
Aku keluar dari pekarangan milik Ki Barong itu dengan kaki diseret dan kedua tangan dibengkokkan seperti layaknya hantu-hantu penghuni di tempat itu. Bahkan aku dengan berani mengeluarkan suara aneh kepada sepasang sejoli itu. Syukurlah, setelah melihat akting hantuku yang penuh totalitas, Ki Barong dan penari itupun membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan aku terus berjalan dengan kaki diseret sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Hampir saja aku menggoyangkan tangan kiriku untuk memberi kode aman kepada kelima temanku yang sedang bersembunyi di atas pohon. Tapi, kepala Ki Barong tiba-tiba muncul di balik gorden, kembali menatapku. Tapi aku tetap pede dengan aktingku itu dan berganti menggoyangkan tangan kananku sebagai tanda kondisi tidak aman. Akhirnya Ki Barong tidak nongol-nongol lagi. Setelah yakin kondisi aman, akupun memberi kode kepada kelima anak itu untuk segera mengekor di belakangku dan bersembunyi di balik dinding bangunan. Merekapun mengikuti instruksiku.
Aku berjalan di depan salah satu rumah sambil celingak-celinguk mengamati sekitar. Syukurlah, tidak ada hantu yang aku lihat, akupun memberi kode kepada teman-teman di belakangku untuk maju satu bangunan. Sedangkan aku kembali melangkah satu rumah lagi. Ada hantu emak-emak berdaster sedang berjalan menujun ke arahku. Aku memberi tanda tidak aman kepada teman-teman di belakangku. Kemudian aku berupaya untuk mencegah supaya emak-emak itu tidak melewati jalur tempatbteman-teman bersembunyi. Aku sedikit melebarkan cara jalanku supaya emak-emak itu tersisih ke sisi yang lain, sayangnya usahaku gagal. Seperti tak mau kalah, hantu emak-emak ini malah lebih melebarkan kakinya hingga jalan kecil itu tidak cukup untuk dilalui kami berdua. Aku tersisih ke pinggir, ketika hantu emak berdaster tersebut lewat.
"Benar kata orang, emak-emak kalau di jalan ibarat raja jalanan saja,"
Aku menoleh ke belakang memperhatikan arah jalan emak berdaster itu yang agak minggir ke sisi kanan, otomatis ia akan menuju rumah tempat kelima temanku bersembunyi. Dalam hati aku berdoa semoga emak tidak melihat teman-temanku itu. Anehnya, meskipun sudah miring ke kanan ternyata pada pertigaan di depannya, hantu emak berdaster itu malah belok kiri. Secara otomatis aku menepok jidatku sendiri.
"Dasar emak-emak, bikin jantungan saja"
Setelah emak itu menjauh, aku memberi kode kepada teman-temanku untuk maju satu rumah lagi. Sedangkan aku melanjutkan perjalanan untuk membuka jalan bagi teman-temanku. Tak terasa aku sudah sampai di tempat pertunjukan tadi. Ternyata gamelan masih dibunyikan, pertanda pertunjukan belum usai. Sesampai di tempat pertunjukan tersebut aku kebingungan karena tidak ada jalan lain bagi teman-temanku untuk melanjutkan perjalanan selain melewati area lapangan tersebut. Akupun mendatangi teman-temanku untuk memberitahu kesulitan tersebut dan menyampaikan strategi yang akan aku jalankan. Mereka awalnya melarangku karena khawatir, tapi aku tetap kekeuh memaksa, akhirnya mereka menyetujuinya meskipun berat.
Aku melangkah menuju area pertunjukan itu. Ternyata di tengah lapangan ada penari lain yang menggantikan penari yang dibawa Ki Barong ke rumahnya. Penari yang ada di tengah lapangan tidak selincah penari yang tadi, tetapi cukup menghibur juga. Ada seorang hantu lelaki yang berusaha mencium dna memeluk penari itu, namun tak pernah berhasil.
"Inilah kesempatanku, bismillahirrohmanirrohiiim ...,"
Dengan kaki diseret dan kedua tangan dibengkokkan, akupun merangsek ke tengah lapangan ke arah penari itu. Aku menggerakkan pundak dan pinggulku mengikuti irama yang dimainkan oleh hantu pemusik. Para penonton bersorak-sorai menyaksikan aksiku, tentunya sorak-sorai yang kumaksud adalah suara aneh dari mulut mereka yang tak sempurna. Aku mendekati penari perempuan itu untuk mengajaknya menari bersama, penonton semakin histeria melihat aksiku. Mungkin di pikiran mereka, berani-beraninya hantu bocil sepertiku mengajak primadonanya berjoget bersama. Aku semakin menikmati alunan musik yang dimainkan, penari perempuan yang tingginya masih di atasku itupun membalikkan badannya ke arahku.
"Busyeeeeeet ... ternyata penari yang ini wajahnya serem seperti hantu yang lain. Tidak cantik seperti penari pertama tadi,"
Aku sungguh terkejut melihat wajah penari itu yang tak kalah buruknya seperti yang lain. Tapi demi mendalami peran, akupun berusaha menguatkan hatiku untuk tetap menjalankan rencanaku. Penari itu meladeni gerakan-gerakanku. Tangannya yang hanya tinggal tulang kupegangi dengan kedua tanganku dan kamipun menari bersama dalam iringan gendang yang semakin menghentak. Para penonton semakin bersorak-sorai menyaksikan keserasian gerakan antara aku si hantu bocil dan penari idola mereka. Semua penonton merapat ke tengah lapangan demi menonton pertunjukan yang semakin seru. Kulihat teman-temanku mengendap-ngendap menyebrangi lapangan itu, lewat di belakang penonton yang perhatiannya semua tertuju ke arah aku dan si penari. Mereka yang senang, aku yang mual. Bagaimana tidak, dikerubuti hantu-hantu buruk rupa dan berbau busuk itu tak ayal membuatku merasa mual. Tapi kutahan supaya penyamaranku tidak diketahui oleh mereka. Begitu kulihat temanku sudah berhasil menyebrang, akupun mengatur strategi untuk kabur menyusul mereka.
Pria yang tadi susah payah mendapatkan respons dari penari, terlihat sewot melihat keserasian tarian kami. Akupun menarik kedua tangan penari itu ke arahku dengan tetap memperhatikan irama. Kami menari dengan posisi aku mundur alon-alon ke belakang diikuti oleh penari itu. Pada saat kami sudah mepet ke penonton, akupun segera berkelit ke bawah sehingga kedua tangan penari itu memeluk pria yang tadi sewot kepadaku. Alhasil pria itu segera memeluk pinggang penari itu dan menari bersamanya. Penontonpun semakin bersorak-sorai melihat aksi kocak itu. Musik semakin menghentak ketika si penari berusaha lolos dari pelukan pria itu namun tidak berhasil. Akhirnya penari itupun terpaksa meladeni si pria untuk menari berputar-putar mengelilingi lapangan, dengan harapan si pria lengah dan ia bisa melepaskan diri dengan elegan.
"Im, Aktingmu tadi sungguh luar biasa. Kami sangat berterima kasih kepadamu karena sudah rela berkorban untuk menyelamatkan kami," ucap salah satu dari temanku.
"Sst... ini bukan saatnya reuni. Lebih baik kita segera melarikan diri sebelum ada yang melihat keberadaan kita," jawabku tegas.
"Baiklah, apakah masih jauh jalan keluarnya, Im?" tanya mereka.
"Sudah tidak jauh lagi, Kok. Kita tinggal belok kiri di depan, kemudian berjalan lurus mengikuti garis kuning di tanah, menuju lorong yang tidak ada rumahnya lagi," jawabku.
"Baiklah, ayo kita berangkat," ucapku sambil berjalan dulu menuju pertigaan di depan. Setelah dirasa aman, teman-temanku kuberi kode untuk menyusulku. Akhirnya kita sudah sampai di tikungan dan kamipun belok kiri menuju deretan rumah yang sederhana tempat awal aku sampai di kampung hantu ini.
"Ayo, kita jalan bersama saja, sepertinya hantu itu tidak ada lagi di sini. Mereka sibuk berpesta pora di tempat tadi," ucap salah satu teman.
Akhirnya kamipun menurutinya, kamipun berjalan mengendap-endap melewati rumah-rumah itu. Sialnya, tiba-tiba ada yang membuka pintu dan menyaksikan keberadaan kami.
[Errrrrrrrghhhhh ....]
Bersambung
Aku nulis upnya nunggu likenya banyak ya, takutnya yang baca cuma sedikit.
Makasih atas atensinya