KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
EXTRA PART 3


Aku dan Parto terkejut karena Echa tiba-tiba ngomong seperti itu. Tapi, kami berdua mengabaikannya karena kami pikir itu hanya omongan anak kecil saja yang tidak perlu disikapi dengan serius. Toh, habis ngomong kayak itu, si Echa sudah kembali asyik bermain dengan kelerengnya lagi.


"Sudah, nggak usah dipikirkan, Im," ucap Parto.


"Iya, To," jawabku.


"Oh ya, To. Aku baru ingat,beberapa waktu yang lalu, aku ketemu Pak Anton di sekolah," ucapku mengalihkan topik pembicaraan.


"P-pak A-anton ...," gumamnya.


"Iya, Pak Anton yang dulu jadi ank buahnya Pak Prapto. Sekarang dia sudah naik pangkat dna ditugaskan di Polsek dekat dengan sekolahku," jawabku.


"I-iya, aku baru ingat. Gimana kabar polisi yang jago bela diri itu? Dia ngomong apa saja denganmu? Apa dia sudah punya anak dan istri sekarang?" cerocos Parto.


"Satu-Satu tanyanya dong! Gimana aku me jawabnya kalau kamu tanyanya beruntun seperti itu?" protesku.


"Eh, maaf, Im. Aku benar-benar kangen pingin ngobrol sama Pak Anton. Secara, aku dan dia dulu akrab banget. Pas di Polsek saja, aku kan takut banget untuk menjawab pertanyaan penyidik, Pak Anton yang mendampingi dan mensupportku untuk tidak takut. Pak Anton juga banyak cerita kepadaku tentang perjalanan karirnya. Ia cerita kalau ia lahir dari keluarga tidak mampu. Ayah dan ibunya bekerja mengabdi pada seorang polisi. Majikan orang tuanya itu sangat sayang kepada Pak Anton. Pak Anton dibiayai sekolahnya mulai SD sampai SMA. Kemudian Pak Anton dengan disupport oleh majikan orang tuanya itu pun mengikuti seleksi untuk bisa sekolah menjadi seorang polisi. Dan ternyata Pak Anton berhasil menjadi seorang polisi. Aku jadi terinspirasi sekali dengan kisah perjalanan hidup Pak Anton itu," tutur Parto.


"Iya, To. Pak Anton menanyakan kamu waktu itu," jawabku.


"Terus, kamu jawab apa sama beliau?" Parto balik bertanya.


"Saya jawab kamu sibuk mengelola sawah," jawabku.


"Apa reaksi beliau waktu itu, Im?"


"Hm ...," Aku berpikir sejenak. Kemudian terdengar suara kendaraan dari arah barat.


Aku dan Parto sama-sama menoleh ke arah mobil yang sedang berjalan mendekat. Tiba-Tiba mobil itu berhenti di pinggir jalan. Aku dan Parto sama-sama bingung dan menebak-nebak siapa yang berada di dalam mobil tersebut. Belum lama kami berpikir, orang yang berada di balik kemudi keluar dari mobil. Ia adalah seorang laki-laki dengan pakaian kesatuan. Kami terhenyak ketika pria tersebut menoleh ke arah kami yang sedang mengobrol.


"Assalamualaikum ...," ujar pria yang ternyata adalah Pak Anton.


"Waalaikumsalam ...," jawab kami berdua dengan gelagapan karena orang yang baru saja kami perbincangkan, tiba-tiba muncul di hadapan kami.


"P-pak A-anton???" pekik kami berdua secara bersamaan.


"Iya, ini saya Imran ... Parto ...," jawab pria tegap itu sambil melangkah ke arah kami.


"Paaaaaaak!!!!" Kami berdua berlari ke arah Pak Anton. Kami langsung mengajak beliau bersalaman dan mencium tangannya. Pak Anton membelai merengkuh tubuh kecil kami ke dalam pelukannya yang hangat.


"Alhamdulillah ... akhirnya saya bisa bertemu dengan kalian lagi," ucap Pak Anton sambil membelai punggung kami berdua.


Perasaan haru dan gembira membuat titik-titik air mata kami mengalir. Selama beberapa detik, kami bertiga melebur kerinduan itu. Akhirnya, kami berdua sadar untuk mempersilakan Pak Anton untuk masuk ke dalam rumah.


"Monggo, masuk dulu, Pak!" ucap Parto sambil menyeka air matanya.


"Iya, To. Terima kasih," jawab Pak Anton.


Kami bertiga pun masuk bersama-sama ke ruang tamu rumah Parto.


"Bapak dan ibumu sehat kan, To?" tanya Pak Anton.


"Bapak sehat, Pak. Kalau ibu agak kurang enak badan," jawab Parto.


"Dimana mereka sekarang, To? Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan mereka," jawab Pak Anton.


"Bapak sedang mengantar ibu berobat ke rumah Pak Ateng, Pak," jawab Parto.


"Pak Ateng pensiunan tentara?" tanya Pak Anton.


"Iya, Pak," jawab Parto.


"Beliau sering pusing dan batuk, Pak" jawab Parto.


"Semoga ibumu segera sembuh, To. Saya sudah kangen masakan ibumu," jawab Pak Anton.


"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Parto.


"Kalau bapak dan ibumu gimana keadaannya, Im?" tanya Pak Anton.


"Alhamdulillah, sehat semuanya, Pak. Hanya saja mereka berdua sekarang sedang ke rumah paklik dan bulik di barat," jawabku.


"Baiklah. Semoga sebelum saya pulang, bisa bertemu dengan orang tua kalian berdua," ujar Pak Anton lagi.


"Aamiiin ...," jawab kami.


"Im ...," ujar Pak Anton.


"Ada apa, Pak?" tanyaku.


"Apa kamu sudah bercerita kepada Parto tentang pertemuan kita di sekolahmu beberapa waktu yang lalu?" tanya Pak Anton.


"Sudah, Pak. Tapi belum semua saya ceritakan karena Pak Anton keburu datang," jawabku.


"Jadi, kamu baru saja menceritakannya kepada Parto?" tanya Pak Anton.


"Iya, Pak," jawabku.


"Kebetulan sekali berarti, nih?" cetus Pak Anton.


"Iya, Pak," jawabku.


"Cerita tentang apa, Im?" tanya Parto sambil mencolek lenganku.


Aku menoleh kepada sahabatku itu, tapi aku tidak menjawab apa-apa karena Pak Anton sudah ada di sini. Pikirku, biar Pak Anton saja yang menceritakan semuanya kepada Parto.


"Apaan, Im?" tanya Parto sambil mencolek lenganku sekali lagi.


"Biar Pak Anton yang ngomong langsung sama kamu, Im," jawabku.


Parto mengernyitkan dahinya dengan penuh kebingungan.


Pak Anton menarik napas panjang.


"Begini, To. Beberapa waktu yang lalu saya bertanya kepada Imran tentang keadaanmu dan juga aktivitas yang sedang kamu tekuni. Nah, dari Imranlah zaya tahu bahwa kamu tidak melanjutkan sekolah. Apa benar begitu, To?" tanya Pak Anton.


"Be-be-benar, Pak. Saya memang tidak melanjutkan sekolah karena-" jawab Parto terbata-bata.


"Iya, saya paham kondisi keluargamu. Kalau Imran sih enak bisa sekolah karena ia mendapat beasiswa. Sedang kamu tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah. Benar begitu, To?" tanya Pak Anton lagi.


"Iya, Pak benar. Kondisi perekonomian keluarga saya tidak memungkinkan bagi saya untuk melanjutkan sekolah seperti Imran," jawab Parto sambil merunduk.


"Kamu nggak usah bersedih, To. Apalagi sampai menyesali kondisi perekonomian keluargamu. Karena, saya tahu bapak dan ibumu itu sudah bekerja keras untuk membesarkan kamu. Hanya saja, untuk menyekolahkanmu ke SMP, itu yang tidak bisa dijangkau oleh kedua orang tuamu. Meskipun begitu, saya tahu kedua orang tuamu tetap mendidik kamu dengan baik. Buktinya kamu meliki akhlak dan perilaku yang sangat terpuji. Bahkan kalau boleh saya jujur. Banyak anak yang sekolah ya tinggi tapi akhlak dan perbuatannya tidak mencerminkan tingkat pendidikannya. Hanya saja, saya sangat menginginkan kamu untuk bisa bersekolah karena negara ini membutuhkan orang-orang yang berjiwa ksatria seperti kamu,To," ujar Pak Anton.


Parto hanya diam dan merunduk. Pak Anton mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kami melirik ke arah benda yang dibawa Pak Anton. Ternyata Pak Anton sedang mengeluarkan selembar kertas. Ia membuka lebar-lebar kertas itu dan menyodorkannya kepada Parto.


Parto menerima kertas pemberian Pak Anton. Dan ia tiba-tiba gemetaran.


*


Lanjut apa tidak?