KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 95 : SEBUAH FAKTA


Aku sampai di rumah dengan napas ngos-ngosan. Sebelum aku sampai di rumah, Parto menghampiriku sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Assalamualaikum, " ucap Parto.


"Waalaikumsalam. Eh, kamu, To?" jawabku.


"Kamu kok sampai ngos-ngosan dan gobyos begitu, Im?" tanya Parto.


"Iya, To. Aku habis dikejar-kejar hantu tadi," jawabku.


"Hantu apaa sampai ngejar-ngejar kamu seperti ini?" tanya Parto lagi.


"Hantu nenek-nenek, To" jawabku.


"Ha ha ha ... Apes benar kamu, Im? Dikejar hantu nenek-nenek bukannya hantu gadis," ujarnya dengan nada meledekku.


"Aish, sama saja, To. Yang namanya hantu, enggak gadis muda enggak nenek-nenek, sama-sama nyeremin," jawabku.


"Iya sih. Tapi gimana ceritanya hantu nenek-nenek itu kok bisa mengejarmu?" tanya Parto.


"Aku juga tidak tahu, To. Awalnya aku dan teman-temanku satu kali bertemu dengannya di perbatasan dusun Curah Wangi. Waktu itu hantu nenek itu membantu memberitahu kami, sehingga kami tidak sampai tersesat masuk ke hutan. Tapi entah kenapa keesokan harinya dia muncul-muncul lagi di hadapanku. Mana munculnya tiba-tiba plus nyeremin juga," ceritaku.


"Oooo begitu. Mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, Im." Ujar Parto.


"Menyampaikan apa, To. Kenal saja tidak," jawabku.


"Siapa tahu hantu nenek itu sudah lama bergentayangan di jalan, tetapi dia belum menemukan seseorang dengan energi yang tepat untuk menerima pesan darinya. Sampai akhirnya ia bertemu denganmu dan juga teman-temanmu tadi," urai Parto.


"Gitu tah, To?" tanyaku.


"Bisa jadi seperti itu. Sudah wes buruan masuk sana, ini aku titip sayuran hasil kebunku," ujar Parto.


"Wah, makasih banyak, ya? Sayur sawi ini mah idolaku banget. Dimasak campur mi bengkang pasti rasanya nikmat," jawabku.


"Mi curah maksudmu, kan?" tanya Parto.


"Iya. Orang-Orang sini biasa menyebutnya mi bengkang (mi telanjang), kan?" Aku berkata.


"He he he ... iya," jawab sahabatku itu.


Setelah berpamitan kepada Parto, aku pun masuk ke dalam rumah dan disambut oleh kedua orang tuaku.


"Cuci tangan dan kakimu dulu! Habis itu makan! Terus mandi dan sholat Asar!" perintah ibuku.


"Iya, Bu" jawabku.


Aku pun melaksanakan perintah ibuku. Aku mencuci muka, tangan, dan kakiku terlebih dahulu di kamar mandi. Setelah itu aku pun makan masakan ibuku yang super nikmat di dapur, lanjut mandi dan menunaikan sholat Asar di mesjid bareng Parto.


"Im, bilang terima kasih sama Parto, ya!" ujar ibuku.


"Iya, Bu" jawabku.


Aku pun berangkat ke mesjid. Parto sudah menungguku di depan rumahnya.


"Im, tadi aku bertemu Mbah Nur di sawah," ujar Parto sambil berjalan beriringan denganku.


"Oh ya? Beliau menyampaikan apa?" tanyaku.


"Katanya, nanti habis tujuh harinya mbah Arni. Kalau anak-anak sudah aktif mengaji kembali. Dia akan melatih santri yang besar-besar seperti kita untuk menjadi bilal sholat jumat," ujar Parto.


"Wuih, takut aku, To. Susah loh menjadi bilal itu. Itu bukan hanya perkara bacaannya saja. Tapi mental juga. Malu, takut salah baca. He he he," jawabku jujur.


"Awalnya aku berpikir sama kayak kamu gitu. Tapi, kalau bukan kita-kita yang maju menjadi bilal, siapa lagi? Soalnya, kemarin mbah Sam yang jadi bilalnya tiba-tiba kehabisan suara. Maklum, beliau kan sudah uzur," jawab Parto.


"Kalau begitu, benar sudah rencana mbah Nur. Kira-Kira siapa yang akan terpilih nantinya, ya?" Aku bertanya.


"Siapapun yang terpilih nantinya harus siap bertugas menjadi bilal," jawab Parto.


"Kalau seperti aku kayaknya enggak bisa, To. Aku kan selalu sholat Jumat di mesjid sekolah," ujarku.


"Iya, sih" jawabku.


"Ya, berarti kamu masih bisa terpilih," ujar Parto.


Tepat saat iqomah dilantunkan oleh mbah Sam dengan suara terputus-putus karena mengatur napas, kami berdua pun sampai di mesjid jntuk menjalankan salat Asar secara berjamaah.


Yang menjadi imam salat Asar sore itu adalah mbah Nur. Sehabis berzikir dan berdoa bersama, mbah Nur mengajak kami berdua mengobrol. Ta pembicaraannya sama dengan yang disampaikan Parto tadi. Tapi ada satu hal lagi yang beliau sampaikan yaitu terkait kebiasaan libur mengaji kalau ada penduduk yang meninggal. Beliau ingin merubah kebiasaan itu karena akan mengganggu jadwal anak-anak belajar mengaji. Terlebih kalau yang meninggal beruntun, bisa-bisa anak-anak libur selama satu bulan berturut-turut.


"Gimana kalau ada orang meninggal, jadwal belajar mengajinya dimajukan setelah sholat Asar?" tanya mbah Nur.


"Wah, ide yang bagus itu, Mbah. Jadi anak-anak tidak perlu libur lagi kalau ada orang meninggal," jawabku.


"Oke, setelah tujuh harinya Arni. Saya akan mengumumkan hal tersebut kepada anak-anak," ucap mbah Nur.


"Inggih, Mbah" jawab kami berdua.


"Gimana sekolahmu, Im? Lancar?" tanya mbah Nur padaku.


"Inggih, Mbah. Alhamdulillah lancar. Mohon maaf kapan hari saya tidak masuk selama seminggu, Mbah. Saya pulangnya sampai malam waktu awal-awal masuk," jawabku.


"Iya, saya sudah mendengar semuanya dari Parto tadi. Ingatlah, jangan sampai kesibukan kita mencari ilmu dunia sampai melupakan kesibukan kita mencari ilmu untuk bekal akhirat, meskipun di dalam mata pelajaran umum juga banyak diajarkan tentang ilmu akhirat juga," ujar mbah Nur.


"Inggih, Mbah" jawabku.


"Ya, sudah. Ayo, kita pulang sekarang! Pasti orang tua kalian ingin bercengkrama dengan kalian berdua, setelah seharian tidak berjumpa," ujar mbah Nur.


"Inggih, Mbah" jawab kami berdua.


Kami pun pulang dengan berjalan mengekor di belakang mbah Nur. Sudah menjadi adat dan kebiasaan di kampungku, memberikan kesempatan kepada orang yang lebih tua untuk berjalan di depan. Kami pun berpisah di perempatan di timurnya rumah pak Suwarno. Mbah Nur ke utara menuju rumahnya, sedangkan aku dan Parto lurus ke arah timur.


Sesampai di rumah, aku melihat bapak dan ibuku sedang duduk berdua di ruang tamu.


"Assalamualaikum," Aku mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam," Mereka berdua menjawab salam.


"Duduk, Im!" ucap bapak kepadaku dengan tatapan mata serius.


Aku pun menuruti perintah bapak untuk duduk di salah satu kursi di depan mereka.


"Bu, Tolong tutup pintunya!" ucap bapak kepada ibuku.


Aku bermaksud berdiri untuk menggantikan ibu menutup pintu.


"Kamu duduk saja, biar ibumu yang menutup pintu itu!" ujar bapak.


Akhirnya aku membiarkan ibuku menutup pintu depan sendiri. Setelah itu ibu kembali duduk di sebelah bapak. Mereka berdua menatap mataku lekat, seakan-akan mereka akan menyampaikan sesuatu yang teramat berat kepadaku. Di dalam hati aku berharap semoga apa yang akan mereka sampaikan ini ada kaitannya dengan investigasi mereka di rumah pengintip itu. Apapun hasil penyelidikan mereka semoga saja dapat mengungkap kasus pembunuhan Tari, sahabat bapak dan ibuku.


Bersambung


Tinggalkan like, komentar, dan vote kalian!


Baca juga karyaku yang lain :



Maranti


Tak Sengaja Dinikahi Playboy Kaya


Cinta Kedua


Aku Tak Mau Menjadi Pelakor