KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 37 : BERSEMBUNYI


Aku mendekati suara berisik itu, namun mendadak suara itupun hilang. Akupun melangkah menjauh, kembali suara berisik itu terdengar lagi. Kali ini aku akan memeriksanya dengan lebih teliti. Dengan kaki diseret dan kedua tangan dibengkokkan, akupun memasuki pekarangan tempat pohon-pohon itu berada. Kutelusuri setiap sela di antara pohon-pohon itu, ternyata nihil. Tidak ada siapapun di sana. Aku sudah berniat untuk keluar dari pekarangan itu, saat tiba-tiba terdengar suara.


[Preeeeeet]


Iya, aku yakin itu suara kentut. Aku bersorak, pasti suara kentut itu berasal dari salah satu dari lima temanku yang hilang di area ini. Tidak mungkin ada hantu yang bisa buang angin. Kali ini aku yakin, anak-anak itu naik ke atas pohon untuk bersembunyi. Aku menoleh ke atas, benar saja mereka berlima sedang berada di ranting pohon yang tidak terlalu tinggi itu. Tanganku saja bisa menjangkaunya.


Aku memegangi kaki salah satu dari mereka, dengan maksud memberi tahu bahwa ini aku, Imran. Tapi mereka malah merintih sambil menerjang-nerjang tanganku. Akhirnya ranting itu menjadi tidak stabil dan ...


[Bug bug bug bug bug]


Suara badan mereka yang jatuh di sebelahku. Aku memegangi badan dua dari lima anak itu, kedua anak yang aku pegang malah menggigil ketakutan, sedangkan tiga anak yang lain agak menjauh dariku.


"Ampun, Hantu ... jangan makan aku! Dagingku pait," rintih salah satu anak sambil menangis.


"Ampun, Hantu ... jangan makan aku juga! Dagingku kurus," rintih anak yang satunya.


Tiga anak yang lain masih terus memantau pergerakanku. Mungkin mereka masih menunggu saat yang tepat untuk menolong kedua temannya. Terbersit di kepalaku untuk mengerjai mereka.


"Errrrrrgh ...,"


Aku mengeluarkan suara aneh untuk kembali menakuti mereka. Ketiga anak yang berada agak jauh terlihat menunjukkan raut wajah yang semakin ketakutan. Sedangkan dua anak yang sedang kupegangi makin meringkuk dan keduanya ngompol di celana.


Aku geli sendiri melihat reaksi ketakutan mereka itu, saking gelinya aku tak tahan dan akhirnya ngakak guling-guling di depan mereka.


"Kalian ini lucu, ini aku Imran," ucapku dengan masih menahan geli di perutku.


Mereka berlima memperhatikan aku yang sedang tertawa geli, dengan tatapan masih tidak percaya, kalau hantu yang ada di depan mereka adalah aku.


"Kalian benar-benar lucu, ealah ini malah pake ngompol segala," ucapku dengan nada mengece.


"Ya elah, Kamu Im?" pekik salah satu anak sambil menghela napas panjang.


"Dasaaaar, Kamu toh Im. Aku sampek ngompol di celana," pekik salah satu anak yang mengompol tadi.


"Iya, ini aku, Imran, teman Kalian," jawabku sambil menuntaskan sisa kegelian di perutku.


"Bagaimana Kamu bisa ada di sini, Im. Dimana teman-teman yang lain?" tanya salah satu anak.


"Alhamdulillah mereka semuanya selamat. Lidya dan Cindy sudah balik ke sekolah. Dua anak yang lain bersama Kak Dino dan Pak Rengga sedang berjaga-jaga di luar kebun kopi, sedangkan aku ditugaskan masuk ke dalam untuk menyelamatkan Kalian berlima," jawabku.


"Ya Tuhan, kami merasa berdosa kepada Kalian karena sempat melarikan diri meninggalkan Kalian waktu diserang makhluk halus," ucap salah satu dari mereka.


"Sudahlah, lupakan hal itu. Lain kali, Kalian jangan melakukan hal seperti itu. Susah senang, kita harus selalu bersama," jawabku lagi.


"Bagaimana ceritanya Kalian berlima bisa lolos dari makhluk itu?" tanya salah satu dari mereka lagi.


"Cindy menggunakan garam untuk menyerang mereka," jawabku.


"Garam?" tanya mereka heran.


"Iya, garam. Tentunya sambil berdoa memohon keselamatan kepada Sang Pencipta," jawabku lagi.


"Kalau garam sich, salah satu dari kita ada yang bawa, soalnya kemarin kita berlima sempat janjian untuk rujakan hari ini. Apa masih ada garamnya?" tanya mereka kepada salah satu temannya.


"Adaaaa, ini. Kebetulan aku tadi pagi beli di warung depan sekolah" jawab temannya sambil mengeluarkan garam satu plastik dari tasnya. Lagi-lagi tasnya keluaran Junan Olshop.


"Wah, bagus kalau begitu," ucapku.


"Gimana ceritanya badan Kamu penuh lumpur seperti ini, Im?" tanya mereka lagi.


"Iya, benar Im. Bahkan kami berlimapun sulit membedakan antara Kamu dengan hantu-hantu sialan itu. Terlebih, gaya jalanmu sangat persis dengan mereka," ucap salah satu dari mereka lagi.


"Sialan, Kamu. Masak aku disamakan dengan mereka, emang eke apaan?" jawabku sambil memelintirkan jari-jariku.


"Ha ha ha ha ha ...," Akhirnya mereka bisa tertawa.


"Sssssst ... sebaiknya sekarang kita mengatur cara untuk bisa keluar dari tempat ini," bisikku pada mereka.


"Iya, benar Im. Bagaimana caranya ya?" tanya mereka kebingungan.


"Oke, begini. Kalian harus mengotori tubuh Kalian dengan tanah, seperti aku ini. Kemudian kita berjalan mengikuti cara jalan mereka, dan kita mencari celah supaya bisa keluar dari tempat ini," ucapku.


"Ide yang bagus, tapi dimana kami akan mendapatkan lumpur?" tanya mereka sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Tepat di sebelah utara, lima meter dari tempat kita mengobrol, ada kubangan air. Merekapun berebut untuk mengotori pakaian mereka dengan tanah dicampur kubangan air itu. Sayangnya, ketika lumpur itu sudah mereka lumuri ke tubuh mereka. Perlahan demi perlahan lumpur yang sudah menempel di pakaian dan kulit mereka itu luntur dan lenyap. Beberapa kali mereka melakukannya, tapi lumpur itu kembali sirna.


"Sudahlah, sepertinya lumpur-lumpur di alam ghaib ini tidak akan menempel pada tubuh Kalian. Sebaiknya kita jalankan rencana kedua saja," ucapku menenangkan kegelisahan mereka.


Merekapun menghentikan aktifitas mereka yang sia-sia barusan dan merapat ke arahku, sembari salah satu dari mereka bertanya kepadaku.


"Apa rencana keduamu?" ujarnya.


"Begini, kita akan mengendap dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Aku yang memimpin di depan, Kalian mengikutiku di belakang. Masing-masing dari Kalian harus membawa garam di saku. Dan jangan sekali-kali menggunakan garam itu jika tidak kepepet, karena jarak dari sini ke tempat keluarnya masih agak jauh," ujarku didengarkan oleh mereka berlima.


"Bagaimana cara kami mengikutimu, Im?" tanya mereka lagi.


Begini, kalau aku menggoyang-goyangkan tangan kiriku artinya kondisi aman, Kalian boleh keluar dan berpindah ke bangunan berikutnya. Tapi jika aku menggoyang-goyangkan tangan kananku, itu artinya kondisi sedang tidak aman. Kalian harus tetap bersembunyi, dan bersiaga. Aku akan mengalihkan perhatian hantu-hantu yang sedang berpapasan denganku untuk mengubah rutenya, tapi kalau hantu itu tetap memaksa lewat di jalur tempat Kalian bersembunyi. Tetaplah bersembunyi, baru kalau ketahuan, lenyapkan mereka dengan garam itu. Ingat, jangan terlalu banyak melempar garamnya, karena jalur kita cukup jauh. Paham?" tanyaku tegas.


"Pahaaam," jawab mereka.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai bergerak," ucapku.


"Kamu ingat, Im. Dimana jalan keluarnya?" tanya mereka lagi.


"Kamu lihat pinggangku, samar-samar terlihat tali berwarna kuning, kan?" ucapku.


"Iya, kami melihatnya. Tali itu membayang di tanah, ke sana terus ya?" ucap mereka.


"Iya, benar. Kita akan berjalan mengikuti tali tersebut," ucapku.


"Sssssst ...." Salah satu dari mereka memberi tanda untuk berhenti.


"Ada apa?" bisik yang lain.


"Ada laki-laki dan seorang wanita sedang berjalan menuju kemari," jawabnya sambil berbisik.


"Hati-hati, Kalian harus bersembunyi, dia adalah Ki Barong, penguasa di sini."


[Tap tep tap tep]


Ki Barong dan penari itu tiba-tiba berhenti di depan rumah besar itu dan menoleh ke arahku.


Bersambung


Tolong yang baca bab ini, like ya? Biar aku tahu ada berapa sich yang menunggu-nunggu lanjutan ceritanya.