KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
RANGDA


"Ratu Sari, apakah dirimu baik-baik saja? " Rama langsung mencari istrinya di ruang tamu rumahnya begitu kembali dari tengah hutan bersama Gendoruwo.


"Aku baik-baik saja, Rama.. Bagaimana akhirnya pertarungan tadi di hutan? " jawab Ratu Sari sambil menahan perutnya yang sudah membesar dan jabang bayinya yang tidak bisa diam dalam perut. Rama pun memeluk Ratu Sari sambil mengucap, "Alhamdulillah mereka semua bisa dikalahkan, Ratu.. Tapi yang buatku heran, jumlah mereka sangat banyak. Ki Sabrang ternyata sudah bisa mengumpulkan pasukan sedemikian banyak untuk menyerang kita. "


Gendoruwo pun akhirnya ikut bicara, "Tenang, Rama.. Coba akan aku mintakan bantuan ke Raja Piningit supaya membantumu melawan Ki Sabrang. Dan mungkin Raja Piningit memiliki sekutu kerajaan Jin aliran putih yang bisa membantu kita. Aku mohon pamit dulu Rama, untuk menemui Raja Piningit. "


Rama : " Baik, Gendoruwo.. Sampaikan salam kami ke Raja Piningit. "


Gendoruwo langsung menghilang, meninggalkan Rama dan Ratu Sari di ruang tamu.


Sementara itu, di puncak gunung Lawu terjadi kekacauan dalam istananya. Tiba-tiba segerombolan leyak Bali memaksa masuk dan menyerang kerajaan Jin yang dipimpin oleh Ki Sabrang tersebut. Gerombolan leyak Bali tersebut dipimpin seorang Ratu yang memaksa untuk bertemu dengan Ki Sabrang, tapi dilarang masuk oleh penjaga pintu istananya. Akhirnya terjadi pertempuran dan gerombolan leyak Bali itu berhasil masuk istana untuk menemui Ki Sabrang.


Ki Sabrang yang sedang bersemedi dalam istananya, akhirnya keluar untuk menemui gerombolan Leyak," Selamat datang Rangda di istana kami. Saya sudah menunggumu, perkenalkan akulah Ki Sabrang yang engkau cari. " Ternyata Ki Sabrang mengenal Ratu pimpinan Leyak, Rangda, yang menyerang istananya dan Ki Sabrang menyambut mereka sambil tersenyum manis, tapi licik. Ki Sabrang berdiri tegak di depan singgasana raja sambil menghunus Keris Naga Siluman, yang terkenal di aliran hitam, untuk menakuti gerombolan leyak Bali. Seketika itupun istana guncang, lava panas di kawah Gunung Lawu bergolak hendak muntah akibat kemarahan Ki Sabrang. Ratu Rangda dan pasukannya akhirnya menghentikan pertempuran dan langsung berdiri berhadap - hadapan dengan Ki Sabrang.


Rangda adalah ratu dari para leyak dalam mitologi Bali. Selain ratu dari para leyak, Rangda sendiri dianggap sebagai perwujudan dari Dewi Durga, dewi dari kekuatan jahat atau kegelapan. Dalam cerita, Rangda sering digambarkan sebagai sosok yang memimpin pasukan jahat untuk melawan pasukan kebaikan, terutama dalam perang melawan Raja Barong. Rangda dipercayai mempunyai kekuatan magis untuk membunuh atau membuat orang menjadi gila. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan Raja Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.


Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda. Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa, yaitu: Waisya, Ksatria, Brahmana.


Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu, dan kata Balu dalam bahasa Bali halusnya adalah Rangda. Perkembangan selanjutnya istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang 'aeng' (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleyak). Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.


Diceritakan bahwa kemungkinan besar Rangda berasal dari ratu Mahendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad yang ke-11. Ia diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. Menurut legenda ia membalas dendam dengan membunuh setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Erlangga. Kemudian ia digantikan oleh seseorang yang bijak. Nama Rangda berarti juga janda.


Rangda sangatlah penting bagi mitologi Bali. Pertempurannya melawan Barong atau melawan Erlangga sering ditampilkan dalam sendratari. Sendratari ini sangatlah populer dan merupakan warisan penting dalam tradisi Bali. Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku-kuku panjang, lidah yang menjulur panjang, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki taring-taring yang panjang dan tajam.


Mengidentifikasi jenis-jenis wujud Rangda yang berkembang di Bali amat sulit. Hal ini mengingat wujud Rangda pada umumnya adalah sama. Memang dalam cerita Calonarang ada wujud Rangda yang lain seperti Rarung, Celuluk namun itu adalah antek-antek dari Si Calonarang dan kedudukannya lebih banyak dalam cerita-cerita bukan disakralkan. Untuk membedakan wujud Rangda adalah dengan melihat bentuk mukanya (prerai), yaitu:



Nyinga




Nyeleme



Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar (lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker.



Raksasa



Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.


Rangda: " Ki Sabrang, akhirnya kau muncul. Berani benar kau telah memerintahkan salah satu anak buahku Leyak Bali  yang paling jago, untuk menyerang anak manusia. Terakhir aku dapat kabar, dia telah kalah dan binasa oleh manusia itu, apakah benar? "


Ki Sabrang: "Ha ha ha ha ha, benar  Ratu Rangda. Manusia itu dibantu oleh Jin Aliran Putih untuk mengalahkan anak buahmu, Leyak Bali. Manusia itu adalah menantu dari Raja Piningit sekarang, Raja dari kerajaan Jin Aliran Putih. Tapi tenanglah, lihat kerisku ini dan mari sekarang kita bersatu dan rencanakan pembalasannya. "


Ratu Rangda mengamati Keris Naga Siluman yang dihunus oleh Mi Sabrang. Tampak aura lidah api tajam kemerahan memancar dari keris itu. Aura tersebut semakin lama semakin membesar, dan tiba - tiba Ki Sabrang mengarahkan ujung Keris Naga Siluman ke muka Ratu Rangda hingga sedikit menggores wajah Ratu Rangda. Ratu Rangda pun merasa aneh, hanya sedikit lidah api dari keris itu yang menyentuh kulit mukanya, bukan cuma terasa tajam di mukanya, juga membuat raga Ratu Rangda kepanasan di sekujur tubuhnya. "Sungguh hebat kekuatan dari Keris Naga Siluman, " kagum Ratu Rangda dalam benaknya.


Rangda: (agak sedikit ketakutan dengan aura Keris Naga Siluman) "Apakah manusia itu sangat kuat Ki Sabrang hingga anak buahku bisa kalah? Tidak cukupkah hanya aku yang bisa membalas dendam? " (matanya merah mendelik terlihat sangat marah)


Ki Sabrang: " Bukan sekarang waktu yang tepat, Ratu Rangda. Tepat bulan purnama berikutnya, akan menjadi waktu yang cocok untuk membalas dendam. Ratu Rangda dan pasukan bisa sementara tinggal di sini, hingga bulan purnama tersebut, sudah aku siapkan tumbal manusia untuk Ratu Rangda supaya kekuatan Ratu mencapai puncak saat pada waktunya balas dendam."


Rangda : "Hemm, tumbal manusia.. Baiklah Ki Sabrang, aku ikuti rencanamu. Tapi jangan pernah khianati aku, atau aku akan membinasakanmu. "


Ki Sabrang menyeringai tajam setelah Ratu Rangda sedikit mengancam Ki Sabrang. Tapi sepertinya Ki Sabrang sudah di atas angin untuk menjinakkan Ratu Rangda dan pasukan leyak Bali-nya. Ki Sabrang pasti memiliki rencana tertentu hingga menahan Ratu Rangda untuk menyerang Rama.