KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Asmaradana


Rama sangat terkesima dengan keindahan dan kebersihan istana kerajaan milik Ratu Sari. Ia juga sangat terkesan dengan keramahan para prajurit yang menyambutnya dengan ramah.


Rama: "Wow, istana ini sungguh indah dan bersih. Saya belum pernah melihat istana seindah ini."


Ratu Sari: "Terima kasih, Rama. Saya senang jika Anda menyukai istana kami."


Rama: "Dan para prajurit Anda sangat tampan dan gagah. Mereka pasti ahli dalam ilmu bela diri, benar?"


Ratu Sari: "Ya, prajurit kami memang terlatih dalam ilmu bela diri. Mereka juga ahli dalam melindungi kerajaan kami."


Rama: "Tidak hanya itu, para pelayan perempuan di sini sangat cantik. Mereka seperti bidadari."


Ratu Sari: "Terima kasih atas pujian Anda. Para pelayan kami memang terlatih dalam berbagai bidang seperti seni dan tata boga."


Perjalanan Rama bersama-sama Ratu Sari sedikit demi sedikit menguatkan rasa suka dan sayang di antara keduanya. Walaupun sebenarnya banyak perbedaan antara manusia Rama dan seorang Ratu Jin bernama Sari, terutama keterbatasan fisik Rama yang masih mengenal lelah. Oleh karena itulah akhirnya Ratu Sari sudah mendapatkan izin dari Raja Piningit untuk membolehkan Rama menginap di istananya untuk beberapa lama.


Setelah Rama diizinkan untuk tinggal di istana Ratu Sari, dia merasa sangat senang dan ingin mengeksplorasi kerajaan aliran putih yang indah itu. Di setiap pagi harinya, Ratu Sari mengajak Rama berjalan-jalan di sekitar istana dan melihat kehidupan sehari-hari penduduk kerajaan. Rama melihat para petani kebun anggur yang tampan dan cantik-cantik sedang sibuk bekerja dengan semangat.


Mereka menyirami tanaman, memanen buah anggur, dan memindahkan bibit tanaman ke tempat yang baru. Rama terkesan dengan semangat mereka dalam bekerja. Sementara itu, di lapangan terbuka, beberapa orang sedang berlatih olah kanuragan dengan penuh semangat. Mereka bergerak dengan lincah dan gesit, menunjukkan keahlian mereka dalam bertarung. Rama merasa kagum dengan keterampilan mereka dan ingin belajar juga.


Setelah berkeliling, Rama kembali ke istana dan melihat pelayan perempuan yang cantik-cantik sedang membersihkan ruangan. Mereka tersenyum ramah pada Rama dan mempersilakan dia masuk. Rama merasa nyaman dan senang berada di kerajaan aliran putih. Di malam hari, Rama bertemu dengan Raja Piningit di ruang tamu istana. Raja Piningit menawarkan untuk melatih Rama dalam olah kanuragan jika Rama berminat. Rama dengan senang hati menerima tawaran itu dan mulai berlatih dengan para prajurit. Hari-hari berlalu dengan cepat di kerajaan aliran putih.


Rama belajar banyak tentang kehidupan di kerajaan dan menikmati latihan olah kanuragan bersama para prajurit. Dia merasa betah di kerajaan itu dan akhirnya memutuskan untuk menetap di sana sambil melakukan taaruf kepada Ratu Sari. Benih-benih cinta di antara keduanya tumbuh semakin kuat seperti kisah asmaradana.


Rama pun merasa bersyukur ketika Raja Piningit mengajarkan ajian aliran putih untuk menangkal Ajian Ki Ageng Selo milik Raja Maheswara. Raja Piningit memulai dengan memberikan penjelasan tentang asal-usul Ajian Kalimasada.


Raja Piningit: "Ajian Kalimasada ini awalnya diajarkan oleh Ki Ageng Selo kepada saya, dan saya telah menguasainya dengan baik. Namun, saya merasa bahwa ajian ini terlalu kuat dan dapat digunakan untuk kepentingan jahat. Oleh karena itu, saya mengubahnya menjadi aliran putih yang lebih damai dan berperan dalam menjaga kedamaian dan keamanan kerajaan kami."


Rama: "Sangat bijaksana, Raja Piningit. Saya sangat tertarik untuk belajar ajian aliran putih ini."


Raja Piningit: "Tentu saja, Rama. Saya akan mengajarkanmu dengan senang hati. Ajian ini memang sangat kuat, tetapi hanya dapat digunakan untuk membela kebenaran dan menjaga perdamaian. Kamu harus menguasainya dengan baik dan menggunakan kekuatanmu dengan bijaksana."


Setelah memutuskan untuk mengikuti ajaran Raja Piningit dan belajar Ajian Kalimasada, Rama mulai melakukan lelaku puasa nabi Daud dan semedi selama 40 hari di suatu tempat yang dijaga oleh prajurit kerajaan aliran putih. Selama menjalani lelaku puasa dan semedi Rama diuji oleh banyak gangguan dan godaan dari berbagai arah. Setan-setan berusaha menggoda dan memperdayanya, dan hantu-hantu berkeliaran di sekitar tempatnya bersemedi. Namun Rama tidak tergoda oleh godaan tersebut, ia memusatkan pikiran dan hatinya pada Allah serta tekun melakukan ibadah.


Setelah melewati 40 hari lelaku puasa, Rama merasa kuat dan siap untuk menerima Ajian Kalimasada dari Raja Piningit. Ia pun diantar ke kerajaan aliran putih untuk bertemu dengan Raja Piningit. Di kerajaan aliran putih, Rama diberikan pelatihan intensif oleh Raja Piningit dan prajurit-prajurit kerajaan aliran putih. Rama belajar teknik-teknik pertarungan yang sangat sulit dan berbahaya, serta menguasai Ajian Kalimasada yang sangat sakti.


Dalam waktu yang singkat, Rama menjadi sangat mahir dalam mengendalikan kekuatan Ajian Kalimasada. Ia mampu mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah dan melindungi kerajaan aliran putih dari serangan musuh-musuhnya. Raja Piningit sangat bangga dengan keberhasilan Rama dan melantiknya sebagai Panglima prajurit kerajaan aliran putih.


Setelah melewati masa latihan dan pengujian yang ketat dari Raja Piningit, Rama akhirnya berhasil menguasai Ajian Kalimasada. Raja Piningit memutuskan untuk menguji keahlian Rama dengan memerintahkan Rama untuk melakonkan ajian tersebut di tengah-tengah istana. Rama pun mengeluarkan semua keahliannya dengan menggunakan ajian tersebut. Dia mengeluarkan gerakan-gerakan yang cekatan dan memukau semua yang menyaksikannya. Beberapa saat kemudian, suasana di istana pun menjadi gelap, dan angin kencang bertiup dengan hebat.


Tiba-tiba, sebuah pohon anggur yang besar dan subur tumbuh di tengah-tengah istana. Raja Piningit memerintahkan Rama untuk mendekati pohon tersebut dan mencari mustika Kalimasada yang tersimpan di dalamnya. Rama membuka mata batinnya lalu memanjat pohon dengan lincah dan segera mencari mustika Kalimasada yang tersimpan di dalam pohon tersebut. Dia akhirnya menemukan mustika tersebut dan meraihnya dengan tangannya. Namun, sebelum Rama berhasil turun dari pohon anggur, dia diserang oleh siluman penunggu pohon anggur yang tidak ingin Rama merebut mustika Kalimasada tersebut. Rama berhasil mengalahkan mereka dengan menggunakan Ajian Kalimasada yang baru saja dikuasainya.


Setelah berhasil mendapatkan mustika Kalimasada, Rama menyerahkannya kepada Raja Piningit. Raja Piningit sangat senang dan memberikan kembali kepada Rama melalui penyatuan mustika ke dalam raga Rama. Setelah mustika itu menyatu, raga Rama terpancar cahaya berkilau dan mengeluarkan aura energi hebat yang bisa memberikan kesejukan ataupun kehancuran yang dahsyat. Dan Ratu Sari pun terkesima melihat fenomena tersebut dan membuat jantungnya berderbar sangat kencang seperti genderang mau perang. Pesona Rama telah berhasil membius Ratu Sari.