
Raka yang sudah mengaktifkan teknologi Ratna kini tampak mulai percaya diri berjalan menghadapi Ki Sabrang. Apalagi bersama Rama kini mereka sudah tinggal menghadapi Ki Sabrang seorang diri. Sementara itu, Ki Sabrang tetap menghunus keris Taming Sari sambil melafalkan mantra Azarath nya.
Melihat dirinya yang kini seorang diri menghadapi Rama dan Raka, Ki Sabrang kemudian mempunyai pikiran untuk melakukan perang gerilya, alias perang sembunyi - sembunyi dan memecah Rama dan Raka. Ki Sabrang kemudian melafalkan mantra Zinthos untuk segrta membuka lubang hitam portal waktu di hadapannya. Lubang hitam portal waktu tersebut kemudian terbuka dan Ki Sabrang segera memasukinya.
Ki Sabrang pun menghilang seiring dengan lubang hitam portal waktu yang menutup diri. Rama dan Raka yang tadinya berlarian mendekati Ki Sabrang menjadi berhenti dan gamang. Mereka bertanya - tanya ke manakah Ki Sabrang pergi.
Rama : " Ratna, apakah kamu bisa memindai seluruh lokasi di Gunung Semeru ini untuk mencari Ki Sabrang? "
Ratna : " Bisa Rama. Pencarian dimulai! "
Raka : " Bapa, sepertinya kita harus berpencar mencari Ki Sabrang supaya lebih efektif! "
Rama : " Iya Raka, kamu mencari di sisi timur, aku akan mencari di sisi barat Gunung. Kita akan berkomunikasi melalui Ratna! "
Raka : " Baik Bapa! "
Raka dan Rama pun berpencar satu sama lain untuk mencari Ki Sabrang. Rama menyusuri sisi barat dari Puncak Mahameru yang lebih berbahaya dan sulit untuk didaki dan menurun. Terdapat banyak tebing yang curam, dan terdapat juga banyak jurang yang dalam. Dalam pendakian menuju puncak dari sisi barat, para pendaki harus memanjat batu-batu besar dan menyeberangi sungai-sungai kecil. Sisi barat Puncak Mahameru juga terkenal dengan hutan yang lebat dan jalur yang berbatu dan berlumpur. Jalur pendakian dari sisi barat lebih sulit dan membutuhkan keterampilan pendakian yang lebih tinggi.
Sedangkan sisi timur dari Puncak Mahameru lebih mudah didaki atau saat turun daripada sisi barat. Pendakian dari sisi timur biasanya dimulai dari desa Ranupane. Jalur pendakian dari sisi timur Puncak Mahameru lebih terbuka, memiliki jalur yang lebih lebar dan lebih bersih, sehingga lebih nyaman untuk didaki. Meskipun begitu, tetap diperlukan stamina yang cukup untuk mendaki karena medan yang cukup menantang.
Rama kemudian memasuki sebuah hutan yang terdapat plang bertuliskan Oro-Oro Ombo. Hutan Oro-Oro Ombo ini merupakan salah satu hutan di kaki Gunung Semeru yang merupakan tempat awal pendakian dari sisi barat Puncak Mahameru. Hutan ini terdiri dari banyak pohon besar yang rindang, dan menjadi habitat bagi berbagai macam satwa liar, seperti monyet, burung, dan trenggiling.
Di dalam hutan juga terdapat aliran sungai yang mengalir deras dan konon disebut dengan Sungai Kali Mati. Sungai Kali Mati merupakan sungai yang melintasi Hutan Oro-Oro Ombo dan merupakan sumber air utama bagi penduduk setempat. Namun, sungai ini sering mengalami pencemaran akibat limbah yang dibuang oleh warga sekitar. Hal ini menyebabkan air sungai menjadi keruh dan tidak sehat untuk dikonsumsi. Pencemaran ini juga memengaruhi kehidupan satwa liar di sekitar sungai, seperti ikan dan kura-kura.
Tiba - tiba saat Rama menyusuri aliran Sungai Kali Mati, di belakang Rama muncul sosok Ki Sabrang yang langsung menendang Rama dari belakang sehingga menyebabkan Rama terjatuh. Ki Sabrang pun tersenyum licik melihat Rama yang terjatuh ke dalam air sungai di depannya.
Rama berusaha bangkit berdiri dan segera membalikkan badan menghadapi Ki Sabrang. Rama juga langsung mengkontak Raka supaya tidak terlalu sulit mencari Ki Sabrang di sisi Timur karena Ki Sabrang sudah tampak di sisi barat Puncak Mahameru. Raka yang mendapat informasi dari Rama segera menuju sisi Barat Puncak Mahameru untuk membantu Rama.
Rama pun segera melafalkan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga saat Ki Sabrang juga melafalkan mantra Ajian Setan Kober. Kedua kekuatan ajian sakti itu kemudian bertemu dan sepertinya kekuatan aura singa kelaparan yang keluar dari pusaka Kujang Pamenang Rama berhasil mengalahkan kekuatan aura ular kobra berbisa dari keris Taming Sari.
Namun kali ini kekuatan aura singa kelaparan tidak berhasil membuat tubuh Ki Sabrang kaku dan hancur menjadi debu seperti biasanya. Ki Sabrang terjatuh namun masih tetap bisa bangkit dan kuat berdiri menghunus keris Taming Sari. Ki Sabrang lalu melafalkan mantra Zinthos dan segera menghilang kembali.
Kemudian Raka yang mendengarkan cerita Rama mendapatkan bisikan dari Ratna bahwa di hadapan mereka sekitar 800 meter di depan terdapat sinyal kehadiran Ki Sabrang. Raka pun segera memberitahu Rama, dan mereka segera bergegas lari menuju ke lokasi yang diduga adalah Ki Sabrang.
Ternyata sinyal yang disampaikan Ratna benar - benar menunjukkan lokasi Ki Sabrang. Kini Ki Sabrang sudah berada di hadapan Rama dan Raka dengan senyum liciknya sambil melafalkan mantra ajian Setan Kober dan menghunus keris Taming Sari. Rama dan Raka yang melihat Ki Sabrang hendak menyerang mereka kemudian segera melafalkan wirid ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga.
Kekuatan aura singa kelaparan yang keluar dari dua Kujang Pamenang milik Rama dan Raka berhasil melahap kekuatan dari aura ular kobra yang berbisa dari Keris Taming Sari. Namun lagi - lagi Ki Sabrang menghilang setelah terjatuh akibat kekalahannya itu.
Rama : "Ratna, sepertinya kali ini Ki Sabrang memiliki kekebalan dengan pusaka keris barunya. Apakah kamu mengenali keris tersebut? "
Ratna : " Dari fisiknya, sepertinya keris itu mirip dengan Keris Taming Sari, Rama! Keris itu bisa memberikan kesaktian dan kekebalan yang luar biasa bagi pemiliknya, seperti dalam kisah legenda Hang Tuah. Keris itu bisa membunuh sasarannya dari dekat walaupun tidak menyentuhnya. Kamu harus bisa memisahkan keris itu dari genggaman Ki Sabrang supaya kekebalannya hilang!"
Rama : "Ow begitu, Raka di copy. "
Raka : " Baik Bapa! "
Rama dan Raka terus menyusuri aliran sungai Kali Mati yang berada dalam Hutan Oro-Oro Ombo. Suasana gelap pada waktu dini hari ini masih dirasa sangat mencekam dan menyeramkan. Perasaan Rama selalu tidak nyaman, seperti merasa diawasi atau diikuti oleh sesuatu yang tidak terlihat. Suara - suara seperti orang menangis atau tertawa, suara orang berbicara yang tidak jelas, dan suara-suara lain yang tidak bisa dijelaskan sangat jelas didengar oleh Rama dan Raka selama menyusuri Sungai Kali Mati.
Ratna : " Rama, Raka.. Awas dari belakang kalian! " (dengan suara tiba-tiba).
Rama dan Raka terkejut dengan peringatan Ratna. Begitu mereka akan membalik badan, kekuatan aura ular kobra berbisa sudah mengenai tubuh mereka. Mereka pun terpental jatuh ke dalam sungai. Air sungai pun kembali bercampur dengan darah. Rupanya Rama mengalami mimisan dan luka dalam lagi. Sementara itu Raka tampak pingsan setelah terkena kekuatan aura ular kobra berbisa dari Keris Taming Sari.
Rama yang melihat Raka pingsan kemudian menarik tubuh Raka supaya ke pinggir sungai dan meminta Ratna untuk melakukan pengobatan terhadap luka - luka Raka. Sementara itu, Ki Sabrang yang akhirnya muncul dari belakang langsung menyerang Rama kembali dengan ajian Setan Kober. Rama pun berusaha menahan serangan Ki Sabrang semampunya karena Rama masih merasakan sakit di punggungnya akibat serangan mendadak terakhir.
Ki Sabrang terus maju mengarahkan kekuatan aura ular kobra berbisa yang keluar dari Keris Taming Sari menuju Rama. Kekuatan aura singa kelaparan yang dikeluarkan pusaka Kujang Pamenang tampak sedikit agak lemah kali ini dan hanya berusaha menahan serangan saja. Hingga akhirnya Ki Sabrang lalu menghilang dan secepat kemudian sudah berada di dekat Rama lalu Ki Sabrang menusukkan Keris Taming Sari ke dada sebelah kiri Rama, tepat di arah jantung Rama.
Rama kaget dengan pergerakan cepat Ki Sabrang yang menggunakan mantra Zinthos untuk hilang muncul di depan Rama. Namun setelah tubuh Rama tertusuk oleh keris Taming Sari, seketika itu juga Rama menggenggam erat tangan Ki Sabrang supaya tidak menghilang kembali. Rasa sakit sangat dirasakan oleh Rama sembari menggenggam tangan Ki Sabrang yang masih menusukkan Keris Taming Sari ke dalam dadanya. Darah segar mengucur deras dan jantung Rama mulai bereaksi terhadap luka Rama.
Rama : "Ratna, segera bangunkan Raka dari pingsannya! " (ucap Rama dengan nafas tersengal - sengal menahan rasa sakit).