KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 64 : MENGINTAI MISTERI


Jangan lupa untuk memberi like, komentar, dan vote untuk novel KAMPUNG HANTU ini.


Berikut kelanjutan ceritanya ...


Pak Mat nampak tergesa-gesa sekali.


"Mau kemana, Pak?" cetus Lidya.


"Ya Tuhan! Kaget saya," jawab Pak Mat sambil memegangi dadanya. Ternyata dugaan kami salah. Kami mengira ia sedang memergoki kami, ternyata ia tidak mengetahui keberadaan kami di sini. Justeru, ia yang datang dari tempat yang lebih terang menjadi terkejut melihat kami yang tiba-tiba nongol di hadapannya.


"Ngapain Kalian di sini? Apakah tugas Kalian sudah selesai dikerjakan?" Pak Mat balik bertanya.


"Eee, s-sudah Pak. Ini, kami mau ke rumah Bapak untuk mengembalikan kunci ini. Kebetulan kami melewati tempat ini," celetuk Fajar sambil menyodorkan sebuntel anak kunci kepada pria tua itu.


"Sama kalau begitu dengan saya. Saya melewati tempat ini karena mau memberitahu Kalian bahwa orang tua Kalian sudah datang untuk menjemput," jawab Pak Mat.


"Benar begitu, Pak Mat? Alhamdulillah kalau begitu. Kami semua mohon pamit pulang. Terima kasih atas bantuannya Pak," ujarku spontan.


"Oke, sama-sama. Berhati-hatilah di jalan. Salam untuk orang tua Kalian semuanya," ujar penjaga sekolah kami tersebut.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Kamipun meninggalkan Pak Mat di depan gudang sekolah. Benar kata Pak Mat, orang tua kami sudah menunggu di depan ruangan guru. Bapak berdiri sambil memegangi sepeda bajong peninggalan almarhum kakek.


Sebelum mendatangi orang tua kami masing-masing, kami berbincang sejenak.


"Teman-Teman, bagaimana kalau besok kita berkumpul untuk menyelidiki alamat Mega?" ucap Fajar.


"Kumpul di mana Jar?" Gatot bertanya.


"Bagaimana kalau di depan sekolah ini?" ujar Fajar.


"Oke," jawab kami secara bersamaan.


"Jam berapa Jar?" tanya Gatot.


"Jam delapan tet," jawab Fajar tegas.


"Baiklah."


"Sampai jumpa besok, Teman-Teman"


Kamipun berjalan menuju penjemput masing-masing dan pulang.


***


Malam itu aku bermimpi bertemu Mita. Anehnya, dalam mimpiku tersebut Mita selalu menghindar setiap aku datangi. Ia selalu memalingkan mukanya membelakangiku. Hingga akhirnya aku melihat Mitha berdiri di lantai atas gedung sekolah bagian selatan. Ia berdiri mematung di sana, dan dari kejauhan aku melihatnya seperti akan melompat ke bawah. Aku berlari menghampirinya sambil berteriak memanggil namanya. Namun Mitha tidak mendengar teriakanku. Ketika aku sampai di lantai atas, ia sudah tidak berdiri di sana. Aku menoleh ke bawah, sesosok anak perempuan terkapar bersimbah darah di tanah. Aku berteriak histeris dan terbangun dari tidurku.


"Mita ..."


Tubuhku banjir dengan keringat. Aku bingung dengan mimpi menyeramkan itu. Aku kembali berpikir tentang anak perempuan itu. Aku sudah tidak bisa memendam rasa penasaranku terhadap Mita.


"Kemana perginya anak itu? Mengapa ia seolah-olah menghilang begitu saja? Sepertinya aku harus mendatangi alamatnya seperti kelompokku mendatangi Mega,"


"Ada apa Im, subuh-subuh kok mengigau?" ujar Ibu dari balik pintu kamar.


"Eh iya Bu. Aku baru saja bermimpi buruk," jawabku.


"Mimpi buruk kok menyebut nama anak cewek, siapa? Mita? Ibu kok seperti familiar dengan nama itu ya?" ujar ibuku kembali.


"Ya sudahlah, didoakan saja semoga temanmu baik-baik saja. Sana wes, buruan sholat subuh dan mengaji. Biar pikiranmu menjadi lebih tenang," ujar Ibu.


"Iya Bu, makasih. Oh ya, hari ini aku mau ke rumah seseorang bersama teman-teman, Bu" ucapku.


"Naik sepeda sendiri?" tanya Ibu sedikit cemas.


"Iya Bu. Boleh ya Bu?" Aku merengek.


"Ke rumah siapa?" tanya Ibu lagi.


"Itu, rumah salah satu alumni. Namanya Bu Mega," jawabku jujur.


"Me-ga ... kok Ibu seperti tidak asing ya dengan nama itu?" gumam Ibu.


"Enggak kok, Ibu tidak mungkin kenal. Dia jauh di bawah angkatan Ibu," potongku karena aku baru menyadari bahwa Mega itu seangkatan dengan ibuku.


"Oalah .... Baiklah, tapi harus berhati-hati di Selesai, segera pulang. Emangnya ngapain pake mengunjungi rumah alumni segala?" tanya Ibu.


"Biasa Bu. Kelompokku kena hukuman, jadi mendapat tugas tambahan, mewawancarai salah satu alumni yang dulunya aktif berorganisasi," jawabku seenaknya.


"Ya sudah. Buruan sholat sana. Nanti jangan lupa minta ijin juga kepada bapakmu," ujar Ibu.


"Iya Bu."


***


Setelah sarapan aku bergegas menaiki sepeda kesayanganku menuju sekolah. Sesampai di tanjakan lagi-lagi bulu kudukku merinding, tapi aku tidak memperdulikan hal itu karena mengingat suasana yang sangat sepi. Kalau aku terlalu terbawa suasana bisa-bisa aku kesurupan jadinya. Aku menguatkan mentalku untuk melawan rasa ketakutanku itu. Kukayuh sepedaku sekuat tenaga sambil banyak berdoa. Akhirnya akupun sampai di depan sekolahku. Tidak ada siapa-siapa di sana. Teman-temanku belum ada yang datang.


Awalnya aku berpikir untuk menunggu teman-temanku di jembatan depan gapura sekolah, tapi karena melihat gapura sekolah terbuka, muncul ide di pikiranku untuk melakukan hal yang lain. Aku teringat sesuatu.


"Bukankah di jendela kantor masih ada daftar nama dan alamat murid baru di sekolah ini? Aku harus mencari nama Mita di sana"


Tanpa membuang waktu, akupun segera menuntun sepedaku memasuki gerbang sekolah. Akupun memarkir sepedaku di depan kantor. Akupun segera menuju kaca jendela, tempat nama-nama siswa baru itu dipajang. Kupelototi satu persatu deretan nama itu dengan teliti. Sayangnya, hingga lembar terakhir aku tidak menemukan nama Mita di sana. Sempat muncul pikiran buruk di kepalaku.


"Jangan-jangan ..."


Saat aku berpikir seperti itu, tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Seperti ada yang sedang meniup tengkukku. Aku menoleh, hening. Tidak ada siapa-siapa di belakangku. Akupun melanjutkan kembali pencarianku, dan ...


"Dapat! Mita Lestari alamat ..."


Aku mengeja nama dan alamat Mita yang tertulis di urutan nomer dua dari bawah. Aku bersyukur akhirnya bisa menemukan nama anak misterius itu. Dan secara kebetulan juga, alamat Mita dan alamat Mega yang akan kami datangi ini masih berada dalam satu daerah, yaitu di baratnya tikungan tadi.


Saat aku tersenyum sendiri seperti itu, secara mengejutkan tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang baru datang dan berdiri tepat di belakangku. Tangannya diulurkan ke pundakku. Dingin sekali telapak tangan yang menyentuh pundakku itu, sedingin mayat. Secara perlahan aku menoleh ke belakang untuk mengobati rasa penasaranku sendiri. Ketika aku hampir bisa berhadapan dengannya, tangan itu tiba-tiba lebih kuat mencengkram pundakku sehingga aku merasa kesakitan.


"Aduh, sakit. Tolong lepaskan!" pekikku memohon.


Si empunya tangan bukannya malah menghentikan cengkramannya, ia malah semakin memperkuat cengkraman itu hingga aku semakin meringis kesakitan.


"Ampun, sakit!" pekikku kembali memohon.


Sambil menahan sakit, aku berusaha untuk melihag wajah orang yang sedang menyerangku tersebut. Setelah bersusah payah akhirnya aku bisa melihatnya.


"Kamu?" pekikku dengan penuh amarah.


Laki-laki itu tertawa puas.


Bersambung


Vote-nya, ya!