
Hai, Kak ... Selamat datang di bab terbaru novel KAMPUNG HANTU.
Sebelum membaca, ayo klik gambar jempol di bawah (like). Kalau sudah monggo bisa cekidot supaya bisa tahu apa yang sedang dilihat oleh Bu Ningrum di tengah kebun kopi.
Klik gambar Jempol dulu, dong!
Klik gambar Jempol dulu, dong!
Klik gambar Jempol dulu, dong!
Aku tidak berani menyela karena saat itu Ibu terlihat sangat marah.
"Waktu itu Ibu melihat bapakmu sedang duduk di tanah menatap lurus ke arah ibu akan tetapi pandangan matanya kosong, sedangkan di depannya, Warsih sedang berdiri membelakangiku sambil menyiram air bunga dengan menggunakan gayung ke kepala bapakmu." cerita Ibu dengan nada marah.
"Kemudian Ibu berteriak, 'Hai, Perempuan pela**r! Apa yang Kamu lakukan pada suamiku?'. Teriakanku itu mengagetkan Warsih. Sedangkan bapakmu masih tetap tak bergeming, pandangannya masih kosong seolah tidak mendengar teriakan Ibu." lanjut cerita Ibu.
"Terus gimana reaksi Warsih, Bu?" tanyaku penasaran.
"Dia kebingungan, Im. Dia tidak menyangka Ibu akan memergokinya sedang berusaha mengguna-gunai bapakmu. Dia kemudian berbalik ingin menyerang Ibu. Tapi sebelum menyerang Ibu, dia berteriak lantang, 'Sebaiknya Kamu ikhlaskan Mas Hasan untukku, daripada Kamu dan anakmu itu aku apa-apakan.' " ujar ibuku.
"Trus apa yang Ibu lakukan, apa Ibu tidak takut dengan ancamannya?" tanyaku penasaran.
"Ibu tidak takut sama sekali dengan ancaman wanita itu, yang Ibu khawatirkan adalah keselamatanmu," jawab Ibu.
"Terus, apa yang Ibu lakukan?" tanyaku lagi.
"Ibu sempat berpikir untuk berteriak untuk mengundang orang-orang datang ke kebun itu tapi tidak mungkin, Kamu tahu sendiri kan, jarak musholla itu dan kebun kopi agak jauh, dan waktu itu angin berhembus cukup kencang, pasti suara Ibu akan hilang dibawa angin. Sedangkan untuk merelakan perempuan itu mengguna-gunai bapakmu, Ibu juga sangat tidak ikhlas. Enak saja perempuan jelek begitu mau ngapa-ngapain bapakmu yang ganteng. Tapi di satu sisi, Ibu juga khawatir perempuan itu akan melukaimu, Im" ujar ibuku.
"Terus?" celetukku.
"Ibu memilih untuk mencoba melumpuhkan dia dulu, Tapi kalau sekiranya itu akan membahayakanmu, terpaksa Ibu mau lari dulu meminta pertolongan orang-orang, meskipun mungkin ketika orang-orang datang, jampi-jampi Warsih sudah merasuk ke bapakmu. Ibu mengatur gendongan sehingga Kamu berpindah di punggung Ibu. Kemudian Ibu mengambil ranting kayu yang cukup besar yang tergeletak di tanah. Warsih juga mengambil ranting kayu yang lain. Ibu dan Warsih saling berhadapan, Ibu sabetkan kayu yang Ibu bawa ke tangan Warsih. Kayu itu telak mengenai tangan Warsih, sehingga kayu yang Warsih pegang terlempar. Kembali Ibu menyabetkan kayu itu ke kaki warsih sebelah kanan, ternyata perempuan itu tidak memiliki ilmu beladiri sedikitpun, pukulan kayu itu telak mengenai kakinya sehingga iapun terjatuh ke tanah. Perempuan itu mengerang kesakitan, Ibu bersegera menuju bapakmu yang sedang terduduk mematung seperti melamun. Ibu panggil-panggil bapakmu tapi ia tidak merespons. Akhirnya Ibu tarik kedua lengan bapakmu ternyata bapakmu merespons, ia berdiri tapi tetap dengan pandangan kosong. Ibupun menuntun bapakmu berjalan, bapakmu berjalan lurus dengan sendirinya. Dengan tatapan mata kosong seperti itu, bapakmu tidak bisa berbelok. Jadi ketika ada pohon kopi yang menghalangi, bapakmu tidak bisa bergerak maju. Ia tetap mematung sambil berdiri di depan pohon kopi yang menghalanginya itu. Sambil menggendong Kamu, Ibu mengarahkan tangan bapakmu supaya bisa berjalan menuju keluar kebun kopi tersebut. Sementara Warsih masih merintih memegangi kaki kanannya yang terluka. Bapakmu sudah berada pada jalur yang tepat, ia berjalan lurus menuju lorong keluar kebun kopi itu. Warsih tiba-tiba bangkit dan mengejar Ibu, sambil menahan kakinya yang terluka parah akibat sabetan kayu Ibu tadi," lanjut Ibu.
"Terus? Apakah Warsih bisa mengejar Ibu?" tanyaku.
"Dan apa, Bu? Apa bapak tertusuk waktu itu?" tanyaku.
"Tidak, Im. Ternyata itu hanya akal-akalan perempuan itu saja, bukan bapakmu yang mau dia tusuk, melainkan Ibu." Air mata Ibu mengalir deras.
"Apaaaa??? Berarti Warsih membalikkan badannya dan menusukkan kayu itu ke perut Ibu?" tanyaku dengan geram.
"Iya, dia bermaksud melakukan itu, dia ingin membunuh Ibu dan menguasai bapakmu. Akal pikiran perempuan itu sudah diliputi dengan nafsu angkara." ucap ibuku.
"Apakah waktu itu perut Ibu tertusuk oleh kayu tajam yang dihunuskan oleh Warsih?" tanyaku kembali antara penasaran dan takut.
Ibu tidak cepat-cepat menjawab pertanyaanku, kedua telapak tangannya ditempelkan ke pipiku. Tangannya tiba-tiba gemetar, sedangkan air matanya semakin membanjir.
"Perempuan itu tidak berhasil menusuk Ibu karena Ibu masih bisa berkelit, tapi ...," jawab Ibu dengan bibir bergetar.
"Tapi apa, Bu?" tanyaku mendesak Ibu.
"Waktu Ibu berkelit ke samping, tiba-tiba Kamu menghentak-hentakkan kakimu sambil tertawa terkekeh-kekeh, mungkin waktu itu Kamu mengira Ibu dan perempuan itu sedang bercanda, Kamu menendang-nendangkan kakimu sehingga kayu yang ditusukkan Warsih mengenai betis belakangmu" Tangis ibu pecah seketika waktu itu.
Tidak hanya Ibu yang menangis waktu itu tapi juga aku. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan Ibu waktu itu. Melihat bayi yang masih berumur dua tahunan itu yang awalnya tertawa kegirangan tiba-tiba terkena tusukan kayu tajam. Tentunya waktu itu aku menangis kesakitan.
"Darah dari kakimu mengalir dengan deras waktu itu, Kamu menangis kencang saat itu. Ibu histeris, Ibu tidak peduli lagi apa Warsih mau menyerang lagi waktu itu, yang ada di pikiran Ibu hanya cara bagaimana agar Kamu selamat. Ibu turunkan Kamu dari gendongan, Ibu robek baju Ibu, Ibu perban luka robek di betis belakangmu dengan robekan baju itu. Ibu bermaksud berlari keluar kebun kopi untuk mencari pertolongan buat Kamu. Matahari di ufuk barat tepat tenggelam saat itu. Ibu menoleh ke belakang ke arah jalan keluar. Aneh, bapakmu sudah tidak ada di sana waktu itu. Yang terlihat hanya lorong yang sangat panjang, pemandangannya jauh berbeda dengan sebelumnya. Ibu berusaha berlari menuju lorong itu, tapi tidak bisa. Ada dinding yang menghalangi untuk Ibu bisa ke sana. Ibu tambah bingung setelah berbalik, kebun kopi sudah tidak ada, yang ada malah perkampungan penduduk. Sementara Warsih masih tergeletak di bawah setelah tersungkur ketika menusukkan kayu tadi, ia merintih kesakitan di bawah sana. Ibu semakin histeris karena wajah Kamu mulai memucat, sepertinya Kamu banyak kehabisan darah waktu itu. Saat dalam kepanikan seperti itu, tiba-tiba datang seekor harimau dengan mahkota emas di kepalanya.
Bersambung
Nah, sekarang saatnya Readera membayar Author dengan cara memberikan vote untuk bab ini.
Makasih banyak ya, Kak. Atas like dan vote-nya.
See u next episode ...