KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Latihan Khusus Dari Ki Ageng Selo


Rama sedang beristirahat di kamar tidurnya setelah melakukan perjalanan waktunya ke masa penahanan Dewi Ratih. Dia mencoba memejamkan mata dan melepaskan segala kelelahan yang telah dialaminya selama penjelajahan waktu itu. Rama pun akhirnya bisa terlelap tidur hingga menjelang Subuh. Namun tiba-tiba, ia merasakan adanya kegaduhan di dalam kamarnya. Kedengarannya seperti ada yang  terbentur - bentur dengan plafon kamarnya sehingga menimbulkan bunyi gaduh.


Rama pun berusaha sedikit membuka matanya yang masih ngantuk. Samar -samar dia melihat pusaka Kujang Pamenang yang tadinya berada di dalam sarung di ikat pinggangnya, kini bergerak terbang tak tentu arah di langit-langit kamar hingga terbentur plafon kamar dan menimbulkan bunyi gaduh. Rama melirik ke sebelahnya, ternyata Ratu Sari sudah tidak berada di samping ranjangnya dan tidak kelihatan di dalam kamar.


Rama segera bangkit dari tempat tidurnya dan mencoba mengejar Kujang Pamenang yang terbang tak terkendali. "Kujang Pamenang, berhenti!" teriak Rama sambil mengejar pusaka tersebut. Namun, Kujang Pamenang semakin cepat dan sulit untuk dikejar.


Setelah beberapa saat mengejar, Kujang Pamenang akhirnya berhenti di tengah ruangan kamar dan berputar-putar di tempat. Rama terkejut melihat pusaka tersebut bergerak dengan sendirinya dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


"Tunggu, apa maksud gerakanmu, Kujang Pamenang?" tanya Rama dengan bingung. Kujang Pamenang tidak menjawab, namun cahaya yang terpancar dari pusaka itu semakin terang. Rama merasa ada sebuah pesan atau tanda yang ingin disampaikan oleh pusaka tersebut.


Kujang Pamenang terus berputar-putar di udara dan semakin terang cahayanya. Rama menyadari bahwa pusaka tersebut sedang memberikan petunjuk kepadanya. "Baiklah, aku akan mengikuti petunjukmu, Kujang Pamenang," kata Rama sambil mengikuti gerakan Kujang Pamenang yang berputar-putar di udara.


Akhirnya, setelah berputar-putar beberapa kali, Kujang Pamenang berhenti di depan wajah Rama dan bergerak mendekati Rama sambil mengeluarkan sinar yang sangat terang. Rama merasa terpana dan kagum melihat cahaya tersebut. Dia merasa bahwa ada sebuah pesan penting yang ingin disampaikan oleh Kujang Pamenang. Kemudian Rama menggenggam Kujang tersebut, dan tiba - tiba hal aneh terjadi di depannya.


Rama kaget ketika tiba-tiba portal waktu muncul kembali di depannya, padahal dia tidak melafalkan Ajian Pralambangun dan tidak merencanakan pergi ke mana-mana. Tapi Rama merasa bahwa ini ada kaitannya dengan petunjuk dari Pusaka Kujang Pamenang supaya Rama memasuki portal waktu tersebut.


Rama mengambil langkah maju dan memasuki portal waktu itu. Dia merasa sedikit gelisah, karena ia tidak tahu kemana ia akan dibawa oleh portal waktu tersebut. Seketika, Rama terlempar ke dalam ruang yang gelap. Dia meraba-raba sekelilingnya dan merasakan bahwa ia berada di dalam dimensi waktu yang belum ditentukan tujuannya. Dia melihat-lihat sekelilingnya dan mencoba mencari tahu di mana ia berada.


Rama merasakan tubuhnya terguncang-guncang hebat saat berada portal waktu itu. Dia merasa tubuhnya sedang ditarik kuat ke kiri dan ke kanan dan terdorong maju ke depan secepat-cepatnya menuju suatu tempat yang terang. Rama mencoba menahan dirinya agar tidak kehilangan keseimbangan dan tetap tenang dalam situasi yang tidak pasti ini.


Seketika kemudian, Rama merasa terlempar dari lorong waktu tersebut, dan tiba di sebuah tempat yang sangat berbeda dari dunianya. Dia merasa bingung dan terkejut melihat pemandangan di sekelilingnya. Di depannya terdapat sebuah bangunan besar dan megah seperti istana, dengan atap yang melengkung dan dihiasi ornamen-ornamen yang indah. Bangunan itu terbuat dari batu-batu besar yang diukir dengan sangat rapi dan detail. Di sekitarnya, terdapat banyak tumbuhan dan pepohonan hijau yang menyejukkan.


Rama merasa takjub melihat pemandangan di sekelilingnya. Dia merasakan udara yang segar dan berbau harum, dan terdengar suara-suara burung bernyanyi di kejauhan. Namun, Rama juga merasa cemas karena dia tidak tahu di mana dia berada dan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Di mana aku sekarang? Apa yang terjadi?" gumam Rama dalam hati.


Namun, sebelum Rama sempat memikirkan lebih jauh, terdengar suara halus yang memanggil namanya dari kejauhan, "Berjalan ke sinilah Rama, ikuti asal suara dan hembusan angin ini." Suara itu terdengar akrab dan lembut, sehingga membuat hati Rama tenang. Rama pun segera mengikuti suara itu untuk mencari tahu siapa yang memanggil namanya.


Rama kemudian berjalan ke suatu tempat lapang yang dia merasa asing dengan tempat yang dia datangi. Dia melihat sekelompok pemuda sedang berlatih kanuragan. Mereka dibimbing oleh seorang guru yang agak tua, namun masih kelihatan sangat kuat dan berwibawa. Rama juga melihat dari kejauhan tampak Raja Piningit namun kelihatan lebih muda.


Rama mengamati dengan seksama latihan kanuragan tersebut. Dia terkesan dengan keahlian dan kekuatan para murid. Rama merasa bahwa dia belum pernah melihat teknik-teknik yang mereka gunakan sebelumnya. Rama menduga bahwa  dia sekarang berada di istana Kerajaan Jin Aliran Putih saat Raja Piningit masih muda.


Saat sedang memperhatikan latihan, Rama tidak sadar bahwa Guru mereka, yang masih kelihatan kuat dan berwibawa, berjalan mendekati Rama dan mulai memanggil Rama.


"Assalamu'alaikum Rama, selamat datang di masa kami. Perkenalkan saya Ki Ageng Selo, dan benar dugaanmu bahwa kamu sekarang berada di istana kerajaan Jin aliran putih; di masa lalu, di saat Raja Piningit masih muda dan Ratu Sari belum terlahir," sapa guru tersebut dengan ramah menjawab dugaan Rama yang seharusnya masih dalam benak Rama, "Mari ikut ke ruangan saya sejenak supaya kita bisa berbincang dengan leluasa. "


Guru tersebut, Ki Ageng Selo yang terkenal itu, kemudian mengajak Rama ke ruangannya sembari meminta murid-muridnya tetap berlatih di pimpin oleh Raja Piningit. Rama pun mengikuti langkah Ki Ageng Selo. Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam suatu ruangan yang agak luas dan terdapat meja kursi di dalamnya.


Kemudian Ki Ageng Selo dan Rama pun duduk santai berdampingan di ruangan tertutup itu. Di depan mereka sudah tersuguhkan minuman dan sajian bermacam-macam. Sepertinya kedatangan Rama sudah dinantikan oleh Ki Ageng Selo. Tak lama kemudian, Rama pun berinisiatif memulai pembicaraan, "Maaf Ki Ageng Selo,  sepertinya kedatangan saya ini sudah dipersiapkan, apakah benar Ki Ageng? "


Ki Ageng Selo: (tersenyum tipis) "Benar Rama, semuanya sudah dipersiapkan, dan menjadi takdir Allah sehingga kita bisa bertemu sekarang. Kebetulan semalam saya mendapatkan penglihatan bahwasanya Pusaka Kujang Pamenang telah digunakan untuk membasmi kekuatan jahat di Pulau Bali. Kekuatan itu begitu dahsyat, sehingga saya penasaran siapa pemilik sekaligus pengguna dari Pusaka Kujang Pamenang. Oleh karena itulah saya coba panggil Pusaka Kujang Pamenang untuk berkenalan dengan pemiliknya yang sekarang. "


Rama pun akhirnya lega mendengar penjelasan Ki Ageng Selo, dan tentunya itu menjawab kelakuan aneh Pusaka Kujang Pamenang di kamar Rama sebelumnya. Kemudian Rama menceritakan semuanya kepada Ki Ageng Selo perihal dirinya yang memiliki ajian dan mustika Kalimasada, Ajian Tyaga, Ajian Pralambangun dan Pusaka Kujang Pamenang hingga pertarungan kemarin dalam rangka menyelamatkan Dewi Ratih. Rama menceritakan semuanya dari awal bagaimana sejarahnya di mendapatkan segala ajian dan Pusaka tersebut. Ki Ageng Selo pun mendengarkan dengan seksama cerita Rama. Ki Ageng Selo merasa kagum terhadap Rama yang akhirnya bisa menggunakan ajian dan Pusaka yang disebutkan tadi.


Ki Ageng Selo: " Tidak Rama, kamu masih berjalan dalam tujuan yang benar. Aku akan berikan ijin dan restu ku kepadamu dalam menggunakan ajian, mustika dan pusaka tersebut. Untuk menghadapi Ki Sabrang, yakinlah bahwa tidak ada kekuatan dan daya yang lebih besar daripada milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ajian, mustika dan Pusaka yang kamu miliki sudah cukup untuk mengalahkan Ki Sabrang. Yang paling penting kamu gabungkan kekuatan iman Kalimasada dan kekuatan ikhlas Tyaga dengan kekuatan syukur dari Pusaka Kujang Pamenang. "


Rama: " Kekuatan syukur, Ki Ageng? Apakah itu? "


Ki Ageng Selo: "Itu adalah kekuatan di mana Rama harus merasakan keberterima-kasihannya yang benar-benar tulus kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala saat menggunakan Pusaka Kujang Pamenang. Kekuatan syukur tersebut akan menambah daya penghancur dari aura mustika Kalimasada melalui Pusaka Kujang Pamenang"


Rama: "Bagaimana caranya Ki Ageng menggunakan kekuatan syukur tersebut? "


Ki Ageng Selo: "Jadi saat Rama sudah merasakan aura mustika Kalimasada akan keluar dari ragamu, Rama kemudian cukup genggam erat Pusaka Kujang Pamenang sambil membayangkan peristiwa yang membahagiakan dari hidup Rama. Sehingga aura mustika yang tersalurkan lewat Pusaka Kujang Pamenang tersebut akan menerjang laksana singa lapar ke musuh yang dituju, dan akan memberikan efek hancur atau kematian yang mengerikan pada musuhnya."


Rama : "Oh begitu Ki Ageng, apakah saya boleh mencoba berlatih sekarang menggunakan kekuatan syukur itu di depan Ki Ageng Selo? Mohon bimbingannya Ki Ageng. "


Ki Ageng Selo: "Silakan Rama, arahkan kekuatan Ajian dan Pusaka Kujang Pamenang ke tanah saja ya. Kamu akan berhasil bila bisa membuat istana ini berguncang hebat selama 10 detik dan portal waktu terbuka tanpa Rama melafalkan ajian Pralambangun. "


Rama : " Baiklah, Ki Ageng. Akan saya coba."


Kemudian Rama berdiri dan pasang kuda-kuda, lalu menarik Pusaka Kujang Pamenang dari sarungnya. Rama kemudian memejamkan matanya melafalkan wirid ajian Kalimasada disambung wirid ajian Tyaga, hingga sampai terasa kekuatan aura dari mustika Kalimasada muncul dari dalam raganya. Pusaka Kujang Pamenang masih digenggaman Rama, hingga setelah merasakan kekuatan aura mustika Kalimasada mencapai puncak, Rama menggenggam erat Pusaka Kujang Pamenang kemudian membayangkan saat bertemu Pocong Sutiyoso terakhir kalinya setelah ditolongnya ketemu penabraknya. Kebahagiaan telah muncul di hati Rama, lalu Rama menghujamkan Pusaka Kujang Pamenang ke tanah, sehingga timbul guncangan hebat selama 5 detik tapi tidak sampai membuka portal waktu. Rama pun tampak kelelahan setelahnya.


Ki Ageng Selo: " Ayo Rama, cari peristiwa lainnya yang membuatmu paling bahagia dan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. "


Rama: " Baik Ki Ageng. "


Rama berdiri dan pasang kuda-kuda kembali, kemudian memejamkan matanya untuk memulai lagi dari awal dengan melafalkan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga, hingga sampai terasa lagi kekuatan aura dari mustika Kalimasada muncul dari dalam raganya. Pusaka Kujang Pamenang yang masih digenggaman Rama, hingga setelah merasakan kekuatan aura mustika Kalimasada mencapai puncak, Rama lalu menggenggam erat Pusaka Kujang Pamenang. Kemudian membayangkan saat bertemu Genderuwo menjadi temannya kemudian bertarung bersama mengalahkan vampire dan leyak Bali di rumahnya. Kebahagiaan itu muncul di hati Rama, lalu Rama menghujamkan Pusaka Kujang Pamenang ke tanah, sehingga timbul guncangan hebat selama 10 detik. Namun guncangan itu tidak juga sampai membuka portal waktu.


Rama pun semakin lelah dan bingung dengan keadaan ini. Sementara itu di luar, Raja Piningit yang berlatih dengan yang lainnya menjadi kalang kabur berhamburan keluar istana akibat adanya beberapa guncangan yang dihasilkan oleh latihan Rama.


Ki Ageng Selo: " Sekali lagi Rama, cari peristiwa lainnya yang membuatmu paling bahagia dan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kamu pasti bisa..!"


Rama: " Siap Ki Ageng. "(menjadi bersemangat)


Rama berdiri lagi dan kemudian pasang kuda-kuda, lalu memejamkan matanya untuk melafalkan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga, hingga sampai terasa kekuatan aura dari mustika Kalimasada muncul dari dalam raganya. Pusaka Kujang Pamenang  tetap digenggam Rama, hingga setelah merasakan kekuatan aura mustika Kalimasada mencapai puncak, Rama menggenggam erat Pusaka Kujang Pamenang kemudian membayangkan saat Rama bersantai mengelus kehamilan Ratu Sari, kemudian Rama membayangkan wajah Dewi Ratih saat diselamatkannya dan menjadi moksa ke langit, dan diakhiri bayangan wajah Ratu Sari yang gembira saat bisa melihat foto dan video Ibunya ketika diperlihatkan Rama. Kebahagiaan terabut sangatlah luar biasa bagi Rama, sehingga tidak terasa menyebabkan aura mustika Kalimasada membentuk aura singa yang siap berlari dan menerjang musuh sepanjang Pusaka Kujang Pamenang. Akhirnya Rama pun menghujamkan Pusaka Kujang Pamenang ke tanah, sehingga timbul guncangan hebat selama 10 detik, dan membuka portal waktu di depan Rama serta Ki Ageng Selo. Keringat deras pun bercucuran di sekujur tubuh Rama.


Ki Ageng Selo : " Selamat Rama, akhirnya kamu berhasil. Sekarang masuklah kamu ke portal waktu tersebut, pulanglah temui istrimu Ratu Sari. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu memberimu kemudahan dan kebahagiaan. "


Rama : "Aamiin, Ki Ageng. Terima kasih atas semuanya. Mohon restu dan doa nya dari Ki Ageng Selo. "


Rama kemudian menyalami tangan Ki Ageng Selo dan mencium tangannya seperti mencium tangan orang tuanya. Lalu Rama kemudian masuk ke dalam portal waktu dan akhirnya portal waktu tersebut menutup diri dan lenyap dari hadapan Ki Ageng Selo. Kini tinggallah Ki Ageng Selo yang berdiri sendirian sambil tersenyum di antara porak-porandanya istana Kerajaan Jin Aliran Putih akibat latihan Rama. Raja Piningit beserta pasukannya pun kemudian berama-ramai mendekati Ki Ageng Selo.