
Kegiatan memancing adalah hobi Sukar. Ia senang sekali memancing dan sudah banyak tempat yang dikunjungi, mulai dari tempat pemancingan biasa, sungai hingga pantai di wilayah sekitaran Yogyakarta, sudah dijelajahinya. Selama ini, setiap kali memancing, ia selalu mendapatkan hasil yang cukup lumayan. Terkadang memperoleh hasil pancingan ikan yang berukuran sedang, bahkan tak jarang juga berhasil membawa pulang ikan berukuran besar.
Suatu hari Sukar menyiapkan alat pancing seperti biasanya. Rencananya dia ingin memancing di sisi selatan jembatan Sungai Progo, yang menjadi perbatasan antara Kabupaten Kulonprogo dengan Kabupaten Bantul.
Sungai Progo atau Kali Progo juga termasuk sungai besar yang melintasi Kota Yogyakarta. Daerah aliran Kali Progo adalah seluas 2.380 km2 yang melewati Propinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan panjang sungai 140 km, yang sebagian besar berada di Yogyakarta.
Sungai yang mempunyai hulu dari lereng Gunung Sumbing ini juga melewati wilayah Magelang. Sungai ini juga digunakan sebagai sarana irigasi bagi masyarakat Yogyakarta, dengan bendungan yang pernah di buat oleh belanda yaitu “Ancol Bligo”, yang saat ini juga di gunakan sebagai salah satu tempat rekreasi warga sekitar.
Bahkan sungai ini juga menjadi sumber mata air, yang mengalir mengelilingi Yogyakarta, dan disebut dengan Selokan Mataram. Selain itu Sungai Progo juga bermuara di sebelah barat Pantai Kwaru, salah satu pesisir selatan dari Pantai Laut Selatan, Jawa Tengah.
Untuk menuju kawasan Sungai Progo, bisa ditempuh dari kawasan Magelang Jawa Tengah. Sungai atau Kali Progo menjadi lokasi tantangan tersendiri bagi penggemar white water rafting. Aliran Sungai Progo, baik bagian atas maupun bawah, terdapat beberapa operator arung jeram. Sungai ini mempunyai jeram - jeram yang mendebarkan, serta pemandangan yang sangat menakjubkan, di samping masih alami sepanjang sungainya.
Perlu diketahui bahwa sungai ini juga menyimpan beberapa mitos. Salah satu mitos dari Sungai Progo adalah sungai ini mempunyai sejarah di wilayah Dusun Bakal Pokok yang masih berkaitan dengan keberadaan Pangeran Diponegoro dengan Nyi Roro Kidul.
Alat pancing dan kendaraan sudah siap semua. Pada tengah malam, Sukar pun melaju dengan kendaraannya menuju sasaran yang dituju. Setibanya di tempat yang dimaksud, Sukar langsung mempersiapkan semuanya.
Setelah memasang umpan, langsung dilemparkannya ke arah titik target pancingannya. Lama sekali Sukar menunggu umpan tersebut dimakan sasaran targetnya, tapi belum ada tanda-tanda ada ikan yang menghampiri. Tidak biasanya Sukar mengalami kejadian tersebut.
Padahal biasanya hanya menunggu tak kurang 10 menit, Sukar langsung mendapatkan ikan. Tiba - tiba langit di atas lokasi pemancingan Sukar menjadi gelap, cahaya bulan seketika tertutup awan mendung. Hujan deras yang turun dan disertai angin kencang begitu mengejutkan Sukar, yang sebelumnya tidak mempersiapkan payung ataupun jas hujan, karena saat berangkat cuaca masih terang benderang. Suara petir pun terdengar bersahut-sahutan sehingga memberikan rasa takut pada Sukar. Jalanan pinggir sungai tempat Sukar menunggu alat pancingnya, menjadi licin akibat guyuran hujan yang semakin lebat.
Kemudian muncul semacam air mancur atau pusaran air dari dasar sungai, yang semakin lama semakin besar. Walaupun dalam guyuran hujan deras, karena penasaran, Sukar pun mendekatinya. Ternyata tidak surut air mancur tersebut, justru ketika didekati Sukar, semakin tambah besar dan tiba-tiba muncul makhluk berperakan tinggi besar menyerupai raksasa.
Matanya berwarna merah langsung melotot ke arah Sukar.
Karena ketakutan, Sukar langsung lari terbirit-birit, bahkan alat pancingnya ditinggalkan begitu saja. Tapi karena jalanan yang licin, Sukar pun terpeleset jatuh sebelum sampai ke atas di tepi jembatan. Kaki kanannya keseleo, dan kaki kirinya kram mendadak. Hujan pun tidak juga mau berbelas kasihan kepada Sukar, terus - menerus mengguyur seluruh tubuhnya dengan deras.
Sukar pun pasrah, ketika raksasa tersebut mendekatinya. Dan saat sudah berjarak 1 meter, Sukar tiba - tiba menjadi pingsan di hadapan raksasa tersebut. Raksasa yang muncul itu konon biasa disebut dengan Lelepah.
Konon, Lelepah ini sebangsa jin, lelembut, setan dan lainnya memiliki hobi mengkonsumsi darah dan daging. Menurut kisahnya yang tenar di daerah Jawa, sosok Lelepah ini memiliki ukuran tubuh seperti raksasa yang sangat besar, karena bisa 2 kali lebih besar dari manusia.
Selain sosoknya yang mengerikan karena bentuknya yang menyerupai siluman, konon katanya Lelepah memiliki menu makanan favorit daging manusia segar. Lelepah sering menelan hidup-hidup siapa saja yang tidak beruntung dan berpapasan dengannya.
Tidak banyak yang tahu apakah yang dimakan secara fisik atau hanya ruhnya saja, namun sosok ini mampu membuat warga ketakutan terutama jika memasuki waktu malam. Biasanya warga akan mengunci rapat-rapat rumah mereka dan melarang keluarganya keluyuran sendirian di luar. Selain hobi memakan daging manusia, Lelepah konon katanya juga sering memakan daging atau darah sisa makanan yang tidak dibersihkan, bekas dari kelakuan manusia.
Jika digambarkan secara detail, sosok Lelepah memang memiliki tinggi hampir 3 meter, dan memiliki tubuh yang bulat mirip ular tetapi diameternya besar. Lelepah juga memiliki banyak gigi taring guna mengunyah kepala manusia.
Tiba - tiba saja di belakang sosok Lelepah yang sudah menyantap mangsanya, muncul Ki Sabrang dengan menghunus Tongkat Cakra Langit. Rupanya Ki Sabrang sudah mengamati kelakuan Lelepah dari tadi.
Ki Sabrang: (sambil tertawa) "Hahahahahaha, kasihan sekali pemancing itu, Lelepah. Yang membuatmu keluar itu aku sebenarnya. Hujan, petir dan angin badai itu aku yang buat. "
Ki Sabrang: "Aku Ki Sabrang, penguasa ilmu Hitam di Tanah Jawa. Aku ingin mendapatkan tombak pusaka yang berada di dasar Sungai Progo. "
Lelepah: "Hmm, punya kekuatan apakah kamu mau mendapatkan pusaka sakti Tombak Punjul Wilayah? " (sambil menyeringai dengan tatapan yang tajam)
Tanpa banyak bicara, lalu Ki Sabrang memasukkan Tombak Cakra Langit ke sarungnya. Kemudian Ki Sabrang pun menghunus Keris Naga Siluman sambil melafalkan ajian Setan Kober. Keris itu diarahkan ke Lelepah dan ternyata Lelepah bisa menghindar dari serangan Ki Sabrang.
Lelepah pun berusaha membalas serangan Ki Sabrang dengan mengeluarkan Ajian Jaggarnantha yang terkenal itu. Ajian Jaggarnantha terkenal dengan kekuatannya yang super dan daya tahannya terhadap serangan lawan seperti perisai.
Kekuatan Ajian Jaggarnantha dari Lelepah berhasil memukul mundur Ki Sabrang. Ki Sabrang benar - benar merasakan dahsyatnya kekuatan Lelepah. Ki Sabrang pun menjadi tambah marah sehingga kemudian menggabungkan kekuatan dari Keris Naga Siluman dengan Tombak Cakra Langit, sehingga Lelepah menjadi terpana dengan kekuatan yang dilahirkannya.
Hujan yang deras, petir dan angin badai tornado yang dihasilkan oleh Tombak Cakra Langit kemudian diarahkan langsung ke Lelepah yang masih bertahan menggunakan Ajian Jaggarnantha. Ditambah lagi dengan kekuatan api dari Keris Naga Siluman sehingga menyebabkan Lelepah menjadi agak goyah.
Kekuatan Lelepah ternyata masih kalah dibandingkan dengan Ki Sabrang, hingga akhirnya Lelepah terbawa oleh angin badai tornado yang dihasilkan dari Tombak Cakra Langit. Di dalam pusaran angin badai tornado pun Lelepah masih disambar oleh petir dan kekuatan api sehingga membuat Lelepah tidak berdaya.
Lelepah yang tidak berdaya di dalam pusaran angin badai tornado kemudian terangkat ke atas langit, lalu tiba-tiba dijatuhkan langsung ke arah dasar Sungai Progo hingga air di Sungai Progo menjadi kering. Setelah air di Sungai Progo kering dan dasar Sungai kelihatan, maka tampak sebuah tombak yang menancap kuat di sebelah tempat jatuhnya Lelepah.
Tombak itu konon disebut dengan Tombak Punjul Wilayah yang memiliki kekuatan super untuk menembus, memotong, menusuk dan menghancurkan apa saja. Tombak Punjul Wilayah juga bisa menarik unsur logam besi dan menghancurkannya seperti kerupuk. Oleh karena itulah, Tombak Punjul Wilayah dijaga oleh seorang Lelepah yang sama - sama memiliki kekuatan super.
Ki Sabrang menatap tajam Tombak Punjul Wilayah yang berada di hadapannya. Bentuk tombak Punjul Wilayah tampak motifnya lurus, urat air hujan, warna hitam kebiruan, dengan lima ujung mata tombak mengarah ke depan. Ki Sabrang pun mendekati tombak tersebut, dan berusaha mencabutnya. Namun ternyata Ki Sabrang gagal mencabutnya. Tombak tersebut masih dengan gagahnya menancap di dasar Sungai Progo.
Ki Sabrang pun kemudian melafalkan Ajian Setan Kober untuk menarik Tombak Punjul Wilayah, namun tetap saja tombak tersebut tidak bergeming di tempatnya. Tidak mau berpikir panjang lagi, kemudian Ki Sabrang mengeluarkan 4 pusaka sekaligus, yakni : Keris Naga Siluman, Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa, Tombak Kyai Kanjeng dan Tombak Cakra Langit, supaya bisa mengalahkan kekuatan dari Tombak Punjul Wilayah.
Namun tombak tersebut tetap tidak bergeming, tetap menancap di dasar Sungai Progo. Lelepah yang melihat kegagalan Ki Sabrang hanya tersenyum, walaupun Lelepah sendiri juga terluka parah akibat pertempurannya dengan Ki Sabrang.
Sudah 3 malam Ki Sabrang mencoba mencabut Tombak Punjul Wilayah, namun tidak berhasil dan hanya memberikan bencana banjir di daerah Sleman, Bantul dan Yogyakarta. Hingga akhirnya bisikan gaib terdengar di benak Ki Sabrang, meminta Ki Sabrang untuk menirukan lafal Ajian Jaggarnantha yang sebenarnya juga dimiliki oleh Lelepah.
Ki Sabrang menirukan lafal sesuai bisikan gaib yang diterimanya, hingga kemudian perlahan - lahan Tombak Punjul Wilayah mulai bergerak naik ke atas dan berhasil ditarik sepenuhnya oleh Ki Sabrang. Daratan Sleman, Bantul dan Yogyakarta pun kemudian dilanda gempa bumi yang berkekuatan 5,9 sekala richter ini selama 57 detik.
Banyak korban akibat dari gempa bumi tersebut, baik korban jiwa maupun bangunan yang roboh rata dengan tanah. Banyak juga bangunan yang mengalami kerusakan, khususnya di daerah Bantul dan Yogyakarta. Jumlah korban yang meninggal di wilayah Bantul ada 4.143 orang, dengan ribuan rumah yang rusak.
Konon total korban gempa bumi wilayah Yogyakarta, Bantul dan Sleman yang tercatat, lebih dari 5.782 orang meninggal dunia, 26.299 orang luka berat dan luka ringan. Selain itu, lebih dari 390.077 rumah roboh akibat gempa bumi tersebut.
Ki Sabrang : "Lelepah, ayo ikut denganku ke puncak Gunung Lawu. Engkau akan dijamu di sana sebagai tamu agungku.. " (sambil tertawa)
Lelepah yang sudah terkalahkan oleh Ki Sabrang pun mau tidak mau mengikuti Ki Sabrang ke Puncak Gunung Lawu, meninggalkan Sungai Progo yang porak-poranda akibat gempa bumi.