
Saking bingungnya, beberapa dari kami sampai terantuk meja dan kursi yang tiba-tiba saja berantakan, padahal beberapa saat yang lalu masih tertata agak rapi. Satu persatu anak berhasil keluar dari rumah bapak tua tersebut, di dalam masih tersisa lima orang tim inti serigala. Aku dan Fajar memang sengaja memastikan dulu anak-anak aman, baru kami berpikir untuk menyelamatkan diri.
Aku dan Fajar sudah berusaha untuk menyingkirkan kursi ke pinggir, tetapi susah sekali. Akhirnya kami harus melompati kursi yang melintang tersebut mungkin banjir di masa lalu telah menerjang rumah ini sehingga isinya menjadi berantakan.
"Ayo Lid, berpijak di pahaku dan lompati kursi ini!" teriak Fajar sambil berjongkok di samping rongsokan kursi tersebut. Dengan secepat kilat, Lidya berpijak di paha Fajar dan melompat melalui kursi tersebut. Iapun berlari menyusul anak-anak yang lain di luar.
"Lid, jangan berpencar dengan anak yang lain!" teriakku pada Lidya.
"Awas, Cin di belakangmu!" teriak Fajar.
"Aaaaaaaaaaaaaa ...," teriak Cindi
Cindi berlari menuju ke arah kami. Bapak tua itu hampir menjangkau tangan Cindi, untunglah Cindi bisa menghindar.
Tidak seperti Lidya, tubuh Cindy ini agak kemayu jadi untuk melompati kursi tersebut, aku harus membantu memapahnya. Bapak tua itu semakin dekat dengan kami, wajahnya yang menyeramkan semakin terlihat jelas di mata kami.
Gatot berada di posisi paling belakang, paling dekat dengan bapak tua itu.
"Tot, awas di belakangmu!" teriak Fajar.
"Jangan mendekat! Sana pergi!" teriak Gatot sambil merapat ke kami.
"Mbah tidak jahat kok, Mbah hanya butuh teman saja ...," ucap bapak tua itu sambil terus ngesot ke arah kami. Bola matanya berayun-ayun.
"Aaaaaaaaaa ...," teriak Cindy yang sudah berhasil melompati kursi panjang itu. Kami bertigapun segera melompat menyusul Cindy.
"Lepaaaaaaaaaaas!!!!" teriak Gatot di belakang kami. Kami menoleh, ternyata kaki bocah hulk itu sedang dipegangi tangan bapak tua. Untunglah Gatot memiliki hentakan kaki yang kuat, sehingga ia bisa lepas dari pegangan bapak tua dan berlari menyusul kami.
"Lariiiiiiiiii ...," teriak kami semua meninggalkan rumah tersebut menuju jalan setapak dan berbelok ke arah kanan menuju rimbunan pohon jati. Di depan sana nampak Lidya dan lima teman kami yang lain sedang berada di tengah jalan, celingak-celinguk tidak berani menyebrangi jalan setapak yang rimbun oleh daun jati.
Sambil berlari, aku menoleh ke kiri dan ke kanan menghitung teman-temanku, ternyata lengkap. Kami sudah akan mengurangi kecepatan berlari, ketika Lidya berteriak dengan lantang ke arah kami.
"Awas di belakang Kalian!"
Dengan refleks kami menoleh ke belakang, ternyata di belakang kami ada belasan sosok-sosok sama seperti bapak tua tadi sedang menuju ke arah kami, ada yang ngesot, ada yang merangkak, ada yang menggeret kakinya, dan ada juga yang berjalan biasa. Tapi ada kesamaan di antara sosok-sosok menyeramkan itu, tubuh mereka bengkak-bengkak dan menggelembung seperti balon.
"Aaaaaaaaaaaaa," teriak kami berempat sambil berlari mengejar Lidya. Di depan sana Lidya dan lima teman yang lain juga berlari menuju jalan rimbun itu. Kami melihat mereka berlari ke timur tapi entah mengapa beberapa waktu kemudian malah mereka berlari ke arah kami. Dan dari raut wajah mereka, sepertinya merek juga kaget. Kemudian mereka berbalik lagi masuk ke jalan yang rimbun itu, tapi beberapa waktu kemudian mereka muncul kembali berhadapan dengan kami, hingga mereka terlihat kecapekan.
"Kenapa, Lid?" teriakku pada Lidya yang kehabisan napas.
"E-entahlah, Im. Setiap kami berlari ke timur, munculnya di sini lagi," jawab Lidya terengah-engah.
Kami yang lain berpikir dengan keanehan yang dialami Lidya dan lima anak itu. Sementara di belakang kami, sosok-sosok tak sempurna itu sudah semakin dekat dengan posisi kami.
"AAAAAAAARRGGGH," suara yang dikeluarkan oleh mayat-mayat hidup itu.
"Apa yang harus kita lakukan?" teriak Fajar panik. Cindy dan Lidya terlihat mulai menangis juga.
"Mungkin kita harus mengikuti pesan bapak tua tadi," pekikku.
"Iya, bapak tua tadi bilang kita harus mendoakan para korban banjir itu sebelum melalui pohon-pohon jati ini," cetus Fajar.
"Baiklah, ayo sekarang kita berdoa dulu untuk mereka," perintah Fajar.
Kamipun berdoa bersama, berusaha khusyu dan ikhlas.
"ARRRRGHHHH," teriak mayat-mayat hidup itu yang sudah berjarak lima meteran dengan kami.
"Lariiiiiiiiii!!!!!!!!!"
Kami semua berlari melalui jalan setapak, bersama-sama. Di dalam rimbunan pohon bambu itu aku melihat di kiri dan kanannya banyak bergelantungan kerangka-kerangka manusia berbagai ukuran. Aku berdoa kepada Allah SWT supaya memaafkan dosa-dosa korban banjir tersebut. Kami terus saja berlari dan berharap ketika sudah menyebrangi area rimbunan pohon jati, tidak mengalami seperti Lidya tadi yaitu muncul di tempat semula. Jika itu terjadi tentunya tubuh kita yang empuk ini akan dimangsa oleh serombongan mayat-mayat hidup itu.
Kami terus berlari dan berlari hingga napas menjadi ngos-ngosan dan kamipun terjerembap di jalan setapak.
"Kita dimana ini?" tanya Fajar.
Kami semua mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Apa jumlah kita lengkap?" tanya Fajar lagi.
"Mana Cindy?" Aku berdiri mencari keberadaan Cindy.
"Tadi dia berlari di sebelahku, tapi kenapa dia tidak ada sekarang?" pekik Lidya kebingungan.
"Ya Tuhan ... Jangan-jangan Cindy ...," pekik Gatot.
"Tidak! Kita harus mencari Cindy sekarang," ucap Fajar.
"Maksud Kamu, kita akan kembali ke tempat tadi?" tanya salah satu anak.
"Kita berangkat bersama, pulang juga harus bersama," jawab Fajar.
"Tapi bagaimana kalau Cindy sudah diringkus mayat-mayat hidup itu?" tanya anak itu lagi.
"Aku tidak peduli, kita harus kembali ke tempat itu untuk menyelamatkan Cindy," teriak Fajar dengan lantang.
"Ayo, kita kembali ke tempat tadi!" teriak Fajar tegas.
Kami bersembilanpun melangkah menuju rimbunan pohon jati kembali.
"Ayo kita berdoa dulu untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dan untuk keselamatan teman kita Cindy," ucap ketua tim.
Kamipun berdoa dengam khusyu, Lidya tidak dapat menahan tangisnya. Maklum, selama ini dia yang paling dekat dengan Cindy.
"Aku dan Imran di depan, yang lainnya menyusul di belakang kami," teriak Fajar setelah kami semua selesai berdoa.
Anak-anakpun segera membentuk formasi dua anak dua anak di belakang kami. Perlahan-lahan kamipun mulai berjalan memasuki rimbunan pohon jati itu. Suasana hening mencekam, hanya suara deru napas kami yang terdengar. Namun, beberapa saa kemudian, tepat di hadapan kami muncul bayangan siluet hitam menghadang langkah kami. Siluet hitam itu tidak sedang berjalan selayaknya manusia normal, tetapi ngesot di jalan setapak yang akan kami lalui.
"Mayiiiiiiiiiiiit ...,"
Bersambung
Hai, Kak. Makasih banget ya atas kesetiaan pada novel Kampung Hantu.
Komentarnya selalu aku tunggu, loh.
Oh ya, jangan lupa ya baca juga karya novelku yang lain yang tidak kalah serunya.
Horor : MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
Terpaksa Dinikahi Playboy Kaya
Cinta Kedua
Baca dan komentar ya??????? Pliiiiiiiis ......
See you next update