KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 17 : BIODATA


Mataku menyisir setiap anak yang lalu lalang di depan kelas, tetapi tak ada yang terlihat mencurigakan. Tak satupun dari mereka yang terlihat terburu-buru atau sejenisnya layaknya orang yang baru ketahuan mengintip. Semua terlihat biasa-biasa saja. Hingga bel sekolah dibunyikan, semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing untuk mendapatkan materi "Organisasi dan Kepemimpinan" oleh wali kelas masing-masing.


Sambil menunggu wali kelas datang, kami berlimapun kembali terlibat dalam obrolan terkait hantu bayi itu.


"Im, apa si Mery benar-benar sudah aman dari gangguan bayi itu?" tanya Fajar.


"Jika melihat apa yang sudah dilakukan bayi itu terhadap Mery, sepertinya Mery masih dalam bahaya," jawabku.


"Terus, apakah kita akan diam saja Im? Bagaimana jika bayi itu menyerang Mery lagi?" Lidya kelihatan cemas.


"Kita harus membantunya, tapi kita tidak boleh serampangan dalam melangkah. Salah melangkah, semuanya bisa ambyar," jawabku.


"Terus, apa yang harus kita lakukan Im?" tanya Gatot sambil menatap mataku.


"I have not an idea, Man" jawabku sambil menggeleng dan melebarkan kedua tanganku ke samping kiri dan kanan.


"Oh God, its very shit!" teriak Fajar kemudian.


"Came on ... Came On, Friends ... Kita harus berpikir keras. Kasian si Mery kalau harus menjadi korban bayi laknat itu," pekik Fajar bingung.


"Im ..." suara Cindy perlahan. Kai semua menoleh ke arahnya.


"Apa, Cin?" Aku bertanya.


"Em ... gimana kalau kita menganalisa data-data Mery dan anak-anak yang pernah diganggu hantu bayi itu?" jawab Cindy.


"Its very good idea," pekik Fajar sambil melebarkan senyumnya.


"Ya ... Ya ... Aku setuju hal itu. Bukankah bayi itu hanya mengganggu Mery, aku, dan ... anak cewek berkepang dua kemarin?" pekikku tertahan, mataku berbinar antara senang dan takut. Menjadi incaran bayi penjilat bukanlah suatu prestasi yang diinginkan anak seusiaku.


"Otak Kamu main juga, Cin. Nggak salah aku selama ini memilih Kamu jadi teman dekat," ujar Cindy.


"Oke, kita bagi tugas dulu ya? Imran kamu tulis biodata kamu mulai nama, tempat tanggal lahir, hobi, nama ortu, tanggal lahir ortu, alamat, dan lain sebagainya pokoknya selengkap mungkin," perintah Pak Ketua Tim.


"Oke, Boskuh" Aku menjawab.


"Aku kebagian apa, Jar?" tanya Lidya.


"Kamu kebagian menginterogasi Mery. Secara dia sudah dekat sama Kamu," ujar Fajar.


"Oke, Pak Ketua" jawab Lidya.


"Tot, Kamu bertugas mencari biodata anak cewek berkepang dua itu," perintah Fajar lagi.


"Asiiiik, aku kebagian Pe De Ka Te, dong?" celetuk Gatot.


"Cindy dan aku akan menghadap Bu Nanik," kata Fajar.


"Untuk apa, Jar?" Aku bertanya.


"Kamu lihat saja nanti," jawab Fajar sambil tersenyum.


Obrolan kami terhenti tepat ketika Bu Rahayu, wali kelas kami masuk ke dalam kelas untuk memberikan materinya.


*


Bu Rahayu menyelesaikan materinya beberapa menit sebelum bel istirahat sholat dibunyikan. Kami berlimapun tidak menyia-nyiakan waktu untuk menjalankan tugas kami. Lidya membawa semacam buku diary keluar, mungkin itu akan ia gunakan sebagai alibi mengetahui biodata si Mery, sedangkan Gatot terlihat penuh semangat untuk mendekati cewek dengan rambut dikepang dua atas petunjuk Fajar, dan aku memilih bersantai ria di sebelah ruang UKS untuk mengisi biodata sambil memperhatikan pergerakan Pak Rengga. Entah mengapa aku merasa, kemunculan hantu bayi ini masih ada hubungannya dengan salah satu pembina ekskul karate itu.


Selesai sholat dhuhur, semua siswa berkumpul di aula untuk mendapatkan pengarahan dari panitia. Kami sengaja datang ke aula lebih cepat daripada yang lain supaya bisa mengumpulkan hasil penyelidikan kami masing-masing. Aku dan lidya datang paling awal disusul oleh Gatot. Fajar dan Cindy datang paling akhir.


"Gimana, Lid? Sukses?" tanya Fajar.


"Alhamdulillah berhasil,"-sorak Lidya sambil menyodorkan buku diary yang ia bawa.-"si Mery nggak sadar kalau sedang kuinterogasi," tambahnya.


"Bagus, Lid. Gimana dengan Kamu, Tot?" ujar Fajar.


"Aku juga sudah berhasil mendapatkan data-data si Rossa," jawab Gatot sambil mengeluarkan kertas berisi tulisannya sendiri. Ternyata Gatot menulis semua data-data anak itu pada sebuah kertas.


"Ooo ... jadi nama anak itu Rossa toh, hebat Kamu Tot bisa mendapatkan data sebanyak ini dalam waktu singkat. Jangan-jangan anak itu naksir sama Kamu, Tot?" ujar Fajar.


"Bisa saja Kamu, Jar. Itu belum semuanya, kok. Ukuran sepatu, lingkar dada dan jumlah mantannya aku belum tahu," ujar Gatot dengan entengnya.


"Sialan Kamu, nggak sekalian saja Kamu tanya ukuran behanya?" jawab Fajar ketus.


"Wah, ide bagus itu!" pekik Gatot sambil mengusap dagunya yang tidak ada janggutnya.


"Dasar mesum," ujarku sambil meraup muka Fajar. Anak yang lain tertawa, Gatot nyengir kuda.


"Sudah. Ini biodataku, Jar" Aku menyodorkan biodataku kepada ketua tim srigala itu.


Fajar menjejerkan buku diary Lidya, kertas milik Gatot, dan buku tulisku di atas kursi panjang aula.


"Ayo kita periksa biodata-biodata ini mulai dari data teratas, yaitu nama terus ke bawah sampai selesai. Cindy yang akan membacakannya satu persatu, yang lain mendengarkan. Jika ada kejanggalan nanti kita tandai dulu, oke?" Fajar memberi aba-aba.


"Oke, siap Bos" jawab kami secara kompak.


"Nama ... Imran Rosadi ... Rossa Melinda ... Mery Andani." Cindy membaca.


"Gimana, apakah ada kejanggalan?" tanya Fajar sambil memberi aba-aba kepada Cindy untuk menghentikan bacaannya.


"Sepertinya semuanya terdiri dari dua kata," ujar Gatot.


"Oke, saya catat. Apalagi?" tanya Fajar kepada kami semua.


"Sudah, itu saja kayaknya," jawab Lidya.


"Oke, kita lanjutkan dulu" Ujar Fajar.


"Tempat dan Tanggal Lahir 12 September 1983, 26 Desember 1983, 25 April 1983," Cindy membaca lagi.


"Gimana, apakah ada yang janggal dengan tanggal lahirnya?" tanya Fajar lagi. Semua anak berpikir namun akhirnya semua menggelengkan kepala.


"Selain tahunnya yang sama, sepertinya tidak ada lagi keanehan yang lain," jawab Lidya.


"Iya, angkanya acak," celetuk Gatot.


"Oke, saya catet tahunnya sama. Meskipun emang sewajarnya begitu, karena kita masih seumuran," ujar Fajar.


"Alamat ... Jatisari ... Karangjati ... Curahwangi," Cindy melanjutkan bacaannya.


"Bagaimana, Friends? Adakah kejanggalan dengan alamatnya?" tanya Fajar kembali.


"Lagi-lagi ketiga daerah itu nggak ada kesamaan, selain letaknya memang agak dekat dari sekolah kita ini," jawabku.


"Oke, lanjut, Cin!" perintah Fajar lagi.


"Hobi ... Makan nasgor ... Makan bakso ... Makan gorengan," Cindy kembali membaca.


"Ketiganya hobi makan. Terus kenapa kalau hobi makan? Apa bayi itu memangsa orang yang suka makan? si Gatot suka makan juga tapi kenapa nggak diganggu?" ujar Lidya bingung.


"Benar, Lid. Tambah puyeng kepalaku," ujar Gatot.


"Sabar ... Ayo Cindy lanjut dibaca!" perintah Fajar.


Cindypun melanjutkan membaca biodata-biodata itu. Namun, tak ada perbedaan atau kejanggalan siginifikan yang kami temukan, hingga kami semua sempat berputus asa.


"Stop sudah, Cin. Kayaknya bayi itu memang secara acak mengganggu korbannya," kata Fajar sambil mengelap wajahnya yang mulai berkeringat. Yang lain juga sudah mulai lemah otak.


"Tunggu, Jar. Sepertinya data yang ini ada keanehan?" ujar Cindy tiba-tiba membuat kami mendadak penasaran.


"Apa itu, Cin?" tanya Fajar penasaran.


"Ini, Jar." Cindy menunjukkan keanehan yang ia temukan kepada Fajar.


"Ya Tuhan ...," pekik Fajar sambil matanya terbelalak.


Bersambung


Hayooooooooo ...


Author sempatin nulis malam-malam lo.


Ditunggu krisannya ya, Kak.


Oh ya menurut kalian data di atas ada kejanggalan nggak ya? Kalau emang ada, ayo komen. Boleh cucokologi saja, kok.


Sudah baca MARANTI belum? Yang ikutan baca MARANTI sudah 600-an orang loh, masak Kakak nggak mau ikutan?


Mohon maaf kalau ada komentar yang tidak sempat aku jawab, ya. Tapi semua aku baca loh. Dan aku senang membava komentar Kakak-Kakak semuanya.


See You Next Episode .. Makasih