KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 92 : RUANGAN RAHASIA


Pak Rengga menyuruhku masuk ke dalam ruangan Laboratorium IPA. Aku berjalan dibelakang pak Rengga, hingga pria misterius itu sampai di ruangan pribadinya. Ia mengambil sebuah kursi yang berada di dalam ruangan itu, sedangkan aku tetap berdiri di depan meja kerjanya. Suasana ruangan pribadi pak Rengga ini benar-benar mistis. Apalagi lemari es itu, masih berada di sana. Sejak melihatnya, aku penasaran apa isi di dalamnya, tetapi setelah mendengar analisa Fajar, akan lebih baik jika aku tidak mengetahui isi lemari es tersebut.


"Im, kamu tahu, kan? Sholat jamaah bagi siswa sekolah ini hukumnya wajib, kecuali yang berhalangan?" Pak Rengga membuka pembicaraan.


"I-iya, Pak. Saya mengaku bersalah. Saya berjanji untuk tidak mengulangi lagi kesalahan saya tersebut," jawabku pelan.


"Oke, permohonan maaf kamu saya terima, tetapi itu saja tidak cukup. Kamu harus dihukum," ucap pak Rengga.


"Iya, saya siap menerima hukuman dari Bapak," jawabku.


"Kamu yakin siap dihukum oleh saya? Bagaimana kalau hukumannya berat?" ucap pak Rengga.


"Tidak apa-apa, Pak!" jawabku.


"Ha ha ha ... ternyata kamu ini benar-benar memiliki darah dari ibu dan bapakmu," ujar pak Rengga.


"Maksud Bapak apa?" Aku bertanya.


"Sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun, saya selalu memeriksa biodata anak-anak khusus di sekolah ini," jawab pak Rengga.


"Anak-Anak khusus?" tanyaku tidak mengerti arah pembicaraan pak Rengga.


"Anak-Anak khusus itu adalah yang melakukan hal di luar kewajaran atau memiliki tindak-tanduk yang mencurigakan. Kamu, Fajar, Gatot, Cindy, Lidya, Merry, dan Rossa termasuk anak-anak yang saya maksudkan itu," jawab pak Rengga.


"Jadi, Bapak sudah tahu identitas kedua orang saya?" Aku bertanya.


"Iya. Saya baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Kamu itu anak ya Hasan dan Ningrum, kan?" jawab pak Rengga sambil tersenyum.


"I-i-iya, Pak!" jawabku dengan gemetar.


"Kamu kaget, ya, saya bisa mengetahui hal itu? Di sekolah ini, tidak ada satu hal pun yang bisa lepas dari pengawasan saya," jawab pak Rengga.


"I-i-iya, Pak!" jawabku semakin gemetaran.


"Setahu saya Hasan dan Ningrum tidak pernah meninggalkan sholat jamaah di sekolah. Kenapa kamu sebagai anak mereka tidak mengikuti jejak kedua orang tuamu. Atau, jangan-jangan kamu melakukan sesuatu selama yang lain melakukan sholat jamaah di masjid? ujar pak Rengga dengan nada berat.


" T-t-tidak, Pak. Saya benar-benar sakit perut waktu itu," jawabku.


"Kamu jangan membohongi saya, ya? Setahu saya, tidak ada anak yang menggunakan kamar mandi sebelah timur itu. Kenapa kamu dengan beraninya menggunakan kamar mandi itu? Sungguh sangat mencurigakan," ujar pak Rengga.


"I-i-iya, Pak. Saya terpaksa menggunakannya karena kebelet," jawabku berbohong.


"Kamu ini benar-benar kekeuh seperti Ningrum ibumu," jawab pak Rengga.


"Saya tidak berbohong, Pak" ujarku.


"Sudah! Saya tidak mau mendengar alasanmu lagi. Meskipun kamu ini adalah anak teman saya. Saya tidak mau membedakanmu dengan siswa yang lain," teriak pak Rengga.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa," jawabku.


"Oh ya, bapakmu pernah cerita, nggak? Kalau kami berdua pernah berkelahi?" ujar pak Rengga.


"Berkelahi? Tidak, bapak tidak pernah menceritakan hal itu," tanyaku penasaran.


"Iya, kami berdua pernah bertengkar hebat. Padahal sebelumnya kami tidak pernah berselisih paham. Namun, saya memaklumi kemarahannya waktu itu. Mau bagaimana lagi, semua itu terpaksa saya lakukan," ujar pak Rengga.


"Maaf, Pak. Saya tidak mengerti permasalahan yang sedang Bapak ceritakan," ujarku.


"Sudahlah, kamu tidak perlu mengetahui hal itu. Itu adalah masa kelam persahabatan kami berdua. Suatu saat saya yakin bapakmu akan mengerti posisi saya," ujar pak Rengga.


Aku hanya manggut-manggut dengan cerita pak Rengga. Antara tidak mengerti dan curiga campur aduk di dalam pikiranku saat itu.


"Apakah bapak memukul pak Rengga karena bapak mencurigai pak Rengga sebagai pembunuh Tari? Apakah yang dimaksud pak Rengga dengan 'mengerti'? Apakah bapak akan mengerti alasan pak Rengga membunuh Tari? Ah, benar-benar aneh pak Rengga ini," pikirku dalam hati.


"Oh ya, sampai lupa. Kamu saya beri hukuman untuk membersihkan ruangan ini," jawab pak Rengga dengan tegas.


"Kapan itu harus saya lakukan, Pak?" tanyaku.


"Kamu masih menanyakan hal itu?" tanya Pak Rengga dengan agak sinis.


"Oh ya, Pak. Sekarang, ya? Saya siap melaksanakannya," jawabku.


"Baiklah, tentunya kamu nanti akan merasa haus setelah membersihkan ruangan ini. Saya akan mengambilkan minuman dingin untuk kamu," ujar pak Rengga.


"Tidak, Pak. Tidak usah," jawabku menolaknya. Entah mengapa ketika ia menyebut minuman dingin, aku terbayang dengan minuman yang diletakkan di sebelah janin. Meskipun janin itu sudah dikubur tadi pagi, bukankah keduanya sudah pernah berada dalam satu tempat?


"Tidak usah malu-malu! Saya akan memberikanmu minuman spesial yang tidak pernah kamu temui sebelumnya," ujar pak Rengga sambil berjalan mendekati lemari es itu.


Tidak ada kesempatan bagiku untuk mencegah pak Rengga. Pak Rengga sudah berada di depan lemari esnya. Ia membuka pintunya dan tak lupa menguncinya kembali. Anehnya, kali ini tidak tercium bau busuk lagi dari dalam ruangan itu. Mungkin karena janinnya sudah tidak ada di sana lagi.


Pak Rengga menjulurkan tangannya ke dalam dan mengambil sebuah minuman berwarna cokelat agak kemerahan dari dalam lemari es itu. Dan ia pun menyodorkannya kepadaku.


"Ini kamu bawa! Rasanya pasti enak," ucapnya


"Terima kasih, Pak" jawabku sambil menerima pemberian pak Rengga.


"Oh ya, kamu bisa memulai hukumanmu sekarang. Maaf saya tidak bisa menemanimu," ucap pak Rengga sambil menggiringku ke luar dari ruangan pribadinya.


"Bapak mau kemana?" tanyaku.


"Saya mau pulang saja. Saya tidak tega melihat anak temanku harus dihukum di depan saya. He he he," ucap pak Rengga diakhiri dengan tertawa.


Entah mengapa, meskipun aku sebenarnya takut dengan pak Rengga. Namun, saat itu aku merasa lebih takut kalau saya harus berada di ruangan ini sendirian.


"Tapi, Pak ...," protesku.


"Sudahlah! Cepat selesaikan saja tugasmu. Supaya kamu bisa cepat pulang," ucap pak Rengga sembari meninggalkan aku sendirian di ruangan itu.


Kali ini aku berada sendirian di dalam ruangan laboratiorium IPA. Kupandangi seluruh bagian ruangan ini sembari mencari sapu dan lap, yang ternyata berada di balik pintu. Entah mengapa memandangi media-media praktik biologi yang berjejer di dalam toples. Organ-Organ hewan yang diawetkan itu mengingatkanku pada bentuk janin atau organ manusia saja. Aku harus tetap kuat menyelesaikan tugasku ini, jangan sampai pak Rengga bertambah curiga kepadaku kalau aku tidak menjalankan tugasku dengan baik. Secara berhati-hati aku mengelap meja praktikum, toples-toples berisi media aneh, dan alat peraga yang berbentuk tengkorak manusia. Ketika aku mengelap tengkorak itu, tiba-tiba aku mendengar seperti suara ketukan di pintu. Aku menoleh ke belakang.


"Siapa?" teriakku.


Tidak ada jawaban. Aku pun melanjutkan membersihkan tengkorak itu. Namun, lagi-lagi terdengar suara ketukan di pintu. Dan kali ini aku yakin betul, suara ketukan itu tidak berasal dari pintu depan, melainkan dari pintu ruangan pribadi pak Rengga yang terkunci rapat.


Bersambung


Alhamdulillah masih bisa up dalam kondisi yang masih belum fit betul. Semoga tidak mengecewakan Pembaca setia novel ini.


Ditunggu like, komen, dan votenya.


Jangan lupa kunjungi juga novelku yang lain.



MARANTI


2.Tak Sengaja Dinikahi Playboy Kaya


Cinta Kedua


4.Aku Tak Mau Menjadi Pelakor