KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 27 : GELAGAPAN


Posisi barisan kami sudah benar-benar dekat dengan sosok mirip Mbah Iyem itu. Jantung kami hampir copot, ketika tiba-tiba orang itu berkata dengan suara mendesah.


"MAYYIIIIIIT ... Selamat datang di Pos bayangan, silakan lanjutkan perjalanan kalian. Di depan sana Pos 2 sudah menunggu,"


"Alhamdulillah," pekik kita semua sambil menoleh secara bergantian ke arah orang yang sedang duduk itu. Ternyata dia adalah kakak kelas dari ekskul teater, dia sebenarnya laki-laki. Tapi, ia menggunakan kostum perempuan tua untuk menguji nyali para peserta penjelajahan.


Benar kata Mbah Iyem KW itu, tak sampai semenit, sampailah kita di Pos 2 yang letaknya di ujung tanah kuburan.


"Gimana, Adik-adik? Apakah Kalian mengalami kesulitan menemukan pos ini?" tanya salah satu penjaga Pos 2.


"Iya, Kak. Kami sempat tersesat ke Kampung Kintir," jawab salah satu dari tim kami.


"Wah, apa Kalian tidak diganggu arwah di sana?" tanya kakak kelas yang satunya lagi.


"Iya, Kak. Kami hampir mati dikejar-kejar demit kampung itu," jawab anak itu lagi.


"Enggak, kok. Mereka tidak pernah menyakiti siapapun, paling mentok biasanya orang dibuat muter-muter daerah itu seharian penuh," jawabnya.


"Kakak kok tahu?" tanyaku.


"Aku kan tinggalnya di Kampung Karangjati, jadi tahu apa yang terjadi di Kampung Kintir itu" jawabnya enteng.


"Oooo ... Pantes," Anak-anak berkata kompak.


"Kalian sudah sholat apa belum?" tanyanya.


"Beluuuum," jawab kami kompak.


"Sebaiknya Kalian sholat ashar dulu di sini, kami berdua sudah menyediakan alas untuk sholat. Kalau belum berwudlu, kalian bisa berwudlu di sungai tadi," terang kakak itu.


"Wah, jauh sekali tempat wudlunya. Untung kami semua sudah berwudlu tadi di kamar mandi umum, kalau tidak ...," jawab Gatot.


"Kalau tidak, kenapa? Apa tadi kalian diganggu penghuni sungai? he he he," ejek kakak itu.


"Kakak sepertinya sudah terbiasa dengan penampakan-penampakan di sini, ya?" tanya Fajar.


"Kalau, arwah Mbah Iyem gimana, Kak?" tanyaku lagi. Entah mengapa wajah kakak kelas yang semula sumringah, tiba-tiba memerah dan terlihat kebingungan.


"Sudah, sebaiknya Kalian segera menunaikan sholat ashar. Takutnya keburu malam, nanti Kalian bisa tersesat lagi di jalan." Ucapnya dengan agak bergetar.


Jujur, aku masih sangat penasaran dengan perubahan raut wajah kakak kelasku tersebut. Aneh rasanya, ketika membicarakan penampakan-penampakan di kampungnya, ia sangat antusias dan terlihat tanpa beban sedikitpun. Tapi ketika membicarakan arwah Mbah Iyem, mendadak raut mukanya berubah seratis delapanpuluh derajat, tidak ramah dan terkesan menyembunyikan sesuatu.


"Apa sebenarnya yang disembunyikan kakak kelasku ini? Mengapa Mbah Iyem menjadi arwah gentayangan di kantin sekolah?"


Kamipun sholat ashar secara bergantian, terbagi menjadi dua kelompok jamaah. Kami menggeser posisi alas sholat yang semula mepet dengan area kuburan, kami geser ke area di luar kuburan sesuai saran dari Fajar.


"Kak, terima kasih banyak atas bantuannya, ya? Akhirnya kami lebih tenang, karena sudah menunaikan sholat ashar," ujar Fajar.


"Iya, sama-sama. Sebaiknya Kalian segera berkemas dan melanjutkan perjalanan," ujar kakak itu.


"Baiklah teman-teman, ayo kita segera melanjutkan perjalanan!" teriak Fajar.


Kamipun berpamitan dan menulis tanda tangan di buku absensi yang dibawa oleh kedua kakak kelas itu. Setelahnya kamipun berbaris rapi seperti semula, dan bersiap melanjutkan perjalanan.


"Hai, Dik. Ingat loh ya!" teriak kakak tadi.


"Ingat apa, Kak?" teriakku sambil menoleh ke belakang.


"Kalau ada yang memanggil nama Kalian di kebun kopi, Kalian jangan sampai menoleh!" teriaknya lagi.


Entah kenapa, mendengar kalimat tersebut, perutku rasanya seperti sebah dan kembung seketika.


Bersambung


Ayo, jangan lupa like dan komentarmya ya?


Jangan luoa juga membaca novel hororku yang lain. Judulnya MARANTI ... serem banget loh ...


See u next episode ...