
Pada malam hari seperti biasa kami akan mengaji tapi saat berlangsung sholat isya' ,ada yang dorong-dorong Sehingga mengakibatkan dorong-mendorong hingga ke ujung.Setelah selesai solat.
"Siapa tadi sholat di buat main-main "ucap kyai rahman tegas .
"Tadi saya di dorong oleh bejo kyai"ucap fadil membuka suara .
"Loh kenapa kamu nuduh-nuduh begitu"sangkal bejo berbohong.
"Beneran ki?"tanya kyai rahman ,kami semua cuman bisa menundukkan kepala takut tidak biasanya kyai rahman semarah ini meski kami nakal,bejo cuman diam.
"JAWAB"ucap kyai rahman lantang seperti menggema di langgar ini meski dinding langgar tidak terbuat dari bata.
"I-iya kyai tapi subhan duluan yang memulai "ucap bejo.
"B-bukan saya kyai tapi sumbri"ucap subhan memang benar sumbri berada di pojok.
"Apa benar itu sum?"tanya kyai dengan intonasi lebih rendah tapi tetap ada marah di nada suaranya.
"I-iya kyai tapi ini semua karena ada yang memegang *****saya dari belakang "ucap sumbri.
"Siapa yang memegang ***** sumbri dari belakang "ucap kyai Rahman yang mulut nya mengucap 'astagfirulloh'berulang kali dengan pelan tapi masih bisa kami dengar mungkin sedang menahan amarah .
Bejo mengangkat tangannya.
"Kenapa kamu melakukan itu Ki? "tanya kyai rahman.
"Sarung sumbri bolong kyai tapi tidak memakai ****** ***** "ucap bejo .
Kami semua menahan tawa dengan apa yang di ucapkan bejo.
"Sholat itu tidak boleh di buat main-main ,kita menghadap kepada sang pemilik alam tapi kalian buat main-main apa kalian tidak malu?"ucap kyai rahman sambil menjewer kami satu persatu, aku memegang bekas jeweran kyai rahman yang masih terasa panas.
"Sekarang semuanya sholat Lagi"ucap kyai rahman. Kamipun sholat lagi dengan benar tidak seperti yang tadi.
Setelah solat kami pun pulang, di perjalanan pulang bejo subhan dan sumbri menjegat jalan kami .
"Ini semua salah mu adi!!!"ucap bejo tiba-tiba .
"Emang apa salahku ?"tanyaku.
"Sudahlah bicara denganmu itu sama dengan bicara dengan batu, Mokong(keras kepala )"ucap bejo berlalu pergi dengan subhan dan sumbri.
"Kenapa kamu sih di! jadi orang baik banget ?"ucap dimas menahan amarah .
"Bukan aku baik mas tapi bukankah kita sudah berteman lama "ucapku.
"Tapi mereka semena-mena sama kita di!!!"ucap dimas.
"Mas aku pengen cerita "ucap ku lebih baik di ceritakan dari pada aku pendem sendiri.
"Sudahlah jika kamu masih marah lebih baik aku gak usah cerita "ucapku berjalan pergi tapi tanganku di cengkal oleh dimas.
"Kamu kok kayak perempuan sih di! suka merajuk"protes dimas yang sudah mulai tenang seperti biasanya.
"Gimana mau cerita jika kamu masih marah begitu!! meski kamu gak marah ke aku tapi gak enak cerita ke orang yang marah gak akan di dengerin buang tenaga doang "jelasku.
"Ya maaf, oke kamu cerita apa di ?"ucap dimas.
"Dimas kamu inget dengan kalung yang akan di berikan oleh mbah dirjo ke kita ?"ucapku .
"Ya inget dong di! kalung warna merah darah sama merah kayak kehitaman itukan"ujar dimas.
"Aku ngeliat kalung itu di pakai bejo subhan dan sumbri, aku curiga sikap mereka berubah karena memakai kalung itu karena sebelum pakai merekakan baik-baik aja!!"ucapku.
"Iya juga sih!kenapa aku gak kepikiran ke situ ya di "ucap dimas.
"Karena pikiranmu cuman makan doang mas hahhahaha"candaku yang memang benar apa adanya cuman dimas yang paling gemuk di antara kami berlima meski paling gemuk di saat darurat dia lari yang paling kencang seperti lemaknya hilang dalam seketika 'aneh bukan'tapi ini nyata.
%%%%%%
Saat tengah malam aku meringkuk kedinginan kenapa anginnya begitu kencang, aku membungkus diriku dengan sarung sampai ujung kepala jika di lihat aku seperti kepompong.
"Haus banget"gumamku tidak ingin beranjak pergi tapi tenggorokan memaksaku untuk bangun hingga akhirnya aku membuka sarung dan meraba-raba di kasur di karenakan gelap, biasanya aku meletakkan air dalam botol di samping ku.
Saat menemukan botol itu ternyata aku lupa mengisi air terpaksa aku harus pergi ke gentong yang berada di dapur untuk minum dan mengisi ulang botolku.
Dengan penerangan yang minim dan mengandalkan penerangan dari tlempak dan cahaya bulan yang masuk melalui celah dinding yang terbuat dari bambu.
"Emak kenapa berdiri di situ "ucapku melihat emak berdiri di dekat tomang(tungku kayu)memakai baju putih yang lusuh dan rambut tidak di ikat panjang tapi aku mengernyitkan dahi 'kenapa rambut emak panjang sekali 'pikirku yang tidak terlalu singkron karena baru bangun tidur ,sambil membuka gentong dan meminum air di dalam sambil melihat emak yang tetap berdiri dan diam .
"Ah segernya "ucapku setelah air masuk ke rongga meluncur bebas dan terasa lebih dingin tidak kalah dengan air es.Setelah minum dengan puas dan memasukkan air ke botol meski banyak air yang tumpah di karenakan kurang pencahayaan,aku menatap emak kembali dan emak menoleh.
Jantungku seperti berhenti berdetak beberapa detik, lidah terasa kelu ingin berteriak meminta bantuan tapi tidak bisa, ingin lari tapi kaki terasa berat hanya bisa melihat orang itu yang tertawa cekikikan menatapku, dengan cahaya bulan yang menyinari wajahnya di karenakan di atas tungku kayu di buat jendela biar saat memasak asap bisa keluar dan tidak menyelimuti satu rumah,wajah Kuntilanak yu minah begitu jelas terlihat hingga akhirnya pandanganku menjadi buram dan gelap.
…………………
"Di... adi... bangun.. cong"ucap seseorang seperti terdengar suara emak.Aku mengerjapkan mata beberapa kali karena mata ini terasa berat.
"Kamu kenapa tidur di dapur di?, sudah bangun! sholat subuh dulu baru cerita "ucap emak yang ku tanggapi dengan menganggukkan mata .Mungkin semalam bapak mengangkatku sehingga aku bangun di tempat tidur, Melewati dapur untuk pergi ke kebhen membuatku trauma takut kuntilanak itu datang lagi bergegas pergi dan menunaikan kewajibanku kepada yang maha kuasa .
Setelah selesai melakukan kewajibanku, aku tetap stay di tempat di atas sajadah dan berpikir dengan semua teror yang berada di desa ini, mulai dari bayi ghoib, kuntilanak bahkan jimat mbah dirjo apakah semuanya punya ikatan?.
Aku bingung kenapa kuntilanak itu datang mengangguku bukankah kata orang kuntilanak itu berada di rumpun bambu selatan rumah pak agus tapi kenapa semalam menghampiriku ? tapi tunggu bukankah saat siang mbah dirjo pernah bicara bahwa aku dan dimas akan menyesal, apakah ini yang di maksud mbah dirjo tapi aku tak mau seudzon, memikirkan ini membuat kepalaku terasa mau pecah.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya karena kalian penyemangat author jika tidak ada kalian rasanya malas membuat 😉.