
Sebelum membaca lanjutan ceritanya, tolong klik gambar 'jempol' di bawah sebagai dukungan Kakak terhadap kelanjutan novel ini.
Selamat membaca ...
Cindypun melanjutkan ceritanya.
"Pak Mat bertanya kepada Bu Mat perihal tabungan Mbah Iyem yang dipegang oleh Bu Mat. Bu Mat menjawab bahwa tabungan Mbah Iyem dari gaji yang tidak diambil setiap bulannya ada sekitar lima jutaan. Kemudian Pak Mat menyuruh Bu Mat untuk memberikan tabungan Mbah Iyem itu kepada anaknya tetapi Bu Mat bilang masih akan menggunakan uang tersebut untuk modal supaya dagangannya lebih besar. Nanti kalau sudah cukup besar dagangannya, baru uang tabungan itu akan diberikan kepada anaknya Mbah Iyem. Pak Mat mengingatkan kembali istrinya perihal rumor munculnya hantu Mbah Iyem di kantin saat sepi orang, tetapi istrinya kekeuh tetap tidak akan segera memberikan uang tabungan itu kepada anak Mbah Iyem sekarang. Bu Mat bahkan menunjukkan ketidaksukaannya pada paksaan suaminya, ia membanting perabot dapur ke lantai hingga berbunyi keras. Aku tidak jadi masuk ke rumah mereka takut membuat kondisi makin runyam," tutur Cindy.
"Ooo jadi itu penyebab arwah Mbah Iyem tidak bisa beristirahat dengan tenang dan sering mengganggu di kantin Bu Mat?" ujar Gatot.
"Bisa jadi Tot, tapi kita tidak jangan menyimpulkan terlalu cepat sebelum kita melakukan penyelidikan menyeluruh. Siapa tahu Bu Mat sudah berbuat lebih jauh dari itu," jawabku.
"Iya benar Im. Oh ya, bukankah rumah Mbah Iyem dekat-dekat sini juga? Bagaimana kalau kita pergi ke rumah Mbah Iyem saja?" celetuk Gatot.
"Untuk apa,Tot?" tanya Lidya.
"Untuk mengetahui kondisi keluarga Mbah Iyem, sehingga dengan melihat keluarganya siapa tahu misteri penyebab kemunculan hantu Mbah Iyem akan menjadi lebih gamblang lagi," Jawab Gatot.
"Tumben otakmu encer, Tot?" ejek Lidya.
"Mau mulai lagi melecehkan aku?" pekik Gatot.
"Enggak Tot, kali ini aku serius" pekik Lidya.
"Oke, mumpung ada waktu agak lama, gimana kalau kita ke rumah Mbah Iyem sekarang?" ujar Fajar.
"Emang Kamu tahu rumah Mbah Iyem dimana Jar?" tanya Lidya.
"Kita bisa tanya pada orang-orang yang kita temui di jalan nanti," jawab Fajar.
"Benar kata Fajar, tapi sebelum bertanya pada penduduk, alangkah baiknya kita bertanya kepada Bu Ratih terlebih dahulu mengingat Bu Ratih juga tinggal di Kampung Karangjati," ucap Cindy.
"Oke, sekarang giliran Imran yang bertanya pada Bu Ratih," ucap Fajar.
"Ogah, Jar. Yang lain saja," jawabku.
"Kenapa Im?" tanya Fajar.
"Dari awal jumpa, Bu Ratih itu sepertinya tidak suka kepadaku," jawabku.
"Oke, kalau begitu siapa yang akan bertanya kepada Bu Ratih?" tanya Fajar lagi.
"Biar aku saja, Jar. Aku akan pura-pura tanya tentang rumua phytagoras pada beliau," celetuk Gatot.
"Good idea, Tot. Nah gitu dong sekali-kali Kamu nunjukin kegunaanmu di kelompok kita," ucap Lidya yang langsung disewotin oleh Gatot.
Gatotpun masuk ke ruangan guru menemui Bu Ratih. Kami menunggu di sekitar ruang guru. Kurang lebih lima belas menit Gatot berada di dalam ruang tersebut, akhirnya Gatotpun keluar dengan wajah sumringah.
"Gimana Tot, apakah Kamu berhasil mendapatkan alamat rumah Mbah Iyem?" tanya Fajar tak sabar.
"Keren Kamu Tot. Gimana caranya sehingga Bu Ratih dapat memberikan ancer-ancer rumah Mbah Iyem?" tanyaku penasaran.
"Sesuai rencana semula aku menemui Bu Ratih untuk meminta penjelasan tentang rumus phytagoras. Sesuai dugaanku, Bu Ratih sangat antusias menerima pertanyaanku, ia menjelaskan secara detil unsur-unsur segitiga siku-siku hingga ketemu rumus phytagoras itu," jawab Gatot.
"Kamu paham apa yang dijelaskan Bu Ratih barusan?" tanya Lidya.
"Enggak," jawab Gatot dengan wajah polosnya.
"Semprul Kamu Tot, kasihan Bu Ratih sudah capek-capek menjelaskan malah Kamu nggak paham-paham," ucap Lidya.
"Kata Bu Ratih nggak apa-apa untuk sementara aku belum begitu mengerti cara menggunakan rumus itu, yang penting aku sudah mengerti mana itu sudut siku-siku, mana hipotenusanya. Kalau masalah ngitungnya bisa terus dilatih supaya terbiasa," jawab Gatot.
"Benar juga sich. Terus Kamu bilang apa waktu meminta alamat rumah Mbah Iyem?" tanya Lidya lagi.
"Aku bilang, kakak sepupuku yang alumni sekolah ini ingin takziah ke rumah Mbah Iyem tapi tidak tahu rumahnya, akhirnya aku yang disuruh mencari alamatnya," jawab Gatot lagi.
"Oalah, pinter banget Kamu belakangan ini?" ucap Lidya. Gatot hanya tersenyum.
"Ayo, kita langsung berangkat saja mumpung belum ashar," pekik Fajar.
"Oke," jawab kami semua.
Kamipun meninggalkan sekolah menuju rumah Mbah Iyem sesuai ancer-ancer yang diberikan Bu Ratih. Sewaktu kami akan meninggalkan ruang guru tersebut aku melihat ada seseorang sedang menyingkap tirai kain dari dalam ruangan tersebut, sepertinya mereka baru saja menguping pembicaraan kami bertiga. Tapi aku tidak tahu siapa orang itu.
Di kertas yang ditunjukkan Gatot, dari sekolah ini kita harus berjalan ke utara sejauh duaratus meter hingga bertemu dengan pertigaan. Dari pertigaan itu kita harus belok kiri melalui ladang penduduk kurang lebih seratus meter. Kemudian setelah seratus meter ada rumah kosong tepat di pertigaan, kita belok kiri, jalan yang menuju sungai. Di pinggir sungai itu ada sebuah rumah, itulah rumah yang ditempati oleh Mbah Iyem dan keluarganya. Konon mereka mengontrak kepada Pak RW yang tinggal di pertigaan pertama tadi.
Kami sudah berada di ladang penduduk setelah pertigaan pertama. Di kiri dan kanannya banyak ditanami singkong dan ketela rambat. Dari tempat ini rumah penduduk adanya di kejauhan alias berada di gang yang lain, jadi yang menghadap ke sini dapur-dapur rumah itu. Itupun jaraknya agak jauh sekitar tigapuluh meteran. Notabene jalanan ini sangat sepi, untunglah kita berjalan berlima jadi tidak begitu seram.
Tidak jauh di depan kami sudah terlihat sebuah rumah yang sudah kelihatan reot dan rapuh. Mungkin itu yang dimaksud rumah kosong di kertas Gatot tadi. Modelnya sudah kuno, dan bagian-bagiannya sudah banyak yang dimakan rayap. Atapnya pun sebagian sudah rubuh. Ada rumpun bambu di pinggir jalan sebelum pertigaan itu. Ketika kami berlima akan sampai di pertigaan itu, kami mendengar ada suara teriakan perempuan secara samar-samar. Sontak saja bulu kudukku meremang seketika.
"Kalian mendengar sesuatu barusan?" tanyaku pada teman-teman.
"Iya Im, aku mendengar suara teriakan perempuan, namun hanya sekilas," jawab Lidya.
Kami memeriksa sekitar, tapi tidak ada yang mencurigakan. Kupandangi sekeliling rumpun bambu dan rumah kosong itu, namun tidak ada siapa-siapa yang kulihat. Kamipun berbelok ke kiri meninggalkan pertigaan sepi itu. Saat kami berjalan sekitar dua puluh meter tiba-tiba aku menoleh, aku seperti sedang melihat seorang perempuan menggendong anak kecil masuk ke area rumah kosong tadi. Tapi aku tidak mungkin meminta teman-teman untuk kembali memeriksa rumah itu, toh rumah keluarga Mbah Iyem sudah terlihat di depan, beberapa meter di atas sungai. Kami semuapun melanjutkan langkah mendekati rumah tersebut. Sementara pikiranku masih diselimuti rasa penasaran pada sosok perempuan yang masuk ke rumah tua barusan.
Bersambung
Silakan berikan 'vote' anda dan tunggu kelanjutan cerita ini selanjutnya.
Untuk pembaca setia novel horor MARANTI, silakan kunjungi 'Festival Cerita Hantu Mangatoon' ada Prolog MARANTI season kedua di sana. Cari nama Junan sebagai pesertanya. Berikan vote anda pada rekaman audio saya di situ. Terima kasih
See u next episode
Salam seram bahagia ...