KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 48 : SERAGAM YANG BERBEDA


Sebelum membaca lanjutannya, saya harap Kakak mengklik gambar jempol di bawah.


Terima kasih like-nya, Kak.


Selamat membaca ...


Kami melihat ada sesosok anak perempuan sedang berdiri di belakang Cindy, dengan rambut panjangnya menutupi sebagian besar wajahnya. Ia mengenakan seragam hampir sama dengan seragam yang biasa kita pakai hari senin dan selasa, namun bentuk tanda lokasinya agak berbeda. Yang bikin kita terkejut adalah wajah anak perempuan itu pucat sekali dan matanya tajam seperti senter. Mulutnya tiba-tiba menyeringai menampakkan barisan giginya yang tak beraturan. Anehnya, yang dapat melihat sosok perempuan itu sepertinya hanya kami berempat, buktinya teman-teman yang sedang menabuh alat musik tetap saja asik dengan alat musiknya masing-masing, penonton yang di bawahpun semua berdiri dan bertepuk tangan memberi support kepada kami untuk mempertunjukkan aksi yang lebih memukau. Hanya Cindy saja yang mulai merasakan kehadiran sosok mengerikan di belakangnya, ia nampak sedang memegangi tengkuknya. Sosok perempuan itu semakin terlihat marah. Kami berempatpun menjadi khawatir dengan Cindy karena ia tepat berada di depan sosok itu. Kami berempatpun saling berpandangan dan kemudian segera turun ke bawah saat penonton sedang asik-asiknya menikmati pertunjukan kami. Kami tidak peduli dengan itu semua, yang kami khawatirkan hanya satu. Kami khawatir Cindy diapa-apain oleh perempuan itu.


Bu Rini memandang tidak enak kepada kami saat kami berhamburan ke arah Cindy. Ternyata sosok perempuan misterius itu sudah tidak ada di sana. Cindy juga dalam kondisi baik-baik saja.


"Bisa-bisanya Kalian ini turun saat pertunjukan belum selesai," ucap Bu Rini dengan wajah kecewa.


"Maaf Bu Rini. Kami baru belajar kemarin, banyak gerakan yang kami lupa," jawab Lidya berbohong.


"Alasan saja Kalian, paling tidak sebelum turun Kalian memberi salam perpisahan dulu atau apa gitu, lewat di depan saya juga Kalian tidak pake permisi dulu, tolong ke depan tingkatkan kesopanan kalian dalam bersikap," ucap Bu Rini kepada kami.


"Iya, Bu. Kami mohon maaf. Kami berjanji tidak akan mengulangi ketidaksopanan kami," jawab kami secara bersamaan.


Bu Rini kemudian diam dan berkonsentrasi pada buku catatan yang ada di meja juri. Kamipun mengajak Cindy ke tempat yang lain.


"Cin, Kamu tidak apa-apa?" tanya kami berempat.


"Enggak kok, aku tidak kenapa-kenapa? Emangnya ada apa, Kalian kok turun duluan tadi?" Cindy balik bertanya.


"Begin Cin. Tadi pas kami enak-enaknya menari di atas pentas, kami melihat ada anak perempuan dengan wajah menyeramkan berdiri tepat di belakangmu," jawabku.


"Kamu beneran, nggak bohong kan, Im?" tanya Cindy.


"Iya, Cin. Tidak hanya Imran, tapi aku juga melihatnya. Sosok perempuan itu seperti sedang marah, terlebih ketika musik yang dimainkan anak-anak tadi semakin menghentak," ucap Lidya.


"Pantas saja bulu kudukku merinding tadi, ketika Kalian semakin atraktif di atas pentas. Bukan merinding melihat kehebatan Kalian, tapi merinding seperti ada makhluk halus di dekatku," jawab Cindy.


"Jar, apa ini ada kaitannya dengan gendang yang Kamu ambil di ruang ekskul?" celetuk Gatot.


Suasana sejenak menjadi hening. Kami berlima saling berpandangan dan kemudian Fajar berkata.


"Sebaiknya segera kita kembalikan gendang tadi ke ruang ekskul," pekik Fajar dengan agak gemetar.


"Iya Jar, kita harus segera mengembalikannya sebelum ada korban," jawabku.


"Temani aku ya Im, mengembalikan gendang itu ke ruang ekskul," ucap Fajar dengan ekspresi agak ketakutan.


"Iya, Jar." Aku menjawab.


Kamipun kembali lagi ke depan pentas, kelima teman kami baru saja turun dari atas pentas.


"Kenapa tanganmu?" ucap Lidya pada teman kami yang bertugas menabuh gendang.


"Entahlah, barusan tiba-tiba telapak tanganku sakit. Mungkin karena lama tidak latihan, jadinya belum bisa beradaptasi dengan kulit lembu," jawabnya.


"Ya sudah, nanti dikasih direndam air hangat atau diberi salep supaya tidak sakit lagi. Mana gendangnya mau aku taruh di ruang musik lagi," ucap Fajar.


"Ini, Jar. Gendangnya enak banget, lain kali kita harus main lagi pakai gendang itu, tadi kita kurang puas, ya kan teman-teman?" tanya anak itu sambil menoleh kepada keempat anak yang lain.


Kami berlima tidak berkata apa-apa kepada mereka. Fajar mengambil gendang itu dan kami berduapun segera berjalan menuju ruang ekskul. Letak ruang ekskul agak jauh dari pentas. Kami berdua harus melewati ruang guru untuk sampai di ruang ekskul musik. Saat di koridor ruang guru, kami berdua berpapasan dengan Kak Dino.


"Ooo ... Jadi Kalian yang meminjam gendang itu," sapa Kak Dino dengan nada agak sinis.


"Iya, Kak. Tadi aku sudah meminta ijin kepada salah satu kakak panitia," jawab Fajar.


"Kalian berdua ini memang anak-anak yang senang berada dalam masalah. Tadi malam sudah membuat masalah di kebun kopi, hari ini dengan gendang itu. Sungguh Kalian ini benar-benar ...," ucap Kak Dino dengan nada agak jengkel.


"Memang kenapa dengan gendang ini, Kak?" tanyaku pura-pura tidak mengetahui perihal mitos yang beredar di sekolah ini tentang gendang tersebut.


"Dasar Kalian itu, apa Kalian kira aku ini bodoh? Dari sorot mata Kalian, aku tahu Kalian sudah tahu perihal gendang itu," ucap Kak Dino tegas.


Kami gelagapan tiba-tiba seperti ditembak dengan kata-kata seperti itu.


"Sudahlah, lekas Kalian taruh gendang itu ke tempatnya semula. Ingat, Kalau ada apa-apa setelahnya, resiko Kalian tanggung sendiri!" ucap Kak Dino sambil berlalu meninggalkan kami. Kami menatap kepergian kakak kelas galak itu dengan perasaan was-was.


"Ayo sudah Im. Kita kembalikan segera gendang ini, mumpung ada kakak kelas yang menjaga ruangan ekskul musik," ucap Fajar kepadaku.


"Oke, ayo!" jawabku.


Kami berduapun melanjutkan perjalanan menuju ke ruangan ekskul yamg sudah tidak begitu jauh dari ruangan guru. Di depan ruang ekskul ada kakak kelas yang sedang duduk di belakang meja.


"Permisi, Kak. Kami dari tim srigala mau mengembalikan gendang yang kami pinjam tadi pagi," ucap Fajar kepada kakak kelas itu sambil agak menundukkan badan sebagai kebiasaan kami jika akan lewat di depan orang yang lebih tua.


Kakak kelas itu tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke dalam ruangan dengan menggunakan tangan kanannya. Kami mengartikan itu sebagai tanda bagi kami berdua untuk meletakkan gendang yang kami bawa di dalam ruangan ekskul tersebut. Akhirnya kamipun masuk ke dalam ruangan musik tersebut dengan sebelumnya mengucapkan terima kasih.


"Jar ... Jar ...," bisikku pada Fajar yang sedang meletakkan gendang di pojok ruangan.


"Ada apa Im?" tanya Fajar kepadaku.


"Kamu tidak merasa ada yang aneh dengan kakak kelas yang berjaga di depan?" ucapku masih dengan berbisik.


"Maksud Kamu?" ucap Fajar agak keras.


Aku meletakkan telunjukku di depan mulut sebagai tanda kepada Fajar untuk tidak berbicara keras-keras, takut didengar kakak kelas tadi.


"Seragam kakak kelas itu ...," bisikku yang langsung dipotong oleh Fajar.


"Ya Tuhan!!!!" pekik Fajar.


Angin tiba-tiba berhembus agak kencang di dalam ruangan ekskul musik. Suara dari pentas pertunjukan tidak terdengar lagi. Bulu kuduk kami berdua mendadak merinding.


Bersambung


Saatnya memberikan "vote" untuk novel KAMPUNG HANTU.


Baca juga novel horor saya yang lain, judulnya MARANTI (TAMAT)


See u next episode


Salam seram bahagia