KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 47 : TARI LAHBAKO


Hai, Kak ...


Ketemu lagi dengan Author yang paling kece seantero Noveltoon.


Pasti Kakak sudah sangat penasaran dengan kelanjutan novel KAMPUNG HANTU.


Apa yang akan terjadi di sekolah setelah kelompok srigala menggunakan gendang di ruang ekskul?


Sabar dulu ya Kak.


Seperti biasa, sebelum membaca lanjutannya, Kakak harus checkin dulu dengan cara klik gambar 'jempol' yang ada di bawah.


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


Terima kasih sudah memberikan like untuk episode ini.


Sekarang saatnya membaca lanjutan kisahnya.


Cekidooooot ...


Fajarpun segera berangkat menuju ruang ekskul musik untuk meminjam gendang untuk melengkapi alat musik kelompok kami. Kami semua menunggunya di dalam kelas sambil mengenakan pakaian dan aksesories yang telah kami bawa dari rumah.


"Sudah segitu saja make-upnya, Cin. Jangan terlalu menor, ntar jadinya kayak china" ucap Lidya pada Cindy.


"Oke deh, ngomong-ngomong Fajar kok lama sekali ya ke ruang ekskulnya?" ucap Cindy.


"Mungkin dia masih melakukan negoisasi dengan kakak kelas, maklum kita kan siswa baru sudah berani pinjam-pinjam alat," jawab Lidya.


"Kamu beneran nggak khawatir dengan rumor itu, Lid? tanya Cindy sambil menancapkan beberapa bendera kecil-kecil ke sanggul cemol yang dipakai Lidya.


"Kepikiran sich iya, tapi aku lebih kepikiran lagi kalau di atas pentas nggak ingat sama sekali dengan gerakannya, soalnya aku ngapalin gerakannya dari pukulan gendangnya juga," jawab Lidya sekaligus merapikan bedak di pipi dan keningnya.


"Kamu Im, gimana?" tanya Cindy.


"Kalau aku mah ngikut saja gimana baiknya, soal resiko kita hadapi bareng-bareng," jawabku.


"Nah, aku setuju dengan itu," pekik Lidya.


"Cin, nanti Kamu berdiri di belakangnya Bu Rini ya?" ucapku


"Untuk apa aku berdiri di belakangnya Bu Rini? Mau nyari kutu rambutnya Bu Rini?" ucap Cindy dengan gaya meledekku.


"Dasar Kamu Cin. Maksudku Kamu ngintipin nilai yang diberikan Bu Rini pada saat kita tampil. Pas Bu Rini ngasih nilai bagus, Kamu beri tanda jempol ke atas. Sebaliknya Kalau Bu Rini ngasih nilai jelek, Kamu ngasih tanda jempol ke bawah. Jadi kami yang di atas pentas bisa mengambil sikap, kalau emang nilainya bagus sejak awal, ya kita laksanakan rencana kita itu, yaitu bersikap kurang sopan pada akhir penampilan. Akan tetapi kalau nilai kita sudah jelek dari awal, ya sudah ngapain kita harus berbuat tidak sopan di belakang? Bisa-bisa kita dilempari botol oleh penonton satu lapangan," jawabku agak panjang.


"Oo begitu?" jawab Cindy pendek saja.


"Kok pendek banget jawabanmu, Cin? Jangan-jangan Kamu nggak ngerti apa yang barusaja aku katakan?" ucapku dengan nada sedikit emosi.


"Ngerti kok Im, emangnya aku kayak Gatot yang agak lama nyambungnya?" ucap Cindy sambil melirik ke arah Gatot dengan tatapan mata mengejek.


"Aku lagi, aku lagi yang kena, nggak tahu orang lagi ngapalin gerakannya, susah amat ini yang gerakan kayak membaca buku," jawab Gatot.


"Berarti kalau aku jadi perokok, sama saja dengan membantu meningkatkan perekonomian penduduk?" ucap Gatot asal saja.


"He, Kamu itu umur berapa, sudah berani mau merokok? Merokok itu minimal usianya delapan belas tahun, sesuai kemasannya itu. Makanya kalau ada kemasan rokok, jangan cuma dilipat dan dibuat mainan saja, dibaca juga peringatannya, 'Merokok dapat merugikan kesehatan dan mengganggu kehamilan dan janin.' Lagipula nich ya, tembakau itu bukan hanya untuk bahan rokok saja, tapi juga obat-obatan," terang Lidya.


"Iya dech Ibu Penyuluh, aku paham sekarang" jawab Gatot sambil meletin Lidya.


"Sialan Kamu, Tot! Dijelasin panjang lebar malah ngledekin. Apa mau aku kepret?" ucap Lidya dengan nada emosi.


"Ampun, Lid. Aku barusan cuma bercanda kok. Lagipula kalau Kamu ngepret aku, ntar kebayamu sanggul cemolmu miring lagi tuh. He he he ...," jawab Gatot.


"Oke aku maafin Kamu sekarang," ucap Lidya sambil menata kembali kebaya dan jarik yang tadi dipasang di balik lemari bertiraikan kain sarung milik kita bertiga dengan dikawal ketat oleh Cindy, anak laki-laki disuruh keluar kelas sebentar.


"Emang kalau cewek itu agak ribet ya menjaga auratnya. Beda kalau laki-laki, tinggal pake tirai sarung sendiri, terus celana pendek seragam dibuka ke bawah dibalik sarung, sudah beres. Kalau baju atas mah gampang, mau pake tirai oke, mau langsung ganti juga oke, asalkan di dalamnya memakai singlet. Nggak sampai lima menitpun semua laki-laki sudah selesai berganti kostum,"


"Assalamualaikum," suara seseorang dari arah pintu masuk.


"Waalaikumsalam, eh Kamu Jar. Wah gendangnya bagus ternyata ya?" ucap Lidya.


"Bagus karena sudah aku bersihkan tadi. Awalnya banyak rumah laba-labanya," ucap Fajar.


"Oh, pantesan saja Kamu lama sekali perginya," ucapku.


"Sebenarnya enggak juga Im, butuh hanya beberapa menit saja untuk membersihkan dan mengatur tingkat ketegangan gendangnya, hanya saja pas aku memukul-mukul gendangnya tiba-tiba ada yang berteriak-teriak seperti sedang marah. Aku pikir itu Bu Nanik yang sedang marah, tapi pas aku dengerin lagi, ternyata nggak ada siapa-siapa. Pikirku aku salah dengar saja. Kemudian aku lanjutin untuk memukul-mukul gendangnya untuk mengatur kekencangannya," jawab Fajar.


"Terus, apakah ada suara teriakan lagi, Jar?" tanyaku memotong cerita Fajar.


"Kali ini bukan teriakan lagi yang aku dengar, tetapi kaca ruangan musik digedor-gedor dengan keras dari arah luar. Aku kaget, saking kagetnya kepalaku sampai kepentok lemari," lanjut cerita Fajar sambil memijat kepalanya yang katanya sakit.


"Siapa yang gedor-gedor kaca, Jar?" tanyaku penasaran.


"Nah itu dia. Pas aku toleh, nggak ada siapa-siapa," jawab Fajar.


Kami semua yang ada di ruangan itu saling berpandangan. Kami berusaha menganalisa siapa sebenarnya yang membuat keributan di ruang musik. Tapi sebelum kami berpikir terlalu jauh, tiba-tiba kami dikejutkan dengan panggilan dari Kak Dino melalui pengeras suara kepada semua siswa baru untuk segera berkumpul di depan pentas yang diletakkan di pinggir halaman sekolah, menghadap ke timur. Kamipun bersegera menuju ke depan pentas.


Satu persatu kelompok sudah menunjukkan penampilan terbaiknya di atas pentas. Ada yang menampilkan drama, paduan suara, tarian dangdut, atraksi akrobatik, dan lain-lain. Semuanya menarik dan mendapatkan aplause yang meriah dari penonton yang hadir. Aku mencari Mita di antara siswa yang tampil, tapi tidak ada. Mungkin kalau ada waktu, aku akan mencari informasi tentang anak tersebut.


Tibalah saatnya kelompok srigala yang dipanggil. Saat itu badanku tiba-tiba terasa dingin, rasa gugup menyeruak. Ternyata untuk tampil di atas pentas, terlebih penontonnya belum banyak yang aku kenal, rasanya campur aduk antara malu, takut salah, dan sebagainya.


Singkat cerita kami bersembilan sudah ada di atas pentas. Aku dan Lidya bernaris di depan. Fajar dan Gatot di belakangku, sedangkan lima anak yang lain berada di belakang di depan alat musik mereka masing-masing. Di depan sana, tepatnya di belakang Bu Rini, Cindy sedang tersenyum dan memberi support kepada kami.


Alat musik mulai dimainkan oleh kelika anak itu, kami berempatpun mulai menari. Penonton bersorak sorai begitu melihat tarian kami. Bu Rini sampai berdiri dari tempat duduknya, mungkin sebagai guru kesenian, ia salut karena ada anak muda yang mau melestarikan budaya daerah. Kamipun semakin bersemangat untuk menunjukkan penampilan terbaik.


Alhamdulillah, setelah mendengar hentakan musik patrol dari teman-teman turut membantu mengingatkan kami dengan gerakan-gerakan tarian Labako, meskipun sesekali kami masih melirik pada Lidya. Namun tiba-tiba ada suatu keanehan yang terjadi di depan mata kami yang membuat konsentrasi kami terganggu.


Bersambung


Demikianlah akhir dari episode kali ini. Saatnya Kakak membayar, yaitu dengan cara memberikan 'vote' untuk novel KAMPUNG HANTU.


Terima kasih Kak atas vote-nya.


Sampai jumpa pada episode berikutnya


Salam Seram Bahagia.......