KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 46 : GENDANG


Hai, Kak ...


Sudah nggak sabar nich, ingin mengetahui aksi tim srigala dalam kegiatan unjuk bakat? Sabar dulu ya, Kak. Seperti biasa, sebelum Kakak membaca lanjutan ceritanya, plis banget klik gambar jempol di bawah.


Jangan diskip dong!


Kita klik gambar jempol bareng-bareng, ya?


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


Horeeeee, makasih ya Kak atas dukungan like untuk novel KAMPUNG HANTU


Sekarang saatnya untuk mengetahui lanjutan ceritanya.


Cekidot ...


Aku benar-benar kesal dengan kelima temanku yang mengatakan aku ahli menari, setelah mereka melihatku menari dengan hantu penari di kebun kopi semalam. Bagaimana tidak, semalam aku hanya mengikuti irama gendang saja dan itupun kulakulan secara terpaksa, demi mengalihkan perhatian hantu-hantu penghuni kebun kopi.


"Enggak, Lid. Aku nggak bisa, aku nggak hapal urutan gerakannya. Aku kan terakhir diajari waktu masih SD," protesku.


"Terus siapa lagi, Im. Fajar? dia mah bisa apa, apalagi Gatot, bisa dilempari botol kita semua kalau Gatot menari di depan." ucap Lidya dengan nada serius.


"Kelima anak itu, gimana?" tanyaku.


"Lah, mereka yang menabuh alat musiknya, empat orang memainkan kentongan. Yang satu memainkan seruling. Sudah tidak ada lagi yang bisa menggantikan Cindy, kecuali Kamu. Ayo ya, pliiiiiis?" rengek Lidya.


"Bukankah kita memang ingin mendapatkan poin terburuk untuk penilaian unjuk bakat ini?" Aku masih kekeuh untuk tidak menari di depan.


"Iya, memang benar kita ingin mendapatkan nilai terburuk, tapi tentunya tidak dengan tampil buruk juga. Tari Lahbako ini adalah seni khas daerah kita loh, alat musiknya juga khas daerah kita. Kalau kita menampilkan dengan kurang baik, berarti kita kurang menghargai kekayaan budaya daerah kita sendiri, paham?" jawab Lidya.


"Iya paham, Lid. Tapi kapan kita tampil jeleknya terus agar mendapatkan nilai terburuk?" Aku bertanya dengan rasa penasaran.


"Sini aku bisikin, juri pertandingan kali ini adalah Bu Rini, guru kesenian kita. Beliau itu seleranya tinggi banget, beliau paling tidak suka kalau penampil urakan di atas panggung. Meskipun penampilannya istimewa, tapi kalau penampil urakan, pasti dikasih nilai rendah oleh Bu Rini. Soalnya menurut beliau, inti dari kesenian adalah sopan santun dan.menghargai. Kalau berperilaku kurang sopan di panggung, menurut beliau sangat tidak etis," bisik Lidya kepadaku.


"Jadi maksud Kamu-" ucapku yang langsung disamber kembali oleh Lidya.


"Iya, kita tampilkan yang terbaik untuk pertunjukan kali ini. Baru setelah selesai tampil, kita tunjukkan euforia yang agak berlebihan di atas pentas, supaya Bu Rini kesal dengan kita, oke?" ucap Lidya.


"Okelah kalau begitu," jawabku dengan berat hati.


"Jadi Kamu mau nich menari di baris depan bareng aku? Fajar dan Gatot di belakang?" tanya Lidya pura-pura, padahal dia sudah tahu kalau aku bersedia meskipun dengan berat hati.


"Oke dech" jawabku enteng.


"Horeeee, Imran mau teman-teman!!!" teriaknya supaya didengar oleh teman-teman yang lain.


"Horeeeeee!!!!" teriak mereka kompak. Bahkan ada anak yang merayakannya sambil memukul kentongan yang ia bawa. Bikin kesel saja tingkah mereka itu.


"Oke teman-teman. Sekarang saatnya kita kumpulkan dan periksa barang bawaan kita semua. Takutnya ada yang kelupaan," ucap Lidya yang langsung direspons baik oleh teman-teman. Kami semua mengeluarkan barang bawaan kita masing-masing.


"Sanggul cemol ada, kebaya ada, anting-anting motif bendera ada, hiasan rambut motif bendera, celemek juga ada ..." ucap Lidya sambil memeriksa barang yang kita bawa satu persatu.


"Ha ha ha ... kok ada celemek segala, emang mau makan?" teriak Gatot.


"Hus, ini bukan celemek makan, Tot. Celemek pada tarian Lahbako ini memang melambangkan celemek yang biasa dipakai ibu-ibu untuk mengolah daun tembakau, dalam kenyataannya ibu-ibu pekerja tembakau menggunakan warna polos yang menandakan bagian pekerjaannya masing-masing, tetapi untuk tarian Lahbako ini, satu celemek dibuat warna-warni supaya kelihatan indah tentunya, paham?" Lidya memarahi Gatot.


"Iya, Lid paham. Maaf ya, kirain buat apa celemeknya," jawab Gatot.


"Nanti Kalian semua juga pake celemek juga loh," ucap Lidya lagi.


"Oke, tapi kalau kebaya dan sanggul cemol, enggak kan?" tanya Gatot.


"Tari Lahbako memang seharusnya dibawakan oleh empat sampai delapan penari perempuan, tapi karena personil kita kebanyakan laki-laki, ya sudah. Kita harus menyesuaikan, ya nggak usah pake kebaya atau sanggul cemol segala, apalagi untuk ukuran tubuh seperti Gatot, mana ada kebaya yang muat, he he he ..." ucap Lidya diakhiri dengan tertawa mengejek Gatot.


"Tenang, sebagai pengganti sanggul cemol, aku sudah membuatkan topi-topi lancip untuk kalian yang warnanya senada dengan bendera-bendera di sanggul cemolku, supaya tidak kelihatan timpang. Untuk pakaiannya, kalian sudah bawa kan sesuai yang kita sepakati kemarin?" ucap Lidya.


"Sudah kok, Lid. Pakaian kita bertiga masih senada dengan kebaya yang Kamu bawa. Untuk kain sarungnya juga sudah lengkap, motifnya sich hampir mirip, meskipum tidak sama persis," ucap Fajar.


"Okelah kalau begitu, berarti urusan kostum sudah lengkap semua ya. Sekarang tinggal alat musiknya, kentongan, suling, dan gendangnya sudah ada kan?" tanya Lidya lagi.


Kelima anak itu saling menoleh.


"Lid, kayaknya ada yang lupa. Kemarin pas pembagian tugas, Kamu nggak nyebutin gendang untuk kita bawa," ucap salah satu anak.


"Aduh! Jadi Kalian nggak ada yang bawa gendang?" ucap Lidya sambil memukulkan telapak tangannya ke dahinya.


"I-iya dong," jawab salah satu dari mereka lagi.


"Aduh, tanpa gendang itu, mana bisa kita tampil? Mana ada gerakan yang aku hafalin dari pukulan gendangnya lagi," ucap Lidya.


"Terus gimana ini, Lid? Apakah salah satu dari kita pulang dulu untuk mengambil gendang di rumah?" ucap Gatot.


"Kayaknya nggak bakalan nutut lah, acaranya akan dimulai sebentar lagi. Kak Dino sudah naik ke atas pentas itu," ucap Fajar.


"Aduh, gimana nich. Kalau gini ceritanya, penampilan kita bakalan hancur sehancur-hancurnya, nich. Melebihi rencana kita untuk mendapatkan nilai terendah," ucap Lidya sambil merengek.


"Kalian ada solusi lain nggak?" rengek Lidya lagi.


"Hm ... Gimana kalau kita pinjam kepada anak-anak ekskul musik? Kapan hari pas lewat sana, aku sempat ngelihat ada gendang di pojokan, sepertinya lama tidak dipakai," cetusku.


"Wah, beneran Im ada gendang di ruang ekskul? Kalau emang ada, kita pinjam aja gendang itu kepada kakak kelas?" jawab Lidya sambil bersorak.


"Kalau begitu, aku yang akan berangkat meminjam kepada kakak kelas," ucap Fajar sambil melangkahkan kakinya menuju ruang ekskul musik.


"Tunggu, Jar!" panggil Cindy ketika Fajar sudah berjalan beberapa langkah. Ada kecemasan terpancar dari tatapan mata Lidya.


"Ada apa, Cin? Kamu di sini saja, biar aku sendirian ke ruang ekskul musik," ucap Fajar.


"Jangan, Jar. Jangan pinjam gendang dari ruangan ekskul musik," ucap Cindy tiba-tiba.


"Emang kenapa, Cin?" tanya Fajar penasaran.


"Ada rumor yang beredar dari mulut ke mulut, setiap gendang itu digunakan, selalu meminta korban?" jawab Cindy dengan suara serak.


"Maksud Kamu?" tanyaku menyela.


"Iya, Im. Gendang itu konon ada penghuninya,. Setiap kali gendang itu dipakai, akan ada yang melihat penampakan hantu setelahnya," ucap Lidya dengan nada semakin berat.


"Benarkah begitu, Cin?" tanya Lidya seolah tidak percaya.


"Rumornya seperti itu, Lid" jawab Cindy perlahan.


Lidya berjalan mondar mandir selama beberapa waktu, kami semua menunggu keputusan Lidya dengan penasaran. Akhirnya Lidya menghentikan jalannya dan berkata kepada Fajar.


"Ambil gendang itu, Jar!" ucapnya dengan nada berat.


Bersambung


Nah, episode ini sudah selesai. Saatnya Kakak membayar penulis.


Bayarnya dengan cara memberikan 'vote' untuk novel KAMPUNG HANTU.


Ayo Kak, klik tombol VOTE.


Aku tunggu, ya ...


Makasih vote-nya, Kak.


See U next episode, ya ... Yang pasti akan lebih seru.