KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Ajian Ki Ageng Selo, dan Tombak Kyai Kanjeng


Lanjutan bab ini, masih mengisahkan perjalanan Ki Sabrang mendapatkan ajian dan pusaka saktinya sebelum melawan Buto Ijo, penguasa kerajaan Jin di puncak Gunung Lawu. Setelah membunuh Raja Guntur Nagapati dan mendapatkan ajian setan Kober, Ki Sabrang merasa percaya diri untuk menyerbu Kerajaan Jin aliran hitam lainnya, terutama yang terbesar dan berada di ujung timur Pulau Jawa.


Ki Sabrang menyempurnakan Ajian Setan Gobernya beserta pusaka Keris Naga Siluman dengan latihan dan tirakat selama 75 malam lamanya, sebelum menyerang Kerajaan Jin Rakshasa Badhaka.


Kerajaan Jin Rakshasa Badhaka berada di tengah - tengah alas roban Blambangan, Banyuwangi dengan istana nya berupa gua yang tersembunyi di balik rerimbunan pohon-pohon besar. Alas Roban adalah sebuah hutan belantara yang terletak di daerah Blambangan, Banyuwangi. Hutan ini dianggap sangat angker dan mistis, dikatakan sebagai tempat tinggal jin-jin dan makhluk halus lainnya.


Kerajaan Jin rakshasa badhaka sendiri dihuni oleh para jin yang memiliki kekuatan magis yang sangat kuat. Mereka dikenal sebagai jin rakshasa, yang memiliki bentuk badak dan sering menampakkan diri kepada manusia sebagai siluman badak yang menakutkan.


Raja Maheswara adalah penguasa yang sangat ditakuti oleh masyarakat sekitar. Ia memiliki kekuatan yang luar biasa dan dapat mengendalikan seluruh jin di kerajaannya. Di dalam kerajaannya, Raja Maheswara memiliki berbagai ajian dan pusaka yang dianggap sangat kuat dan menakutkan. Di antaranya adalah Ajian Ki Ageng Selo yang memiliki kekuatan untuk memanggil jin-jin dan memerintah mereka, serta pusaka Tombak Kyai Kanjeng yang konon dapat membunuh makhluk halus hanya dengan satu kali serangan. Terkesan nama dan pusaka tersebut berasal dari aliran putih, tapi ternyata sekarang dikuasai oleh jin aliran hitam.


Ajian Ki Ageng Selo ini memiliki kekuatan untuk menghilangkan tubuh fisik seseorang sehingga orang tersebut dapat berjalan di alam gaib dan melakukan apa pun yang diinginkan tanpa terlihat oleh orang lain.  Sedangkan tombak Kyai Kanjeng diyakini memiliki kekuatan magis yang sangat besar. Dalam cerita fiksi tersebut, Ki Sabrang digambarkan mampu mengeluarkan nyawa orang dengan hanya menunjuk tombak tersebut pada targetnya.


Karena kekuatannya yang sangat besar tersebut, Kerajaan Jin Rakshasa Badhaka dihormati oleh para jin dan diperintah oleh Raja Maheswara dengan tegas. Namun, di sisi lain, kerajaan ini juga menimbulkan ketakutan bagi manusia yang tinggal di sekitar hutan Alas Roban. Mereka percaya bahwa masuk ke dalam hutan ini akan membahayakan nyawa mereka karena terdapat banyak makhluk halus yang menyeramkan dan mematikan.


Meski demikian, keberadaan Kerajaan Jin Rakshasa Badhaka dan Raja Maheswara yang sangat kuat dan ditakuti membuat banyak orang sakti penasaran untuk mengunjungi hutan Alas Roban. Namun, mereka harus siap menghadapi bahaya yang ada di dalamnya jika memutuskan untuk memasuki wilayah kerajaan jin tersebut, termasuk Ki Sabrang.


Ketikanya semuanya sudah siap, Ki Sabrang melakukan perjalanan jauh ke Alas Roban Blambangan Banyuwangi untuk menantang Raja Maheswara, penguasa Kerajaan Jin rakshasa badhaka, untuk mendapatkan ajian Ki Ageng Selo dan pusaka Tombak Kyai Kanjeng yang dijaga ketat oleh Raja Maheswara dan pasukannya.


Setelah bermalam-malam melakukan perjalanan, Ki Sabrang akhirnya tiba di Alas Roban dan langsung menuju istana Raja Maheswara. Di sana, ia dihadapkan oleh pasukan jin dan siluman yang siap untuk menghadangnya. Namun, Ki Sabrang tidak gentar dan dengan percaya diri menantang Raja Maheswara untuk pertarungan.


Raja Maheswara yang merasa dihina oleh tindakan Ki Sabrang meminta pasukannya untuk menangkapnya. Namun, Ki Sabrang dengan keahlian bela dirinya berhasil mengalahkan pasukan jin dan siluman yang menyerangnya. Akhirnya, Raja Maheswara sendiri keluar dari istananya dan menghadapi Ki Sabrang.


"Selamat datang, Ki Sabrang. Aku dengar kau datang untuk menantangku. Apa yang ingin kau perjuangkan?" tanya Raja Maheswara.


"Aku ingin memiliki ajian Ki Ageng Selo dan pusaka Tombak Kyai Kanjeng yang dimiliki olehmu," jawab Ki Sabrang.


Raja Maheswara tersenyum, "Kau berani menantangku untuk merampas barang-barang berharga yang kumiliki? Apakah kau yakin akan mampu mengalahkanku?"


"Sangat yakin, aku punya kemampuan yang tidak kalah hebatnya," jawab Ki Sabrang dengan percaya diri.


"Aku setuju dengan tantanganmu, Ki Sabrang. Kita akan bertarung dalam pertarungan adu ilmu. Jika kau menang, barang-barang itu akan menjadi milikmu," kata Raja Maheswara. Ki Sabrang tidak gentar dan mengeluarkan ajian Setan Kober tingkat tinggi. Ia mengeluarkan pukulan dan tendangan yang cepat dan mematikan.


Setelah beberapa lama berkelahi, Ki Sabrang akhirnya berhasil menghantam Raja Maheswara dengan pukulan kuat. Raja Maheswara terjatuh ke lantai dan Tombak Kyai Kanjeng pun terlepas dari tangannya.


"Kau memang hebat, Ki Sabrang. Aku tidak menyangka kau memiliki kesaktian yang sehebat ini," kata Raja Maheswara sambil tersenyum.


Ki Sabrang mengambil pusaka  Tongkat Kyai Kanjeng yang terjatuh dengan hati-hati.


Ia merasa sangat lega dan bahagia berhasil mendapatkannya setelah melewati banyak rintangan dan pertarungan. Kemudian Ki Sabrang mengarahkan tongkat tersebut ke dada Raja Maheswara sambil komat-kamit merapal ajian Setan Kober tingkat tinggi, dan seketika itu juga nyawa Raja Maheswara tidak tertolong lagi dan tewas dengan mengenaskan. Inti nur ajian Ki Ageng Selo akhirnya bersatu dalam raga Ki Sabrang.


Setelah Ki Sabrang berhasil mengalahkan Raja Maheswara dan merebut Ajian Ki Ageng Selo serta pusaka Tombak Kyai Kanjeng, dia duduk di singgasana raja di depan lokasi bekas jasad Raja Maheswara yang sudah hilang menjadi debu akibat ajian Setan Kober.


Ki Sabrang duduk di atas takhta di dalam istananya, dikelilingi oleh para prajurit barunya yang sudah disumpah setia kepada Ki Sabrang. Dia melihat peta kerajaannya dan berbicara dengan para prajuritnya.


Ki Sabrang: "Aku ingin menguasai seluruh wilayah ini. Dengarkan titah pertamaku, mulailah dengan mengganggu penduduk desa di sekitar Alas Roban. Buatlah mereka takut, sehingga mereka tidak akan berani macam-macam di wilayahku lagi."


Penguasa wilayah: "Baik tuanku. Tapi bagaimana jika ada yang melawan kita?"


Ki Sabrang: "Jangan khawatir. Prajurit kita sudah cukup kuat dan mereka dilengkapi dengan senjata-senjata sakti. Selain itu, kita juga memiliki ajian-ajian yang membuat kita tak terkalahkan. Mulai lakukan sekarang!"


Penguasa wilayah: "Baik tuanku."


Ki Sabrang tersenyum puas saat prajuritnya mulai mengganggu penduduk desa di sekitar Alas Roban. Dia yakin bahwa tak ada yang akan berani melawan kekuasaannya dan mengancam wilayahnya.


Setelah berkuasa di Kerajaan Jin Rakshasa Badhaka, Ki Sabrang merasa bahwa tugasnya sebagai penguasa belum selesai. Ia merasa bahwa masih ada kerajaan lain yang harus ditaklukkan, yaitu kerajaan milik gurunya sendiri, Buto Ijo di puncak Gunung Lawu. Kerajaan Buto Ijo adalah salah satu kerajaan jin yang sangat kuat dan dihormati oleh banyak kerajaan jin di tanah Jawa Tengah.


Untuk mempersiapkan diri menghadapi Kerajaan Buto Ijo, Ki Sabrang memutuskan untuk melatih kemampuan bela dirinya dan juga para prajuritnya. Ia mengumpulkan para ahli bela diri dari seluruh penjuru kerajaan jin untuk memberikan pelatihan dan latihan yang intensif bagi para prajuritnya.


Selain itu, Ki Sabrang juga meminta bantuan para dukun dan ahli ilmu gaib untuk memberikan mantra-mantra perlindungan dan serangan kepada para prajuritnya. Ia juga meminta bantuan para ahli strategi untuk merancang rencana perang yang matang dan efektif untuk menaklukkan Kerajaan Buto Ijo.


Setelah melatih dan mempersiapkan diri selama berbulan-bulan, Ki Sabrang dan para prajuritnya pun memulai perjalanan ke Gunung Lawu untuk menantang Kerajaan Buto Ijo. Mereka melewati hutan dan gunung yang sulit dijangkau oleh manusia biasa, namun tidak sulit bagi para jin yang memiliki kemampuan magis.