
Sepertinya ibu masih terkenang dengan kebersamaannya bersama Tari.
"Pelatih mereka syok sekali dan tidak percaya dengan peristiwa tragis yang menimpa Tari. Ia tak henti-hentinya menangis dan menyesal telah memberikan hukuman kepada Tari dan kawan-kawannya sehari sebelum Tari ditemukan tidak bernyawa. Pelatih itu kemudian mengundurkan diri karena selalu teringat dengan wajah Tari setiap mau melatih anak-anak. Padahal teman-teman sangat suka dilatih oleh beliau, meskipun keras dan tegas, beliau sangat telaten dan handal dalam menyalurkan ilmu bermusiknya kepada anak-anak," jawab ibu.
"Apakah waktu itu pihak kepolisian juga datang ke sekolah untuk meminta keterangan kepada pelatih itu?" tanyaku spontan.
"Setahu ibu, pihak kepolisian sudah meminta keterangan kepada beberapa orang di sekolah, termasuk pelatih itu. Warga di sekitar tempat kejadian perkara juga dimintai keterangan, tetapi pada akhirnya polisi menyimpulkan bahwa meninggalnya Tari diakibatkan oleh tabrak lari," jawab ibu.
"Dan sampai detik ini. Siapa yang menabraknya belum diketahui identitasnya," timpal bapak.
"Bu Mega mengatakan kepada saya bahwa beberapa hari sebelum meninggal, Tari pernah memergoki seseorang sedang mengintip Bu Mega di kamar mandi. Sayangnya, pengintip itu juga mengetahui keberadaan Tari. Jadinya, pengintip itu marah dan mengancam Tari. Sejak saat itu Tari menjadi was-was, takut pengintip itu berbuat nekat kepadanya," tuturku.
"Benarkah Mega bercerita demikian, Im?" tanya bapak dengan wajah terkejut.
"Iya, Pak. Bu Mega juga bercerita bahwa Bapak dan teman-teman Bapak sebelumnya juga disidang guru BP karena mau mengeroyok orang yang disangka mengintip di kamar mandi siswa perempuan," jawabku.
"Iya, benar yang disampaikan oleh Mega. Saya dan teman-teman disidang karena hampir memukuli orang itu. Tapi, apakah Tari mengatakan identitas orang tersebut sama dengan identitas orang yang hampir kami pukuli?" tanya bapak.
"Ketika bu Mega menanyakan hal itu kepada Tari, ia tidak mengiyakan. Bu Mega menyarankan kepada Tari untuk melapor ke pihak sekolah, tetapi Tari menolak karena menurutnya kesaksiannya tidak akan dipercaya oleh pihak sekolah karena orang tersebut sangat dekat dengan pemangku jabatan penting di sekolah. Bukankan orang yang Bapak pergoki juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan sekolah?" tanyaku.
"Iya, benar sekali, Im. Guru-Guru tidak ada yang percaya dengan kesaksian kami waktu itu. Mereka lebih percaya dengan omongan orang itu. Ya, maklum juga sih. Saya dan teman-teman memang terkenal sering berkelahi, makanya kesaksian kami tidak dipercaya oleh mereka," jawab bapak.
"Iya benar, Im. Bapakmu ini sering berkelahi, apalagi kalau di lapangan bola. Kena senggol sedikit saja langsung, dah," cetus ibu.
"Kalau di dunia bola lain lagi itu, Bu. Kalau terlalu lembek malah sering dicederai oleh lawan," jawab bapak.
"Tapi ... Apa benar orang yang Bapak pergoki waktu itu tega membunuh Tari hanya karena takut identitasnya sebagai tukang intip diketahui semua orang? Apalagi, Tari kan terbukti tidak menceritakannya kepada siapapun?" ujar ibuku.
"Apakah Ibu juga mengetahui identitas orang tersebut?" tanyaku penasaran.
"Tahu banget sih enggak, tapi waktu ada rame-rame di belakang sekolah, ibu juga datang dan melihatnya waktu itu. Bahkan ibu juga kurang percaya sih, kalau orang itu adalah seorang pengintip," ujar ibuku.
"Nah, kan benar, Im. Ibumu saja tidak mempercayai bapak, apalagi pihak sekolah," jawab bapak.
"Mungkin itu alasan Tari, tidak mau melapor ke pihak sekolah, ya? Tapi begini, Pak. Tari sempat bilang ke bu Mega sehari sebelum ia meninggal, bahwa setelah kejuaraan, ia akan mengungkap kasus besar di sekolah," ujarku.
"Kasus besar?" tanya bapak.
"Iya, Pak. Bu Mega juga bingung tentang kasus besar apa yang dimaksudkan oleh sahabatnya itu. Tari tidak menyampaikan secara gamblang kasus apa yang dimaksudkan olehnya. Ia keburu meninggal sebelum menyampaikan kepada bu Mega. Menurut bu Mega, diam-diam Tari melakukan penyelidikan terkait identitas orang tersebut, dan dari penyelidikan tersebut Tari menemukan sebuah kasus besar yang terjadi di sekolah," ujarku.
"Penyelidikan?" Ibu menggumam.
"Iya, Bu. Menurut bu Mega, Tari pernah mengatakan ia melakukan penyelidikan secara diam-diam. Apakah Ibu mengingat sesuatu?" Aku bertanya.
"Tunggu. Apakah Bapak ingat, sebelum kejadian itu Tari beberapa kali datang terlambat latihan musik?" tanya ibu kepada bapak.
"Iya, Bu. Kalau tidak salah Tari beberapa kali keluar dari area sekolah sebelum acara latihan musik. Pernah ia naik sepedanya sendiri, pernah naik sepedanya Mega, dan kayaknya ia pernah keluar bareng Ibu?" jawab bapak.
"Ah, Ibu ini mengada-ada saja. Bapak kan cuma suka dengan penampilannya di atas panggung, bukan suka sama orangnya. Habisnya, mau suka sama Ibu, takut dimarahi Kyai Nur dan Irfan," Bapak balik mengejek ibu.
"Emangnya kenapa dengan Kak Irfan? Ibu lo cuma teman satu tim lomba sama Kak Irfan," elak ibuku.
"Hm, Imran nggak boleh pacaran. Namun, Bapak dan Ibu dulu kok sudah suka-sukaan?" ucapku dengan nada sengaja kubuat seperti mengejek mereka.
"Kamu tetap nggak boleh pacar-pacaran pokoknya, titik. Dulu itu bapak dan ibu enggak pernah pacar-pacaran juga. Suka-Sukaan juga enggak. Tanya sudah sama Mega, apa dia bilang bapak dan ibu dulu pernah pacar-pacaran atau suka-sukaan?" ujar bapak dengan nada tinggi.
"E-e-enggak sih," jawabku terbata-bata.
"Nah, berarti kamu juga enggak boleh pacar-pacaran!" ujar ibuku.
Entah mengapa mereka berdua selalu kompak kalau dalam hal mendoktrinku untuk tidak pacar-pacaran. Tapi, kalau dipikir ada benarnya juga sih omongan mereka, entar kalau aku terlalu sibuk pacaran malah akan mengganggu belajar dan juga takut terjadi hal-hal yang dibenci oleh Tuhan.
Setelah sekian menit mengalihkan topik pembicaraan akhirnya ibu kembali berbicara mengenai sahabat masa SMP-nya, yaitu Tari.
"Iya benar. Ibu pernah membonceng dia ke suatu tempat," ujar ibu.
"Membonceng ke mana, Bu?" tanyaku dan bapak hampir bersamaan.
"Waktu itu Tari bilang kepada ibu, katanya ia ada tugas menggambar dan ia kehabisan buku gambar. Kebetulan hari itu ia tidak membawa sepeda karena bannya kempes. Jadi, ia minta antar ke ibu untuk membeli buku gambar," jawab ibuku.
"Membeli buku gambarnya di mana?" tanya bapak.
"Itu loh, Pak. Tokonya Yuk Kepak yang letaknya di selatannya tanjakan, masih terus sih, kurang lebih satu kilometer dari sekolah," jawab ibuku.
"Tunggu, kalau tidak salah tokonya Yuk Kepak itu kan dekat dengan rumah orang yang pernah mau dikeroyok oleh bapak dan teman-teman bapak?" ujar bapak.
"Iya, tah Pak? Ibu kan tidak paham dengan rumah pria itu. Cuma kalau diingat-ingat, ketika membeli buku gambar itu, Tari memakai jaket yang ada penutup kepalanya. Dan Tari juga meminjamkan jaketnya yang lain kepada ibu. Waktu itu ibu tidak curiga apa-apa, sih
Soalnya dia bilangnya, biar kami tidak masuk angin," ujar ibu.
"Apakah ada yang Ibu ingat lagi waktu mengantar Tari ke rumah Yuk Kepak?" tanyaku
"Hm ...,"
Ibu nampak berpikir keras mengingat-ingat kejadian masa lalunya itu.
Bersambung
Tetap semangat menunggu kelanjutan ceritanya ya, Kak!
Like dan komentar Kakak adalah semangat buatku.
Rasa penasaran yang Kakak rasakan adalah kebahagiaan untukku? He he he