KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 76 : FIRASAT


Teman-teman membantu memapahku berdiri dan membawaku ke pinggir jalan. Mereka terlihat masih syok setelah melihat apa yang terjadi padaku.


"Lain kali jangan buat kami ketakutan seperti tadi, ya, Im?" ucap Gatot.


"Maafkan kecerobohanku, ya? Dan terima kasih atas perhatian kalian untukku," jawabku.


"Tidak ada yang sakit, Im?" tanya Fajar.


"Alhamdulillah, tidak ada, Jar," jawabku sambil tersenyum.


Saat sedang mengobrol dengan teman-temanku, tiba-tiba terdengar suara pintu mobil dibuka dan diikuti derap langkah kaki menuju ke arah kami.


"Hei, kamu ini sudah bosan hidup, ya? Untung saja kanvas remnya masih baru. Jadi, saya masih bisa menghindari menabrakmu. Kalau tidak, pasti tubuhmu itu sudah remuk terlindas ban mobil," ucap sosok yang baru datang itu.


"Pak Mat?" pekikku terkejut.


Teman-Teman yang lain juga tak kalah terkejutnya denganku.


"Pak Mat?" pekik mereka perlahan.


Waktu itu yang kurasakan selain rasa terkejut adalah rasa takut. Takut beliau lebih marah lagi setelah mengetahui bahwa yang membuatnya hampir celaka adalah murid SMP 01 Karangjati tempatnya bekerja.


"Ternyata kamu rupanya? Wes ... wes ... angel kalau gini. Bisa-bisanya kamu ini tidak hati-hati di jalan. Kalau sampai kamu celaka, saya mau ngomong apa sama orang tuamu? Untung saja Tuhan masih menyelamatkanmu barusan," teriak Pak Mat berapi-api.


"Saya mohon maaf sebesar-besarnya, Pak. Saya benar-benar khilaf tadi," jawabku memelas.


"Khilaf-Khilaf, enak saja kamu bilang khilaf! Nggak tahu jantung saya hampir copot," ujar Pak Mat masih dengan nada emosi.


Aku sadar memang aku bersalah. Wajar bagi Pak Mat untuk berang terhadapku karena kesalahan yang kuperbuat bisa berakibat fatal. Kali ini aku harus diam saja sampai emosi Pak Mat reda dengan sendirinya.


"Kamu tidak apa-apa tapi, kan?" tanya Pak Mat kemudian.


"Tidak, Pak. Aku tidak apa-apa," jawabku datar.


"Kalau tidak apa-apa, sebaiknya kalian semua segera pulang saja!" teriak Pak Mat kemudian.


"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak dan sekali lagi aku minta maaf atas insiden ini," ujarku lagi.


Pak Mat tidak memberikan jawaban. Dari sorot matanya terlihat ia masih menyimpan kemarahan kepada kami berlima.


"Apakah kamu bisa pulang sendiri? Kalau tidak bisa biar saya antar pulang sekalian," ujar Pak Mat


"Tidak, Pak Mat. Terima kasih atas kebaikannya. Saya tidak apa-apa, saya bisa pulang sendiri," jawabku.


Aku sengaja menolak tawaran Pak Mat karena di samping kondisiku baik, aku juga tidak ingin mengagetkan keluargaku di rumah.


"Ya, sudah sana buruan pulang. Tuh, sepedamu tadi menabrak seng di pinggir jalan," ujar Pak Mat sambil menunjuk ke arah timur. Benar saja, sepedaku tergeletak di pinggir jalan. Di depannya ada lembaran seng yang sebelumnya digunakan sebagai dinding pos kamling yang lama tidak dipakai. Berarti suara 'brak' tadi dihasilkan oleh benturan antara sepedaku dengan lembaran seng yang sekarang sudah penyok itu.


"Pantas saja suaranya tadi sekeras itu," pikirku.


Gatot mengambilkan sepeda milikku di pinggir jalan dan menuntunnya ke arahku.


"Ada yang rusak, Tot?" teriakku.


"Sepertinya aman, Im," jawab Gatot sambil memeriksa setiap inchi sepedaku.


"Makasih banyak ya, Tot." jawabku setelah menerima sepeda dari Gatot.


"Oke, coba naik ke sepedamu! Kalau oleng, ntar biar kamu diantar saja," ucap Gatot.


"Oke siap, Bos!" jawabku sambil duduk di sadel sepeda BMX-ku.


Keempat temanku dan juga Pak Mat memfokuskan pandangannya ke arahku.


"Teman-Teman, Pak Mat, saya pulang dulu ya! Asalamualaikum," teriakku sambil mengayuh pedal sepeda meninggalkan mereka.


"Waalaikumsalam .... Hati-Hati di jalan, Im. Sampai jumpa besok di sekolah," jawab Fajar sambil melambaikan tangannya.


Aku pun fokus pada jalan sepedaku. Aku tidak mau kejadian tadi terjadi lagi padaku. Ternyata laju sepedaku normal-normal saja, artinya tidak ada onderdilnya yang rusak akibat insiden tadi.


Bayangan sosok menyeramkan Mita tiba-tiba berkelebat kembali di pikiranku. Gara-Gara melihat penampakan sosok Mita, aku hampir ditabrak oleh roda empat yang dikemudikan oleh Pak Mat. Saat ini teman-teman pasti sedang bersepeda menuju rumahnya masing-masing. Aku sendiri sedang menuju ke arah timur menuju dusun tempat tinggalku. Kebetulan jalan yang aku lalui agak lengang di siang bolong begini. Sempat terlintas di pikiranku, bagaimana kalau dalam keadaan sepi begini, Mita tiba-tiba datang dan membonceng di belakangku? Ah, kubuang saja jauh-jauh pikiran buruk itu.


Bertepatan dengan dikumandangkannya azan Zuhur, aku sampai di rumah. Kulihat teman sepermainanku, Parto sedang bersiap menuju masjid dengan setelan baju koko dan sarung kotak-kotak kesayangannya.


"Im, sholat di masjid, yuk?" sapanya sambil berjalan menghampiriku.


"Baiklah, To. Tapi tunggu sebentar, ya? Aku mau bersiap-siap dulu," jawabku.


Aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk berwudu, setelahnya aku pun berganti baju sarung dan baju koko, sama seperti Parto.


"Maaf membuatmu menunggu lama," ucapku.


"Ayo, berangkat! Takut keburu dimulai sholat jamaahnya," ucap Parto.


"Ayo!" jawabku.


Kami pun berjalan beriringan menuju masjid. Beberapa langkah meninggalkan rumahku, tiba-giba Parto berkata, "Im, kamu sudah mendengar kabar tentang mbah Arni?"


"Belum, memangnya ada apa To?" Aku balik bertanya.


"Mbah Arni sakit, Im" jawab Parto.


"Oh ya? Sakit apa, To? Lama aku tidak mendengar kabar tentang beliau," jawabku.


"Katanya sih sakit lambung. Tapi sudah tiga hari ini perut mbah Arni tidak terisi makanan sama sekali," jawab Parto.


"Astaga! Kamu sudah datang menjenguknya, To?" tanyaku.


"Belum. Bagaimana kalau sepulang dari masjid kita menjenguk beliau?" ujar Parto.


"Oke, aku setuju. Ya Allah, semoga mbah Arni tidak kenapa-kenapa," ujarku.


"Aamiiiin ...," jawab Parto.


Kami pun sampai di masjid dan menunaikan salat Zuhur. Sesuai rencana sebelumnya, setelah salat kami berdua berangkat menuju rumah mbah Arni. Pintu rumah mbah Arni siang itu kebetulan terbuka.


"Assalamualaikum ...," ucapku dan Parto.


"Waalaikumsalam ...," jawab seseorang dari dalam. Bukan suara mbah Arni, tetapi aku seperti mengenal pemilik suara itu.


Ternyata di dalam rumah mbah Arni ada orang lain selain Mbah Arni.


"Loh, kapan sampean datang, Bulik?" sapaku pada anak menantu mbah Arni yang lama tidak kulihat itu.


"Saya datang kemarin, Im. Bagaimana kabar bapak dan ibumu, apakah mereka sehat?" tanya bulik.


"Alhamdulillah, bapak dan ibu sehat. Siapa yang mengabari Bulik tentang keadaan mbah Arni?" tanyaku sambil berjalan ke dalam kamar mbah Arni.


"Nggak ada, Im. Beberapa hari ini, saya tiba-tiba kangen sekali sama Mak Arni, ibu mertuaku. Kebetulan suami pas ada tugas ke luar kota, sekalian saya minta izin untuk menjenguk Mak Arni. Pas sampai di sini, tahu-tahu Mak Arni sedang sakit. Lambungnya kumat katanya," jawab bulik.


"Sudah dikasih obat, Bulik?" tanyaku.


"Sudah saya kasih minum madu dan rempah-rempah tadi. Katanya sih sudah agak enakan. Barusan sudah mau makan bubur," jawab bulik.


"Syukurlah kalau begitu, Bulik. Semoga Mbah Arni cepat sembuh," ucap Parto.


"Siapa itu, Nduk?" tiba-tiba Mbah Arni bangun dari rebahnya.


"Loh, Mak Arni mau kemana? Ini Imran dan Parto yang datang menjenguk," jawab bulik kebingungan karena ibu mertuanya tiba-tiba bangun dan duduk di bibir ranjang.


"Aku sudah sembuh kok, Nduk. Imran dan Parto apa sudah dibuatkan minuman?" jawab Mbah Arni.


"Belum, Mak" jawab bulik.


"Enggak usah repot-repot, Bulik!" cegahku kepada bulik yang mau menuju dapur.


"Mereka berdua ini paling suka minum kopi hangat, Nduk. Buatkan saja dulu! Aku kangen sama mereka berdua. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan mereka berdua," ucap mbah Arni.


Bulik pun berjalan menuju dapur, sedangkan aku dan Parto duduk di kursi di dalam kamar Mbah Arni, setelah menyalami tangan beliau.


"Im, To, tadi malam aku didatangi Lastri dan Cempaka," bisik mbah Arni.


"Maksudnya, semalam Mbah Arni mimpi bertemu Mbah Cempaka dan Mbah Lastri?" tanyaku datar.


"Tidak, Im. Mereka datang secara nyata dan berdiri di sini, pada saat aku sedang meringis kesakitan karena penyakitku," jawab mbah Arni dengan nada serius sambil menunjuk ke tempat kosong di sebelahnya.


"Apa???" pekikku dan Parto terkejut.


Bersambung


Jangan lupa like, komen, dan vote-nya, Kak!


Salam seram bahagia