KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 33 : KETINGGALAN


Dua orang yang sangat aku kenal muncul di belakangku. Pak Rengga dan kakak vokalis itu.


"P-P-Pak Rengga???" pekikku terkejut.


"Iya. Saya menenami Dino berjaga di Pos 3. Kebetulan anak yang satunya sakit, jadi saya yang menawarkan diri untuk menemani Dino," jawab Pak Rengga kalem sembari melangkah keluar meninggalkan kamar mandi itu.


"Apa? Mereka berdua menggunakan kamar mandi secara bersama? Apa yang baru saja mereka lakukan di dalam sana?"


"Silakan kalau mau berwudlu, di dalam sana ada dua pipa artesis yang bisa Kalian gunakan untuk berwudlu. Tapi, jika kalian ingin buang air, sebaiknya bergantian karena cuma ada sagu ruangan," ucap Pak Rengga.


"T-T-Terima kasih, Pak" jawabku terbata-bata.


Pak Rengga meninggalkan kamar mandi menuju balai-balai. Sedangkan aku, Fajar, dan Gatot secara bergantian menggunakan kamar mandi. Ternyata kamar mandi ini cukup luas di dalamnya. Airnya mengalir terus karena berasal dari sumur artesis. Setelah kami bertiga selesai menggunakan kamar mandi, giliran Lidya dan Cindy menggunakannya. Kamipun menuju balai-balai untuk menunaikan sholat maghrib secara berjamaah. Pak Rengga berlaku sebagai imam kala itu. Bacaannya ternyata sangat bagus dan merdu.


"Apa iya, orang dengan kemampuan membaca Qur'an seperti ini, memiliki perilaku penyimpang?"


Kami tidak menggunakan sarung yang disediakan musholla kecil tersebut, karena kami membawa sendiri di dalam tas. Beberapa menit kemudian, kamipun turun dari balai-balai, memberi kesempatan kepada Lidya dan Cindy untuk menunaikan sholat maghrib.


"Loh, Kalian kok cuma berlima? Mana lima anak yang lainnya?" tanya Pak Rengga tiba-tiba.


"Tadi kami mendapat sedikit masalah, jadi lima teman kita berangkat duluan," jawab Fajar.


"Masalah bagaimana? Kami tidak melihat ada lima anak melewati jalan ini sejak tadi. Semuanya yang lewat sini lengkap sepuluh anak," ucap Pak Rengga lagi.


"Begini, Pak. Ketika kami lewat di kebun kopi itu, kami diganggu makhluk halus. Lima teman kami itu lari duluan meninggalkan kami berlima," terangku.


"APAAA???" pekik kakak vokalis itu.


"Iya, Kak. Mereka berhasil kabur dari kejaran makhluk halus penghuni kebun kopi. Sedangkan kami harus menghadapi makhluk halus dulu, baru bisa keluar," jawab Fajar.


"Mereka dalam bahaya, Dik" pekik Kak Dino.


"Maksud Kakak? Bukankah mereka sudah selamat duluan?" Aku bertanya.


"Tidak. Ada satu hal yang tidak Kalian ketahui," ucap Kak Dino.


"Jika segerombolan orang masuk ke dalam kebun kopi itu, harus keluar secara bersama-sama. Apabila ada yang meninggalkan temannya, maka justeru yang meninggalkan temannya itu yang tidak dapat keluar dari tempat tersebut," terang Kak Dino.


"Maksudnya, mereka berlima masih berada di dalam sana?" tanyaku keheranan.


"Iya, mereka akan terus berada di dalam sana sampai ...," ucap Kak Dino.


"Sampai apa, Kak?" tanyaku semakin penasaran sekaligus mencemaskan keadaan lima temanku itu.


"Sampai ada yang menolongnya," jawab Pak Rengga dengan ekspresi wajah misterius.


Kami terdiam selama beberapa detik, kemudian aku memberanikan diri bertanya.


"Bagaimana cara kita menyelamatkan mereka?" ujarku.


"Butuh beberapa orang untuk menyelamatkan mereka," suara Pak Rengga agak berat.


"Nanti Kalian akan tahu sendiri. Ayo kita segera kembali ke tempat tadi, sebelum semuanya terlambat," ucap Pak Rengga.


"Ta-Tapi ... salah satu teman kita ada yang sakit kakinya," ucap Fajar.


"Siapa?" tanya Pak Rengga.


"Cindy ...," jawab Fajar.


"Ooo ... Sebaiknya dua anak perempuan ini segera kembali ke sekolah saja. Mungkin orang tua Kalian sudah menunggu di sana. Kami hanya butuh anak laki-laki saja," ujar Pak Rengga.


"Ta-Tapi, kami takut berjalan sendirian dalam kegelapan," jawab Cindy.


"Tenang, Kalian berdua bisa membawa senter itu menuju sekolah. Letak sekolah sudah dekat, kok. Tinggal kalian jalan kaki lurus mengikuti jalan setapak ini, lima menit audah sampai di sekolah. Di depan sana itu rumah-rumah penduduk, cuma nggak kelihatan karena sudah malam," terang Pak Rengga.


"Baiklah, kalau begitu kami berdua balik dulu," ucap Lidya sembari mengambil senter di ataa balai-balai dan memapah Cindy untuk berjalan bersamanya.


Selepas kepergian Lidya dan Cindy, kami berlima bergegas menuju kebun kopi kembali untuk menyelamatkan kelima temanku yang menurut mereka berdua, sedang tertahan di kebun kopi. Kembali, kami harus melewati jalan setapak yang sudah kami lewati sebelumnya. Aku, Fajar, dan Gatot diminta berjalan di depan, sedangkan Pak Rengga dan Kak Dino berjalan di belakang kami.


Selangkah demi selangkah kami lalui dengan penuh perasaan was-was, takut terjadi apa-apa dengan kelima teman kami itu. Sementara di belakang kami, Pak Rengga dan Kak Dino sesekali nampak saling berbicara dengan suara sengaja dipelankan membuat kami menaruh sedikit kecurigaan kepada mereka berdua.


"Benarkah, kelima teman kami itu memang tertahan oleh makhlus halua di kebun kopi? Apakah Pak Rengga dan Kak Dino tidak sedang membohongi kami? Jika memang kedua orang ini sedang membohongi kami bertiga, apa tujuannya? Atau mungkin saja mereka sedang menggiring kami ke tempat yang jauh dari keramaian? Untuk apa? Jangan-jangan ...,"


Pikiran buruk kembali terlintas di benak kami. Bagaimana tidak, selama ini kedua orang di belakang kami ini selalu melakukan tindak-tanduk yang mencurigakan. Dan kali ini, kembali mereka membuat inating curigaku kembali bekerja.


"Awas saja kalau Kalian membohongi kami atau berniat jahat terhadap kami bertiga. Kami bukanlah lawan yang bisa Kalian entengkan. Di sisi kami ada Gatot, si Hulk yang siap membanting siapapun yang berniat jahat kepada kami. Ada juga si lincah Fajar yang siap meladeni orang yang berniat jahat, dan ada aku sebagai pelengkapnya. Kami yakin, kami bertiga akan menang melawan Kalian berdua. Biar sudah, Kak Dino itu bagianku, sedangkan Pak Rengga biar dikeroyok sama Hulk dan Fajar. He he he ... Tapi tidak juga, bukankah Pak Rengga juga aktif membina ekskul karate? Bisa jadi ia menguasai sedikit ilmu bela diri tersebut? Ah sudahlah ... seperti apapun penjahatnya, kami tidak boleh menyerah begitu saja. Kami akan melawan dengan segenap kemampuan kami. Jika perlu, kami akan mempertaruhkan nyawa kami untuk melawan,"


"Kita sudah sampai, Pak Rengga" ucapku kepada ketua Lab. IPA tersebut.


Pak Rengga tidak menyahut.


"Kita berhenti di sini atau bagaimana, Pak?" tanya Fajar.


Pak Rengga tetap tidak menyahut. Karena penasaran, kamipun menoleh ke belakang untuk mengetahui apa yang aednag dilakukan oleh Pak Rengga dan Kak Dino di belakang kami, sampai-sampai mereka berdua tidak memperdulikan perkataan kami. Betapa terkejutnya kami bertiga, ketika menoleh ke arah mereka. Kami melihat Pak Rengga sedang memegang tali yang terbuat dari tambang, sedangkan Kak Dino di sebelahnya tersenyum ke arah kami bertiga.


Bersambung


Budayakan memberi like ya, Kak! Supaya aku tambah semangat melanjutkan ceritanya.


Jangan lupa juga tanggal 15 adalah kesempatan terakhir untuk mengikuti lomba vote novel ini.


Kak, jangan lupa untuk membaca novel hororku yang lainnya, yang berjudul MARANTI.


Tapi khusus yang mau menantang adrenalin saja. Oke?


See You Next Episode


Terima kasih