KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 70 : MITA LESTARI


Awalnya kami ingin menanyakan perihal nama 'TARI' pada makam tersebut saat itu juga, tetapi karena melihat raut wajah bu Mega yang kembali tidak bersahabat, akhirnya kami memilih untuk menanyakannya nanti saja, sekembalinya dari rumah Mita Lestari.


Jalan setapak yang akan kami lewati benar-benar memiliki medan yang berat. Batunya besar-besar dan ada beberapa yang agak tajam. Kami harus benar-benar fokus memilih bagian jalan yang aman, supaya tidak terpeleset ataupun tersandung.


"Mana sih rumahnya kok belum kelihatan?" cetus Lidya.


"Sabar, Lid. Mungkin sebentar lagi," jawab Fajar.


"Apakah ini memang benar-benar jalan ke rumah Mita? Takutnya kita salah jalan, atau ...," ucap Lidya kembali.


"Bukankah kita sudah mengikuti petunjuk dari bu Mega?" ujarku.


"Kamu sepertinya sangat percaya sekali dengan perempuan paruh baya itu, Im? Apa kamu tidak memiliki kecurigaan sama sekali kepadanya? Kamu melihat sendiri tadi, kan? Bagaimana ia tiba-tiba menjadi gugup ketika mengetahui rencana kita untuk menyelidiki kasus meningggalnya Tari," jawab Lidya kembali.


"Iya benar, Im. Kita harus berhati-hati terhadap perempuan itu. Dia terlalu aneh menurutku. Coba perhatikan! Nama sahabat kecilnya yang meninggal adalah Tari, kemudian batu nisan pada makam di depan rumahnya juga bertuliskan nama Tari. Apakah menurutmu itu tidak terlihat aneh?" ujar Cindy.


Aku hanya terdiam tidak bisa menjawab apa-apa. Ketiga teman yang lain nampaknya sependapat dengan Cindy.


"Nah itu dia ada beberapa rumah di depan kita! Pasti di sanalah rumah Mita berada," teriakku.


"Alhamdullah, akhirnya kita sampai. Jauh juga ternyata ya?" jawab Fajar.


Akhirnya kami berlima sampai di sebuah koloni tempat tinggal penduduk di kampung Randu Asih. Ada beberapa rumah yang saling berhadapan di sana. Rumahnya tampak sederhana, agak lebih kecil dari rumah bu Mega tadi.


"Rumahnya kok tertutup semua, ya? Tidak biasanya penduduk desa menutup rumahnya pada siang hari begini," pekik Gatot.


"Iya, Tot aneh. Lantas, bagaimana cara kita mengetahui rumah Mita, kalau semua rumah tertutup seperti ini?" pekik Lidya.


"Ayo, kita pilih salah satu rumah untuk kita datangi!" ujarku.


"Yang ini saja, Im!" pekik Fajar sambil berhenti di depan salah satu rumah penduduk.


Rumah tersebut yang paling kecil. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Begitu pula dengan daun pintunya. Kami berbaris menghadap pintu rumah tersebut.


"Asalamualaikum ...," teriak Fajar diikuti oleh kami semua.


Tidak ada jawaban dari dalam. Fajar maju selangkah ke arah pintu, ia bermaksud mengetuk daun pintu itu dengan punggung tangannya. Namun, sebelum punggung tangannya menyentuh permukaan daun pintu, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka ke dalam.


[Krieeeet]


Suara decit daun pintu yang sedang terbuka. Kami berlima menahan napas sambil menunggu munculnya seseorang di balik pintu yang sedang membuka pintu dari dalam. Namun, sampai daun pintu itu terbuka lebar dan berpendal-pendal, tidak ada siapa-siapa di balik pintu. Kami berlima saling bersitatap keheranan, karena kami tidak merasakan kehadiran angin kencang yang membuka daun pintu tersebut. Belum habis rasa keterkejutan kami saat itu, tiba-tiba.


[Maooooong]


Seekor kucing melompat dari atas kursi ke lantai tanah di hadapan kami. Sontak saja kami semua lari terbirit-birit meninggalkan rumah tersebut.


"Duh, kamu sih Jar malah milih rumah tadi, bikin jantungku rasanya mau copot aja," pekik Cindy.


"Ya mana aku tahu kalau kejadiannya bakal seseram itu," jawab Fajar.


"Kamu saja yang pilih sekarang, Im. Biasanya pilihanmu selalu tepat," ucap Lidya.


"Oke, kalian lihat rumah yang tirainya terbuka itu! Sepertinya itu ada orangnga," jawabku.


Kami berlima pun berjalan mendekati rumah yang letaknya paling ujung. Rumah yang ukurannya paling besar di antara yang lain. Dengan cat berwarna krem, rumah ini lebih terlihat hidup dibanding lainnya. Ada sebuah hiasan gantung di depan rumah tersebut, hiasan yang akan berputar dan berbunyi setiap ditiup angin.


"Asalamualaikum ...," suara kami berlima mengucap salam.


Tidak ada jawaban. Aku maju selangkah menuju pintu, kemudian aku mengetuk pintu tersebut sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum ...,"


Tidak ada jawaban, tetapi aku mendengar ada langkah kaki diseret dari dalam rumah tersebut. Kami diam sejenak sambil menajamkan pendengaran untuk memastikan apa yang kami dengar barusan. Ternyata benar itu memang langkah kaki seseorang. Bahkan kali ini langkah kaki itu semakin cepat dan keras menuju ke arah pintu. Terdengar bunyi ceklekan, dan gagang pintu pun berputar, diikuti daun pintu yang terbuka ke dalam. Kami lagi-lagi harus menahan napas menunggu wajah orang yang akan muncul dari balik pintu.


Beberapa detik kemudian, muncullah tangan berbalut kain putih dari balik pintu, setelah pintu terbuka sempurna terlihatlah sesosok manusia dengan tubuh berbalut kain putih dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hanya wajah sendunya yang masih kelihatan.


"Waalaikumsalam ...," jawab perempuan paruh baya itu.


Kami masih berdiri terpaku di depan rumah tersebut.


"Mohon maaf ya, Nak. Tadi saya habis berdzikir, sehingga lama membuka pintunya," ucap ibu itu lagi.


"Oh, tidak apa-apa, Bu. Enggak kok, kami baru saja mengetuk pintunya," jawab Fajar.


"Silakan masuk, Nak! Saya mau ganti baju dulu," ucap ibu itu sambil memberikan kesempatan kepada kami untuk masuk ke dalam, sedangkan ia sendiri masuk ke dalam ruangan yang lain.


Kami pun mengikuti perintah ibu itu untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamunya. Fajar duduk di kursi yang paling dalam diikuti oleh keempat anak yang lain. Sekitar satu menit kemudian ibu itu datang dengan pakaian berwarna hijau.


"Ada yang bisa saya bantu, Nak. Kalian sedang mencari siapa di daerah sini?" tanya ibu itu.


"Begini, Bu. Kami tadi dari rumahnya bu Mega. Kami mau mencari alamat salah satu teman sekolah kita, namanya Mita Lestari," jawab Fajar.


"Oalah, dari rumah bu Mega, to? Kebetulan sekali kalau begitu, saya adalah ibunya Mita. Tapi mohon maaf Mita sudah tidak di sini sekarang," jawab ibu itu dengan mata berkaca-kaca.


"Memangnya Mita kemana, Bu?" tanyaku penasaran.


"Begini ceritanya, Mita itu sejak kecil memang ingin bersekolah di SMP 01 Karangjati. Ibu sangat setuju mendukung keinginannya. Namun, bapaknya Mita tidak setuju, menurut bapaknya anak perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi. Toh, ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga. Tanpa sepengetahuan Mita, bapaknya menerima lamaran seseorang," ujar ibunya Mita.


"Terus, apa yang terjadi, Bu?" tanyaku lagi.


Ibunya Mita menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya melalui mulutnya. Matanya semakin berkaca-kaca. Matanya nanar menatap ke arah Cindy, seolah-olah Cindy itu adalah Mita. Memang secara tampilan fisik, Mita ada sedikit kemiripan dengan Cindy. Kami semua melongo menunggu kelanjutan cerita ibunya Mita yang matanya mulai sembap.


Bersambung


Sabar ya, Kak. Klik like dan vote dulu!


Salam seram bahagia.