KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 94 : DIKEJAR ARWAH


Keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Pepatah itulah yang pantas untuk melukiskan perasaanku saat itu. Bayangkan, setelah dikejar-kejar arwahnya Tari, aku harus berhadapan dengan seorang laki-laki dengan celurit di tangannya, apalagi ekspresi wajahnya sangat tidak bersahabat, seakan-akan ia akan memakanku bulat-bulat.


"Ngapain kamu di dalam Lab? Bukankah seharusnya kamu sudah pulang sedari tadi?" bentak pak Mat dengan suara keras.


"M-m-maaf, Pak. Saya sedang menjalani hukuman dari pak Rengga karena tidak ikut sholat berjamaah. Saya diberi hukuman untuk membersihkan ruangan ini," jawabku terbata-bata.


"Kamu pikir saya akan percaya dengan bualanmu. Saya lihat tadi kamu tidak sedang membersihkan ruangan ini, tapi kamu seperti berlari ketakutan. Pasti kamu menyadari kehadiran saya, sehingga kamu buru-buru lari ke luar," ujar pak Mat masih dengan suara meninggi.


"Saya berani bersumpah, Pak. Bahwa saya tadi benar-benar membersihkan ruangan ini karena dihukum oleh pak Rengga. Saya tidak mencuri apapun dari ruangan ini," jawabku dengan penuh keyakinan.


"Baiklah.Untuk sementara saya mempercayai perkataanmu, besok saya akan mengkonfirmasi keteranganmu dengan bertanya langsung kepada mas Rengga," jawab pesuruh sekolah itu.


"Pak Mat menyebut pak Rengga dengan sebutan mas?" Aku memberanikan diri bertanya.


"Iya, kenapa? Sebelum ia menjadi guru di sekolah ini, saya sudah mengenal baik orang tua dari mas Rengga. Jadi, saya lebih menganggapnya sebagai anak saya sendiri daripada sebagai atasan saya," jawab pak Mat.


"Ooo ... begitu?" jawabku.


"Mengenai hal tadi. Saya ingin kamu ikut saya ke dalam kembali. Saya ingin memastikan memang tidak ada barang-barang di dalam yang hilang ataupun rusak. Jika memang tidak ada, maka kamu boleh pulang. Tapi, jika kamu berbohong, maka bersiaplah untuk menerima sanksi dari sekolah," ujar pak Mat.


Pak Mat melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut sambil membawa celuritnya yang tajam. Aku sengaja memberi ruang kepada pak Mat untuk bisa lewat, setelah itu aku pun mengekor di belakang pak Mat, masuk ke dalam ruangan tersebut.


Ketika aku dan pak Mat sudah berada di dalam ruangan tersebut, pak Mat mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut. Mungkin ia sedang memeriksa isi seluruh ruangan tersebut. Aku masih terus mengekor di belakangnya ketika pintu depan tiba-tiba terbanting dengan keras, mungkin karena tertiup angin.


Dengan refleks aku menoleh ke belakang ke arah pintu yang tertutup rapat tersebut. Tiba-Tiba aku teringat dengan kejadian yang menimpaku tadi.


"P-pak, pintunya tertutup sendiri," pekikku sambil menoleh kembali ke arah pak Mat. Aku terkejut karena tidak ada siapa-siapa di posisi pak Mat berdiri tadi. Malah sekarang aku mendengar suara tawa seseorang.


"He he he ... pintu tertutup saja , kamu bingung," ujar orang tersebut yang ternyata adalah pak Mat. Ia sekarang tidak berdiri di depanku lagi, melainkan agak jauh di sebelah kanan, di dekat patung tengkorak manusia untuk bahan praktikum Biologi itu.


"Apa Pak Mat membawa kuncinya?" tanyaku.


"Itu kan hanya tertutup karena tertiup angin saja. Jadi tidak perlu kunci untuk membukanya," jawab pak Mat.


"Benar begitu, Pak?" tanyaku tidak percaya.


"Saya sudah hapal dengan semua ruangan di sekolah ini," jawab pak Mat meyakinkanku.


Aku tidak mungkin menceritakan perihal insiden pintu tertutup sendiri tadi, apalagi menceritakan kemunculan Tari kepada beliau.


"Pak, apakah Bapak sudah selesai memeriksa ruangan ini? Apakah saya sudah boleh pulang?" tanyaku memberanikan diri.


"Oke, sepertinya memang tidak ada barang yang hilang ataupun rusak. Setidaknya saya tidak menemukannya sekarang, tapi besok saya tetap akan mengkonfirmasi kepada mas Rengga. Bersiaplah menanggung hukuman, jika kamu terbukti berbohong," jawab pak Rengga.


"Saya pamit pulang dulu ya, Pak?" pekikku.


Aku pun berjalan ke arah pintu dan menarik gagang pintu itu. Benar saja, sekali tarik pintu itu pun terbuka ke dalam. Aku meninggalkan pak Mat di dalam ruangan itu sendirian. Aku berjalan di melewati koridor menuju ruangan parkir. Ternyata meskipun siang, kalau tidak ada orang, sekolahku ini suasananya terasa seram. Aku tidak berani lewat di depan ruang ekskul musik karena masih terbayang dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Aku lebih memilih melewati jalan setapak di dekat pintu gerbang utama untuk menuju tempat parkir sepedaku. Ternyata di parkiran hanya ada sepedaku satu-satunya. Sepeda Lidya dan Cindy sudah tidak ada di sana, berarti mereka sudah pulang terlebih dahulu.


Aku segera naik ke pedal sepedaku dan mengayuhnya meninggalkan sekolah. Saat aku sampai di pintu gerbang utama, entah mengapa aku merasa seperti ada sepasang mata yang sednag mengawasiku dari dalam sekolah, tapi entah siapa orang tersebut aku tidak dapat mengetahuinya.


Aku terus mengayuh sepedaku cepat-cepat meninggalkan sekolah untuk mengusir rasa ketakutan yang kurasakan. Ternyata naik sepeda dengan kecepatan yang cukup tinggi memberikan rasa nyaman tersendiri untuk pengendaranya. Kepala rasanya dingin dan segar. Angin semilir terasa masuk ke ubun-ubun kepalaku. Sungguh kenikmatan yang hakiki, naik sepeda seperti itu.


Saat asik-asiknya menikmati suasana di jalan, tiba-tiba aku melihat pemandangan aneh di seberang jalan.


"Ya Tuhan. Bukankah itu nenek kelana yang waktu itu menggangguku?" pikirku dalam hati.


Mendapati kenyataan seperti itu, aku pun mempercepat kayuhan sepedaku. Yang awalnya sudah cepat, kali ini lebih cepat lagi. Akhirnya aku berhasil menjauh dari nenek kelana tersebut. Tetapi, aku masih mempertahankan kecepatanku untuk tetap tinggi agar aku selamat dari gangguan nenek kelana itu. Namun, dugaanku ternyata salah. Ketika aku sudah berhasil menyalip nenek kelana tadi, tiba-tiba di depanku kembali muncul nenek kelana itu lagi, masih di seberang jalan dengan wajah membelakangiku.


"Ya Tuhan, kenapa dia muncul lagi?" pekikku di dalam hati.


Aku kembali mempercepat kayuhan sepedaku me dahului nenek kelana tadi, hingga aku berhasil menyalipnya. Dan kali ini aku sudah sampai di tanjakan tempat Tari sengaja ditabrak. Mataku kembali menyisir ruang di seberang jalan, siapa tahu nenek kelana itu muncul lagi di sana. Syukurlah, ia tidak muncul lagi. Ternyata dugaanku keliru, nenek kelana itu memang tidak muncul di seberang jalan, tetapi kali ini nenek kelana muncul beberapa meter di hadapanku dengan wajah menghadap ke arahku.


"Tidaaaaaaaak!!!!" Aku berteriak dengan kencang karena terkejut dengan kehadiran nenek kelana yang tiba-tiba itu.


Pada saat itu aku berada pada kecepatan laju sepedaku yang sangat tinggi. Dan kemunculan nenek kelana di depanku tentunya sangatlah mengejutkan buatku. Dengan sigap aku menukikkan ban depanku sehingga mampu menghindari untuk bertabrakan dengan nenek kelana tersebut. Dan sepedaku tetap melaju cepat meninggalkan tempat tersebut menuju rumahku.


Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya berdoa semoga nenek kelana tersebut tidak mengejarku sampai di rumah. Meskipun nenek kelana terbukti tidak mengejarku lagi, tapi aku masih tetap mengayuh sepedaku dengan kencang karena masih merasa takut ia tiba-tiba muncul lagi di depanku.


"Kenapa harus mengejarku sih, Nek?" protesku di dalam hati.


Bersambung


Tetap ditunggu like, komentar, dan votenya.


Daripada Anda gregetan tak sabar ingin mengetahui pembunuh Tari. Alangkah lebih baik Anda menebak siapakah pelakunya, dan apa alasannya?


Atau, bisa sambil membaca karyaku yang lain :



Maranti


Aku Tak Mau Menjadi Pelakor


Cinta Kedua


Tak Sengaja Dinikahi Playboy Kaya