
Nenek tua itu tersenyum aneh kepadaku. Bulu kudukku merinding seketika. Aku pun ingin bergegas meninggalkan nenek misterius itu, tapi terlambat. Stir sepedaku dipegangi oleh nenek tersebut, sehingga sepedaku hanya berjalan di tempat. Aku berusaha menepis pegangan tangan nenek tersebut, tapi ia dengan kuat menahan tangannya untuk tetap berada di sana.
"Lepaskan, Nek!" teriakku.
"Tolong aku, Cu! Toloooong!" teriak nenek tua tersebut.
Aku menoleh sekali lagi ke arah perempuan renta tersebut. Kali ini aku melihat wajah seorang perempuan tua yang sedang kebingungan dan sedih. Tapi itu hanya sekejap, karena beberapa detik kemudian, sosok nenek tua itu tiba-tiba menghilang.
"Nek?" Aku memanggil-manggil nenek tua itu yang tiba-tiba menghilang.
Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa aku harus segera meninggalkan tempat tersebut sebelum arwah Tari atau hantu nenek tua itu muncul lagi di hadapanku. Aku pun mengayuh sepedaku dengan kuat hingga sampai di sekolah.
*
"Kamu kenapa, Im? Wajahmu kayak kodok habis dikejar ular begitu?" tanya Lidya.
"T-tadi aku diganggu hantu di tanjakan," jawabku.
"Kamu kan sudah bolak-balik diganggu Tari, masa masih ketakutan juga?" ujar Lidya.
"Kamu ini, Lid. Iya kalau Tari itu makanan, aku bisa terbiasa, dia itu hantu, Lid. Haaaaantu! Tahu, kan, definisi hantu?" jawabku.
"Iya sih, tapi tidak biasanya kamu setakut ini?" ujar Lidya.
"Tadi selain diganggu hantu Tari, aku juga diganggu hantu lain," jawabku.
"Hantu siapa? Hantu bayi itu lagi?" cetus Gatot.
"Bukan, Tot. Tapi hantu nenek yang kemarin kita temui di perbatasan dusun Karangjati dan Curahwangi," jawabku dengan suara bergetar.
"Ya ampun!" Gatot melompat ketika mendengar hantu nenek itu disebut. Lidya dan teman-teman yang lain ikut meringis mendengarnya.
"Aduh, belum selesai satu misteri sudah ada misteri yang lain," ujar Fajar.
"Itu dia, Jar. Tau enggak? Tadi itu, hantu si nenek megangin stir sepedaku, sehingga sepedaku tidak bisa bergerak," ujarku.
"Kalau aku sudah kencing di celana kalau digituin, Im," pekik Gatot.
"Terus, kamu diapain sama hantu nenek itu?" tanya Fajar.
"Enggak, nenek itu cuma berteriak 'toloooooooong, Cu'," jawabku.
"Emang nenek itu kenapa, kok, minta tolong kepadamu? Jangan-Jangan kamu stirmu kecantol ke jariknya, Im?" cetus Gatot.
"Sialan, kamu Tot! Malah bercanda," tegur Cindy.
"Aku sempat menoleh dan melirik ke wajah nenek tua itu," jawabku.
"Terus, apa yang kamu lihat di wajah nenek tua itu?" tanya Cindy.
"Wajahnya menunjukkan orang yang kebingungan dan kesedihan mendalam," jawabku.
"Oh ya?" pekik Lidya seolah tidak percaya.
"Iya, Lid. Nenek itu seperti merasa bingung dan sedih yang amat dalam," jawabku meyakinkan keraguan Lidya.
"Ada apa, ya, kira-kira dengan nenek tua itu?" ujar Fajar.
"Entahlah," jawabku.
[Teeeeeeeeet teeeeeeeet teeeeeet]
Suara bel masuk sekolah pun berbunyi dan semua siswa pun berlarian menuju kelasnya masing-masing.
*
Memasuki waktu istirahat pertama, aku dan keempat temanku berkumpul di halaman belakang sekolah seperti biasa.
"Teman-Teman, apakah ada informasi terbaru terkait Tari?" tanya Fajar.
Ketiga temanku yang lain menggelengkan kepala. Kemudian mereka semua menoleh ke arahku.
"Apakah kamu sudah berbicara dengan orang tuamu, Im?" tanya Fajar.
"Terus, bagaimana tanggapan mereka, Im?" tanya Fajar lagi.
"Bapak dan ibu meyakini bahwa pria yang dipergoki oleh bapak dan teman-temannya sama dengan pria yang dipergoki oleh Tari," jawabku.
"Dari mana bapakmu bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Lidya.
"Ada beberapa persamaan di antara keduanya. Yang pertama, keduanya sama-sama memiliki hubungan dekat dengan pengurus sekolah. Yang kedua, Tari pernah mengajak ibuku ke sebuah toko yang letaknya di dekat rumah orang yang pernah mau dipukuli oleh bapak," jawabku.
"Dari mana ibumu tahu kalau kepergian mereka ke toko itu untuk menyelidiki rumah pengintai itu?" tanya Lidya.
"Tari membawa dua jaket. Yang satu ia pakai sendiri untuk menutupi seragamnya. Yang satunya ia pinjamkan kepada ibu juga untuk menutupi seragamnya. Ibu disuruh masuk ke toko tersebut. Sedangkan Tari sendiri sengaja berdiam diri di pinggir jalan supaya dapat mengintai rumah orang itu," jawabku menjelaskan analisa kami tadi malam.
"Ooo begitu. Berarti itulah yang dimaksud Tari dengan penyelidikan diam-diamnya," pekik Lidya.
"Iya, Lid. Itu yang dikatakan bapak dan ibuku," jawabku.
"Apakah bapak dan ibumu sudah mengetahui kasus besar yang dimaksudkan oleh Tari?" tanya Fajar.
"Belum, Jar. Mereka juga masih bingung dengan hal itu. Makanya, hari ini mereka berdua berencana mengintai rumah orang itu," jawabku.
"Oh, ya? Hebat bapak dan ibumu, Im!" pekik Fajar.
"Bukan hebat, Jar. Mereka berdua prihatin setelah kuceritakan tentang hantu Tari yang selalu menggangguku. Mereka juga khawatir kalau tidak turut campur, kita akan nekat untuk menyelesaikan misteri ini sendiri. Bukankah nyawa kita bisa dalam bahaya kalau sampai orang itu tahu, kita berlima sedang berusaha menangkapnya?" ujarku.
"Iya, benar, Im" jawab Lidya.
"Apa ada info lain yang disampaikan oleh kedua orang tuamu?" tanya Cindy.
"Tidak ada, Cin. Bapak dan ibu cuma berpesan supaya kita berlima ini harus selalu berhati-hati. Jangan sampai berbuat sesuatu yang mencurigakan karena bisa saja pelakunya ada di sekitar kita," jawabku dengan suara ditekan.
"Iya, benar apa yang disampaikan orang tuamu, Im. Maka dari itu kita harus selalu berhati-hati dan saling memantau satu sama lain," jawab Fajar.
"Im, di mana letak toko yang dimaksudkan oleh bapakmu itu?" tanya Fajar.
"Itu, Jar. Toko serba ada yang letaknya di selatannya pertigaan yang mau ke rumahku," jawabku.
"Ooo ... Toko cina itukah?" tanya Cindy.
"Iya benar, nama pemilik tokonya adalah Yuk Kepak. Rumah orang itu tepat di sebelah rumah Yuk Kepak," jawabku.
"Ssst!!!!" Lidya memberi kode kepada kami berempat untuk tidak berbicara dengan keras.
"Ada apa, Lid?" tanya Gatot penasaran.
"Itu, Tot. Ada Kak Dino di depan Lab IPA. Ia menoleh ke arah kita," jawab Lidya dengan suara perlahan.
Mendengar Lidya berkata demikian kami pun tidak berani menoleh ke arah Lab karena takut mengundang kecurigaan Kak Dino. Obrolan kami pun beralih ke tema pelajaran di kelas pagi tadi. Dengan ekspresi wajah tersenyum-senyum, seolah bercanda. Lidya berkata di sela-sela kami gang membicarakan pelajaran sekolah.
"He he he ... Pak Rengga ada di sebelah Kak Dino juga menoleh ke arah kita. He he he," suara Lidya diawali dan diakhiri suara tawa supaya tidak kentara kalau ia sedang memantau Pak Rengga dan Kak Dino.
"Wah, pelajaran Bahasa Daerah tadi sangat menyenangkan, ya?" ujar Gatot.
"Iya, Tot. Gurunya sangat jelas dalam menjelaskan," ujar Cindy.
"Pak Rengga menyerahkan kresek hitam ke Kal Dino," ujar Lidya pelan saja.
"Bahasa Indonesia juga asik sekali tadi," ujar Fajar.
"Iya, gurunya cantik!" pekik Gatot.
"Kreseknya dibawa ke belakang kamar mandi oleh Kak Dino," ujar Lidya pelan.
"Tapi, aku agak kerepotan dengan Bahasa Inggris," ujarku.
"Nanti aku ajari kamu, Im!" ujar Gatot.
"Kal Dino mengubur kresek hitam itu di antara tumpukan sampah!"
Kami berempat tercengang sejenak mendengar informasi dari Lidya. Tapi, untuk menghindari kecurigaan mereka, kami pun berbicara tentang pelajaran lagi. Namun, di dalam pikiran kami sudah ada rencana untuk memeriksa benda apakah yang sedang dikubur oleh Kak Dino itu.
Bersambung