
Setelah Rama, Ratu Sari dan Genderuwo berhasil mengalahkan serangan awal Vampire dan Leyak yang menyerang rumahnya, Rama merasa bahwa dia harus lebih memperdalam ilmu dan ajiannya agar dapat menghadapi serangan serupa di masa depan. Apalagi kondisi Ratu Sari yang sedang hamil, pasti akan membutuhkan konsentrasi yang lebih.
Oleh karena itulah, tanpa menunggu lama di esok harinya, Rama pun memutuskan untuk melatih kembali dirinya dalam wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga. Dia berdiri di tengah halaman rumahnya, dengan sikap tegap dan konsentrasi yang tinggi.
Rama: "Konsentrasi... relaksasi... fokus..."
Rama menarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkan napas perlahan-lahan sambil memusatkan pikirannya. Dia mulai merasakan energi di sekitarnya, dan merasakan kedamaian dalam dirinya hingga aura mustika Kalimasada pun ikut memancar dari dalam raganya.
Rama: "Ya Allah, kuatkanlah aku dan berilah aku kekuatan untuk menjaga keluargaku dari segala bentuk kejahatan makhlukmu." Ratu Sari pun terlihat tersenyum dari dalam rumah ketika melihat suaminya Rama yang berlatih sendirian.
Saat itu juga, akhirnya Genderuwo muncul kembali di hadapan Rama.
Genderuwo: "Assalamu'alaikum, Rama. Apa yang kau lakukan?"
Rama: "Wa 'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Aku sedang melatih kembali diri dalam wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga, Genderuwo. Aku tidak ingin terkejut lagi dengan serangan makhluk halus seperti kemarin."
Genderuwo: "Baiklah, Saya akan membantumu Rama. Saya akan menjadi lawan tanding di latihan ini."
Genderuwo: "Konsentrasi... energi... kuasa..."
Rama: "Relaksasi... fokus... konsentrasi..."
Mereka berlatih hingga tengah malam, dan merasakan bahwa kemampuan ajian mereka semakin terasah.
Tiba-tiba, Rama memanggil Genderuwo, "Genderuwo, tolong serang aku dengan segala kemampuanmu menggunakan Ajian Segara Geni. Aku akan menggunakan wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga untuk menghadapimu."
Genderuwo kaget dan bertanya, "Apakah ini benar-benar yang kamu inginkan, Rama? Saya tidak ingin melukai kamu."
Rama tersenyum dan menjawab, "Tentu saja, Genderuwo. Ini adalah latihan, dan aku harus memastikan bahwa kemampuan Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga sudah kembali terasah."
Genderuwo mengangguk mengerti dan kemudian mulai menyerang Rama dengan cepat dan lincah menggunakan Ajian Segara Geni. Rama menggunakan wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga untuk menghindari dan melawan balik setiap serangan Genderuwo. Pertarungan ini berlangsung sengit dan menarik perhatian RatuSari di dalam rumah.
Setelah beberapa lama bertarung, Rama akhirnya mampu mengalahkan Genderuwo dengan menggunakan kekuatan aura mustika Kalimasada yang muncul sempurna setelah wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga digabungkan. Genderuwo terpental jauh terkena kekuatan dari aura mustika Kalimasada,namun tersenyum puas dan berkata, "Kamu memang pantas menjadi pendekar sakti, Rama."
Rama tersenyum senang dan menjawab, "Terima kasih, Genderuwo. Aku harus terus berlatih agar bisa menjadi lebih kuat lagi dan dapat menjaga Ratu Sari dan anak dalam kandungannya dengan baik."
Setelah Rama berhasil mengalahkan Gendoruwo dalam latihan tersebut, tiba-tiba langit di atas halaman rumah Rama terpecah, dan petir muncul bersahut-sahutan di langit. Sebuah pusaka sakti pun turun dari langit dalam bentuk bola api yang terang benderang. Rama merasa terpana melihat keajaiban ini, sementara Genderuwo tampaknya terkejut dengan kedatangan pusaka tersebut. Kemudian pusaka tersebut akhirnya menuju ke Rama dan seketika itu pula langsung digenggam oleh Rama. Ternyata pusaka tersebut berbentuk senjata Kujang, senjata khas dari daerah Pasundan, dan tangan Rama berasa bergetar hebat saat menggenggamnya.
Rama: "Pusaka apakah ini Gendoruwo? Rasanya aneh di tangan, getarannya sangat kuat dan menyerap kekuatanku dengan hebat."
Pusaka Kujang Pamenang adalah sebuah pusaka sakti dalam legenda Pasundan yang diyakini memiliki kekuatan gaib untuk membawa kemenangan dan keberuntungan bagi pemiliknya. Pusaka ini pernah dipakai oleh Ki Ageng Selo, salah satu tokoh dalam legenda Jawa yang terkenal akan kekuatan gaibnya.
Menurut cerita, Ki Ageng Selo dikenal sebagai seorang ulama dan ahli silat yang sangat terampil. Ia hidup pada masa pemerintahan Mataram Islam di Jawa pada abad ke-16. Selain Tombak Kyai Kanjeng, Ki Ageng Selo juga dikenal memiliki beberapa pusaka sakti lainnya, termasuk Pusaka Kujang Pamenang.
Kujang sendiri adalah senjata tradisional dari Sunda yang biasanya digunakan untuk keperluan pertanian dan juga sebagai senjata dalam perang. Namun, dalam versi legenda Jawa, Kujang Pamenang memiliki kekuatan gaib yang luar biasa. Pusaka ini dipercaya dapat membawa kemenangan dalam peperangan, memperlancar rezeki dan menghindarkan pemiliknya dari segala marabahaya.
Rama: "Bagaimana Aku bisa menerima pusaka ini?"
Genderuwo: "Kamu harus membuktikan dirimu layak untuk menerima pusaka ini. Kamu harus memperlihatkan keberanian dan kemampuanmu dalam menghadapi segala rintangan dan tantangan. Hanya dengan cara ini, Pusaka Pamenang akan menerimamu sebagai pemiliknya."
Genderuwo: "Baiklah. Karena Kamu telah berhasil mengalahkan saya dengan Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga, sekarang saya akan menyerangmu dengan maksud untuk menguji kemampuanmu dalam menggunakan Pusaka Kujang Pamenang. Kamu cukup gengggam pusaka itu sambil melafalkan wirid Ajian Kalimasada disambung Ajian Tyaga hingga aura mustika Kalimasada keluardari ragamu, kemudian kamu arahkan pusaka. tersebut ke Saya yang menyerangmu. "
Rama:" Baiklah Genderuwo, marikita mulai."
Lalu Genderuwo menyerang Rama dengan Ajian Segara Geni yang mengeluarkan api biru dari tangannya. Rama berhasil menghindar dari serangan tersebut dan dengan sigap ia menghindar dan melancarkan serangan balasan sambil melafalkan wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga. Pusaka Kujang Pamenang pun masih digenggam Rama sembari menghindari serangan Gendoruwo. Hingga pada saatnya ketika wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga mulai memunculkan aura mustika Kalimasada, tiba-tiba Rama langsung terpental jatuh ke tanah akibat getaran dari Pusaka Kujang Pamenang.
Rama-pun bangkit, mencoba mengulangi kembali wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga sampai muncul aura mustika Kalimasada dan lagi Rama terpental lagi ke tanah akibat kekuatan Pusaka Kujang Pamenang. Genderuwo dan Ratu Sari yang melihat Rama pun sedikit kuatir.
Rama kembali bangkit, mencoba untuk ketiga kalinya melafalkan wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga sehingga aura mustika Kalimasada muncul dengan terang serta Pusaka Kujang Pamenang tetap tergenggam di tangan Rama. Kali ini Rama sudah mulai menguasai kekuatan Pusaka Kujang Pamenang, sehingga dia tidak lagi terpental.
Rama: "Ayo Genderuwo, coba sekarang kamu serang aku dengan Ajian Segara Geni kekuatan penuh. "
Gendoruwo: " Baiklah Rama, Hati-hati.. "
Gendoruwo segera menyerang Rama, tapi Rama kemudian mengarahkan ujung Pusaka Kujang Pamenang ke arah Genderuwo sehingga memancarkan aura mustika Kalimasada dengan tambahan kekuatan Pusaka Kujang Pamenang yang dahsyat sehingga menghantam raga Genderuwo. Seketika itu pula Genderuwo pun langsung lemas, tidak berdaya merasa kalah menghadapi Rama.
Rama:" Genderuwo, apakah kamu tidak apa-apa? "
Genderuwo:"Wow, kekuatan Pusaka Kujang Pamenangmu sangat luar biasa, Rama. Saya merasakan getarannya sampai ke jiwaku yang paling dalam."
Rama: "Aku sudah tidak merasakan getaran Pusaka Kujang Pamenang seperti di awal. Kekuatan luar biasa tersebut mengalir dalam diriku sekarang. Terima kasih banyak, Genderuwo."
Genderuwo: "Sekarang Anda telah menjadi pemilik sah dari Pusaka Pamenang. Gunakanlah kekuatan ini dengan bijaksana dan hanya untuk tujuan yang baik. Ingatlah, dengan kekuatan besar datang tanggung jawab besar."
Rama pun kemudian kembali menyimpan Pusaka Kujang Pamenang ke dalam sarungnya. Kemudian Rama pun masuk dalam rumah menemui Ratu Sari.
Ratu Sari yang sedari tadi melihat latihan Rama dengan Gendoruwo semakin bertambah kagum dengan kekuatan suaminya, Rama. Kekuatannya yang semakin hari semakin bertambah untuk melindungi Ratu Sari dan anak yang dikandungnya.