KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 97 : PENYELIDIKAN BAPAK


Bapak memulai ceritanya tentang penyelidikan yang ia lakukan bersama ibu. aku mendengarkan cerita bapak dengan semangat. Bapak bercerita kepadaku bahwa pengintip itu memang tinggal di sana dan memiliki hubungan kekerabatan yang sangat kuat dengan kepala sekolah SMP 01 Karangjati. Tiap akhir pekan, sudah dipastikan akan ada pertemuan antara keluarga kepala sekolah dan keluarga pengintai itu. Setidaknya, Yuk Kepak sebagai tetangga dekatnya sering menyaksikan adanya pertemuan tersebut.


"Apakah mobil dengan ciri-ciri penabrak itu ada di sana, Pak?" tanyaku kepada bapak.


"Pengintip tersebut memiliki beberapa mobil. Secara ekonomi, ia terbilang cukup sukses. Mobil yang ditengarai telah ia gunakan untuk menabrak Tari sepertinya ada di sana, meskipun jarang dipakai di antara mobil yang lain," jawab bapak.


"Ooo begitu, Pak?" tanyaku memastikan.


"Iya, menurut Yuk Kepak, dulu awal-awal menikah, keluarga pengintip itu sering berhutang di toko Yuk Kepak. Tapi, kalau sekarang ekonominya sudah jauh di atas rata-rata." jawab bapak.


"Apakah ia masih menyimpan bukti-bukti kejahatannya terhadap Tari?" tanyaku seakan tidak percaya.


"Tidak ada kejahatan sempurna, Im. Sepandai-pandainya ia menyembunyikan kejahatannya selama ini, mungkin inilah saat baginya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya tersebut," jawab bapak dengan geram.


"Bapak punya suatu rencana untuk menangkapnya?" tanyaku penasaran.


"Iya, Im. Bapak punya rencana itu," Bapak menjawab dengan penuh percaya diri.


"Boleh saya tahu rencana Bapak?" tanyaku.


"Sini bapak bisikin!" jawab bapak sambil berbisik di telingaku.


"Bapak yakin?" tanyaku tidak percaya dengan rencana bapak.


Bapak mengangguk meyakinkanku. Meskipun aku ragu, tapi melihat ekspresi keyakinan bapak, aku harus percaya hal itu.


"Kamu kenapa, Im?" tanya bapak.


"A-a-ku ragu dengan rencana itu, Pak" jawabku.


"Percayalah kepada bapak! Rencana tersebut akan berhasil," jawab bapak berusaha meyakinkanku kembali.


"Bapak dan Ibu mau kemana?" tanyaku.


"Ibu mau bantu-bantu di rumah mbah Arni, Im." jawab ibuku.


"Bapak mau ke rumah seseorang," jawab bapak.


"Hati-Hati ya, Pak!" ucapku.


"Tenang saja, Im. Kita harus bertawakkal kepada Tuhan atas segala yang akan terjadi," jawab bapak.


Bapak pun naik sepeda bajong meninggalkan rumah. Dari kejauhan, samar-samar aku melihat seperti ada yang membonceng di belakang bapak, tapi penglihatanku agak kurang jelas juga. Aku pun bersiap-siap untuk mandi dan menghabiskan waktu sore untuk sekedar membaca buku pelajaran sekolah sambil menunggu datangnya magrib.


Menjelang magrib, bapak datang dengan sepeda bajongnya. Aku terkejut karena di belakang bapak benar-benar sedang ada yang memboncengnya.


"Kamu kenapa ketakutan begitu, Im?" tanya bapak.


"Bapak sedang membonceng siapa?" tanyaku sambil menunjuk sepasang kaki di belakang bapak.


"Oooo, bapak sedang membonceng cewek cantik yang baru turun dari kayangan," jawab bapak dengan nada bercanda.


Perempuan yang membonceng di belakang bapak tiba-tiba turun dari sepeda dan berjalan ke arahku. Aku cukup terkejut, ternyata perempuan tersebut adalah ibuku.


"Iya, Im. Aku tadi membonceng dari rumah mbah Arni. Aku mau sholat Magrib di rumah saja karena di rumah mbah Arni antri mukenanya. Kebetulan ibu melihat bapakmu lewat, ya sudah ibu panggil bapakmu supaya ibu bisa ikutan pulang untuk sholat Magrib di rumah," jawab ibuku.


"Oalah...," pekikku.


"Emangnya kamu kira ibu siapa?" tanya ibu.


"E-enggak, Bu. Saya tidak ngira siapa-siapa, saya cuma kaget bapak kok membonceng seseorang," jawabku.


"Bapakmu tidak bakalan berani membonceng perempuan lain, kok. Ya, kan Pak?" teriak ibuku.


"E-iya, Bu. Dosa kan hukumnya membonceng perempuan yang bukan muhrimnya. Kecuali tadi di jalan bapak sempat mau membonceng nenek-nenek yang kebingungan," jawab bapak.


"Nenek-Nenek?" pekikku.


"Iya, nenek-nenek kayak kebingungan begitu. Cuma pas bapak samperin, tiba-tiba sosok nenek itu sudah menghilang entah kemana," jawab bapak.


"Jangan-Jangan ..." pekikku.


"Aku beberapa kali diganggguin hantu nenek-nenek di jalan, Pak" jawabku.


"Berhati-hatilah dan selalu berdoa kepada Allah SWT. Jangan berkendara sendirian juga. Cari teman berkendara!" ujar bapak.


"Iya, Pak" jawabku.


"Dulu, jaman ibu masih bersekolah, memang sempat ada cerita tentang nenek di pinggir jalan," jawab ibuku.


"Oh ya? Gimana ceritanya, Bu?" tanyaku.


"Panjang ceritanya, sudah keburu magrib. Nanti lain waktu saya ceritakan perihal nenek itu," jawab ibuku.


"Baiklah, Bu" jawabku.


"Sudah azan, tuh. Sebaiknya kamu segera ke mesjid, Im!" ucap ibuku.


"Iya, Bu" Aku menjawab.


Aku pun berangkat ke mesjid. Seperti biasa, Parto juga sudah menungguku di depan rumahnya. Kami berdua pun berangkat bersama-sama menuju mesjid. Sesampai di mesjid, kami pun menunaikan salat Magrib secara berjamaah.


"Im, kita nggak usah pulang dulu, ya?" ucap Parto.


"Iya, nggak usah. Langsung berangkat tahlilan saja ke rumah mbah Arni.


"Oke," jawab Parto.


Kami pun berangkat ke rumah mbah Arni untuk mengikuti acara doa bersama di sana hingga me jelang salat Isya. Sepulang dari rumah mbah Arni, kami berdua mampir kembali di mesjid untuk menunaikan salat Isya, tetapi waktu itu imamnya belum ada yang datang.


"Im, berwudlu dulu, yuk?" ajak Parto.


"Ayuk. Dimana?" tanyaku.


"Di timurnya pak Suwarno saja. Di sana lebih enak soalnya di pinggir jalan.


" Oke kalau begitu," jawabku.


Memang bekas rumpun bambu ittu sudah lama difungsikan sebagai kamar mandi umum. Jadi masyarakat bisa berwudlu, mencuci, atau buang air di tempat tersebut.


"Im, itu siapa kok ada nenek-nenek di tempat berwudlu?" tanya Parto.


"Aku juga tidak tahu, To. Mungkin nenek-nenek sekitar tempat ini yang mau ikut salat Isya juga di mesjid," jawabku.


"Iya juga, sih. Lebih baik kita tunggu saja nenek-nenek itu selesai terlebih dahulu, Im. Supaya ia tidak terburu-buru," ucap Parto.


"Iya, betul. Nanti malah kepleset, kasihan," jawabku.


Beberapa menit kami berdua menunggu nenek tua tersebut berwudlu dari kejauhan. Kami berdua menunggu sambil mengobrol. Beberapa waktu kemudian kami terkejut karena kehilangan jejak nenek tua tadi.


"Loh, kemana nenek tua tadi, To?" pekikku.


"Iya, ya. Perginya nggak kelihatan, tahu-tahu sudah hilang. Ya sudah, ayo, segera kita berwudlu saja biar tidak keduluan orang lain lagi," ujar Parto


"Ayo!" jawabku.


"Tunggu, Im!" pekik Parto tiba-tiba.


"Kenapa, To? Ada apa? Kamu kok kayak kebingungan begitu?" tanyaku penasaran.


"Coba kamu minggir! S-sepertinya nenek tua itu ada di belakang kamu." Pekik Parto.


"Apa?" teriakku karena terkejut.


Perlahan aku memutar kepalaku menuruti arahan Parto. Aku menoleh ke belakang, di belakangku agak gelap, tetapi aku dapat melihat dengan jelas wajah nenek tua itu memang benar ada di belakangku dengan pakaian berwarna putih polos menutupi tubuhnya.


Bersambung


Maaf kondisi belum pulih. Up ini untuk pembaca setia KAMPUNG HANTU.