belum ada kabar terbaru?" tanya Lidya.


"Kabar apa, Lid?" Aku bertanya dengan sangat penasaran.


"Itu, tadi di kantin ada keributan," jawab Lidya.


"Keributan apa, Lid? Aku tidak mendengarnya," Aku semakin penasaran.


"Ada anak baru, beli gorengan ke Bu Mat. Bu Mat waktu itu masih pulang ke rumah dinas sebentar. Pas Bu Mat balik ke kantin, ia melihat anak baru itu sudah habis tiga pisang goreng. Anak baru itu tiba-tiba mau balik ke kelas, ditagih sama Bu Mat. Anak baru itu ngaku sudah bayar ke orang yang melayaninya. Bu Mat tidak percaya, karena tidak pernah ada yang membantunya melayani pembeli setelah Mbah Iyem meninggal liburan kenaikan kelas kemarin. Si anak baru ngotot sudah bayar, katanya yang melayani pake kebaya ungu. Orangnya baru saja ke belakang sebeluk Bu Mat datang. Bu Mat terkejut, karena yang biasa memakai kebaya ungu adalah Mbah Iyem. Lalu ia mencoba membuka laci uangnya. Ternyata benar, laci yang semula kosong sudah ada uang sejumlah harga tiga pisang goreng itu." Lidya melanjutkan ceritanya.


"Berarti?" tanyaku penasaran.


"Bu Mat sekarang nggak berani sendirian di kantin," jawab Lidya dengan agak mendesah.


Aku dan Gatot saling berpandangan. Bulu kuduk tiba-tiba merinding. Tiba-tiba ...


"Hei teman-teman!" teriak seseorang dari kejauhan. Ternyata Fajar dan Cindy sedang berlari menuju kami.


"Ada apa, kok Kalian sampai ngos-ngosan begitu?" tanyaku.


"Im, tadi aku memeriksa nama-nama yang Kamu berikan di klaper, buku mutasi siswa, dan buku pembinaan siswa di ruangan Bu Nanik," jawab Fajar sambil ngos-ngosan.


"Terus?" tanyaku penasaran.


"Ternyata, bapakmu dan tiga temannya itu pernah dipanggil oleh guru BP?" jawab Fajar masih ngos-ngosan.


"Dipanggil karena masalah apa, Jar?" tanyaku semakin penasaran.


Fajar menatap mataku dengan lekat. Kemudian ia memposisikan duduk di hadapanku, Cindy mengambil tempat duduk dibelakangnya. Aku harap-harap cemas menunggu jawaban dari kedua temanku itu.


Bersambung


Kak, novel MARANTIku sudah ditengok belum? Aku seneng loh, kalau Kakak mau membaca novel MARANTI, he he he.. Tapi khusus yang bernyali saja.


Oh ya, Besok malam jam 23.59 aku bakal simpan data jumlah vote loh ya?


ingat batas vote sampai 15 Juli 2020 untuk KAMPUNG HANTU.


Untuk yang nulis komentar, makasih banyak ya? Selalu aku baca, meskipun ada yg belum kubalas.


Salam seram bahagia ya .....