
Rama yang bermaksud mulai aktif mencari Ki Sabrang, tak sengaja mendapatkan wangsit lewat mimpi untuk menyusuri daerah barat Kampung Hantu. Rama berjalan menyusuri jalan setapak di daerah barat kampung hantu ketika tiba-tiba dia melihat seorang wanita cantik sedang duduk beristirahat di bawah pohon besar, sambil menggendong potongan rumput. Dia mendekat dan memperhatikan dengan seksama wanita itu.
Rama: "Permisi, maaf mengganggu. Apa yang kamu lakukan di sini sendirian?"
Ratu Sari: "Tidak apa-apa, saya sedang menikmati beristirahat di sini. Nama saya Sari, siapa namamu?"
Rama: "Nama saya Rama. Senang bertemu denganmu, Sari."
Ratu Sari: "Sama-sama, Rama. Kamu dari mana?"
Rama terkesima saat beradu pandang dengan wajah Ratu Sari yang memang cantik jelita dengan tubuh sempurna seperti bidadari dari Surga. Suaranya pun merdu dan lembut seperti cerita dewi bulan dari Pulau Dewata. Sehingga Rama pun sempat tidak bisa langsung merespon pertanyaan dari Ratu Sari.
Rama: "Ehm,hm hm..Maaf, saya tinggal di rumah sebelah selatan Kampung Hantu Kebetulan saya sedang jalan-jalan ke daerah ini. Apakah ada yang bisa saya bantu, Sari? Mungkin saya bisa bantu membawakan potongan rumput itu dan mengantarkannya ke rumah Sari. "
Ratu Sari: "Benarkah Rama? Terima kasih, kebetulan rumah saya masih 10 km dari sini"
Begitulah akhirnya Rama membantu menggendong hasil potongan rumput di pundaknya, dan berjalan mengiringi Ratu Sari terus ke arah barat Kampung Hantu. Selama perjalananan tidak terasa Rama dan Ratu Sari saling berbincang dan bercanda dengan akrab sehingga mengesankan seperti kawan lama. Hingga akhirnya 10 km jauhnya jalan sudah dijalani, hingga kini sudah mencapai kawasan hutan barat dari Kampung Hantu. Rama sudah merasa pegal semua di kaki dan punggungnya, sedangkan Ratu Sari hanya tersenyum-senyum saja melihat pesona kelelahan dari Rama.
Rama: "Masih jauhkah rumahmu Sari, karena di depan sudah memasuki hutan belantara."
Ratu Sari: "Tinggal 100 langkah lagi ke depan Rama, kita akan melihat rumahku" (sambil mengibaskan tangannya ke langit)
Tiba-tiba pandangan Rama melihat jalan kecil di sekitar hutan yang lurus dan berujung di depan sebuah pekarangan rumah kecil. Segera saja Rama langsung mempercepat gerak langkahnya memasuki hutan melewati jalan kecil tersebut. Setelah memasuki hutan, tiba-tiba suasana sekitar hutan menjadi terang benderang oleh cahaya matahari. Padahal selama perjalanan 10 km sebelumnya langit berarak awan gelap, mendung seperti akan hujan. Namun kini cuaca menjadi cerah, dan pandangan pekarangan rumah kecil tiba-tiba menjadi sebuah istana.
Rama pun langsung menoleh ke Sari yang berada di sebelahnya," Sebenarnya tempat apa ini, Sari? Siapa kamu sebenarnya?"
"Maaf, Rama. Sebenarnya aku adalah Ratu Sari, putri penguasa kerajaan jin Raja Piningit. Terima kasih tadi sudah mengantarku, tolong kasihkan saja potongan rumput itu ke prajuritku, " kata Ratu Sari. Tiba-tiba seorang prajurit gagah nan tampan mendatangi Rama dari gapura depan istana, untuk melepaskan gendongan Rama dan membawa potongan rumput ke gudang istana.
Di dalam penyusuran tersebut, ternyata Rama bertemu Ratu Jin dan memasuki sebuah kerajaan jin yang dikenal dengan sebutan Kerajaan Jin Aliran Putih. Berbeda dengan kebanyakan jin yang dikenal memiliki sifat nakal dan jahat, kerajaan jin ini dipimpin oleh Raja Piningit, dengan putrinya yang bernama Sari, seorang jin wanita yang bijaksana dan memiliki sifat baik.
Ratu Sari: "Sebenarnya, saya adalah seorang Ratu di Kerajaan Jin Aliran Putih yang terletak di sini."
Rama: "Kerajaan Jin Aliran Putih? Saya tidak pernah mendengar tentang itu sebelumnya."
Ratu Sari: "Kami tidak suka terlihat oleh manusia, jadi tidak heran jika kamu tidak pernah mendengar tentang kami sebelumnya. Namun, jika kamu tertarik, saya bisa memberitahumu lebih lanjut tentang kerajaan kami." (sambil tersenyum manis menenggelamkan ada Rama)
Rama: "Tentu saja saya tertarik, Ratu Sari. Apa yang bisa kamu ceritakan tentang kerajaan Jin Aliran Putih?"
Ratu Sari: "Kami adalah kerajaan jin yang berusaha untuk membantu manusia. Kami tidak ingin menakuti mereka atau membuat mereka kesulitan. Kami percaya bahwa kami harus hidup berdampingan dengan manusia dan membantu mereka ketika dibutuhkan."
Rama: "Mohon maaf, Ratu Sari. Saya merasa tertarik cara bicaramu selama perjalanan tadi. Apakah mungkin saya diizinkan untuk bertamu ke istana kerajaan Jin-mu?" (sambil memelas)
Ratu Sari: "(tersenyum) Tentu saja, Rama, suatu kehormatan bagi kami Namun, untuk masuk ke istana kami dan bertemu dengan ayahku, Raja Piningit, Kamu harus terlebih dahulu melewati ujian keberanian dan kekuatan di kerajaan Jin aliran putih."
Rama: "Ujian seperti apa itu?"
Ratu Sari: "Kamu akan diuji melawan beberapa makhluk halus yang menjaga wilayah kerajaan Jin kami. Mereka bukanlah musuh, namun hanya penghuni kami yang menjaga keselamatan dan ketertiban di sini.
Rama: "Saya bersedia melewati ujian tersebut. Apa yang harus saya lakukan?"
Ratu Sari: "Pertama-tama, Kamu jalan saja lurus menuju gerbang istana kami di depan. Setelah itu, kamu akan bertemu dengan seorang prajurit berkepala naga putih yang akan menguji keberanianmu. Jika Anda berhasil melalui ujian tersebut, maka Anda akan diperkenankan bertemu dengan ayahku. "
Rama: "Baiklah Ratu Sari, terima kasih atas kesempatan ini. Saya akan mencoba sebaik mungkin untuk melewati ujian tersebut.
Ratu Sari: " Saya percaya Kamu akan berhasil, Rama. Semoga Tuhan selalu menyertai perjalananmu dan kita akan bertemu di dalam istana"
Kemudian Ratu Sari pun menghilang, tinggallah Rama yang harus berjalan menuju ke gerbang istana di depan.
Rama merasa sedikit takut dan khawatir juga ketika ia harus berjalan sendiri menuju gerbang istana. Namun, ia tidak putus asa dan terus berjalan dengan tekad yang kuat.
Tiba-tiba, Rama melihat seseorang yang membuatnya terkejut. Sebuah prajurit dengan senjata lengkap namun berkepala naga putih sedang menghampirinya.
Rama: "Wah, lihat! Ada naga putih di sini. Tapi aku tidak takut."
Prajurit Naga Putih: "(mengeluarkan suara mengancam) Siapa yang berani mengganggu istanaku?"
Rama: "Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu istanamu. Saya hanya mencari jalan bertemu Ratu Sari."
Prajurit Naga Putih: (tersenyum sinis) "Jadi, kau ingin melewati jalur ini untuk menuju ke dalam istana Ratu Sari? Kamu harus melalui tantangan dariku terlebih dahulu. Jika kamu bisa mengalahkanku, aku akan membiarkanmu jalan yang benar.
Rama: "(berani) Baiklah, aku siap untuk menghadapi tantanganmu."
Mereka kemudian memulai pertarungan. Prajurit berkepala Naga putih terbang berusaha melepaskan serangan berbahaya, tetapi Rama berhasil menghindarinya. Rama pun merapalkan mantra-mantra suci yang dipelajarinya selama ini. Ternyata dengan mantra-mantra suci tersebut, prajurit berkepala Naga Putih merasa kesakitan dan kepanasan, hingga akhirnya menyerah kalah kepada Rama.
Naga Putih: "(tersenyum) Kamu sangat hebat, Rama. Aku akan membiarkanmu jalan menuju istana, tapi kamu harus ikuti petunjuk sinaran kuning yang benar supaya kamu bisa segera sampai. Ikuti jalur sinaran kuning di sebelah kiri dan kamu akan menemukan jalan cepat menuju istana kerajaan Ratu Sari.
Dengan bantuan petunjuk dari prajurit berkepala naga putih, Rama berhasil menemukan jalan menuju istana kerajaan Ratu Sari. Setelah berjalan kurang dari 100 langkah, akhirnya ia berhasil tiba di dalam istana dan diperkenankan bertemu dengan Raja Piningit, ayah Ratu Sari.
Rama tiba di pintu istana Kerajaan Jin aliran putih yang dipimpin oleh Raja Piningit. Ia dijaga oleh beberapa pengawal jin yang langsung memeriksa identitas Rama sebelum mempersilakan masuk.
Pintu istana yang besar terbuka dan Rama melihat keindahan istana kerajaan jin. Ia diiringi oleh beberapa pengawal menuju ruangan utama tempat Raja Piningit berada.
"Selamat datang, Rama. Aku mendengar kau ingin bertemu denganku," ujar Raja Piningit dengan suara tenang namun tegas.
"Betul, tuanku. Tadi sebenarnya saya ke sini bersama Ratu Sari, tapi Ratu Sari tiba-tiba hilang setelah bilang akan menunggu di dalam istana," jawab Rama dengan hormat.
"Hahaha, rupanya kamu sudah bertemu putriku Ratu Sari. Baiklah, tapi sebelum bertemu Ratu Sari, ijinkan akan kuberitahu tentang sejarah kami. Dahulu, kerajaan jin ini dipimpin oleh Raja Maheswara yang memiliki kekuatan besar dan kejam dalam memerintah.
"Baiklah, akan kuberitahu tentang sejarah kami. Dahulu, kerajaan jin ini dipimpin oleh Raja Maheswara yang memiliki kekuatan hitam yang besar dan kejam dalam memerintah. Namun, Ki Ageng Selo datang dan mengajarkan kami tentang kebaikan dan keadilan. Ia mengubah kekuatan jahat kami menjadi kekuatan yang baik dan mengajarkan kami untuk membantu manusia," cerita Raja Piningit.
"Tapi Raja Maheswara menolak berubah menjadi baik setelah diajarkan Ki Ageng Selo, dan lari ke timur bersama pasukan hitamnya mendirikan kerajaan jin baru di daerah Blambangan, Banyuwangi. Maka, sejak saat itu kami menjalankan kerajaan ini sesuai ajaran Ki Ageng Selo yang beraliran putih dan membantu manusia yang membutuhkan," lanjut Raja Piningit.
Rama sangat terkesan dengan cerita Raja Piningit dan merasa yakin bahwa kerajaan jin ini adalah sekutu yang dapat diandalkan dalam melawan Ki Sabrang nantinya. "Mohon bantuannya, tuanku. Kami sangat membutuhkan bantuan kerajaan jin aliran putih untuk melawan Ki Sabrang yang semakin merajalela Kampung Hantu," pinta Rama.
Raja Piningit berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban, "Aku akan mempertimbangkannya, Rama. Namun, kalian juga harus menunjukkan bahwa kalian pantas mendapat bantuan kami. Kalian harus membuktikan bahwa kalian juga berjuang untuk kebaikan kampung kalian sendiri."
Rama mengangguk dan merasa terharu dengan niat baik Raja Piningit untuk membantu.
Setelah itu, Rama dipersilakan untuk melihat-lihat kerajaan jin aliran putih tersebut. Ia berkeliling dan melihat keindahan kerajaan jin serta bertemu dengan beberapa jin yang sangat ramah, sekaligus mencari Ratu Sari. Namun Ratu Sari belum juga terlihat walaupun Rama sudah berada di dalam istananya.
Rama merasa semakin penasaran pada Ratu Sari setelah mendengar sejarah Kerajaan Jin Aliran Putih yang diubah oleh Ki Ageng Selo. Setelah lama melihat-lihat lingkungan istana kerajaan, akhirnya Ratu Sari muncul dengan tampilan yang cantik dan anggun sebagai seorang ratu. Rama pun tidak bisa berkedip memandang raut wajah Ratu Sari.
Rama: "Ratu Sari, terima kasih untuk kesempatan untuk bertemu dengan ayahmu. Saya sangat terkesan dengan sejarah dan kearifan aliran putih kerajaan Jin."
Ratu Sari: "Sama-sama, Rama. Aku juga merasa senang kamu bisa berbicara dengan ayahku. Sekarang, apa yang ingin kau sampaikan padaku hingga matamu tidak berkedip sedikitpun?" (sambil tersenyum)
Rama: "ooops, maaf Ratu Sari, Saya merasa takjub olehmu dan ingin berlama-lama denganmu. Saya ingin memperkenalkan diri lebih dekat lagi denganmu dan keluargamu. Apakah bisakah saya melakukan taaruf kepadamu?" (wajah merah memelas)
Ratu Sari: (tersenyum) "Kau membuatku malu, Rama. Aku juga merasa senang berada di dekatmu. Namun, sebagai Ratu Kerajaan Jin, aku harus mempertimbangkan kepentingan kerajaan dan rakyat. Aku akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh dan memberimu jawaban yang tepat."
Rama: "Saya menghargai pertimbanganmu, Ratu Sari. Saya akan menunggu kabar baik darimu dengan sabar. Mudah-mudahan satu jam lagi sudah ada jawaban atas kesabaranku" (tersenyum)
Ratu Sari: "Terima kasih, Rama, tapi sabar ya..Sekarang, jika tidak keberatan, aku ingin membawamu berkeliling melihat lagi kerajaanku."
Rama: "Tentu saja, Ratu Sari. Saya akan sangat senang untuk berjalan-jalan bersamamu."
Setelah itu, Rama dan Ratu Sari berjalan-jalan di sekitar kerajaan Jin Aliran Putih yang dipenuhi dengan keindahan dan kemakmuran. Rama semakin yakin bahwa dia ingin menjadi bagian dari kerajaan itu dan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Ratu Sari.