
Hampir saja aku menyerang balik orang tersebut. Untungnya, sebelum aku melayangkan bogem mentah ke mukanya, aku sudah mengetahui orang iseng tersebut. Iya, pria iseng itu adalah Gatot si bongsor.
"Eit ... eit, tahan dulu, Im! Ini aku Gatot," pekiknya.
"Ais, aku kira kamu penjahat tadi, Tot. Hampir saja kulayangkan pukulan ke pipi tembemmu itu," jawabku kesal.
"Maaf deh, aku 'kan cuma iseng. Habisnya, kamu serius banget mantengin tulisan-tulisan itu. Kalau aku tidak keliru, itu kan lampiran pengumuman penerimaan siswa baru? Buat apa kamu melototin tulisan-tulisan itu? Bukankah itu hanya pengumuman lama yang sudah seharusnya dicopot dari tempat itu?" ucap temanku itu.
"Ini, aku sedang mencari alamat Mita. Itu loh anak kelas sebelah yang sudah lama tidak nongol di sekolah," jawabku.
"Mi-ta yang sering kamu ceritakan?" tanya Gatot.
"Iya, aku ingin tahu alasan mengapa ia tidak pernah muncul di sekolah. Apakah ia sakit atau sudah pindah ke sekolah lain?" ujarku.
"Baguslah kalau begitu. Ngomong-Ngomong, alamat Mita ada di mana? Jauh enggak dari sini?" tanya Gatot lagi.
"Kebetulan Mita tinggal satu kampung dengan perempuan bernama Mega yang akan kita datangi hari ini," jawabku.
"Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Sekali datung, dua pulau terlewati," pekik Gatot.
[Kring-Kring .... Kring-Kring .... ]
Terdengar suara bel sepeda dari arah depan.
"Nah, itu dia Lidya, Cindy, dan Fajar sudah datang!" cetusku.
Gatot memutar tubuhnya seratus delapanpuluh derajat, sehingga dapat melihat kedatangan ketiga teman kami yang lain.
"Akhirnya kalian datang juga," teriakku.
Mereka bertiga turun dari sepedanya masing-masing.
"Kakimu sudah benar-benar pulih, Cin?" sapa Gatot.
"Ealah, Gatot perhatian sekali sama Cindy," celetuk Lidya.
"Apaan kamu, Lid? Alhamdulillah sudah sehat, Tot. Sudah bisa dibuat lari-lari lagi," jawab Cindy sambil mencibir kepada Lidya.
"Kita mau berangkat sekarang atau mau istirahat dulu?" cetus Fajar.
"Langsung saja, yuk! Kalau terlalu siang nanti malah tambah panas," jawab Lidya.
"Okelah kalau begitu. Nama tempatnya apa, Im?" tanya Fajar.
"Kampung Randu Asih, Jar," jawabku.
"Loh, itu kan dekat dengan rumah si Mery? Rumah Mery di kampung Curah Wangi. Bersebelahan dengan kampung Randu Asih," ujar Lidya.
"Ya, sudah. Kalau sempat kita bisa mampir di rumah Mery sekalian," ujar Fajar.
"Nggak bisa, Jar. Rencananya aku mau mengajak kalian semua mengunjungi rumah Mita," potongku.
"Mita anak kelas sebelah, yang cuma masuk sekolah dua hari doang itu? Jadi anak itu kamu taksir?" celetuk Lidya.
"Ah, kamu ada-ada saja, Lid. Enggak kok, aku enggak ada perasaan apa-apa sama anak itu. Aku cuma ingin memastikan penyebab ia tidak pernah nongol di sekolah," jawabku.
"Banyak alasan kamu, Im. Nanti aku bilangkan ke ibumu tau rasa kamu. Masih SMP sudah berani suka-sukaan," ucap Lidya lagi.
"Terserah kamu, deh! Yang penting aku sudah berkata jujur," jawabku.
"Ayo, buruan kita berangkat saja! Ntar orang yang mau kita datangi keburu pergi duluan," ucap Fajar sambil baik ke atas sadel sepedanya diikuti oleh anak-anak yang lain.
Kami berlima pun mulai mengayuh pedal sepeda meninggalkan gedung sekolah yang cukup sepi di hari libur. Kami menunduk hormat kepada Pak Mat yang sedang memotong tanaman di sebelah gapura. Ternyata beliau tetap bekerja di hari libur. Pak Mat membalas salam hormat kami dengan senyuman khasnya.
[Tin-Tin]
Suara klakson mobil mengagetkan kami berlima. Ternyata mobil sampah yang kemarin datang lagi. Kami meminggirkan sepeda untuk memberikan kesempatan kepada pengendara mobil sampah supaya bisa leluasa memasuki gapura.
"Terima kasih, Adik-Adik," ujar sang si sopir ramah.
"Sama-Sama, Pak" jawab kami berlima.
"Kok datang lagi, Dar?" tanya Pak Mat.
"Kemarin sampahnya banyak sekali. Jadi, tidak bisa diangkut sekaligus, Mat," jawab si sopir.
*
Kami harus melalui area persawahan untuk menuju kampung Randu Asih. Setelah bersepeda sekitar tigapuluh menit, akhirnya kami pun sampai di kampung Curah Wangi. Kami mengetahui itu nama daerah itu karena ada tulisan di tugu perbatasan antara kampung Karang Jati dan kampung Curah Wangi.
"Kita sudah sampai di kampungnya Mery. Sebentar lagi kita akan sampai di kampung Randu Asih," teriak Fajar.
"Tetap semangat, ya! Meskipun jalannya mulai tidak bersahabat," teriakku.
"Siaaaap!!!" teriak teman-temanku.
Akhirnya kami bertemu dengan pertigaan. Tidak ada orang sama sekali yang kami temui saat itu. Setelah melalui diskusi yang alot, akhirnya kami memilih berbelok ke arah kiri. Kurang lebih lima menit mengayuh sepeda, kami melihat ada seorang nenek tua berjalan berlawanan arah dengan kami.
"Apa tidak sebaiknya kita bertanya kepada nenek itu?" cetus Gatot.
"Iya, Tot. Takutnya kita malah nyasar. Mumpung ketemu penduduk," jawab Lidya.
Kami pun menghentikan sepeda tepat di depan nenek tua itu. Nenek itu menatap tajam kepada kami.
"Permisi, Nek. Apakah benar jalan ini menuju ke Randu Asih?" tanya Gatot dengan nada sopan.
Nenek tua itu menatap mata Gatot dan mengernyitkan dahinya.
"Bukan, Nak. Jalan ini menuju ke alas ilang. Seharusnya di pertigaan tadi, kalian memilih arah yang satunya," jawab nenek tua itu dengan suara berat sambil menunjuk ke arah pertigaan tadi. Kami pun secara spontan ikut menoleh ke belakang.
"Berarti kalau dari Curah Wangi, seharusnya kami belok ka .... Kamu di mana, Nek? Jar, Im, kemana nenek tua tadi?" ucap Fajar dengan nada suara gemetar.
Kami menoleh ke arah Gatot, dan kami terkejut karena nenek tua tadi sudah tidak ada di sana lagi.
"Tot ... ayo, buruan kita tinggalkan tempat ini!" pekik Fajar.
"A-a-ayo!!!" jawab semua anak.
Kami memberikan kesempatan kepada Lidya dan Cindy untuk berbelok dahulu, disusul oleh aku dan kedua anak laki-laki yang lain. Selanjutnya kami pun mengayuh sepeda dengan agak cepat. Tidak ada yang berani menoleh ke belakang. Wajah kami mendadak tegang seketika. Syukurlah, akhirnya kami sampai juga di kampung Randu Asih, setelah melalui perjalanan yang mendebarkan.
Di perbatasan antara kampung Curah Wangi dan Randu Asih ada sebuah jembatan gantung yang agak panjang. Kami harus melewati jembatan gantung tersebut untuk sampai di sana.
"Jiwa fobiaku langsung kambuh, Im," pekik Cindy.
"Semangat, Cin! Fokuskan pandanganmu ke depan! Jangan menengok ke bawah!" ucap Fajar.
Cindy menuntun sepedanya karena takut. Akhirnya kami juga ikut menuntun sepeda melalui jembatan gantung tersebut.
Setelah bersusah payah akhirnya kami semua berhasil menyebrangi jembatan tersebut.
"Yes! Aku bisa!" pekik Cindy dengan wajah penuh kegembiraan. Tubuhnya banjir dengan keringat.
"Mau kemana, Dik?" sapa seorang bapak di ujung jembatan.
"Ini, Pak. Kami mau ke rumah Bu Mega," jawab Fajar.
"Ooo ... rumah Bu Mega sudah dekat. Adik-Adik ini lurus saja dulu! Nanti sebelum pertigaan ada rumah kanan jalan, sendirian, di depannya ada kuburan. Itulah rumah Bu Mega," jawab pria itu.
"Kok ada kuburan di depan rumah, Pak?" cetus Gatot.
"Waktu keluarga Bu Mega meninggal, tanah kuburan umum sedang banjir. Jadi keluarga memutuskan untuk menguburkannya di depan rumahnya," jawab pria itu lagi.
"Ooo ... terima kasih banyak atas informasinya, Pak. Kami akan segera menuju ke sana," ujar Fajar.
Akhirnya kami pun mengayuh sepeda kami kembali, melewati jalanan kampung Randu Asih. Di kanan dan kiri jalan sudah mulai banyak rumah penduduk. Saat mendekati pertigaan, aku dikejutkan dengan pemandangan yang cukup mengejutkan. Ada seorang anak perempuan berdiri di pinggir jalan, membelakangi kami. Dari kejauhan postur tubuhnya sangat mirip dengan Mita Lestari, gadis misterius itu.
Bersambung
Jangan lupa vote dan like-nya selalu saya tunggu!