
Aku terkejut dengan jatuhnya cicak ke pundak Parto. Konon kata orang, kejatuhan cicak itu pertanda buruk.
"Untung saja cicaknya tidak membuang kotoran di pundakku. Jadi, aku tidak harus berganti baju," ucap Parto.
"Tapi, To-" ujarku.
"Apa? Kamu mau bilang kejatuhan cicak itu pertanda buruk?" potong Parto.
"I-i-iya. Kata orang-orang begitu, sih!" jawabku.
"Enggaklah, Im. Kita enggak usah percaya-percaya begituan, kalau salah niat, kita bisa dosa, lo!" ujar Parto.
"Lah, terus gimana, dong? Banyak lo yang bilang kayak gitu, dan banyak benarnya juga," jawabku kekeuh.
"Tapi, banyak juga salahnya, kan? Kalau betul, ya, sebut saja kebetulan, kalau salah, ya, anggap saja kesalahan. Kasian cicaknya juga, kan? Masa enggak boleh jatuh ke tubuh manusia? Secara, dia kan hidupnya di sekitar manusia. Pasti, dari sekian banyak aktivitasnya, pasti ada kemungkinan cicak itu jatuh mengenai tubuh manusia," ujar Parto panjang lebar.
"Lama-Lama yang kamu sampaikan, kok kayak pelajaran matematika materi statistika peluang, ya?" protesku.
"Lah, emang iya, kok!" jawab Parto sambil nyengir.
"Kamu enggak pingin sekolah lagi, To? Enak lo, kamu bisa belajar matematika lagi di sekolah," sergahku.
"Enggak sudah, Im. Aku kan sudah nganggur setahun, sudah kadung cinta dengan tanam-tanaman," jawabnya enteng.
"Di sekolah kamu bisa belajar juga tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan, kok!" sergahku.
"Iya sih, tapi enggaklah. Kasian orang tuaku juga kalau aku sekolah. Dari mana mereka akan membiayai sekolahku?" jawab Parto.
"Kalau ada orang yang mau membiayai sekolahmu bagaimana?" tanyaku.
"Ah, ngayal kamu, Im! Hari gini mana ada orang yang mau menyekolahkan orang lain? Ayo, kita berangkat saja ke sawah. Katanya mau lihat tanaman-tanamanku?" pekik Parto sambil tersenyum mengejekku.
Aku hanya bisa melongo sambil berjalan mengikuti teman sekampungku itu.
*
Kami berdua berjalan menyusuri pematang sawah. Sesekali kami menyapa para tetangga yang kebetulan kami jumpai di sawah.
"Mau kemana kalian?" sapa bu Mila.
"Ini, Bu. Imran ingin melihat-lihat tanamanku," jawab Parto.
"Bu Mila habis dari mana? Lama tidak bertemu," teriakku.
"Biasa, Im. Habis ngasak di sawah Pak Haji," jawabnya.
"Dapat banyak, Bu?" tanyaku.
"Alhamdulillah, lumayan. Bisa untuk dimakan dua hari. Oh ya sampai lupa. Kapan hari Lala mengirim salam untuk kalian berdua melalui sepupuku," ujar bu Mila.
"Waalaikumsalam, Bu. Gimana kabar Lala dan kedua temannya sekarang?" tanya Parto.
"Alhamdulillah. Mereka bertiga sehat semuanya. Sekarang mereka bertiga sudah sekolah di SMP Negeri 1," jawab bu Mila.
"Wah, hebat ya mereka! Bisa diterima di sekolah nomer satu di kota ini. Sampaikan salam kangen kami untuk mereka bertiga, ya!" teriakku.
"Insyaallah saya sampaikan salam kalian berdua. Kalau perlu sekali waktu saya suruh mereka main-main ke sini lagi," jawab bu Mila.
"Wah, ide yang bagus itu, Bu!" pekikku.
"Sudah dulu, ya. Saya mau istirahat dulu. Kalian hati-hati ketemu ular sawah," ujar bu Mila sambil berlalu pergi.
"Iya, Bu. Makasih," jawab kami berdua.
Beberapa waktu kemudian, sampailah kami berdua di lahan yang dikelola oleh Parto. Lahannya cukup luas, bagian tengahnya ditanami padi, sedangkan di pinggir pematangnya ditanami kacang panjang. Tanaman milik Parto kelihatan terawat dan tumbuhnya bagus. Bulir padinya lebat dan berisi, sedangkan kacang panjangnya juga gemuk-gemuk.
"Wah, tanamanmu kelihatan bagus ya, To?" pujiku.
"Alhamdulillah, Im. Usahaku tidak sia-sia selama ini," jawab Parto kalem.
"Dari mana-mana, Im. Pokoknya setiap ketemu dengan orang-orang yang terjun di dunia pertanian, aku ngobrol dengan mereka, dengan begitu aku bisa menyerap ilmu dan pengalaman mereka yang sudah belasan tahun menjadi petani," jawab Parto.
"Termasuk mbah Poniman dan Poniran?" tanyaku.
"Termasuk mereka berdua. Jangan salah, mereka berdua itu meskipun tidak lulus SD, tetapi mereka bisa membuat pupuk kandang dan kompos yang bagus, lo? Dan aku sedikit-sedikit menerapkan itu ke tanamanku. Hasilnya, bisa kamu lihat sekarang, kan?" ujar Parto dengan gaya sombongnya.
"Tapi tanaman yang di sana kayaknya masih lebih bagus dari punyamu. Apa juga menggunakan pupuk alami sepertimu?" tanyaku.
"Enggak sih, itu menggunakan pupuk kimia. Meskipun lebih bagus dari tanamanku, tetapi penggunaan pupuk kimia ada kekurangannya juga. Diantaranya harganya mahal, otomatis mengurangi keuntungan. Kedua, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus akan merusak struktur tanah. Dan masih banyak kekurangannya yang lain," tutur Parto.
"Sudah mirip kayak menteri pertanian saja kamu, To?" godaku.
"Ha ha ha ... Kebetulan kemarin aku baru membaca artikel yang membahas tentang hal itu di majalah bekas di rumah Mbah Ti, Im" jawabnya dengan tertawa.
"Pantas saja kamu lancar banget menjelaskannya, To" jawabku.
"Ayo kita keliling-keliling sambil mengusir burung, Im" ajak Parto.
"Kenapa kamu tidak membuat orang-orangan sawah saja, To?" usulku.
"Maunya sih begitu, tapi belum ada waktu saja untuk membuatnya. Apa kamu mau membantuku, Im?" tanya Parto dengan nada serius.
"Membantu apa, To? Kalau aku bisa, aku siap membantumu," jawabku.
"Membantu menjadi orang-orangan sawah sementara," jawabnya sambil terkekeh.
"Sialan kamu!" umpatku sambil memukul lengan kekarnya.
Parto malah tertawa terbahak-bahak. Selanjutnya kami pun mengelilingi lahan pertanian Parto sambil mengusir burung emprit yang mau hinggap di batang-batang pohon padi yang mulai menguning itu. Sambil berjalan Parto menjelaskan tentang segala hal yang ia ketahui seputar tanaman padi. Mulai dari macam-macam hama, sampai penggunaan musuh alami hama untuk menekan serangan hama. Hitung-Hitungan modal dan keuntungannya juga tidak luput ia terangkan, sampai kepalaku pening dibuatnya.
Saat asik-asiknya melihat-lihat tanaman Parto, tiba-tiba kami melihat ada seorang perempuan berjarik cokelat dan berkebaya hitam sedang berdiri dan berteriak ke arah kami. Dari jarak tersebut kami tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Tapi suaranya cukup jelas kami dengar.
"Pulaaaaaang!!!" teriak perempuan itu.
Kami berdua terpaku menatap perempuan itu dari kejauhan.
"Siapa itu, To?" tanyaku pada Parto.
"Entahlah, wajahnya tidak bisa terlihat jelas dari sini," jawab Parto.
"Pulaaaaaaaaang!!!" teriak perempuan itu lagi.
Kami berdua kembali saling beradu pandang.
"Ayo, kita datangi saja perempuan itu!" ajakku.
"Ayo!" jawab Parto.
Kami berdua pun memutuskan mendatangi perempuan tersebut. Anehnya, semakin kita dekati, perempuan itu malah semakin menjauh. Dan anehnya lagi, ketika kami mempercepat langkah untuk mengejarnya, langkahnya malah semakin cepat menjauhi kami berdua. Hingga akhirnya tanpa sadar kami sudah meninggalkan area persawahan dan sampai di perkampungan warga. Dan kami juga telah kehilangan jejak perempuan tadi. Dan tak lama kemudian terdengar suara azan dari TOA masjid.
"Sudah waktunya salat Asar, To!" ujar Parto.
"Iya, Im. Jangan lupa, habis asar kamu dimintai tolong oleh bulik untuk meminta bapakmu memanggilkan mantri atau dokter panggilan ke rumah mbah Arni?" ujar Parto.
"Eh, iya. Hampir lupa. Makasih, ya?" ujarku.
Suara azan mengalun syahdu di langit dusun Jatisari, mengingatkan setiap warganya untuk menemui Tuhannya. Langit yang awalnya cerah, tiba-tiba menjadi mendung dan turunlah rintik-rintik hujan membasahi bumi. Aku dan Parto berlari melintasi rinai-rinai air hujan itu menuju rumah kami masing-masing. Namun, kami begitu terkejut dan tersentak ketika azan itu selesai, Mbah Ti yang biasanya membacakan puji-pujian, malah membacakan sebuah pengumuman.
[Innalillahi wainna ilaihi roojiuuun... Telah meninggal dunia mbah Arni binti Sumiran pada usia ...]
Saat itu aku dan Parto sudah sampai di depan rumah kami masing-masing. Kami terdiam dan terpaku di tengah rinai air hujan. Bapak dan ibu menyambutku di pintu masuk dengan tatapan mata sedih. Aku terhenyak, bibirku bergetar, dan mulutku tak bisa berkata-kata lagi. Aku masih tidak percaya, sesepuh dusun yang telah banyak memberikan pelajaran hidup kepadaku itu telah pergi untuk selama-lamanya.
Bersambung
Sayangi orang-orang di sekitar kita, sebelum Tuhan memanggilnya.