KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 59 : TANDA CINTA


Terima kasih atas kesetiaan Anda mengikuti kisah KAMPUNG HANTU.


Klik JEMPOL di bawah terlebih dahulu sebelum membaca kelanjutan ceritanya.


Anda memang LUAR BIASA.


Berbeda dengan anggota tim Fajar yang memang sudah lebih dahulu mengetahui pesan dari Mbah Iyem, aku dan keempat anak yang lain mendadak merinding disko mendengar pesan tersebut. Hal itu semakin membuat pikiran kami campur aduk seketika. Sementara hari sudah semakin sore.


"Ayo kita segera membersihkan kelas bagian timur terlebih dahulu mumpung kelasnya masih belum dikunci oleh Pak Mat!" ajakku kepada semua yang ada di sana.


"Oke," jawab mereka.


Kamipun melangkah menuju kelas bagian timur yang selama kegiatan MOS juga ditempati sebagai tempat siswa baru melaksanakan serangkaian program kegiatannya. Untuk hari biasa, deretan kelas ini dipakai oleh kelas dua untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.


"Karena jumlah sapu yang ada di setiap ruangan kelas hanya ada dua, maka setiap ruangan akan diisi oleh tiga anak, dua bertugas menyapu lantai, satu orang bertugas mengelap meja, merapikan meja guru, dan mengelap jendela bagian dalam. Sedangkan saya sendiri akan mengelap jendela bagian luar dari ketiga ruangan yang akan kita bersihkan dan menyiapkan tempat sampahnya. Demikian seterusnya kita akan melakukannya sampai keduabelas ruangan kelas ini bersih," perintah Fajar dengan tegas.


"Siap Pak Ketua!" jawab kami.


Kamipun bergerak dengan cepat mengerjakan tugas kami masing-masing. Saat itu secara kebetulan aku berada sagu ruangan dengan Cindy.


"Hai, Kamu mengelap meja dan jendela ya? Aku dan Imran yang akan menyapu lantainya sampai luar," ujar Cindy.


"Baiklah," jawab anak itu.


Aku dan Cindypun mulai menyapu ruangan kelas dengan sangat teliti supaya tidak menyisakan debu atau potongan kertas sedikitpun. Kami semua melakukannya dengan ekstra cepat agar semua pekerjaan bisa selesai sesegera mungkin. Namun, saat aku dan Cindy sudah selesai menyapu ruangan tersebut, ternyata teman-teman di ruangan lain masih menyapu bagian berandanya. Secara tiba-tiba aku mendengar suara senandung dari ruangan sebelah.


Na na ... Na na ... Na na ...


Suara itu jelas terdengar di telingaku. Aku menoleh ke arah Cindy sembari berkata.


"Cin, apa Kamu barusan mendengar sesuatu?" tanyaku.


"Ooo ... Suara seseorang yang sedang menyanyikan lagu yang pernah dibawakan Kak Dino?" Cindy balik bertanya dengan nada datar.


"Iya Cin," jawabku.


"Ah, palingan juga Lidya sedang menyanyi di sebelah. Dia kan suka banget sama lagu itu," ujar Lidya.


"Aku tidak yakin Lidya yang bernyanyi barusan, soalnya suaranya sangat merdu dan sedikit nyeremin," jawabku.


"Ayo kita ke sana saja untuk memastikannya, sekaligus untuk menuju ruangan kita berikutnya," ujar Cindy.


Kamipun melangkah diikuti oleh teman kami yang satunya lagi. Saat kami sudah hampir mencapai pintu di ruang sebelah, tiba-tiba nongol kepala seseorang di balik pintu.


"Astagfirullah! Bikin kaget saja Kamu Lid," pekik Cindy.


"Eh, maaf Cin aku keburu mau menengok ke kelasmu karena mendengar suara senandung seseorang, kupikir Kamu yang sedang menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan Kak Dino?" ujar Lidya.


"Apa??? Kamu juga mendengarnya? Kami justeru ke sini karena ingin bertanya apakah Kamu yang baru saja menyanyi," pekikku keheranan.


"Perempuan di sini kan cuma aku dan Lidya, terus kalau bukan kami berdua, siapa dong?" tanya Cindy yang sontak saja bikin kami semua yang berdiri di situ mendadak merinding.


Selama beberapa menit kita terpaku di situ, tiba-tiba salah satu anak berkata.


"Sudahlah, kita lupakan saja dulu suara misterius itu. Lebih baik kita segera menutup semua jendela dan pintu yang sudah kita bersihkan supaya kelasnya tidak kemasukan debu kembali,"


"Benar, ayo kita segera bergerak karena tugas kita masih banyak. Lima orang dari kita juga akan segera pulang kan?" ujarku.


Kamipun menutup semua pintu dan jendela dan bersegera menuju ruangan kelas berikutnya. Perasaan was-was masih menyelimuti hati kami, tapi kami terus bergerak karena dikejar oleh waktu. Tak terasa kami sudah hampir selesai membersihkan deretan ruang kelas di sebelah timur ini. Kami sudah bersiap menuju ruangan kelas bagian selatan saat tiba-tiba tanpa sengaja aku melihat sebuah tulisan aneh di atas salah satu yang terbuat dari kayu jati. Aku cukup terkejut membaca tulisan itu.


"Ada apa, Im?" tegur Cindy.


"Eh, enggak ... Ini ada tulisan yang menurutku aneh," jawabku.


"I LOVE YOU, HASAN .... BY M...," Cindy mengeja tulisan di atas meja yang sudah tidak begitu jelas karena ada beberapa bagian terkelupas. " bukankah Hasan ini kalau tidak salah nama bapakmu, Im? Terus inisial M ini siapa ya?" ucap Cindy.


"Iya, Hasan itu nama bapakku. Inisial M itu entahlah aku tidak tahu, bisa Mimin, bisa Mumun, atau-" jawabku.


"Maman, he he he ... bercanda. Sudahlah, yang punya nama Hasan bukan hanya bapakmu saja, apalagi bapakmu sudah puluhan tahun meninggalkan sekolah ini," jawab Cindy.


"Benar juga, Cin. Tapi kalau melihat dari kondisi tulisannya, apa iya anak sekarang memiliki tulisan dengan tipe jadul seperti itu?" ucapku.


"Iya juga sich, tapi sebaiknya kita segera melanjutkan pekerjaan kita, takut keburu maghrib," ucap Cindy.


"Oke dech, Cin," jawabku.


[Krieeeeet ...]


Tiba-tiba jendela yang berada di paling timur terbuka dengan sendirinya padahal tadi sudah ditutup oleh temanku. Aku melihat sekelebat bayangan meninggalkan halaman kelas menuju ke balik dinding sebelah timur. Sepertinya aku hapal dengan bentuk fisik dan rambut anak perempuan itu.


"MITHA????" panggilku pada sekelebat bayangan barusan.


Tidak ada sahutan. Aku berlari keluar diikuti Cindy sambil menutup pintu. Aku mengejar bayangan itu sampai ke balik dinding bagian timur. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya aroma bunga kenanga yang tiba-tiba menyeruak. Bulu kudukku tiba-tiba merinding.


"Mitha?????" panggilku sekali lagi sambil tetap berlari memutari tembok sebelah timur terus ke belakang gedung. Namun, tidak ada siapa-siapa di belakang gedung itu. Hanya lahan kosong yang ditanami rumput jepang menyambung dengan dinding pembatas kamar mandi yang kami bersihkan sebelumnya.


Na na .... Na na .... Na na ....


Kembali terdengar suara senandung lagu itu dari ruangan kelas yang baru saja kami tinggalkan. Namun kali ini suara senandung itu tidak lagi sayup-sayup tetapi lebih keras, bahkan tarikan napas dari orang yang sedang bersenandung itu juga dapat aku dengarkan.


"Im ... suara itu terdengar lagi," pekik Lidya.


"Iya Cin. Ayo kita lihat ke dalam. Aku ingin mengetahui, siapa sebenarnya yang sedang mempermainkan kita," jawabku.


"Apa tidak sebaiknya kita mengejar anak-anak yang lain yang sedang berjalan menuju ruang kelas sebelah selatan? Aku takut Im ...," bisik Cindy.


"Tidak Cin. Kalau Kamu takut, Kamu boleh menyusul teman-teman yang lain. Biar aku sendirian yang akan menengok ke dalam," jawabku.


"Tidak Im. Aku ikut denganmu saja. Minimal nanti kalau dia datang, aku bisa berteriak biar didengar teman-teman dan kakak-kakak kelas yang sedang membersihkan lapangam belakang," jawab Cindy.


"Oke, ayo pelan-pelan kita ke depan lagi untuk mengintip asal suara itu," bisikku.


Kamipun mengendap-ngendap dari belakang gedung menuju ke depan untuk mengintip pemilik suara yang membuat bulu kuduk kami berdiri itu. Setiap langkah kami seirama dengan suara alunan nada dan tarikan napasnya.


Na na .... Na na .... Na na ....


Bersambung


See u next episode, Kak.


Mohon tinggalkan "vote" yang banyak ya?


Salam seram bahagia