KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 31 : TERANCAM


Aku tidak menoleh, badanku lurus ke depan memandang iba ke arah Mita yang sedang menahan sakit pada kakinya. Saat teman-teman setimku sudah berbelok ke arah kanan, aku tetap berdiri mematung menatap anak perempuan yang pertama kali kukenal di sekolah.


"Mita, Kamu kenapa?" ujarku spontan.


Jika definisi 'menyahut' adalah mengucapkan kata 'apa atau hah' ketika nama kita dipanggil seseorang, maka apa yang aku lakukan tidak bisa disebut dengan menyahut. Begitulah, setelah menatap Mita selama beberapa detik dengan perasaan trenyuh dan mengucapkan sebuah kata yang penuh kecemasan atas kondisinya, aku mulai merasa melakukan kesalahan.


"Iya, aku telah merespons panggilan Mita. Aku juga menatap Mita selama beberapa waktu. Benarkah itu Mita? atau jangan-jangan ...,"


[Dret]


Seseorang menarik tanganku dengan kuat, sehingga badanku terhentak dan hampir terhuyung ke samping. Tidak ada yang memiliki tenaga sekuat itu di antara kita bersepuluh, selain Gatot.


"Kenapa Kamu menarikku, Tot?" protesku.


"Aku sedang menyelamatkanmu. Aku tidak ingin Kamu tertinggal rombongan. Aku tidak mau Kamu diganggu oleh makhluk halus di sini," pekik Gatot.


"Tidak, Tot. Tidak ada makhluk halus yang kulihat. Itu tadi benar-benar Mita, teman seangkatan kita," jawabku kekeuh.


"Mita siapa? Aku tidak melihat siapa-siapa tadi, atau Kamu sudah melihat makhlus halus penghuni kebun kopi ini?" ucap Gatot agak keras.


"Tidak, Tot. Tadi aku benar-benar melihat Mita di tikungan itu. Dia ...," Aku awalnya keras melawan logika Gatot tapi kemudian aku terperangah, dari arah tikungan di belakangku tiba-tiba muncul sesosok tubuh dengan bentuk badan seperti Mita, tetapi bentuk mukanya tidak beraturan. Rambutnya acak-acakan. Matanya melotot dengan bola mata keluar. Sedangkan pipinya terlihat penuh keriput dan bersisik.


"H-han ... hantuuuuuuu ...," teriakku sambil menunjuk ke arah belakang. Gatot menoleh ke arah yang aku tunjuk. Dan iapun menjadi ketakutan sama sepertiku.


"Hantuuuuuuuu ...," teriak Gatot sambil berlari bergandengan denganku menyusuri jalan setapak di antara kebun kopi, mengejar teman-temanku yang agak jauh berada di depan.


Mendengar teriakan kami berdua, mereka juga menoleh ke belakang dan akhirnya dapat melihat juga sosok menyeramkan yang sedang mengejar kami. Merekapun lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Hanya Fajar, Lidya, dan Cindy yang masih ketinggalan di belakang karena kaki Cindy sedang sakit.


Hantu yang menyerupai Mita ini agak berbeda dengan hantu hang kami jumpai di Kampung Kintir, kalau di sana mereka geraknya lambat sekali, bahkan ada yang ngesot. Sedangkan hantu ini geraknya cepat seperti manusia biasa.


"Apa yang harus kita lakukan, Im?" teriak Gatot panik dengan sambil berlari.


"Entahlah, Tot. Aku bingung ...," teriakku juga sambil berlari.


Akhirnya kami berdua bisa mengejar ketiga temanku itu. Setelah terkejar, aku dan Gatot menghadap ke belakang berusaha melindungi Cindy yang sedang tertatih-tatih dituntun oleh Lidya dan Fajar.


Hantu mirip Mita itupun melompat ke arahku.


Ia terpental ke belakang terkena tendangan Gatot. Awalnya kami berdua senang karena hantu itu tidak sekuat yang kami kira. Tapi ternyata kami salah. Beberapa detik kemudian ia berubah menjadi seekor harimau belang.


"Auuuuuuum ...," suara auman harimau jelmaan itu.


Jantungku berdetak dengan kencang, darahku mengalir dengan deras. Keringat dingin membanjiri tubuhku dan juga Gatot.


"Tot, mungkin kita sudah sampai pada ajal kita?" teriakku.


"Iya, Im" jawab Gatot dengan gemetar.


"Maafkan aku ya, Tot. Gara-gara kecerobohanku, kita semua harus mati," ucapku.


"Aaaaaaaarrgggh ...,"


Harimau itu menganga menampakkan taringnya yang tajam, kemudian melompat ke arahku dan Gatot yang sedang bersandar pada tubuh Cindy dan Lidya, sambil berjalan menyusuri kebun kopi.


[Beg]


Tubuh harimau yang panjangnya hampir dua meter itupun berhasil menerkamku. Kaki depannya tepat tertangkap oleh kedua tanganku. Sedangkan mulutnya tepat berada di depan mukaku. Gatot menerjang perut harimau itu, tapi makhluk buas itu tidak bergeming sedikitpun. Mulutnya yang ternganga lebar dengan gigi taring yang runcing siap merobek kepalaku.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrgh" teriakku keras sembari mendorong kedua kaki depan harimau itu supaya ia terguling ke belakang. Tapi naasnya, kekuatanku tidak dapat mengimbangi kekuatan harimau itu yang sepuluh kali lipat kekuatan manusia dewasa.


"Aaaaaauuuuum ..." Harimau itu masih sempat mengaum sekali lagi sebelum memajukan mulutnya ke depan untuk mencabik-cabik kepalaku dengan taringnya.


[Hep]


"Tidaaaaaaaaaaak," teriak Gatot sambil menangis antara marah dan takut.


Bersambung


Maaf ya, Kak. Updatenya telat karena masih ada kesibukan mulai pagi tadi.


Aku senang, pas lihat perolehan view hari ini ternyata naik dengan pesat. Ternyata teman-teman banyak juga yang belum membaca novelku yang lain. Ayo baca ya, Kak. Oh ya ... Jangan lupa kasih like dan komentarnya dong ...


See u next episode, ya?