
Beberapa waktu kemudian, ibu mengutarakan sesuatu, "Waktu itu Tari menyuruh ibu bertransaksi jual beli dengan Yuk Kepak, sedangkan ia sendiri tetap berada di sepeda."
"Apa yang ia lakukan di sepeda, Bu?" tanyaku.
"Nah, ibu kurang memperhatikan hal itu. Ibu hanya fokus bertransaksi dengan Yuk Kepak. Kalau tidak salah ingat sih, kayaknya Tari hanya mengamati lingkungan sekitar sambil menungguku selesai bertransaksi," jawab ibuku.
"Posisi rumah tukang intip itu di mananya toko Yuk Kepak, Pak?" tanyaku kepada bapak.
"Rumah orang itu tepat di selatannya toko Yuk Kepak. Cuma, kalau tokonya Yuk Kepak kan agak maju. Kalau rumah orang itu agak menjorok ke dalam," jawab bapak.
"Berarti kalau Tari tetap berada di sepeda, otomatis itu adalah tempat paling strategis untuk mengintai rumah tukang intip itu, ya?" tanyaku.
"Pastinya begitu," jawab bapak.
"Berarti, penyelidikan yang diceritakan oleh bu Mega itu maksudnya adalah penyelidikan terhadap rumah tukang intip itu, ya?" pekikku.
"Bisa jadi begitu," jawab bapak.
"Berarti, ia sudah beberapa kali mengintai rumah itu. Nekat sekali anak itu!" pekik ibu.
"Kalau hanya mengamati rumah orang itu dari luar, informasi apa yang bisa Tari peroleh, kok sampai berani menyimpulkan sedang ada kasus besar di sekolah?" ujar bapak.
"Nah, itu yang sedikit membingungkan. Mungkin kasus yang dimaksud Tari masih ada hubungannya dengan perbuatan tidak senonoh orang itu?" ujarku dengan kebingungan.
"Menurut bapak tidak begitu. Jujur saja, tahun segitu perbuatan mengintip orang di kamar mandi bukanlah sebuah kasus yang besar. Kalau ada orang berbuat kayak gitu biasanya kalau tidak dilempari batu, ya diteriaki. Biasanya mereka kabur karena malu sendiri kalau dibegitukan," ujar bapak.
"O, begitu ya, Pak? Kalau sekarang ada orang kayak gitu, bisa dilaporkan, kan?" tanyaku.
"Ya, iyalah. Orang sekarang mana kapok kalau cuma dilempari batu atau diteriaki? Mereka baru kapok kalau diserahkan kepada polisi," jawab bapak.
"Berarti, benar ya, Pak? Selama penyelidikan yang dilakukan oleh Tari, ia menemukan kejahatan lain yang lebih besar? Dan pelaku kejahatan itu menyadari bahwa Tari mengetahui kejahatan mereka, sehingga nyawa Tari harus dilenyapkan supaya kejahatan mereka tidak terungkap," ujarku.
"Ada kemungkinan seperti itu. Namun, kita tidak boleh memutuskan sesuatu tanpa adanya alat bukti dan saksi yang kuat," jawab bapak.
"Terus, kita mesti gimana Pak? Saya dan teman-teman sudah merencanakan sesuatu untuk mengungkap kasus ini," ujarku.
"Kalian jangan gegabah! Ini bukan untuk main-main. Salah melangkah nyawa kalian bisa melayang!" teriak bapak dengan emosi.
"Terus, apa yang harus kita lakukan? Arwah Tari selalu menghantui kami, Pak. Pasti ia sangat menginginkan semua ini terungkap sejelas-jelasnya!" jawabku.
"Iya, bapak tahu hal itu, tapi kita harus mempersiapkannya dengan matang, supaya resiko terburuknya tidak terjadi," ujar bapak.
"Apakah bapak ada rencana yang bagus?" tanyaku.
"Besok bapak dan ibu akan ke toko Yuk Kepak untuk mengintai rumah itu, kalau perlu kami akan masuk ke rumah itu" ujar bapak dengan nada datar.
"Apa?" Aku keheranan.
"Kenapa, Im, takut ya? Enggak usah takut! Percayakan pada kami berdua! Doakan saja semoga kami berdua bisa mendapatkan alat bukti yang kuat!" ucap bapak dengan tegas.
"Ingat, kamu dan teman-temanmu jangan sampai gegabah melangkah. Di sekolah, kalian harus tetap berhati-hati karena bisa jadi salah satu pelaku juga ada di sekolah," ucap bapak.
"Iya, Pak!" jawabku.
"Ya, sudah. Ini sudah malam, sebaiknya kita segera tidur saja supaya besok tidak kesiangan," ujar bapak.
Kami pun mengikuti ucapan bapak untuk segera menuju pembaringan. Sebelum menuju kamar, seperti biasa, aku mengunci pintu dan menutup tirai jendela ruang tamu. Entah mengapa, ketika akan menutup pintu dan menutup tirai jendela, aku seperti merasa ada seseorang sedang berdiri di depan pintu, tapi aku tidak berani membukanya karena sudah malam. Setelah menutup tirai jendela, aku pun segera masuk ke kamarku dan mematikan lampu kamar. Bulu kudukku tiba-tiba merinding saat itu, dan aku pun bernostalgia dengan masa SD-ku dulu yaitu aku tidur di kolong ranjang beralaskan karpet tipis. Sementara selimut tebal aku gunakan untuk menutupi tubuhku dari ujung kaki sampai ke bawah hidung. Mataku melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada siapapun di kamarku. Tidak kurang dari tiga puluh menit aku memandangi sekitar dengan perasaan was-was. Begitu aku yakin aman, aku pun mencoba memejamkan mataku yang sudah tinggal beberapa watt saja. Mulutku bergumam,
[Na na .... Na na .... Na na]
*
Aku berjalan menelusuri koridor ruangan kelas sambil berjingkat-jingkat, sendirian. Tidak ada satu lampupun yang dinyalakan, sehingga aku harus berjalan dengan sedikit meraba. Suara hewan-hewan malam sesekali bersahutan, menambah nuansa keseraman di tempat tersebut. Di ujung lorong terlihat sebuah ruangan laboratorium yang lampunya terlihat masih menyala. Mungkin Pak Mat sedang berada di dalam sana, membersihkan sisa-sisa aktivitas siang sampai sore hari tadi.
Aku harus tetap berhati-hati dan menghindari bertemu dengan siapapun. Karena di antara penghuni sekolah ini atau warga kampung di sekitar sini, bisa jadi mereka adalah pelakunya. Jika pelakunya sampai tahu, ada yang sedang berusaha menyelidikinya, maka ia bisa saja nekat untuk mencelakaiku. Dan Pak Mat adalah salah satu penghuni sekolah yang patut untuk dicurigai.
[Tap Tep Tap Tep]
Semakin kupelankan langkah kaki mendekati ruangan laboratorium IPA. Letak Lab. IPA ini tepat di sudut lorong, sehingga siapapun anak kelas satu yang akan menuju gerbang sekolah harus melalui koridornya. Aneh, pintunya seperti tertutup rapat, tetapi lampunya menyala terang benderang. Di ruang utama, tempat biasanya anak-anak melaksanakan praktikum, tidak terlihat seorangpun. Entahlah , kalau di ruangan kecil tempat guru mengoreksi laporan praktikum siswa. Ah sudahlah, yang penting aku harus segera keluar dari tempat ini. Ibu dan bapak pasti sedang kebingungan di rumah, karena aku belum pulang ke rumah sampai selarut ini.
Sekelebat bayangan tiba-tiba melintas di depanku secara tiba-tiba. Namun, siapa yang bisa bergerak secepat itu? Atau jangan-jangan ...
Kusingkirkan kecurigaan-kecurigaan negatif yang tiba-tiba muncul dari dalam pikiranku. Namun, semakin aku berusaha menghilangkan pikiran-pikiran itu, semakin kuat bayangan kegelapan itu merasuki alam pikiranku.
"Hasaaaaaan ... " suara seorang anak perempuan tiba-tiba terdengar memanggil nama bapak. Aku menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di belakangku. Tidak mungkin juga ada anak perempuan malam-malam keluyuran di sini. Tetapi panggilan yang seolah tertuju kepadaku itu kenapa tidak menyebut namaku, kenapa justeru menyebut nama bapak? Oh Tuhan, semakin gila aku memikirkan ini semuanya.
Aku tetap melangkah secara perlahan-lahan. Ketakutanku kini bertambah, tidak hanya takut bertemu dengan pelaku itu dan juga sekarang ngeri dengan suara anak perempuan itu. Entah mengapa, sambil melangkah, aku merasa anak perempuan itu sedang berada di belakangku, seolah berharap aku tidak pergi meninggalkan tempat ini.
"Hasaaaaan ..." suara anak perempuan itu kembali terdengar dari arah belakangku. Kali ini lebih jelas dan lebih terdengar menyayat hati. Tubuhku sampai bergetar, seolah-olah frekuensinya beresonansi dengan kengerian yang sedang kurasakan. Kembali aku menoleh secara perlahan. Tidak ada siapa-siapa, tetapi angin tiba-tiba bertiup dengan kencang membuat daun-daun kering berjatuhan dari ranting-ranting pohon yang berdiri kokoh di taman seberang Lab. IPA.
Melihat hal tidak lumrah itu, akupun mempercepat langkah menuju gerbang sekolah yang sudah tidak jauh lagi dari posisiku berdiri. Sialnya, gerbang itu ternyata digembok. Dan sialnya lagi, dari arah belakangku, tepatnya dari celah-celah antar pohon di seberang Lab. IPA, tiba-tiba muncul sesosok bayangan hitam sedang membawa sebilah pisau berjalan dengan sedikit berlari ke arahku.
"Tidaaaak!!!!!" pekikku dalam hati
Aku kebingungan, aku harus segera berlari dan keluar dari tempat ini, tetapi lewat mana? pintu gerbang di hadapanku nyata-nyata dikunci dengan gembok sebesar kepalan tanganku. Dalam hitungan detik, aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari celah, tetapi tidak juga kutemukan. Sementara bayangan hitam itu semakin mendekat, akupun tidak punya pilihan lain lagi, aku harus memanjat gerbang yang cukup tinggi itu. Aku melompat-lompat untuk menggapai besi yang dipasang menyamping. Gerbang itu menderit ketika aku berhasil menggapainya, aku memanjat ke atas hingga mencapai ujungnya yang dipenuhi besi-besi yang meruncing tajam. Bayangan hitam itu sudah berada di gerbang, tepat di bawahku.
"Oh tidak ... Ia sedang berusaha menggapaiku. Aku harus segera melompat ke luar." pekikku kembali.
Braaaaak
Aku melompat keluar, aku berjalan tertatih, cairan merah segar mengalir dari paha kiriku. Sementara di belakangku, aku melihat pintu gerbang itu mulai terbuka.
BERSAMBUNG
Ditunggu like, komentar, dan vote-nya.