KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Kemenangan Semu


Ki Sabrang sangat senang melihat hantu Suanggi yang menggendong bayi Rama, merasa kemenangan sudah dekat di kubu Ki Sabrang. Kulit bayi yang kemerahan beserta tangisannya, tampak memendarkan pesona kekuatan yang luar biasa dan memancing hasrat Ki Sabrang untuk segera ditumbalkan. Ki Sabrang sudah membayangkan bakal menerima kekuatan luar biasa yang membuatnya semakin digjaya dan berumur abadi.


Karena pertempuran sudah memakan waktu 2 jam-an lebih, Ki Sabrang lalu memerintahkan semua pasukan Jin  dan sekutu hantunya yang sedang bertempur, untuk segera berkumpul di depan halaman rumah Rama. Ki Sabrang ingin semua kekuatan aliran hitam bersatu untuk segera menghancurkan Rama, yang ternyata susah dikalahkan, dan supaya pertempuran bisa cepat diakhiri karena fajar akan datang.


Hantu Palasik dan Parakang pun menerima instruksi Ki Sabrang dengan baik dan meninggalkan Gendoruwo yang sedang bertempur menghadapi pasukan jin aliran hitam. Seketika itu juga, hantu Palasik, Parakang, Ki Sabrang, Rangda, Werewolf dan Suanggi pun berbaris dan bersatu menghadapi Rama yang masih bisa dengan khusuk melafalkan wirid Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga. Walaupun sekutu hantu sudah menyatukan kekuatannya, namun ternyata masih belum bisa membuat Rama terluka seperti sebelumnya.


Sementara itu, Raja Piningit dan Gendoruwo pun akhirnya juga bergabung dengan Rama di halaman depan rumah untuk membantu Rama menghadapi pasukan Ki Sabrang. Sukma Rama 2 yang semula bertarung bersama Gendoruwo pun di halaman belakang rumah Rama, akhirnya ditarik dan bergabung kembali ke sukma Rama yang sesungguhnya.


Semua prajurit jin aliran hitam yang berada di halaman belakang rumah sudah berhasil dikalahkan oleh Gendoruwo menggunakan ajian Segara Geni. Sementara Raja Piningit sudah membinasakan para leyak Bali yang menyerangnya bersama Rangda. Rama pun berusaha tegak kembali dan khusuk melafalkan ajian-ajiannya setelah sempat terluka akibat serangan Ki Sabrang.


Raja Piningit : "Rama, mari kita selesaikan pertempuran ini karena fajar sudah menjelang. " (tampak bersemangat)


Rama : (agak sedikit linglung dan sempoyongan) "Baiklah Raja Piningit, mohon jangan jauh dari saya ketika telah keluar kekuatan dari Pusaka Kujang Pamenang ini. Gendoruwo, sesuaikan seperti yang terakhir di hutan ya.."


Gendoruwo : "Baik Rama". (sambil tetap melancarkan ajian Segara Geni).


Rama pun menutup mata sambil menghunus Pusaka Kujang Pamenang.  Dia sangat khusuk melafalkan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga. Dan pada kesempatan pertempuran ini, akan dicoba oleh Rama. Rama menyambung wiridnya dengan lafal Ajian Pralambangun untuk menyatukan semua kesaktian Rama di berbagai versi dunia lain menyatu ke dalam dirinya. Hingga akhirnya dalam dada Rama terasa sesak akibat dengan kekuatan penuh dari Rama-Rama versi dunia lain, ditambah lagi dengan aura mustika Kalimasada yang ingin keluar. Cahaya sangat terang pun keluar dari raga Rama sehingga pasukan Ki Sabrang merasa panas dan silau, walaupun masih juga terus berusaha menyerang Rama dan Pasukan Kerajaan Jin Aliran Putih.


Terlintas dalam pikiran Rama wajah bahagia Ratu Sari saat bertemu Dewi Ratih, dan wajah Dewi Ratih yang bisa melihat foto Ratu Sari dan Raja Piningit, sehingga akhirnya aura kekuatan singa bisa terbentuk dari mustika Kalimasada serta, "Boom!! " Rama mengarahkan Pusaka Kujang Pamenang ke arah Ki Sabrang dan pasukannya sehingga cahaya panas dan menyilaukan itu memburu kubu Ki Sabrang dan pasukannya.


Terdengar teriakan kesakitan dari hantu Palasik, Parakang, Suanggi, Werewolf dan Rangda setelah menerima panas dan kekuatan dari Pusaka Kujang Pamenang. Para pasukan Jin aliran hitam dan sekutu hantu dari Ki Sabrang itu merasa mendapatkan serangan panas luar biasa yang mengoyak tubuh dan menghancurkan tubuhnya menjadi berkeping - keping seperti singa kelaparan yang memangsa daging segar. Kekuatan itu pun berhasil membelah malam dan menghantarkan fajar datang, dengan ditandai oleh suara ayam berkokok bersahut-sahutan dari rumah penduduk Kampung Hantu.


Rerumputan dan pepohonan di sepanjang jalan depan halaman rumah ikut kering dan bertumbangan akibat dahsyatnya panas dan kekuatan ajian dari Rama. Hingga setelah kekuatan itu reda, suasana menjadi sepi dan tinggallah kini Rama, Raja Piningit, Gendoruwo serta pasukan jin aliran putih yang berdiri tegak di halaman depan rumah Rama. Pasukan jin aliran putih pun bersorak ria merasa mereka telah memenangkan pertempuran.


Lain halnya dengan Rama yang masih teringat dengan bayi yang digendong hantu Suanggi, Rama langsung berlari ke dalam rumah, untuk memeriksa keadaan di kamar Ratu Sari. Ternyata di dalam kamar Ratu Sari hanya ditemukan bekas darah persalinan dan bekas pertempuran yang tampak di dinding dan pintu kamar. Rama pun menjadi bingung, dan menjadi lemas karena berpikiran negatif saja atas keselamatan Ratu Sari dan bayinya.


Raja Piningit dan Gendoruwo yang melihat Rama bingung dan lemas pun akhirnya mendekati Rama yang berada di dalam kamar. Sambil menepuk punggung Rama, Raja Piningit memberitahu Rama, "Tenanglah Rama, Ratu Sari dan bayimu aman bersama Wewe Gombel di Kerajaan Jin Aliran Putih."


Rama: " Apakah itu benar, Raja Piningit? Bagaimana bisa? " (menampakkan wajah bengong seolah tak percaya).


Rama :" Iya, Raja Piningit, saya masih ingat. Saya terlambat datang di rumah untuk menyambut Raja Piningit, saat membawa Wewe Gombel dari Sungai Tersesat. Lalu adakah hubungannya dengan semuanya ini Raja Piningit? "


Raja Piningit : "Ada Rama, waktu itu aku sudah melihat bahwa Ratu Sari akan segera melahirkan, jadi aku perintahkan supaya pasukan Kerajaan Jin Aliran Putih membawa Ratu Sari ke istana kerajaan, supaya melahirkan di sana saja agar aman. Lagipula, Ratu Sari masihlah bangsa jin yang persalinannya pasti berbeda dengan bangsa manusia. Aku juga kuatir dengan resiko terburuk bila Ratu Sari berada di medan pertempuran saat persalinan. "


Rama : (masih bingung) "Lalu yang tadi berada di rumah ini siapakah, Raja Piningit ?"


Raja Piningit: "Ratu Sari dan dukun bayi yang tadi berada di rumahmu ini adalah bagian dari pasukan jin aliran Putih yang menyamar. Jadi engkau tidak usah kuatir walaupun mereka sudah dikalahkan oleh hantu Suanggi. " (sambil tersenyum)


Rama: " Lalu sekarang Ratu Sari bagaimana, Raja Piningit? Wewe Gombel? "


Raja Piningit: "Alhamdulillah Ratu Sari sudah selesai persalinannya sebelum aku tiba di rumah ini. Itulah sebabnya aku datang terakhir di rumah ini, menunggu selesai semedi dan persalinan putriku, Ratu Sari. Wewe Gombel juga tadi aku minta menyusul Ratu Sari pergi ke istana kerajaan Jin Aliran Putih setelah persalinan. Jadi mereka semua sudah aman berada di istana. Tinggal engkau sekarang Rama, mesti menyusul ke istana Kerajaan Jin Aliran Putih untuk menemui Ratu Sari dan bayimu. " (sambil menggenggam tangan Rama dengan kuat)


Rama: " Gendoruwo, apakah kau mengetahui hal ini? "


Gendoruwo: " Maaf Rama, aku mengetahuinya juga. Tapi aku tidak boleh mengacaukan rencana Raja Piningit. "


Rama: " Ow, baiklah kalau begitu. Sekarang mari kita pergi ke istana Kerajaan Jin Aliran Putih".


Rama, yang sebenarnya masih sedikit terluka di tubuhnya akibat serangan Ki Sabrang, memaksakan dirinya untuk berjalan bersama Raja Piningit dan Gendoruwo menuju istana Kerajaan Jin Aliran Putih. Segera Rama melafalkan wirid ajian Pralambangun untuk membuka lubang hitam portal waktu, supaya bisa masuk ke istana Kerajaan Jin Aliran Putih dengan cepat.


Sementara itu, sesosok orang tua sedang berjalan tertatih - tatih menuju rumah Juragan Seno. Ternyata Ki Sabrang berhasil melarikan diri dari kekuatan maut Rama, yang sudah menghancurkan seluruh pasukan jin aliran hitam dan sekutu hantunya. Tampak pakaian Ki Sabrang yang sobek- sobek dengan luka tubuh yang berdarah-darah akibat dari pertempuran tersebut. Akhirnya Ki Sabrang sudah merasakan bagaimana dahsyatnya dari Ajian dan Pusaka yang dimiliki oleh Rama.


Ki Sabrang : "Seno, buka pintu segera! " (berteriak sambil mengetuk pintu).


Juragan Seno yang sedang jaga kandang pun akhirnya membukakan pintunya, lalu segera memapah Ki Sabrang untuk berjalan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah kini hanya tinggal makhluk simpanan Juragan Seno yang berupa tuyul dan jenglot, yang memang ditugaskan Ki Sabrang berada di luar pertempuran.


Juragan Seno pun langsung menempatkan Ki Sabrang di ruangan khususnya. Kemudian Juragan Seno menawarkan pengobatan kepada Ki Sabrang supaya pulih, namun ditolak oleh Ki Sabrang. Ki Sabrang hanya meminta supaya Juragan Seno mempersiapkan sesaji dan tumbal lagi supaya kekuatannya cepat pulih. Lalu Juragan Seno pun bergegas meninggalkan Ki Sabrang di ruangannya untuk mempersiapkan apa yang diminta oleh Ki Sabrang. Dan Ki Sabrang pun segera beristirahat sejenak di ruangannya sepeninggal Juragan Seno