KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 25 : PERJALANAN KE KUBURAN


Syukurlah, seseorang yang sedang ngesot itu menyebutkan sandi kegiatan ini, yaitu kata "mayyit". Berarti dia adalah Cindy, teman kita.


"Apa itu Kamu, Cin?" teriakku.


"Iya, ini aku, Im. Kakiku mendadak kram tadi" jawab sosok bersiluet hitam itu.


Kamipun mempercepat langkah menuju sosok yang sedang ngesot itu. Setelahnya kamipun memapah Cindy meninggalkan ujung rerimbunan pohon jati tersebut


"Syukurlah Kamu selamat, Cin" ucap Lidya ketika kami berhasil membawa Cindy ke tempat yang lebih terang.


"Alhamdulillah, makasih ya teman-teman. Kalian memang yang terbaik." ucap Cindy.


Cindy dan Lidyapun saling berangkulan dan meneteskan air mata.


"Cin, olesi kakimu dengan minyak ini ini supaya cepat pulih," Aku menyodorkan sebotol minyak kayu putih yang aku ambil dari tas JO-ku.


"Makasih banyak, Im" Cindy menjawab sembari menerima botol pemberianku, menuangkannya ke telapak dan mengoleskannya ke kakinya yang kram. Beberapa waktu kemudian, Cindy sudah merasa enakan lagi.


"Ayo, kita segera mencari Pos 2," ucap Fajar.


"Siap, Ndan!" jawab kami semua.


"Cindy, siap?" tanya Fajar lagi.


"Siap, Ndan!" jawabnya tegas.


Kamipun melangkah meninggalkan tempat tersebut menuju pertigaan, dan berbelok ke jalan yang seharusnya kami pilih tadi. Tepat beberapa langkah dari pertigaan itu ke utara, ada sebuah rumah berukuran sedang. Setelah rumah itu ada kamar mandi umum. Semua bangunan itu terlihat sederhana dan agak usang.


"Ayo yang mau pipis, mumpung ada kamar mandi umum," ucap Fajar.


"Aku ... aku ... aku....," teriak Lidya.


"Aku juga, tolong tungguin di depan ya. Aku masih takut," ucap Cindy.


Akhirnya kamipun menggunakan kamar mandi umum itu secara bergantian.


"Gimana kalau kita sekalian berwudhu? Takutnya nanti pas ashar, kita tidak menemukan air yang suci?" ucapku.


"Iya, benar kata Imran. Sebaiknya kita berwudlu di sini saja. Masalah sholatnya nanti saja sambil menunggu tempat yang enak," ucap Lidya.


"Loh, kalian berdua kok ganti bawahan?" tanya Gatot pada Lidya dan Cindy.


"Iya, Tot. Em ....," jawab mereka sambil saling menatap.


"Jangan-jangan Kalian berdua tadi ...," cetus Gatot.


"Iya, Tot. tadi kami berdua ngompol sewaktu dikejar arwah bapak tua itu," jawab mereka berdua sambil tertunduk malu. Kami yang mendengar pengakuan mereka berdua hanya bisa tersenyum. Mau tertawa kami tidak bisa karena tadi kami juga hampir ngompol di celana juga.


"Oke, karena semuanya sudah selesai, ayo kita lanjutkan perjalanan ini, kita susuri pinggiran sungai itu sampai ketemu kuburan," terang Fajar.


Entah mengapa mendengar kata 'kuburan', bayangan kengerian tiba-tiba menyeruak di pikiran.


Kami berjalan secara beriringan melalui bantaran sungai. Air sungai itu sangat jernih, seakan kami ingin nyemplung saja di sana. Tapi itu tidak mungkin kami lakukan saat ini karena kami harus menyelesaikan penjelajahan ini supaya tidak mengulang lagi tahun depan.


"Cin, bagaimana tadi Kamu bisa selamat dari kejaran mayat-mayat hidup itu?" tanya Fajar penasaran.


"Mayat-mayat hidup itu tidak masuk ke rerimbunan pohon jati, Kok. Pas aku ngesot aku sempat menoleh ke belakang, mereka sudah tidak ada," jawab Cindy pelan.


"Jar, lihat di depan sana! Sepertinya ada perempuan sedang mandi," teriak Gatot mengagetkan kami.


"Wah, Kamu ini Tot. Kalau ada orang mandi saja peka sekali. Giliran ada tugas, paling lemot," cetus Lidya.


Gatot nyengir kuda.


Memang benar apa yang baru saja dikatakan oleh Gatot. Di depan sana ada seorang perempuan sedang mandi. Mau tidak mau, kami harus lewat di sebelah perempuan tersebut karena hanya itulah jalan satu-satunya yang bisa kita lewati.


"Permisi, Mbak. Numpang lewat," teriak Fajar tanpa menunggu jawaban dari perempuan yang sednag tersipu malu tersebut.


"Nah, ini dia gapura kuburannya sudah kita temukan," ucap Fajar sambil melangkah berbelok ke kanan. Kami mengikuti di belakang Fajar. Ada perasaan janggal yang muncul di benakku,


"siapa sebenarnya perempuan itu? mengapa dia mandi sendirian di dekat kuburan ini, jauh dari pemukiman warga. Jika ia memang pemilik rumah di pertigaan itu, mengapa ia harus jauh-jauh mandi di tempat ini, bukankah di dekat rumah itu terdapat pemandian umum?"


"Sebelum masuk jangan lupa berdoa dan mengucap salam," ucapku yang diiyakan oleh anak-anak.


Baru beberapa langkah kami memasuki pintu gerbang kuburan, kami merasa ada yang kurang dari anggota kelompok.


"Loh, mana Gatot?" tanya Fajar.


"Oh, iya. Mana ya?" jawabku yang juga kaget tiba-tiba kehilangan Gatot.


"Jangan-jangan dia masih di sungai itu, dasar Gatot," pekik Fajar.


"Jemput sana, Im!" perintah Gatot.


Akupun berbalik bersiap melangkah ke belakang menuju Gatot di pinggir sungai, namun baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba dari belakang barisan Gatot berlari sambil berteriak.


"Lariiiiiiii!!!!"


"Ada apa, Tot?" teriakku.


"Tadi itu bukan manusia, tapi siluman buaya!!!!" Gatot berlari di depan kami diikuti oleh kami semuanya. Kami berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Syukurlah, sepertinya tidak ada siapa-siapa di belakang. Saking luasnya kuburan itu, kami sampai lelah berlari, tapi belum juga sampai di ujung kuburan.


"Stop ... Stop ... Stop ... Aku kehabisan napas. Lagipula tidak mungkin siluman tadi mengejar kita sampai di sini. Aku tidak sampai berbuat kurang ajar, kok" ucap Gatot dengan napas tersenggal.


Tidak jauh berbeda dengan Gatot, kami semua juga kehabisan napas. Saking lelahnya, ada beberapa dari kami sampai duduk berselonjor di atas kuburan. Hanya beberapa anak yang duduk di lorong yang sempit. Sementara mata kami masih terus mengedarkan pandangan ke sekeliling, takutnya ada bahaya mengancam. Tapi sepanjang mata memandang, yang ada hanya pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih, wanginya khas menusuk indera penciuman.


"Ada yang pakai sandal?" tanya Fajar.


"Nggak ada, Jar. Kenapa?" Lidya balik bertanya.


"Kalau memakai sandal, sebaiknya dilepas kalau berada di kuburan. Tapi kalau pakai sepatu tidak apa-apa meskipun tidak dilepas," jawab Fajar.


"Gimana? Apa napas Kalian sudah kembali?" tanya Fajar lagi.


"Sudah, Jar" jawab Cindy yang meringkuk ketakutan, mungkin ia tidak nyaman berada di tengah kuburan seperti ini.


"Kalau sudah, ayo kita berangkat lagi saja." Perintah Fajar sambil beranjak berdiri.


"Baiklah, ayo kita segera berangkat supaya bisa segera sampai di Pos 2," jawab Lidya.


Kami semua bangkit berdiri untuk bersiap melanjutkan penjelajahan. Gatot yang bergerak paling akhir. Aku menoleh ke arah Gatot yang mulai bersiap berdiri.


"Tunggu, Tot. Coba Kamu agak minggir!" ucapku sambil berusaha melihat sesuatu di balik badan Gatot. Gatot memiringkan badannya yang tambun. Menyadari aku sedang melihat sesuatu di belakangnya, Gatot juga menoleh ke belakang tubuhnya, anak-anak yang lain juga menoleh ke arah belakang Gatot. Kami semua terperangah dengan tulisan pada batu nisan yang ada di belakang Gatot.


"IYEM"


Bersambung


Makasih, Kak sudah mengikuti novel KAMPUNG HANTU samoai di sini.


Jangan lupa like, komen, rate bintang 5, dan votenya ya?


Jangan lupa juga membaca NOVEL hororku yang lain, yaitu MARANTI (TAMAT) yang juga serem sekali.


Doakan semoga novel KAMPUNG HANTU dan MARANTI bisa ada versi SOUND-nya ya? Author sendiri penasaran kalau kedua novel tersebut didubbing.


See You Next Episode, ya?