
Aku menatap lekat sosok perempuan tua di belakangku. Perempuan tua itu pun menatap lekat ke arahku.
"Mbah Putri? Kirain siapa?" pekikku.
"Ah, kamu ini, Im. Jangan-Jangan mbah Putri dikira hantu?" jawab mbah Putri.
"Eh, mboten, Mbah. Saya kira ..." jawabku.
"Sudah! Buruan sana wes berwudlu! Biar tidak ketinggalan sholat Isya berjamaah," ucap mbah Putri.
"Inggih, Mbah" jawab kami berdua sambil senyum-senyum sendiri karena sempat mengira istri kyai kami itu adalah hantu nenek-nenek kelana yang selama ini sering menggangguku. Setelah merasa malu sendiri, kami pun bergegas berwudlu secara bergantian kemudian melaksanakan salat Isya berjamaah di mesjid.
Selesai salat Isya berjamaah kami pun pulang ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah aku membuka-buka buku pelajaran yang sudah dipelajari di sekolah. Setelah itu aku mempersiapkan buku pelajaran yang akan digunakan besok. Ibu dan bapak datang saat aku sedang mempersiapkan buku-buku yang akan kubawa ke sekolah. Mungkin mereka masih berlama-lama di rumah mbah Arni untuk membantu tuan rumah dan mengajak keluarga mbah Arni bercengkrama.
Bapak dan ibu menuju dapur, mungkin untuk membuat teh atau kopi. Sudah menjadi kebiasaan mereka, kalau malam mengobrol berdua atau bertiga denganku sambil minum segelas teh atau kopi. Tiba-tiba aku merasa seperti ada seseorang sedang berdiri di belakangku, lebih tepatnya di balik pintu ruang tamuku. Terdengar suara desahan diikuti dengan senandung lirih membawakan lirik lagu andalan ekskul musik di sekolahku.
"Tari??" pekikku di dalam hati.
Merasa tidak enak dan takut, aku pun menyudahi aktifitasku di ruang tamu. Aku menuju kamarku untuk segera tidur. Saat aku akan menarik selimutku, tiba-tiba pintu kamarku ada yang membuka. Aku memicingkan mataku untuk mengetahui siapa yang sedang berdiri di balik pintu. Ternyata bapak yang sedang berdiri di sana.
"Tidak mau minum teh hangat dulu sebelum tidur, Im?" ucap bapak.
"Tidak, Pak. Aku ngantuk berat," jawabku dengan lega.
Iya, aku merasa lega karena aku bisa tidur nyenyak karena bapak dan ibu berjaga di ruang tamu sambil bercengkrama menghabiskan segelas teh hangat. Semoga saja aku sudah tertidur saat mereka masih belum selesai dengan acara minum teh hangat bersama itu.
*
Keesokan harinya aku bangun tepat saat azan Subuh dikumandangkan di mesjid. Aku bergegas menuju kamar mandi. Seperti biasa ibu sudah sibuk di dapur.
"Sudah bangun, Im?" sapa ibuku.
"Iya, Bu" jawabku.
"Minum air putih dulu supaya sehat," ucap ibuku.
Aku pun segera meminum air putih dari gentong dengan menggunakan gayung.
"Benar-Benar nikmat, minum air putih saat bangun tidur seperti ini," pekikku di dalam hati.
Setelah itu, aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk menyelesaikan hajat pagi hari dan berwudlu. Setelahnya aku pamit ke mesjid kepada ibuku. Sudah kuduga Parto juga baru keluar dari pintu rumahnya.
"Gimana tidurnya, Im?" sapa Parto.
"Alhamdulillah nyenyak sekali, To" jawabku.
"Tadi malam, anak perempuan itu datang lagi, ya?" tanya Parto.
Aku terdiam sejenak kemudian berkata.
"Dia bukan manusia, To" ujarku perlahan.
"Maksud kamu?" tanya Parto keheranan.
"Iya. Dia itu hantu," jawabku.
"Ceritanya panjang. Dia itu teman sekolah orang tuaku dulu. Pertama kali aku datang ke sekolah, hantu anak perempuan itu menggangguku. Singkat cerita ia menginginkan aku mengungkap pelaku pembunuhan atas dirinya," jawabku.
"Ya Tuhan!!!" pekik Parto.
"Semua orang mengira ia mati kecelakaan. Padahal sebenarnya ia mati karena sengaja ditabrak oleh seseorang. Dan orangnya masih berkeliaran bebas sampai sekarang," lanjutku.
"Astagfirullah!!" pekik Parto.
"Doakan aku bisa mengungkap kasus tersebut, ya?" ujarku.
"I-i-iya, Im. Aku akan mendoakanmu. Aku siap membantumu jika diperlukan," jawab sahabat kecilku itu.
"Untuk saat ini, aku rasa masih belum waktunya kamu membantuku, To. Tapi terima kasih atas kesediaannya untuk membantuku," jawabku.
"Iya, Im. Kamu berhati-hati, ya? Perasaanku tidak enak," ujar Parto.
"Iya, To. Terima kasih," jawabku.
Tak terasa kami sudah sampai di mesjid. Setelah menunaikan salat Tahyatal Masjid dan salat Qobliyah Subuh, kami pun melakukan puji-pujian bersama jamaah yang lain. Setelahnya kami pun menunaikan salat Subuh berjamaah dan pulang ke rumah masing-masing.
*
Ketika aku akan berangkat sekolah, aku menjabat tangan bapak dan ibuku. Bapak memanggilku sebelum aku mengayuh sepeda BMX kesayanganku. Aku berdiri dengan sepedaku menunggu bapak datang menghampiriku. Setelah bapak dekat denganku, bapak pun berbicara.
"Im, hati-hati di jalan, ya!" ucap bapak.
"Iya, Pak" jawabku.
"Jangan lepas dzikir dan doa di sepanjang jalan. Jangan takut dengan nenek kelana itu, ya? Dia juga makhluk Allah SWT," lanjut bapak.
"Iya, Pak. Terima kasih," jawabku lagi.
"Untuk masalah rencana kita. Bapak minta maaf, ya karena harus melibatkanmu dan teman-temanmu?" ujar bapak lagi.
"Tidak apa-apa, Pak. Justeru teman-teman pasti akan senang karena dilibatkan," jawabku.
"Iya, bapak tahu. Namun, kalian masih terlalu kecil untuk terlibat kasus besar seperti jnj. Tapi, hanya dengan keterlibatan kalianlah yang tidak mengundang kecurigaan pengintip itu," ujar bapakku lagi.
"Iya. Bapak tenang saja. Kami akan baik-baik saja," jawabku.
"Bapak bangga padamu, Im" pekik bapak sambil memeluk erat tubuh mungilku. Aku senang dipeluk bapak seperti itu. Momen yang sangat langka bagiku. Ibu mengamati kami dari jarak yang cukup jauh. Ada keharuan dan kekhawatiran yang terpancar dari mata ibuku itu.
*
Aku pun mengayuh sepedaku meninggalkan rumah menuju sekolah. Tidak lupa doa dan dzikir selalu kupanjatkan sepanjang jalan agar terhindar dari mara bahaya dan gangguan-gangguan makhluk tak kasat mata.
Mungkin karena doa yang kubaca atau doa kedua orang tuaku, saat aku sampai di tanjakan angker itu, tiba-tiba aku melihat banyak sekali teman-teman sekolahku yang juga naik sepeda sama sepertiku sehingga aku tidak merasa takut melewati tanjakan angker itu. Aku menyalip teman-temanku itu satu persatu. Aku tidak mengenal mereka, tetapi dari baju seragamnya yang masih baru-baru, aku yakin mereka seangkatan denganku. Aku menyalip mereka semua sambil mencari dari mereka mungkin ada yang aku kenal. Sayangnya, tidak satu pun dari mereka yang sekelas atau pernah aku lihat waktu MOS. Alhasil, akhirnya aku berada di depan sendiri setelah menyalip ... Iya, aku menyalip seorang nenek yang berada di pinggir jalan. Anehnya, aku tidak merasa takut sedikitpun saat itu. Mungkin karena saat itu ada banyak sekali anak yang bersepeda di belakangku. Dan anehnya juga, nenek itu seperti tidak menyadari kehadiranku.
Tak terasa aku sudah sampai di gerbang sekolah. Aku menoleh ke belakang bermaksud memasuki gerbang sekolah bareng-bareng dengan teman-teman yang kusalip tadi. Tapi sampai menunggu lama, mereka tak kunjung datang. Aku merasa aneh sendiri kenapa mereka tak kunjung muncul. Akhirnya, aku masuk sendiri ke gerbang sekolah berharap segera bertemu dengan keempat sahabatku untuk menyampaikan rencana bapak.
Bersambung
Alhamdulillah, kondisi sudah membaik. Semoga bisa segera aktif menulis kembali