
Fajar dan Gatot terlihat berjalan mengekor pak Rengga dan kak Dino ke mesjid, tetapi mereka tetap menjaga jarak agar tidak dicurigai baik oleh kak Dino, maupun oleh pak Rengga sendiri. Sedangkan Cindy nampak sibuk sekali keluar masuk setiap ruangan kelas satu untuk mencari anak-anak perempuan yang berdiam diri di dalam kelas karena berhalangan untuk menunaikan salat secara berjamaah. Ketika situasi dipandang aman, Lidya dan aku kemudian mengendap-endap menuju ke halaman belakang sekolah. Namun, Lidya menghentikan langkahnya tepat di balik tembok ruangan paling barat, karena ia memang bertugas untuk mengawasi jika sewaktu ada orang yang akan berjalan menuju halaman belakang sekolah. Jika itu terjadi, Lidya akan mengalihkan perhatian orang itu sambil berbicara keras supaya terdengar olehku. Jika memungkinkan, ia akan mengubah rute orang tersebut. Namun, jika tidak, ia akan memberikan kode lain kepadaku, setidaknya aku masih memiliki cukup waktu untuk bersembunyi atau berlari ke sebelah timur sekolah.
"Lid, kamu nanti mau memberi kode apa kalau ada orang di sini?" tanyaku.
"Aku akan berkata 'Mau kemana? '," jawab Lidya dengan tegas.
"Kalau orangnya memaksa berjalan menuju tempat pembuangan sampah, bagaimana kodenya?" tanyaku lagi.
"Aku akan berkata, 'Hati-Hati, ya?'," jawab Lidya lagi.
"Baiklah, Lid. Aku akan berjalan ke sana. Semoga misi kita berhasil kali ini," ujarku.
"Aamiiin," sahut Lidya.
Aku pun berjalan meninggalkan Lidya, menuju tempat pembuangan sampah itu. Semakin jauh meninggalkan Lidya, semakin sepi dan mencekam suasana yang aku rasakan. Lebih-Lebih, saat ini semua siswa dan guru sedang berada di mesjid yang jaraknya cukup jauh dari sekolah. Sewaktu jam-jam ramai saja, jarang orang yang mau mendatangi tempat ini sendirian, apalagi jam-jam sepi seperti sekarang ini.
"Tempat pembuangan sampah ini bentuknya berupa tanah datar memanjang berbentuk kotak mulai dari belakang kamar mandi, hingga ke batas timur sekolah. Di timurnya ruangan kelas, ada sebuah pohon yang daunnya cukup rindang. Pohon yang rindang itu terkesan angker saja jika kuperhatikan.
Aku berusaha mengira-ngira letak posisi kak Dino mengubur kresek hitam yang ia bawa tadi pada saat jam istirahat pertama. Menurut perhitungan Lidya, lubang yang digali oleh kak Dino jaraknya kira-kira tiga meter berada di sebelah timur pohon yang rindang ini. Karena tidak ingin membuang-buang waktu sedikitpun, aku pun segera mengira-ngira jarak tiga meter dari pohon rindang tersebut.
"Satu, dua, tiga," Aku mengukurnya dengan menggunakan langkah kakiku.
"Pasti lubang itu ada di sekitar sini," ucapku dalam hati.
Aku memeriksa tanah yang sudah bercampur sampah yang ada di sekitar kakiku.
"Kok, tidak ada yang basah, ya? Semuanya terlihat kering. Hm ...," ucapku di dalam hati.
Mungkin karena sinar matahari yang cukup terik, sehingga bekas galian kak Dino sulit dibedakan dengan tanah yang lain. Ditambah lagi, struktur tanah yang banyak mengandung sampah begini, membuat tekstur antara tanah yang baru saja digali dengan yang yang tidak digali agak sulit untuk dibedakan.
"Sebaiknya aku segera memutuskan bagian tanah yang mana yang harus kugali, takut keburu ada orang yang datang kemari," pikirku di dalam hati.
Aku pun mengambil pisau lipat yang kupinjam dari Gatot tadi yang aku simpan di dalam saku celana pendek biru yang aku pakai. Kucongkel tanah di depanku dengan menggunakan benda kecil tetapi cukup tajam itu. Beberapa kali aku menghunjamkan pisau itu ke tanah, tetapi belum membuahkan hasil apa-apa karena kapasitas tanah yang tercongkel di setiap hunjaman sangatlah sedikit.
"Apa benar di sini posisi kresek hitam itu?" tanyaku pada diri sendiri.
"Kenapa kok belum ada tanda-tandanya, ya?" Aku mulai gelisah.
Beberapa menit kemudian, aku sudah berhasil menggali sedalam kurang lebih dua puluh senti meter, tapi belum menemukan apa-apa. Peluhku mulai membasahi kening karena sengatan terik matahari yang semakin panas.
"Duh, kok belum ada tanda-tanda juga, ya? Mana panas banget?" gerutuku dalam hati.
Keringat yang mengucur deras sangat menguras energi yang kusimpan, sehingga memunculkan benih-benih keputusasaan di dalam pikiranku. Saat aku sudah mulai putus asa mencari kantong kresek itu, tiba-tiba aku melihat ada benda hitam menyembul dari dalam tanah.
"Yes! Akhirnya ketemu juga kresek hitam ini! Tapi kok agak bau, ya?" pekikku dalam hati.
Aku semakin bersemangat menggali tanah tersebut meskipun sambil menutup hidungku dengan dengkulku sendiri karena tidak tahan dengan baunya, sehingga kresek hitam itu semakin kelihatan dan berhasil kutarik keluar.
"Loh, kok rapuh sekali kreseknya? Padahal baru tadi yang dikubur oleh kak Dino," pekikku di dalam hati.
Aku menarik kresek hitam itu namun karena saking rapuhnya dan karena kuatnya tarikanku, kresek hitam itupun robek dan sebagian isinya semburat ke luar.
"Astagfirullah! Benda apa ini? Bau sekali! ada ulat-ulatnya juga. Ueeeeeek," pekikku tak tahan.
Aku muntah di tempat itu saking tak tahan dengan baunya yang sangat basin dan juga bentuknya yang kenyal menjijikkan. Saat aku berusaha untuk memeriksa kembali benda apakah itu, tiba-tiba aku mendengar suara Lidya.
"Mau kemana, Pak?" teriak Lidya pada seseorang.
"Waduh, berarti ada orang yang sedang berjalan menuju halaman belakang. Aku harus segera memasukkan benda kenyal dan aneh ini ke dalam lubang ini lagi. Takutnya orang yang sedang bersama Lidya sekarang adalah pak Rengga. Dan ia bermaksud ke sini untuk memastikan apakah benda aneh yang dikubur oleh kak Dino sudah terkubur dengan aman," ujarku di dalam hati.
"Hati-Hati, ya?" suara keras Lidya lagi.
"Ya Tuhan. Berarti Lidya sudah gagal mengalihkan perhatian orang tersebut. Dan orang tersebut kali ini sedang berjalan menuju ke tempat ini. Kalau begitu, aku harus segera pergi dari tempat ini sebelum orang itu mengetahui keberadaanku di tempat ini," pikirku.
[Tap tep tap tep]
Suara langkah kaki seseorang terdengar semakin lama semakin keras menuju ke tempat ini.
"Aku harus bergerak dengan cepat. Tidak mungkin lagi bagiku untuk berlari ke arah timur. Jaraknya terlalu jauh, pasti aku akan langsung ketahuan kalau bersembunyi di sana. Suara kaki itu terlalu dekat dari tempat ini, dan itu menandakan bahwa aku sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk bersembunyi. Beberapa detik kemudian, pemilik suara langkah kaki itu pun telah sampai di tempat pembuangan sekolah. Aku sangat terkejut setelah mengetahui identitas pemilik suara langkah itu. Mataku menatap wajah orang itu dengan penuh rasa ketakutan.
Bersambung
Like dan komentar Kakak selalu saya hitungin, lo!