KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 29 : KEBUN KOPI


Beberapa detik kemudian, seseorang mencolek bahu Fajar. Fajarpun menoleh sembari berkata.


"Ada apa, Cindy?" Matanya masih nanar, belum hilang kecurigaannya terhadap petani-petani itu.


"Kakiku kembali kram, Jar" jawab anak cewek yang satu itu.


"Sudahkah Kamu lumuri kakimu dengan minyak kayu putih pemberian Imran?" tanya Fajar.


"Sudah, malahan minyak kayu putihnya sudah habis. Mungkin kakiku kram karena kita agak lama tadi berdiri di dekat petani-petani itu," jawab Cindy.


"Apakah ada yang membawa minyak kayu putih atau balsem?" tanya Fajar kepada kami semuanya.


Salah satu anak menyodorkan balsam kepada Fajar.


"Cin, coba kamu olesi bagian kakimu yang sakit dengan ini," ucao Fajar sembari menyerahkan balsam yang ia pegang kepada Cindy.


"Baiklah, Jar. Terima kasih," jawabnya.


Cindypun mengoleskan sejempol balsam ke kakinya yang terasa kebas.


"Gimana, Cin?" tanya Lidya pada teman akrabnya itu.


"Lumayan, Lid. Tidak mati rasa lagi, tapi masih kerasa linu," jawabnya sambil meletakkan sisa balsam di saku taa merek JO-nya.


"Gimana ini teman-teman, kita akan beristirahat dulu menunggu kaki Cindy pulih atau tetap berjalan dengan syarat tidak boleh meninggalkan Cindy kembali, apapun yang terjadi," teriak Fajar.


"Ayo, kita berangkat saja, Jar. Soalnya matahari sudah sangat condong di sebelah barat. Kalau kita tidak buru-buru berangkat, takutnya keburu kemalaman di dalam kebun kopi," ucap Cindy.


"Oke, ayo kita berangkat, Teman-Teman!" teriak Fajar.


Kami melangkah secara perlahan memasuki area kebun kopi yang rimbun di kanan dan kiri. Rindangnya daun-daun kopi mengurangi intensitas cahaya matahari sore di ufuk barat. Alhasil, suasana di dalam kebun kopi terlihat surup. Aroma daun dan buah kopi memang khas, kalem tetapi sanggup meredam bau-bau yang lain. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa tempat ini sering digunakan untuk membuang mayat korban kejahatan dan juga tempat penganiayaan. Salah satu alasannya, selain jarang dilewati orang, bau bangkai mayat tidak cepat terendus oleh orang lain.


Membayangkan hal-hal mengerikan tersebut, ingin rasanya aku melangkah lebih cepat. Namun, kita tidak mungkin meninggalkan Cindy yang kakinya sedang bermasalah.


"Toloooooong ...," terdengar teriakan memilukan dari belakang kami. Memilukan sekaligus mengerikan. Karena suara teriakan itu diikuti dengan bunyi pukulan, hantaman, dan juga tembakan. Gatot hampir saja menoleh tapi untung aku pegangi kepalanya dan Gatotpun tersadar. Ternyata teman-teman di depan juga mengalami hal yamg sama, hampir menoleh dan diingatkan teman di sebelahnya.


"Konsentrasi, Teman! Jangan sampai menoleh!" teriak Fajar di depan yang diikuti suara lengkingan keras dari segala penjuru. Sepertinya penghuni kebun kopi ini tidak suka dengan suara teriakan Fajar.


"Sakiiit, Tuan ... Jangaaaaan ..... Tolooooong ...," Kembali jeritan meminta tolong itu terdengar di belakang kami. Kali ini tidak ada satupun dari kami yang berusaha menoleh ke belakang, mungkin teman-teman sudah sadar akan bahaya yang mengancam, jika kita sampai menoleh.


Tidak cukup sampai di situ saja, semakin masuk ke dalam kebun kopi, mereka semakin berani menunjukkan eksistensinya. Pohon-Pohon kopi yang berada di sebelah kiri dan kanan kami bergoyang-goyang dengan cepat seolah kesal karena tidak ada satupun dari kami yang menoleh. Namun, tiba-tiba dsri belakangku terdengar suara auman harimau yang sangat memekikkan telinga.


"AUUUUUUUUUUM ...," Aku dan Gatot tidak menoleh, tapi kami merasa takut sekali karena harimau itu sepertinya tepat berada di belakang kita berdua.


Bersambung


Rehat dulu, Kak bacanya. Ambil napas dalam-dalam dan gunakan untuk menulis komentar dan memberi like.


Sambil menunggu update-annya, silakan kunjungi novelku yang lain.


MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)


CINTA KEDUA (DUDA VS PERAWAN)


TERPAKSA DINIKAHI PLAYBOY KAYA


Terima kasih