KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 57 : PENUTUPAN MOS


Hai Kak, jangan lupa klik gambar jempol dulu ya?


Demikianlah akhirnya Bu Sri diperbolehkan tinggal di rumah dinas tidak jauh dari tempat tinggal Bu Mat. Rumah itu dulu dibangun dengan biaya sendiri oleh Pak Mat atas izin kepala sekolah yang lama. Namun, semenjak pergantian kepala sekolah, Pak Mat dibangunkan rumah baru yang lebih luas. Rumah lama tetap dibiarkan, kepala sekolah memberi izin kepada Pak Mat untuk tetap menggunakan rumah lama tersebut sebagai tempat persinggahan teman atau saudara Pak Mat yang kebetulan bertandang ke rumahnya.


Ketika adzan ashar berkumandang dari masjid sekolah, kami berlimapun mohon permisi kepada mereka berdua yang asik bercengkrama. Kami berangkat menuju masjid untuk melaksanakan sholat ashar secara berjamaah sebagai salah satu bagian dari kegiatan MOS. Selepas ashar kamipun berkumpul di depan pentas untuk mendengarkan pengumuman group terbaik dan terburuk tahun ini yang akan disiarkan oleh kakak-kakak OSIS.


"Syukurlah Jar, akhirnya Bu Sri dan Bu Mat bisa menyambung silaturahmi yang hampir terputus," ucap Lidya.


"Iya, semoga arwah Mbah Iyem tidak lagi menghantui warga sekolah, supaya kita semua bisa belajar dengan lebih tenang," jawab Fajar.


"Insyaallah sudah enggak, Jar. Bukankah hal-hal yang mengganjal di hati Mbah Iyem yang ingin disampaikan kepada keluarganya sudah terselesaikan semuanya, tentunya ia akan bisa beristirahat dengan tenang di sana," jawabku.


Semua siswa baru telah berkumpul di depan pentas. Kakak-Kakak kelas juga sudah mulai bersiap-siap di atas pentas untuk mengumumkan siapakah group terbaik dan terburuk tahun ini. Tentunya group terbaik akan mendapatkan cindera mata dan penghargaan dari panitia, sedangkan group terburuk akan mendapatkan sangsi dari panitia yaitu membersihkan seluruh penjuru sekolah yang digunakan untuk kegiatan MOS ini.


".... Dan kelompok terbaik tahun ini dengan perolehan skor sembilanpuluh enam diraih oleh kelompok ...," Kak Dino membacakan pengumuman dengan lantang. Semua anak yang semula terlihat riuh ramai mendadak diam seketika, kompak menunggu kelanjutan pengumuman oleh Kak Dino.


"Sekali lagi, kelompok terbaik tahun ini jatuh pada kelompok ... MELATI!!!!!" lanjut Kak Dino.


Suasana yang semula sepi tiba-tiba berubah menjadi ramai seketika dengan tepuk tangan dari semua anak yang berada di lapangan itu. Semua anggota kelompok melati bersorak sorai gembira merayakan kemenangan mereka tahun ini. Mereka didapuk untuk naik ke atas pentas menerima piagam penghargaan dan hadiah dari panitia yang diserahkan oleh Bu Nanik selaku Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan. Terlihat sekali rona kebahagiaan di wajah mereka bersepuluh. Siapa yang tidak ingin menjadi yang terbaik dan dielu-elukan seperti itu?


Selanjutnya Bu Nanik turun dari atas pentas diikuti oleh seluruh anggota kelompok melati. Bu Nanik terlihat langsung kembali ke ruangannya, tersisa Kak Dino dan kawan-kawannya yang masih setia berad di atas pentas.


"Setelah tadi Kalian mengetahui kelompok terbaik tahun ini, sekarang giliran kami akan mengumumkan kelompok dengan nilai terendah tahun ini. Kelompok tersebut adalah ...," Kak Dino menghentikan ucapannya di tengah ketakutan semua anak.


Saat itu banyak anak yang menutup telinganya, mungkin pikir mereka tidak ingin mendengar nama kelompok mereka disebut karena selain memalukan, mereka juga harus menanggung resikonya yaitu harus dihukum untuk membersihkan seluruh ruangan sekolah selagi anak-anak lain sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Kelompok dengan nilai terendah jatuh pada kelompok SRIGALA!!!!" lanjut Kak Dino.


Berbeda dengan pengumuman sebelumnya, pengumuman kategori kelompok terburuk ini nyaris tanpa tepukan sama sekali, semua mata tertuju kepada kami. Mereka memang tidak berkata apa-apa, tetapi seolah mereka berkata "Kasian ya?" atau "Itu pasti isinya anak-anak nakal semuanya," atau "Ooo ini toh kelompok dengan nilai terendah?" Ternyata sungguh malu dipelototin oleh ratusan mata dengan tatapan belas kasihan seperti itu. Ingin rasanya aku mengatakan kepada mereka, "Kami tidak seperti yang Kalian pikirkan! Kami melakukan ini semua demi ketenangan sekolah ini ke depannya! Demi mengungkap semua misteri yang ada di sekolah ini!" Tapi apalah daya kami. Jika kami melakukannya justeru akan membuat sang penjahat lolos dari bidikan kami.


Kak Dino segera melanjutkan kata-katanya seolah ingin mengalihkan perhatian semua siswa supaya tidak menelanjangi kami.


"Nilai terendah bukan berarti buruk, melainkan karena kekurangkompakan atau kekurangdisiplinan," bujuk Kak Dino dengan pengeras suara. Kami bersepuluh hanya bisa menunduk.


Akhir dari kegiatan MOS dilakukan dengan majunya satu persatu siswa baru ke atas pentas secara bergiliran dan pemasangan topi ke kepala kami oleh kakak kelas sebagai simbol diterimanya kami menjadi keluarga besar sekolah ini. Suasana haru dan bahagia menyelimuti jiwa kami semuanya. Bahkan kami sebagai siswa dengan predikat kelompok terburukpun turut merasa haru saat itu, apalagi ketika kakak-kakak kelas memakaikan topi ke kepala kami sambil berkata, "Selamat menjadi bagian dari sekolah ini ya, Dik".


Acara ditutup dengan doa penutup dan semua siswapun pulang menuju rumahnya sendiri-sendiri. Hanya tersisa kami bersepuluh yang memang sudah bersiap untuk menerima hukuman dari kakak kelas. Kami bersepuluh diajak oleh Kak Dino dan kawan-kawan ke belakang pentas. Sesampai di sana kami disuruh berbaria lurus ke samping. Kak Dino didampingi teman-temannya berdiri di depan kami.


"PAHAAAM!!!" jawab kami bersepuluh.


Selanjutnya kamipun dibubarkan untuk mulai bekerja membersihkan seluruh penjuru sekolah. Fajar meminta kami semua berkumpul terlebih dahulu sebelum memulai bekerja. Kak Dino membiarkan kami mengatur strategi pekerjaan.


"Teman-teman, kita harus memulai pekerjaan dari zona berbahaya terlebih dahulu yaitu kamar mandi dan area kantin. Empat orang ikut Imran, empat yang lain ikut saya. Setelah kedua area itu selesai kita bersihkan kita akan menuju kelas bagian selatan dan timur. Setelah itu lanjut ke beranda kantor dan ruangan ekskul, setelah itu lanjut aula, terakhir kelas bagian utara," ucap Fajar.


"Jar, tapi kami berlima harus pulang duluan sebelum maghrib karena kalau lebih dari itu kami tidak berani pulang. Kami harus melewati daerah yang terlarang untuk dilewati malam-malam," cetus salah satu teman kami.


"Oke tidak apa-apa. Biarkan kami berlima yang menyelesaikan sisa pekerjaannya," jawab Fajar dengan bijaksana. Memang dari awal kami tidak ingin melibatkan kelima anak tersebut untuk mengikuti misi rahasia kami.


Selanjutnya kamipun mulai bergerak menuju zona berbahaya yang disebutkan Fajar tadi. Aku dan keempat temanku menuju kamar mandi, sedangkan Fajar dan keempat anak yang lain menuju kantin sekolah.


"Tunggu!!!!" teriak seseorang yang ternyata adalah Kak Dino.


Kamipun menghentikan langkah dan berbalik badan menunggu apa yang akan disampaikan Kak Dino.


"Ada apa Kak?" tanyaku.


"Ada hal yang ingin saya sampaikan kepada Kalian," ujar Kak Dino kemudian. Ia menghela napas dalam-dalam.


"Kalian jangan sampai masuk ke ruangan yang tidak digunakan untuk MOS seperti ruang guru, gudang, dan perpustakaan," lanjutnya.


"Kenapa Kak?" tanyaku penasaran.


"Tidak usah banyak bertanya, kalau saya bilang nggak boleh ya nggak boleh. Lagipula ruangan-ruangan itu bukan menjadi tanggung jawab Kalian untuk membersihkan. Paham?" jawab Kak Dino agak keras.


Kak Dino berlalu meninggalkan kami dengan meningalkan seribu tanda tanya di pikiran kami semua.


"Kak Dino, apa yang sedang Kamu sembunyikan dari kami?"


Bersambung


Jangan lupa "vote"nya Kak! Dan see u next episode ya?


Salam seram bahagiaaaaa