KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Malam Puncak Bulak Peperangan - 4


Dalam bab sebelumnya telah dituliskan bahwa bisikan gaib mulai terngiang lagi dalam benak Ki Sabrang. Bisikan gaib itu seolah-olah menggoblok-goblokan Ki Sabrang yang telah membuang kembali Tombak Cakra Langit ke Laut Selatan Jawa.


Ki Sabrang yang mendengarkan bisikan gaib itu lantas menjadi bingung, lalu dia mengeluarkan satu pusaka lagi yang dimilikinya. Ki Sabrang mengeluarkan pusaka Tombak Punjul Wilayah untuk menghadapi Rama.


Rama yang sudah berhasil melewati badai tornado berserta petirnya, kini kembali terbang menuju Ki Sabrang di puncak Hargo Dumilah tanpa halangan. Dan Rama sekarang sudah bisa berhadap - hadapan langsung dengan Ki Sabrang dalam jarak 500 meter.


Rama : "Ki Sabrang, menyerahlah ! Tolong kembalikan kesadaran keluargaku, supaya semua ini bisa berakhir dengan damai. " (dengan nada bicaranya yang tegas)


Ki Sabrang : " Hehehehe, apakah kamu sedang bermimpi Rama dengan memintaku menyerah? Tak mungkin, hihihi" (sambil tertawa licik)


Ki Sabrang kemudian memukul beberapa bebatuan besar di sekitarnya menggunakan pusaka Tombak Punjul Wilayah, dan bebatuan tersebut lalu terbang menuju Rama. Rama kemudian menembakkan lasernya ke arah bebatuan yang cukup besar supaya bisa hancur berkeping-keping dan tidak mengenainya.


Satu per satu batu yang menuju Rama hancur berkeping-keping tanpa menyentuh dirinya. Namun ada satu batu besar yang ternyata luput dari tembakan Rama, sehingga batu tersebut mengenai kepala Rama dan menyebabkan Rama terjatuh. Untung Rama menggunakan rompi Ontokusumo yang lengkap, dari helm hingga kaki, sehingga kejatuhan batu besar tersebut tidak membuat cedera apapun, hanya menyebabkan Rama jatuh saja.


Ki Sabrang cukup senang melihat kejatuhan Rama, dan segera saja dia menghujani Rama dengan beberapa batu besar lagi. Rama yang sempat terjatuh tidak sempat mengantisipasi kedatangan batu besar berikutnya, sehingga lama -  kelamaan kelihatan banyak bebatuan menimbun tubuh Rama.


Ki Sabrang yang melihat Rama tertimbun banyak bebatuan kemudian merasa bersemangat untuk melemparkan bebatuan besar lagi, hingga tidak ada lagi yang tersisa. Rama pun semakin tampak tertimbun oleh banyak batu besar.


Rama : "Ratna, apakah kamu sudah menyerap energi kinetik dari batu yang jatuh ini? Masih ingat pesanku terakhir tentang hukum kekekalan energi kan ya? " (Rama berbisik ke Ratna)


Ratna : " Iya Rama, energi kinetik batu dah diserap, disimpan dan dikeluarkan sedikit. Itulah sebabnya batu - batu itu tidak menyentuhmu sama sekali, hanya melayang di depanmu. "


Rama : " Oke Ratna, sekarang atur energi yang tersimpan dan keluarkan supaya batu - batu itu terlempar kembali mengenai Ki Sabrang. "


Ratna : " Baik Rama, rilis energi dimulai! "


Batu - batu yang menimbun Rama kemudian bergerak ke atas mengikuti tangan Rama, lalu Rama mengarahkan bebatuan yang tadi menimbunnya ke arah Ki Sabrang. Bebatuan besar - besar itu lalu meluncur dengan cepat ke arah Ki Sabrang. Ki Sabrang tidak menyangka ternyata Rama masih selamat dari timbunan bebatuan besar, dan kini bebatuan besar itu malah menyerang balik ke dirinya.


Ki Sabrang lalu buru - buru mengibaskan - ngibaskan pusaka Tombak Punjul Wilayah supaya bebatuan besar itu tidak mengenainya. Angin yang dihasilkan dari kibasan pusaka Tombak Punjul Wilayah ternyata begitu besar sehingga mampu membelokkan arah bebatuan menjadi jauh dari Ki Sabrang.


Kini Ki Sabrang bersiap - siap mengibas - ngibaskan pusaka Tombak Punjul Wilayah lagi sehingga tercipta angin tornado kecil dan langsung di arahkan ke Rama. Rama yang kini sudah jago dalam menerima dan mengembalikan energi penyerangnya, lalu membalikkan arah tujuan angin tornado kecil itu kembali ke Ki Sabrang. Dan akhirnya Ki Sabrang terkena senjata makan tuan yang menyebabkan dirinya terjatuh ke belakang.


Rama yang sebenarnya sudah bersiap diri terhadap serangan Ki Sabrang, masih juga tidak bisa mengantisipasi kecepatan dan kekuatan dari Tombak Punjul Wilayah. Dada Rama terkena serangan dari Tombak Punjul Wilayah, dan Rama pun terjengkang dan terjatuh ke belakang.


Rama baru mau bangkit berdiri, tiba - tiba sudah dihantam lagi oleh pusaka Tombak Punjul Wilayah yang diluncurkan oleh Ki Sabrang. Rama terjatuh dan terjengkang lagi ke tanah.


Rama : " Ratna, kenapa kita tidak bisa mengembalikan kekuatan dari pusaka tombak itu? "


Ratna : " Maaf Rama, kekuatannya terlalu besar, lebih dari 5000 joule. Sepertinya kita harus menghantamnya juga dengan Pukulan Kecubung  yang kekuatannya lebih besar, supaya tombak itu hancur atau minimal berbalik arah. Atau jika tidak mempan, kita berkelit saja supaya Tombak tersebut mengenai ruang kosong.. "


Rama : " Ok, Ratna.. Kita hadapi pakai Pukulan Kecubung Dulu, aktifkan sarung tangan jumbo beserta kekuatan nya ya"


Ratna : " Ok, Rama.. Pukulan Kecubung diaktifkan "


Partikel nano kemudian keluar dari batu cincin kecubung wulung ungu dan membentuk sarung tinju jumbo. Dan ketika Rama mulai bangkit berdiri, dia sedikit melihat kecepatan dari pusaka Tombak Punjul Wilayah ke arah nya, lalu dia langsung meninjunya, " Boommm! "


Suara menggelegar keluar dari benturan kekuatan Rama dengan pusaka Tombak Punjul Wilayah. Benturan tersebut ternyata tidak menyebabkan tombak rusak ataupun retak, tetapi hanya terpelanting ke arah yang tak beraturan, dan anehnya terpelanting jauh ke kedalaman Laut Selatan Jawa. Tombak Punjul Wilayah pun lalu hilang seperti ditelan oleh Laut Selatan Jawa.


Dua pusaka sakti Ki Sabrang telah gagal membantu Ki Sabrang mengalahkan Rama. Suara bisikan gaib kembali muncul di benak Ki Sabrang, dengan ungkapan - ungkapan kekesalan atas kebodohan Ki Sabrang menghilangkan dua pusaka saktinya. Ki Sabrang semakin menjadi emosi karena merasa dibodoh - bodohkan oleh sesorang yang tidak jelas.


Sementara itu 10 sukma Rama versi dunia lain yang bertempur melawan pasukan jin aliran hitam di puncak Hargo Dumilah, sudah berhasil mengalahkan semua musuhnya. Namun mereka tiba-tiba melihat lingkungan sekitarnya berubah menjadi kawah gunung dengan lahar panas aktif di belakangnya. Mereka melihat 1 sosok Ki Sabrang yang berdiri  di hadapan mereka dengan raut muka angkuh sambil tersenyum mengejeknya.


10 sukma Rama versi dunia lain tersebut heran, melihat satu sama lain dan merasa tidak senang terhadap penampakan Ki Sabrang yang menyepelekan mereka. Seketika itu juga mereka menyerang sosok Ki Sabrang yang sendirian tersebut menggunakan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga.


10 sukma Rama versi dunia lain menggempur satu - satunya Ki Sabrang yang tanpa perlawanan sehingga mereka melihat Ki Sabrang terjatuh, namun ternyata bisa bangkit kembali. Mereka pun sempat bingung satu sama lain, lalu kembali kali ini menghunus pusaka Kujang Pamenang dan melafalkan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga.


Kekuatan aura singa kelaparan pun muncul dari masing - masing pusaka Kujang Pamenang mereka, kemudian menyerang kepada sosok yang tampak seperti Ki Sabrang di hadapannya. Ki Sabrang pun menjadi terjatuh dan masuk ke dalam kawah lahar panas gunung Lawu. 10 sukma Rama versi dunia lain tampak menjadi lega setelah berhasil mengalahkan Ki Sabrang.


Kemudian mereka melihat agak jauh dan heran dengan satu sosok Rama dari dunia ini, yang ternyata hanya berdiri saja dengan menghunus sebuah tombak. Rama ini sepertinya sedang komat - kamit melafalkan mantra yang mereka tidak kenali. Padahal sebagai sesama Rama, ajian dan pusaka yang dimiliki pastilah sama walaupun berbeda dunia.