
Aku menatap mata Fajar dengan penuh tanda tanya dan kekhawatiran..
"Bapakku dipanggil karena masalah apa, Jar?" Aku mengulangi pertanyaanku.
"Di buku catatan pemanggilan siswa tertulis tanggal 24 Juli 1967, nama siswa Hasan, Irfan, Galih, dan Firman. Setelah kami cek di buku penerimaan siswa baru, ternyata Hasan itu nama bapakmu, Galih itu nama bapaknya Rossa, dan Firman itu nama bapaknya Mery, sedangkan Irfan, entahlah kami tidak menemukan siswa baru yang bapaknya bernama Firman. Dan kamu harus tau, Im. Keempat siswa tersebut dipanggil atas perbuatan melanggar etika dan membahayakan hidup orang lain. ," jawab Fajar.
"Perbuatan apa itu, Jar?" Aku semakin penasaran.
"Aku tidak tahu, di bukunya hanya tertulis begitu saja," jawab Fajar sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana tanggapan Bu Nanik tentang catatan tersebut?" Aku semakin pemasaran.
"Bu Nanik juga tidak mengetahui perihal kasus tersebut, karena ia masih belum bertugas di sini ketika hal itu terjadi. Beliau hanya menyimpan arsipnya saja," jawab Cindy menambahkan.
Aku memejamkan mata karena emosi dan juga penasaran.
"Jar, hari itu apa ada catatan pemanggilan siswi?" Aku kembali bertanya.
"Ada, Im. Tadi sengaja kami juga memeriksa pemanggilan seorang siswi, tapi di catatannya hanya ditulis namanya Mega, dan alasan pemanggilan hanya konsultasi," jawab Cindy.
"Yes, sekarang kita lacak identitas lengkap siswi bernama Mega tersebut," cetusku.
"Untuk mendapatkan identitas lengkapnya, kita harus melihat buku induk sekolah pada waktu itu," jawab Fajar.
"Apakah Bu Nanik menyimpan buku induk tersebut?" tanyaku lagi.
"Tidak, Im. Buku induk yang sudah lama disimpan di gudang sekolah," jawab Fajar.
"Apakah kita masuk ke gudang tersebut, Jar?" tanyaku kembali.
"Secara formal tidak bisa, Im. Karena gudang sekolah menyimpan file-file penting yang bersifat rahasia. Hanya orang-orang penting sekolah yang boleh masuk ke dalam," jawab Fajar.
"Terus, apa yang harus kita lakukan untuk bisa masuk ke sana?" Aku bertanya.
"Sini, Im!" Fajar menyuruhku mendekatkan telingaku ke mulutnya, kemudian iapun membisikkan rencananya di telingaku.
"Ide yang bagus, Jar. Tapi bagaimana cara kita melaksanakannya?" Aku kembali bertanya.
"Hanya satu cara yang bisa kita lakukan untuk melancarkan rencana kita itu," ucap Fajar.
"Apa itu, Jar?" Aku semakin penasaran.
"Kita harus menjadi tim terburuk tahun ini," ucap Fajar dengan mendesah.
"Apaaaaa???" Kami semua terpekik dengan jawaban Fajar tersebut.
"Apa tidak ada cara lain, Jar?" Lidya protes.
"Tidak ada, jika kita memang ingin masuk ke gudang tersebut, kita harus menjadi tim yang terburuk dan dihukum untuk membersihkan sekolah ini dari sisa-sisa kegiatan selama seminggu ini," ujar Fajar lebih tegas.
Kami semua terdiam selama beberapa menit, kami tidak bisa membayangkan, harus berada di sekolah ini sampai malam hari, untuk membersihkan area sekolah dari sampah-sampah yang ditimbulkan selama kegiatan MOS. Jika itu sekolah lain, mungkin kami tidak begitu takut, tapi sekolah kami ini terkenal angker dan seram pada saat malam hari. Dan lagi, ada mitos di sekolah ini, setiap tahun salah satu anak yang dihukum membersihkan sekolah, akan mengalami musibah yang tidak terduga.
"Silakan Kalian pikirkan dulu, nanti selepas sholat Jum'at, aku tunggu jawaban Kalian. Ingat lima anggota tim yang lain jangan sampai mengetahui misi rahasia kita ini, karena kalau mereka sampai tahu dan melaporkan kepada sekolah, kita semua bisa dikeluarkan," ucap Fajar lagi.
"Tapi, Jar. Ini sepertinya tidak adil bagi mereka, mereka tidak tahu apa-apa tentang rencana kita ini. Namun, mereka harus menanggung resiko akibat rencana kita," cetus Lidya.
"Iya, benar apa yang diucapkan Lidya, kasihan mereka," ucap Gatot.
"Oke, begini saja. Kita bebaskan mereka dari hukuman itu, biar kita berlima saja yang membersihkan sekolah ini. Bagaimana?" ucap Fajar.
"Aku setuju," jawabku datar.
"Oke, aku juga setuju," jawab Gatot.
"Setuju" jawab Lidya.
"Setuju" jawab Cindy.
"Oke deal, ya? Acara pementasan besok, kita harus kalah dan nilai post test kita harua kecil," tegas Fajar.
Tepat setelah diskusi kami selesai, bel tanda masuk dibunyikan. Anak-anakpun menuju kelasnya masing-masing untuk mempersiapkan penampilan unjuk kebolehan besok pagi. Tim serigala sepakat untuk menampilkan tarian tradisional.
Pukul sebelas siang, bel tanda istirahat dibunyikan. Anak-anak berlarian menuju kamar mandi dan masjid sekolah untuk mempersiapkan diri mengikuti sholat jumat. Aku mendadak merasa haus, sedangkan bekal air minumku sudah habis. Jadi aku memisahkan diri dari teman-teman, aku berjalan menuju kantin sekolah.
Kususuri lorong-lorong gedung sekolah menuju kantin yang letaknya di sebelah timur laut, paling pojok. Di sana sudah berjejer beberapa warung sederhana, itulah kantin sekolah kami. Masih sederhana tapi sangat bersih. Tak seperti biasanya, pada jam istirahat kantin sekolah sepi, tidak ada anak sama sekali yang berkeliaran di sana. Mungkin karena ini istirahat sholat Jumat, jadi anak-anak lebih memilih mempersiapkan diri untuk sholat di masjid daripada pergi ke kantin.
Akhirnya aku sampai di kantin sekolah, ternyata kantinnya bukan hanya sepi, tetapi tidak ada orang sama sekali. Jangankan siswa, pedagangnya juga tidak ada sama sekali. Aku memilih untuk duduk di salah satu kursi panjang di warung tersebut. Aku memutuskan menunggu salah satu pedagang datang. Beberapa menit menunggu, tak jua ada yang nongol. Aku sudah memutuskan untuk beranjak pergi, ketika tiba-tiba aku melihat siluet tubuh di balik dinding bambu yang ada di depanku, sepertinya pedagangnya sedang memasak sesuatu di belakang sana.
"Bu ...," Aku memanggil.
"Ya," Orang itu menjawab singkat.
"Aku beli esnya, ya?" teriakku lagi.
"Es apa?" tanya pemilik siluet itu.
"Es lilin. Berapaan, Bu?" Aku bertanya.
"Limaratusan. Taruh saja uangnya di atas toples!" Ucap perempuan itu.
"Uangku seribuan, Bu" jawabku.
"Yang lima ratus mau dibelikan apa lagi?" tanya orang di balik dinding bambu itu.
"Tidak ada, Bu. Dikembalikan saja," Aku kembali menjawab sambil berteriak.
"Baiklah, tunggu sebentar ya?" teriak perempuan itu lagi.
"Iya, Bu. Aku menunggu sambil minum esnya," jawabku enteng.
Sungguh nikmat sekali minum es lilin rasa strawberry siang-siang begini. Rasa hausku menjadi hilang seketika. Angin berhembus dengan sepoi-sepoi tatkala aku menikmati es lilin di tanganku. Sementara di depanku, perempuan yang berada di balik dinding bambu itu perlahan keluar dari persembunyiannya melangkah ke arahku. Tinggi perempuan ini hampir sama denganku, raut wajahnya sudah agak sepuh. Ditambah lagi dengan jenis pakaian yang ia kenakan, jarik usang berwarna coklat dan kebaya lusuh berwarna ungu. Memandangi sosok bersahaja perempuan tua tersebut, aku mendadak teringat sesuatu.
"Iya, aku teringat dengan cerita Gatot pas istirahat pertama tadi di halaman belakang sekolah...,"
Bersambung
Maaf ya, Kak updatenya telat. Soalnya aku kemaren fokus nyelesein novel hororku yang satunya yang berjudul MARANTI. Sudah baca belum? Sudah tamat loh, rugi kalau nggak baca, dijamin serem dan seru, menguras adrenalin Kamu.
Oh ya, jangan lupa votenya ya. Komba vote ditutup tanggal 15 Juli 2020 jam 23.59 WIB.
Aku selalu menunggu komentar Kakak-Kakak semuanya. Meskipun tidak semua aku balas, tapi semua aku baca karena aku senang sekali kalau mendapat komentar dan masukan dari Pembaca.
Tunggu update selanjutnya, ya?
Yang nge-like, aku doain rejekinya banyak
Yang komentar, aku doain lancar jodoh
Yang ngevote, aku doain sehat wal afiat