KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Malam Puncak Bulak Peperangan -1


Rama: "Ratna, apakah sudah ada tanda - tanda dari pergerakan hantu Kamamang?"


Ratna: " Rama, menurut citra satelit yang mendeteksi titik api hantu Kemamang, diperkirakan dia pergi menuju ke arah puncak Gunung Lawu. "


Rama : " Baik Ratna, kita akan menuju ke sana. Tolong aktifkan Ajian Pralambangun setelah aku panggil Gendoruwo untuk membantu kita. "


Ratna : " Baik Rama. "


Rama pun segera memejamkan matanya untuk memanggil - manggil Gendoruwo. Seketika itu juga, Gendoruwo hadir di hadapan Rama.


Gendoruwo : " Assalamu'alaikum Rama, mohon maaf aku baru datang."


Rama : " Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Gendoruwo, sepertinya kita harus pergi ke Puncak Gunung Lawu. Ada hantu Kemamang yang menuju ke sana menemui Ki Sabrang. Dan mudah - mudahan bayi Raka, Ratu Sari dan Raja Piningit bisa kita ketemukan di sana. "


Gendoruwo :" Baik Rama, aku juga dapat beberapa informasi bahwa di tengah malam nanti saat bulan purnama Puncak Gunung Lawu akan ada pasar setan dan bulak peperangan yang sangat khusus dan menentukan kerajaan jin mereka di masa depan. "


Rama: " Ratna, tolong aktifkan Ajian Pralambangun menuju lokasi hantu Kemamang. "


Ratna: " Baik Rama"


Lubang hitam portal waktu pun seketika muncul di hadapan Rama dan Gendoruwo, dan mereka langsung meloncat masuk ke dalam serta langsung jatuh di sebuah padang ilalang di lereng gunung Lawu. Tanah lapang ini tampak tidak terlalu gelap mengingat malam bulan purnama.


Gunung Lawu (Hanacaraka:ꦒꦸꦤꦸꦁ​ꦭꦮꦸ) adalah sebuah gunung berapi non-aktif yang terletak di Pulau Jawa, tepatnya di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Indonesia. Gunung Lawu memiliki ketinggian sekitar 3.265 mdpl.


Gunung Lawu terletak di antara tiga kabupaten, yaitu Karanganyar di Jawa Tengah, Ngawi, dan Magetan di Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat", yang diperkirakan terakhir meletus pada tanggal 28 November 1885 dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Studi pada 2019 tentang geothermal heat flow menyugestikan bahwa Gunung Lawu sebenarnya masih aktif sampai sekarang.


Gunung Lawu merupakan salah satu gunung terdingin di Jawa, setelah Gunung Semeru, dan Gunung Slamet yang merupakan titik terdingin di JawaNama Gunung Lawu, yang berarti unggul, oleh masyarakat setempat disebut juga sebagai Wukir Mahendra Giri.


Kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, dan ketiganya memiliki arti yang sama yaitu gunung; sehingga dapat diartikan sebagai tiga gunung. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Gunung Lawu memang memiliki tiga puncak besar yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah.


Nama-nama puncak gunung kemungkinan besar bersumber dari Serat Centhini, yang menyebutkan bahwa Gunung Lawu memiliki lima belas puncak. Di sebelah selatan, terdapat tujuh puncak yaitu Hargo Dalem, Dumilah, Pethapralaya, Mayang, Cakrakembang, Tenjomaya, dan Kepanasan. Sementara itu, di sebelah utara terdapat delapan puncak yaitu Hargo Tiling, Pekareman, Sadewa, Pamenang, Candhirenggo, Bayu, Rimbi, dan Kalithi. Dalam Serat Centhini, hanya Hargo Dumiling yang tidak disebutkan.


Kemungkinan nama tersebut merupakan modifikasi dari Hargo Tiling. Perkiraan ini didukung oleh puncaknya yang sama rata di bagian utara Gunung Lawu.


Poerbatjaraka menyebutkan bahwa nama asli Gunung Lawu adalah Katong yang berarti dewa. Nama tersebut tertulis dalam Tantu Panggelaran. Gunung Katong adalah bagian dari reruntuhan Gunung Mahameru ketika dibawa oleh para dewa melalui langit Pulau Jawa.


Reruntuhan lainnya menjadi Gunung Wilis, Kamput, Kawi, Arjuno, dan Kemukus. Menurut Poerbatjaraka, Gunung Katong diidentikkan dengan Gunung Lawu.


Dengan kata lain, Gunung Katong adalah nama kuno untuk Gunung Lawu. Menurut Zoetmulder arti kata katong adalah dewa, rasa hormat, penghormatan, dan kekaguman. Sementara, kata lawu berarti tertinggi dan unggul.


Makna kedua kata tersebut sama-sama mengandung makna kekaguman; sehingga meskipun namanya diubah, tetapi tidak menggeser makna yang terkandung di dalamnya. Selain dalam Serat Centhini, nama Lawu juga disebutkan dalam Serat Manikmaya.


Serat tersebut ditulis pada 1794 Masehi, yang isinya memiliki kesamaan dengan Tantu Panggelaran. Namun, hal yang membedakan adalah Serat Manikmaya ditulis dalam bahasa Jawa Baru.


Konon, Gunung Lawu merupakan bagian dari delapan belas gunung keramat di Jawa Tengah. Sangat mungkin bahwa mandala-mandala terletak di pegunungan tempat karya sastra itu dibuat.


Karya sastra yang lebih tua adalah Babad Tanah Jawi. Dalam kitab tersebut, Gunung Lawu disebut sebagai tempat moksa terakhir Prabu Brawijaya yang memiliki nama lain yaitu Sunan Gunung Lawu.


Mitos yang berkembang di masyarakat menyatakan bahwa ia melakukan moksa di pertapaan Pringgodani. Pernyataan ini merupakan indikasi bahwa sampai saat penulisan Babad Tanah Jawi, yaitu pada masa Mataram Islam, Gunung Lawu masih dipandang sebagai tempat suci.


Setidaknya, ia merupakan gunung yang dianggap berharga oleh umat Hindu. Naskah tertua adalah Bhujangga Manik. Gunung Lawu juga disebut ketika Bhujangga Manik melakukan perjalanan dari Sunda ke Majapahit dan Bali.


Gunung Lawu yang berada di Jawa Tengah ini juga menjadi salah satu gunung di Indonesia yang paling angker. Hal itu karena diketahui gunung menjadi tempat makhluk halus berkumpul yang dinamakan dengan ‘pasar setan’ yang konon bisa dikunjungi manusia.


Ada juga lokasi yang bernama Bulak Peperangan dimana di lokasi ini banyak para pendaki yang sering mendengar suara-suara gaduh seperti perang. Para pendaki harus fokus dan tidak boleh terpencar karena jika tersesat mungkin pendaki akan pulang tinggal nama saja.


Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran. Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan.


Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib naas.


Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.


Kehadiran Pasar Setan di Gunung Lawu menjadi pembicaraan hangat di kalangan para pendaki, banyak para pendaki yang pernah mendengar suara bising, seperti berada di pasar. Bahkan tidak jarang terdengar orang-orang yang menawarkan dagangan, saat melakukan pendakian di gunung Lawu.


Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, apabila anda mendengar suara bising di atas gunung Lawu, sebaiknya buanglah salah satu barang yang anda punya, sebagaimana orang yang sedang melakukan transaki barter


Rama dan Gendoruwo kemudian melewati padang ilalang di lereng Lawu, yang berangin kencang. Secara fisik, padang ilalang ini merupakan tanah lapang luas yang berisi banyak batu-batu besar dan pohon edelweis. Ada beberapa batu yang disusun secara rapi dan siapapun dilarang untuk mengubah atau mengambilnya.


Rama dan Gendoruwo kemudian mendengar suara keramaian layaknya sebuah pasar.


Gendoruwo : "Rama, kita sedang berada di tengah pasar setan. Tidak kelihatan secara kasat mata menurut pandanganmu, tapi ikuti aku supaya kamu tidak diganggu mereka, dan tidak salah jalan menuju puncak gunung. Sepertinya jin dan makhluk halus penunggu Gunung Lawu ini sedang bertransaksi mempersiapkan sesaji untuk penguasa kerajaan jin Puncak Gunung Lawu. "


Rama : "Baik, Gendoruwo"


Rama dan Gendoruwo berjalan dengan cepat dan berdampingan karena ternyata jalur pendakian via Candi Cetho ini cukup terjal dan sulit dilalui karena berkabut. Estimasi jarak tempuh pendakian mereka sekitar 9.75 km menuju Puncak.


Tiba-tiba Rama dan Gendoruwo dikejutkan dengan adanya penampakan pasukan Kiyongko atau kaki seribu di hadapan mereka. Makhluk - makhluk ini menatap tajam kepada Rama seolah - olah memberi pesan pada Rama agar bisa memulihkan lingkungan dan sumber air di Gunung Lawu.


Karena makhluk Kiyongko tersebut tidak menyerang Rama dan Gendoruwo, maka Rama cukup hanya menganggukkan kepala lalu melanjutkan perjalanan. Kemudian di langit juga tampak seekor burung jalak yang mengitari di atas Rama dan Gendoruwo selama perjalanan ke Puncak.


Rama dan Gendoruwo yang melihat penampakan burung jalak ini hanya tersenyum dan menganggap burung jalak tersebut tidak bermaksud jahat sehingga mereka langsung meneruskan perjalanan. Rama dan Gendoruwo harus mencapai Puncak Gunung Lawu sebelum tengah malam bulan purnama.


Setelah Rama dan Gendoruwo berjalan melewati Hargo Dalem yang berada di ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut, mereka sudah melihat Puncak Hargo Dumilah, sebagai Puncak Gunung Lawu. Samar - samar Rama melihat sebuah api berjalan di Puncak Gunung Lawu seperti hantu Kemamang yang sedang diikuti oleh Rama.


Rama : "Ratna, apakah benar api itu sama seperti sosok hantu Kemamang? "


Ratna : " Benar Rama, dialah hantu Kemamang. Hati - hati Rama, aku memindai Puncak Hargo Dumilah sedang ramai dengan kumpulan pasukan jin aliran hitam dan hantu - hantu selain hantu Kemamang. Sepertinya mereka sedang berkumpul mengadakan upacara penumbalan. "


Rama : "Upacara itu pasti untuk bayi Raka. Ratna, bisakah kamu pindai lagi lokasi penjaranya? Karena mungkin Ratu Sari dan Raja Piningit berada di sana !"


Ratna : "Benar Rama, aku mendeteksi adanya aura jin kerajaan putih berada di Hargo Dumiling, tempat berbeda dengan Hargo Dumilah."


Rama : " Gendoruwo, sepertinya kita harus berpencar. Aku akan bebaskan bayi Raka di Hargo Dumilah, dan kamu bebaskan Ratu Sari, Raja Piningit dan pasukan kerajaan jin aliran putih di Hargo Dumiling ! "


Gendoruwo : " Baik Rama. "


Mereka pun berpencar dan Rama berjalan sambil mengendap-endap supaya bisa masuk tanpa terlacak mereka.


Sementara itu, Ki Sabrang mulai menampakkan dirinya di tengah kerumunan pasukan jin aliran hitam dan hantu sekutunya.


Ki Sabrang : " Wahai pasukan kerajaan jin aliran hitam.. Wahai Sekutu hantu aliran hitam.. Malam ini, kita berkumpul untuk melakukan upacara tumbal baraya untuk meningkatkan kesaktian kita dan mendapatkan umur yang abadi " (sambil tertawa)


Pasukan jin aliran hitam dan Sekutu hantu aliran hitam pun bersorak dah menghentakkan senjata tombaknya ke tanah menandakan mereka sedang bergembira dengan ucapan penguasanya.


Ki Sabrang : " Wewe Gombel, bawa ke sini bayi itu " (sambil menunjuk ke arah wewe gombel yang sedang menggendong bayi Raka).


Rama yang sedang mengamati Ki Sabrang dari tempat persembunyian pun kaget. Tidak menyangka ternyata bayi Raka digendong oleh Wewe Gombel untuk diserahkan ke Ki Sabrang. Padahal Wewe Gombel sudah berjanji akan membantu Rama dan sudah disucikan. Emosi Rama menjadi sangat marah melihat hal tersebut. Apalagi bayi Raka yang terlihat menangis tanpa henti dalam gendongan Wewe Gombel, sedangkan Wewe Gombel tampak tiada welas asih untuk menghibur bayi Raka.


Rama menjadi murka, dan seketika itu juga Rama menampakkan dirinya di depan kerumunan Ki Sabrang dan para pasukannya.