KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 27 : NEGERI DI BALIK KUBURAN


Kusingkirkan dahulu pikiran buruk tentang arwah kebun kopi. Aku ingin berkonsentrasi pada jalur yang sedang kami lewati sekarang. Aku tidak mau terlalu terfokus pada hal-hal ghaib yang diceritakan kakak kelas. Nyatanya, bahaya yang lebih besar justeru berasal dari hal ghaib yang tidak disinggung sama sekali oleh mereka.


"AWESOME!!!!!!!!" teriak Fajar sambil merentangkan kedua tangannya melebar ke samping.


"HOW BEAUTIFUL IT IS!!!" Lidya ikut berteriak dan melompat-lompat kegirangan.


"WOWWWWW .....ISTiMEWA" teriak Gatot sambil mengepalkan tinjunya dan menghantamkan tinjunya ke arah langit.


"Subhanallah ..." Kata itulah yang tibatiba meluncur dari mulutku, tanpa bisa aku kendalikan.


Anak-anak tertawa girang sambil menatap teman di sebelahnya, seolah tidak mau merasa bahagia sendiri. Teman di sebelahnya pun sama juga ingin berbagi kebahagiaan buat mereka.


Kami berbahagia bukan karena mendapatkan emas permata, tetapi kami berbahagia karena bentangan pemandangan alam yang terhidang di hadapan kami. Keindahan alam yang tidak biasa. Aku juga tinggal di pedesaan, dengan bentangan sawah di sekitarnya. Begitu pula teman-temanku, aku yakin mereka juga sebagian besar tinggal di pedesaan. Akan tetapi untuk kali ini kita sepakat bahwa pemandangan yang ada di hadapan kita ini benar-benar luar biasa.


Hamparan sawah dengan beragam warna, mulai dari hijau, kuning, agak kecoklatan tertata apik dari tempat kita berdiri, hingga ufuk sebelah barat. Sinar matahari sore nan hangat memberikan efek bias yang luar biasa pada tanaman padi yang kita lihat.


Langit berwarna biru dengan beberapa gumpalan awan yang tersebar secara acak, menambah keelokan pemandangan yang kami lihat. Di sebelah kiri kami terdapat parit kecil yang berkelok-kelok indah dengan tanaman bunga kertas di sepanjang bantarannya. Ternyata masyarakat di sini benar-benar mengikuti anjuran dinas pertanian, menanam bunga di pinggiran sawah untuk membantu menekan hama. Dan deretan bunga beraneka warna itupun memanjakan mata kami yang melihatnya.


"Inilah negeri di balik kuburan, Teman-Teman!" teriak Fajar sambil membalikkan badannya menghadap ke arah kami.


"Iya, Jar. Aku betah berada di sini," jawab Cindy.


"Kayak nggak mau pulang, Jar" teriak Lidya.


"Setuju banget," teriak satu anak yang lain.


"Lihat di depan kita! Gunung itu tampak tinggi menjulang, seolah-olah sangat dekat dengan tempat ini." Teriak Fajar kembali.


Apa yang dikatakan teman-temanku barusan memang tidak berlebihan. Entah ini efek cahaya atau apa, gunung itu di tempat ini terlihat sangat dekat sekali. Padahal secara geografis, tempat ini dan sekolah kami tidaklah jauh. Dari sekolah, gunung ini tidak terlihat dekat. Benar-benar tempat yang sangat istimewa.


Tidak hanya itu, keindahan tempat ini juga disempurnakan oleh pemandangan di sebelah kanan kami. Pohon kelapa tumbuh berderet dari ujung satu ke ujung yang lain, di bawahnya ada tanaman ketela dan cabe yang sudah siap untuk dipanen.


"Hm ... Parto pasti suka sekali kalau diajak ke tempat ini."


"Jar, di depan sepertinya banyak orang ya?" teriakku.


Teman-teman secara bersamaan melihat lurus ke arah depan, setelah sebelumnya sibuk menikmati pemandangan yang ada.


"Wah, benar, Im. Kayaknya mereka sedang sibuk memanen padi?" kata Fajar.


"Ayo buruan ke sana, aku penasaran ingin bertanya-tanya rahasia keindahan tempat ini," celetuk Gatot sambil menyalip anak-anak yang berada di depannya.


Gatot sudah bersiap menyalip Fajar, yang berjalan paling depan. Namun, Fajar tiba-tiba mencengkram lengan kanan Gatot.


"Jangan gegabah, Tot! Kita melangkah bareng-bareng," pekik Fajar sambil menatap lekat Gatot.


Bersambung


Jangan lupa baca novel hororku yang satunya. Judulnya MARANTI, mengisahkan seseorang yang bisa melihat arwah setelah makan makanan orang mati (selamatan).


Penasaran?


Silakan Cus saja langsung, Kak.