KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 55 : WANITA HEBAT


Silakan klik gambar jempol dulu di bawah sebelum membaca lanjutan ceritanya.


Terima kasih atas "like" nya.


Aku sangat terkejut melihat seorang perempuan berusia paruh baya muncul secara tiba-tiba, ia sedang menggendong anak kecil tepat di belakangku. Perempuan itu sama persis dengan yang kulihat tadi sewaktu mau ke rumah kontrakan keluarga Mbah Iyem.


"E-eee, mohon maaf kami mengganggu aktivitas Ibu di sini," ucapku terbata-bata.


Perempuan paruh baya tersebut tersenyum ke arahku sambil mengelus-elus punggung bayi yang sedang ia gendong.


"Tidak apa-apa, Dik. Kalian tidak sedang mengganggu siapa-siapa dan juga tempat ini bukan milik saya, kok," jawab perempuan itu dengan ramah.


Mendapat reaksi yang positif dari orang tersebut, teman-temanku yang semula berada di luar ikut masuk ke area ruang tamu rumah yang lama tidak terpakai itu.


"Terima kasih kalau begitu. Oh ya, kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berada di dalam rumah yang sudah rusak ini?" tanyaku.


"Saya tinggal di sini, Dik" jawab ibu paruh baya itu.


"Maaf, apa Ibu tidak merasa takut kalau tiba-tiba rumah ini roboh?" tanyaku lagi.


"Sebenarnya sich ada rasa takut itu, tapi mau gimana lagi Dik, saya tidak punya uang untuk mengontrak rumah, sedangkan saya dan anakku ini butuh tempat untuk berteduh," jawab perempuan itu dengan nada perlahan.


"Ibu sudah lama tinggal di sini?" tanya Lidya.


"Baru dua mingguan ini," jawab ibu itu lagi.


"Sebelumnya ibu tinggal di mana?" tanya Lidya lagi.


"Sebelumnya saya tinggal di rumah pinggir sungai situ, tapi karena sudah satu bulan ini saya tidak bisa membayar uang kontraknya, maka saya memilih untuk meninggalkan rumah tersebut," jawab ibu itu sambil menunjuk ke arah rumah yang kami kunjungi tadi.


Kami semua terkejut mendengar pengakuan ibu paruh baya tersebut.


"Jadi Ibu ini masih ada hubungan keluarga dengan almarhum Mbah Iyem?" pekik Fajar.


Ibu itu terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Fajar. Entah mengapa tiba-tiba angin berhembus agak kencang ketika Fajar menyebut nama Mbah Iyem, semoga saja hantu Mbah Iyem tidak datang ke tempat ini.


"Saya adalah anak perempuan Mbah Iyem dan anak yang kugendong ini adalah cucunya Mbah Iyem. Kalian kenal dengan almarhum ibu saya?" pekik perempuan paruh baya itu.


"Alhamdulillah, akhirnya kami bisa langsung bertemu dengan Ibu. Kami ini siswa baru di SMPN 01 Karangjati. Kami tidak mengenal Mbah Iyem secara langsung karena Mbah Iyem katanya meninggal pada saat liburan kemarin. Kedatangan kami ke daerah ini memang bertujuan mencari keluarga Mbah Iyem. Ternyata Ibu sendirilah keluarga Mbah Iyem. Lantas, dimanakah keluarga Mbah Iyem yang lain?" ucap Fajar.


"Hanya kamilah keluarga yang masih hidup. Yang lain sudah meninggal semuanya. Kalau boleh tahu, ada perlu apa Kalian mencari ibu saya?" tanya perempuan itu.


"Nanti akan kami jelaskan maksud kedatangan kami. Sebelumnya kami ingin bertanya apakah Pak RW mengetahui Ibu tinggal di rumah tua ini?" tanyaku.


"Tidak, Pak RW tidak tahu. Kalau beliau tahu pasti akan sangat marah. Saya tidak enak sudah menunggak uang kontrakan kepada Pak RW. Saya tahu Pak RW juga butuh uang untuk membiayai kuliah anaknya. Kalau saya tetap tinggal di rumah itu, tentunya Pak RW tidak mempunyai penghasilan lain. Makanya saya pamit kepada Pak RW akan tinggal di rumah saudara, padahal sebenarnya saya tinggal diam-diam di rumah tua ini. Kalau ada orang lewat saya tinggal sembunyi saja di dalam, biar tidak ketahuan.


"Ya Allah, Ibu ini nekad banget. Tadi saja saya dikejar ular cobra, gimana dengan Ibu dan anak Ibu yang sudah dua mingguan tinggal di sini," pekikku.


"Duh, Ibu ini memang luar biasa," pekik Lidya.


"Begini, Bu. Saya ingin bertanya kepada Ibu, apakah Mbah Iyem meninggalkan pesan atau catatan-catatan sebelum meninggal?" tanyaku.


"Kurang tahu juga ya Dik, soalnya sakitnya cuma sebentar terus meninggal. Tapi kalau tas kecil kesayangan beliau kayaknya ada di dalam. Saya tidak pernah membukanya sejak ibu meninggal," jawab perempuan itu.


"Bisa Ibu ambil sekarang dan kita periksa bareng-bareng?" ucap Fajar.


"Bisa, tapi ada apa sich sebenarnya?" tanya perempuan itu sambil masuk ke dalam, beberapa waktu kemudian ia balik lagi membawa sebuah tas kecil.


Kami membuka tas itu bersama-sama, ternyata di dalamnya berisi sebuah buku kecil dan secarik kertas.


"Ya Tuhan, ini buku catatan simpanan uang Mbah Iyem yang ada pada Bu Mat," pekik Lidya.


"Simpanan uang apa, Dik. Palingan itu hanya buku catatan biasa. Tidak mungkin Ibu memiliki simpanan uang, wong kerjanya cuma bantuin di warungnya Dik Mat. Palingan bayarannya hanya cukup untuk membantu uang belanja kami bertiga" ucap perempuan itu.


"Tidak, Bu. Tanggal di catatan ini masih baru, dan di sini jelas tertulis, nominal uang Mbah Iyem yang ada di Bu Mat sebesar lima juta rupiah," jawabku.


"Palingan itu hanya catatan uang belanja warung Dik Mat saja, Dik?" Perempuan itu tetap kekeuh pada keyakinannya.


"Tidak Bu. Ceritanya begini, sebelumnya mohon maaf. Akhir-akhir ini arwah Mbah Iyem sering muncul di kantin sekolah, saat tidak ada seorangpun di kantin. Kami pernah melihat arwah Mbah Iyem secara langsung," ucap Fajar.


"Ya Tuhan, Kalian tidak bohong, kan? Dosa apa yang diperbuat Ibu sehingga Ibu menjadi hantu? Ampuni ibuku ... Ya Allah ...," pekik perempuan itu.


"Tidak Bu, sepertinya arwah itu muncul bukan karena Mbah Iyem berbuat salah, tapi karena ada sesuatu yang membuat Mbah iyem tidak dapat beristirahat dengan tenang," jawab Fajar.


"Itulah mengapa kami berlima menyelidiki segala sesuatu yang berkaitan dengan Mbah Iyem. Tadi siang tanpa sengaja saya menguping pembicaraan Bu Mat dan Pak Mat di rumahnya. Dari perbincangan itu ditambah bukti adanya buku tabungan yang ditandatangani oleh Bu Mat ini, semakin memperjelas bahwa Bu Mat sedang memegang uang Mbah Iyem. Pak Mat menyuruh Bu Mat untuk segera menyerahkan uang itu kepada keluarga Mbah Iyem, tapi Bu Mat ngotot ingin memberikannya nanti-nanti saja setelah diputar menjadi modal dagangan terlebih dahulu. Dan benar saja Mbah Iyem tidak tenang di sana, ternyata anak dan cucunya tidak punya tempat tinggal, mungkin Mbah Iyem ingin uang tabungannga diberikan kepada anak dan cucunya untuk mengontrak rumah dan modal berjualan," ujar Cindy panjang lebar.


Mendengar penuturan Cindy, perempuan itu menangis sesegukan. Entah apa yang ia tangisi, apakah karena ibunya menjadi arwah gentayangan atau menangis karena sebentar lagi nasibnya akan tertolong. Perempuan itu kemudian membuka sepucuk surat yang ada di samping buku tabungan itu, ia membaca isinya. Tangisnya semakin pecah. Ketika kami ingin membuka isi surat tersebut, ia melarangnya. Ia melipat surat tersebut dan memasukkan lagi ke dalam tas kecil yang tadi, bersama buku tabungan itu juga.


"Gimana Ibu? Maukah Ibu mau ikut kami sekarang ke rumah dinas Pak Mat, untuk memperjelas masalah ini? Biar nanti teman kami yang akan menjadi saksi kalau Bu Mat menyangkal perihal isi buku tabungan itu," ucap Fajar.


Perempuan itu mengusap air matanya dan berkata.


"Baiklah, aku ikut Kalian. Aku akan menemui Dik Mat," ucapnya santai.


Kamipun berangkat bersama menuju sekolah, melewati jalanan yang senyap seperti kuburan.


"Aku penasaran, bagaimana reaksi Bu Mat ketika didatangi anak Mbah Iyem yang menagih uang tabungan ibunya? Apakah ia masih bisa mengelak?"


Bersambung


Ayo, Kak. Jangan lupa berikan Vote Anda untuk novel ini.


Kunjungi juga prolog novel Horor MARANTI season kedua. Dengan cara mengunjungi event rekomendasi "Cerita Hantu". Cari akun bernama Junan di deretan nama pesertanya.