KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 34 : KI BARONG


Aku berusaha menebak apa yang akan dilakukan mereka berdua dengan tali tambang itu.


"Apakah mereka akan menghabisi nyawa kami bertiga dengan menggunakan tali tambang itu dan membuang jasad kami ke tengah kebun kopi? Tapi, bukankah Cindy dan Lidya akan bersaksi bahwa Pak Rengga dan Kak Dino-lah yang paling terakhir bersama kami? Atau jangan-jangan, setelah menghabisi kami bertiga, mereka berdua akan memburu kedua temanku itu juga?"


"Kita akan menyelamatkan kelima teman Kalian itu dengan menggunakan tali ini," ucap Pak Rengga kemudian membuyarkan pikiran burukku.


"Maksud Pak Rengga bagaimana?" tanyaku penasaran.


"Begini, sejak dulu kebun kopi ini memang terkenal banyak penghuni ghaibnya. Tapi mereka tidak pernah sampai membunuh warga. Paling mentok, mereka dikurung di dalam kebun kopi ini," lanjut Pak Rengga.


"Berarti mereka tetap akan berada di dalam, jika tidak ada yang menolongnya?" tanya Fajar.


"Oh, tidak. Besok pagi mereka sudah bisa menemukan jalan keluar. Karena penghuni kebun kopi ini hanya muncul sore sampai malam hari. Konon, dulu mereka terbunuh pada jam-jam tersebut," jawab Pak Rengga.


Kami bertiga mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Terus? bagaimana cara kita menyelamatkan teman-teman?" tanyaku semakin penasaran.


"Salah satu dari Kalian harus masuk ke dalam kebun kopi ini untuk menyelamatkan mereka," jawab Pak Rengga dengan suara berat.


"Apa? Kenapa kita tidak masuk secara bersama-sama saja, bukankah itu lebih aman dan mudah untuk kita lakukan?" protesku.


"Tidak, kehadiran kita di daerah kekuasaan mereka akan mudah terendus kalau dilakukan secara bersama-sama, karena bau tubuh kita akan tercium oleh mereka. Tapi kalau hanya satu orang yang masuk, maka itu akan sedikit menyulitkan mereka untuk mengendus kehadirannya. Ingat, pada malam hari kekuatan mereka berkali-kali lipat dari pada sore hari. Terlebih pada saat matahari baru terbenam seperti sekarang ini," terang Pak Rengga panjang lebar.


"Pak Rengga tahu dari mana cerita tentang daerah ini?" tanyaku penasaran.


Pak Rengga berbisik di telingaku.


"Aku mendapatkan cerita itu dari almarhum Mbah Iyem," ujarnya perlahan.


Bulu kudukku tiba-tiba merinding mendengar nama hantu kebaya ungu itu disebut. Terlebih, kuburannya tidak jauh dari tempat ini.


"Tali itu untuk apa, Pak?" tanya Fajar.


"Begini, anak yang masuk ke dalam kebun kopi akan dililit pinggangnya dengan menggunakan tali tambang ini. Ujungnya akan diikatkan ke pohon besar itu. Anak yang masuk ke dalam akan mencari kelima anak itu di dalam, jika sudah ketemu segera dipegangi dan memberi kode dengan menarik talinya, kita yang di luar akan menarik kuat-kuat tambangnya supaya semuanya bisa keluar, karena mustahil ketika sudah berada di dalam dapat keluar tanpa ada media yang menghubungkan anatara di dalam dan di luar kebun kopi.," terang Pak Rengga kembali.


Kami mendengarkan penjelasan Pak Rengga sambil melongo. Gatot tiba-tiba nyeletuk.


"Darimana Bapak tahu cara penyelamatan seperti itu?" tanyanya.


Pak Rengga menelan ludah sejenak, kemudian iapun berkata.


"Dulu teman saya pernah terjebak di dalam kebun kopi ini, dan saya yang menolongnya dengan cara seperti itu," ucapnya tanpa keraguan sedikitpun.


Kamipun dibuat bungkam oleh penjelasannya.


"Siapa yang akan masuk ke dalam kebun?" tanya Kak Dino.


Aku, Fajar, dan Gatotpun saling berpandangan, kemudian kami bertiga sama-sama mengacungkan tangan tanda siap berkorban untuk teman-teman yang lain.


"Kompak sekali Kalian, seandainya ada seseorang yang ingin mencelakai Kalian, pasti tidak akan mudah," ucap Pak Rengga yang menurutku agak di luar konteks pembicaraan.


Iapun melanjutkan perkataannya.


"Baiklah, aku akan memilih Imran untuk masuk ke dalam, sepertinya Kamu yang paling ahli untuk menyusup," ucap Pak Rengga sambil menyeringai.


"Apakah Pak Rengga ini tahu kalau selama ini aku sering memata-matai apa yang sedang ia lakukan?"


[Plok]


Fajar menjitak kepala Gatot karena kesal dengan guyonannya yang tidak lucu.


"Aduh, sakit Jar. Aku kan cuma bertanya," ucap Gatot sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit.


"Kalian ini ada-ada saja, maksud saya. Gatot dan Fajar terlihat lebih berotot jadi akan lebih berguna kalau bertugas di luar saja," ucap Pak Rengga sambil tersenyum melihat aksi kekonyolan kedua temanku.


"Oalah, gitu toh, Pak?" jawab Gatot lagi.


Pak Rengga segera mengikatkan ujung tali itu ke sebuah batang pohon yang agak besar yang berada di sebrang parit di depan lorong menuju kebun kopi. Setelah mengikatnya dengan kuat, iapun memanggilku.


"Sini, Im. Badan Kamu juga harus diikat," ujarnya.


Aku mendekati Pak Rengga di pinggir parit itu diikuti teman-teman yang berjalan di belakangku. Pak Rengga menghampiriku dan mengikat pinggangku dengan ujung tali tambang yang ia pegang.


Tidak cukup sampai di situ, Pak Rengga tiba-tiba memungut lumpur dari pinggiran parit dan digosokkan ke seluruh muka dan rambutku.


"Ah, apa yang sedang Bapak lakukan terhadapku?" protesku. Fajar dan Gatot juga menatap mata Pak Rengga dengan penuh tanda tanya.


"Ini bagian dari penyamaranmu, Im. Dengan begini. Arwah-arwah di dalam akan sulit mengendus keberadaanmu," jawabnya enteng.


Kamipun memahami apa yang sudah Pak Rengga lakukan. Malah sekarang Fajar dan Gatot ikut membantu melumuri lumpur ke seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


"Jangan ambil kesempatan Kamu, Tot" pekikku sambil mendengus karena lumpur itu ternyata agak-agak bau kotoran manusia.


"Ah, namanya juga lumpur parit, pasti di hulu sana banyak orang buang air besar ke parit,"


"Enggak kok, Im. Aku tidak mengambil kesempatan untuk mengerjaimu. Justru aku salut dengan pengorbanan dan keberanian Kamu," ujar Gatot.


"Ya sudah, sepertinya sudah cukup. Sekarang saatnya Kamu masuk ke dalam kebun kopi itu, kami akan berjaga di sini. Oh ya, kamu tunggu tidak ada angin berhembus di antara dedaunan kopi itu, karena angin itu menandakan banyaknya arwah yang sedang lewat," ujar Pak Rengga lagi.


"Baillah, Pak Rengga. Aku akan bersiaga di depan pintu lorong kebun kopi ini," jawabku seraya mengambil posisi berdiri di depan lorong sambil mengamati gerak daun kopi. Barusan kebun kopi itu melambai keras, tapi kemudian melemah ... melemah ... dan melemah ...


"Mungkin inilah saatku untuk masuk ke dalam kebun kopi, bismillahirrohmanirrohiiiiim"


Aku sudah bersiaga untuk melangkahkan kakiku masuk ke dalam kebun kopi. Namun, tiba-tiba kupingku terasa hangat, ternyata ada seseorang sedang mendekatkan mulutnya ke telingaku itu. Orang itu berkata,


"Im, hati-hati. Jika di dalam Kamu bertemu dengan sosok yang tinggi besar, sebaiknya Kamu segera melarikan diri," bisik Pak Rengga.


"Kenapa, Pak?" tanyaku sambil berbisik juga.


"Dia penguasa di daerah sini, namanya Ki Barong"


Bersambung


Biasakan ngelike dulu ya, Kak? Biar aku tambah semangat nulisnya.


Ayo main tebak-tebakan, kira-kira apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?


Mampukah Imran menyelamatkan teman-temannya? Atau semua itu hanya akal-akalan Pak Rengga?


Sementara vote tertinggi, Kak Mulyadi ya? Mohon Kakak-Kakak yang votenya tinggi nulis komentar di bawah ini.